
Septicaemia, adalah penyakit infeksi berat karena bakteri yang ditandai adanya peradangan.
Bakteri yang menyebabkan penyakit itu dapat berasal dari banyak jenis, termasuk bakteri gram positif dan negatif. Bahkan, belakangan virus dan jamur pun bisa menjadi penyebab infeksi septicaemia.
Penyakit itu membutuhkan perawatan rumah sakit. Biasanya akan dirawat di ruang ICU dengan diberi cairan dan obat-obatan melalui infus ditujukan untuk mempertahankan tekanan darah.
Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. Plasma atau produk darah lainnya dapat diberikan untuk membetulkan segala kelainan pembekuan.
Secara singkat, septicaemia adalah penyakit langka yang mengancam jiwa.
Wajar jika Camelia histeris seperti itu. Usia Liam baru saja 6 tahun. Dan untuk penyakit itu, tentu saja pukulan yang besar untuknya.
Ada banyak perawatan yang harus dilalui. Dan Liam, tidak boleh terluka karena jika terluka, darah akan sulit untuk membeku yang dapat menyebabkan pendarahan.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Tuan Muda Liam. Tuan dan Nyonya juga harap selalu berdoa agar Tuan Muda Liam segera sembuh. Karena, Tuhan adalah penentu kehendak dari sesuatu di dunia ini. Dan jangan terlalu khawatir, setiap penyakit ada obatnya," ujar Dokter menenangkan.
Camelia sudah tidak menangis lagi. Namun, ia melamun.
Andrean mengucapkan terimakasih kemudian membawa Camelia masuk ke dalam ruang rawat Liam.
Anak itu, masih belum sadar juga. Lucas, juga baru bangun dan menatap sendu saudara kembarnya.
Andrean mendudukkan Camelia di sofa. Dan kemudian beralih meraih ponselnya. Menjadi informasi mengenai penyakit septicaemia.
"Hans, bawa semua dokter terbaik di bidang hematologi dan penyakit dalam negara tropis ke rumah sakit ini! Segera!"perintah Andrean pada Hans melalui panggilan setelah selesai melakukan pencarian.
*
*
*
"Emmm …." Terdengar erangan dari bibir Liam. Dahi anak itu mengerut tipis. Matanya mulai bergerak dan terbuka, lamat-lamat menyesuaikan cahaya yang masuk.
Langit biru muda dan tercium bau obat. Menoleh ke kirinya. Di tangannya, ada sesuatu yang mengganjal.
Mengingat-ingat.
"Hospital," gumam Liam, setelah ingat ia mimisan.
"Lapar." Liam tidak tahu berapa lama sudah ia tidak sadarkan diri. Kembali menolehkan wajahnya, mencari seseorang.
"Mom … are you here?" Liam memanggil.
"LIAM!" Liam tersentak pelan. Camelia muncul dengan … itu membuat Liam mengerutkan dahinya.
"Mom? Are you okay?"tanya Liam. Sementara Camelia sudah di sampingnya. Langsung memeluk Liam.
"Syukurlah kau sudah sadar, Liam. Katakan pada Mom, mana yang tidak nyaman?"
Liam menggeleng. "I'm fine, Mom," jawab Liam.
Camelia tersenyum setelah terdiam beberapa saat. "Of course. You're okay. Everything's gonna be okay," jawab Camelia, kembali memeluk Liam.
"I'm hungry, Mom," ucap Liam lagi.
"Makan siangmu segera datang, Sayang," jawab Camelia lagi, mencium kening Liam sebelum beranjak untuk mengambilkan Liam makan siang.
Senyum Liam luntur setelah Camelia tidak di hadapannya. Menatap jarum infus dan ruangan ini. "I feel a little numb," gumam Liam. Pandangan beralih lagi. Kini senyumnya kecut.
"Tatapan mata Mom tidak bisa berbohong."
Liam kemudian mengepalkan kedua tangannya berdoa. "Apapun itu, Tuhan tolong lindungi aku yang lemah. Aku tidak ingin melihat Mom bersedih seperti tadi. Cukup hanya Daddy saja yang membuat Mom terpukul berat, jangan aku juga. Aku anak yang baik, taat padamu, patuh pada orang tuaku, kabulkan permohonanku ini," gumam Liam berdoa. Matanya terpejam penuh harap.
"Maafkan Mom, Liam. Di sana hanya ada ini, makanlah dulu, nanti setelah ini akan Mom buatkan makanan kesukaanmu," ucap Camelia, kembali dengan makanan rumah sakit.
"Aku sangat lapar, Mom," jawab Liam. Camelia membantu putra bungsunya itu duduk. Kemudian dengan penuh kasih menyuapi Liam.
"Benar ya, Mom. Saat sangat lapar, yang penting adalah kenyang. Bukan rasa makanannya," ucap Liam. Ia tersenyum lebar.
__ADS_1
Camelia membalas senyum itu. "Emm, Mom. Sudah berapa lama aku dirawat?"
"3 hari," jawab Camelia, sejenak kembali sendu.
"… 3 hari. Mom, aku sudah sadar. Everything's gonna be okay," ucap Liam.
Camelia mengangguk. Kembali menyuapi Liam. "Lucas, Ayah, dan yang lain mana?"tanya Liam selesai makan. Sejak sadar, tidak ia dapati orang lain selain Camelia.
"Mereka dalam perjalanan kemari."
"Hari ini kita pulang?"
Camelia terdiam beberapa saat. "Tidak?"tanya Liam menerka, menaikkan alisnya bertanya.
"Tentu saja. Setelah memastikan beberapa hal, kita akan pulang. Paling lama sore ini," tutur Camelia.
"Aku sangat merindukan Archie dan Alel."
"Kau akan segera bertemu dengan mereka."
*
*
*
Sedikit kelegaan, dirasakan oleh segenap anggota keluarga Shane. Setidaknya Liam sudah sadar dan dapat berinteraksi dengan mereka.
Andrean tersenyum melihat anak dan istrinya yang berkumpul. Namun, senyum itu mengandung kesedihan. Andai saja, septicaemia itu tidak ada, pasti itu adalah pemandangan yang sangat indah, tanpa setitik kesedihan sama sekali.
Tuan dan Nyonya Shane, Dion, dan Kakek Gong berdiri beberapa langkah di belakang Andrean. Melihat ibu dan tiga anak yang tengah bercengkrama.
"Ah, benar. Liam, kita akan melakukan satu pemeriksaan, setelahnya kita akan pulang," ucap Camelia, mengalihkan pandang ke arah Andrean, memberikan instruksi untuk segera memanggil dokter.
Andrean mengangguk kecil.
"Benar-benar. Alel dan Archie sudah sangat merindukanmu," ucap Lucas.
"Apa mereka meringkik?"tanya Liam dengan ekspresi serius.
"Kau pikir mereka kuda? Mereka mengaum," ketus Lucas.
"Apa sudah bisa mengaum? Aku hanya pingsan tiga hari dan usia mereka sudah bertambah puluhan hari?"tanggap Liam, dengan mimik yang masih serius.
"Mom? Dia benar-benar tidak sakit. Dia tidak berubah sama sekali, tetap menyebalkan!"keluh Lucas pada Camelia.
"Mereka merintih, juga mengaum, mereka mencarimu, Kak Liam. Aumannya sangat lucu sekaligus membuatku sedih," tutur Crystal, menjadi penengah. Camelia menatap anak perempuannya itu.
"Entahlah, yang pasti aku tidak sabar untuk pulang," sahut Liam.
"Aku merindukan semuanya," lanjut Liam lagi. Padahal ini bukan pertama kali ia tidak pulang selama beberapa hari. Namun, rasanya berbeda. Sangat berbeda.
Hei, bisa-bisanya kau tersenyum seperti itu?! Kau pikir bisa menyembunyikan?! Darah kita ini satu, aku dan kau kembar, aku merasakannya, Liam. Kau menahannya. Kau … aku akan merawatmu dengan baik!!
Di balik senyum itu, hati Lucas berdenyut nyeri. Sama halnya dengan Camelia.
Sejujurnya Mom lebih senang kau menunjukkan rasa sakitmu, Nak. Tapi, tidak terlalu masalah. Mom akan melakukan yang terbaik! Kau akan sembuh!!
Crystal tidak tahu Kak Liam sakit apa. Crystal mohon, sembuhkan Kak Liam. Agar kami bisa segera bermain bersama seperti dulu lagi, harap Crystal. Entahlah, ia hanya merasa, setelah pulang dari rumah sakit ini, Liam tidak akan bisa bebas.
*
*
*
Hans sudah melakukan titah Andrean. Dan dari dokter yang dibawa oleh Hans, hanya 2 dokter yang dipilih. Satu adalah dokter hematologi dan satu lagi dokter spesialis penyakit dalam. Kedua dokter itu Andrean posisikan sebagai dokter pribadi Liam. Kedua berasal dari Asia.
Setelah melakukan diskusi, akhirnya keputusan diambil. Liam akan rawat jalan di rumah. Kamar untuknya untuknya telah disiapkan.
__ADS_1
Sore itu juga, mereka meninggalkan rumah sakit.
Dan ada yang Crystal rasakan benar adanya. Liam tidak akan bisa bebas seperti dulu. Ruang geraknya tentu akan dibatasi. Di kediaman Shane, telah disediakan sebuah kamar. Di dalamnya adalah peralatan medis dan juga ada obat-obatan.
"Ini tidak akan lama. Kau akan segera sembuh, Liam," ucap Camelia saat Liam melihat kamar itu dengan ekspresi datar, ada keengganan di sana.
"Mau bagaimana lagi, Mom? Aku harus segera sembuh, bukan?"sahut Liam.
"Berhenti menutupi dan menahannya sendiri Liam. Kau tidak bisa membohongi Mom," ucap Camelia, memeluk Liam.
Liam tersenyum. "Kau yang sakit, aku juga merasakannya!"tegas Lucas, ikut memeluk Liam.
Liam memejamkan matanya. Air matanya mulai keluar. Bibirnya bergetar.
"M-Mom ini tidak akan lama, kan? Sejujurnya aku takut." Liam berkata dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.
"Tuan Muda anak yang kuat, septicaemia itu tidak akan bertahan lama di sana, Tuan Muda," ujar salah satu dokter Liam, dokter hematologi.
Camelia mengangguk. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. "Septicaemia ini sangat menyebalkan! Aku akan segera menanganinya. Aku kan anak yang kuat, Mom!"
*
*
*
Resepsi yang berantakan. Hari setelah pernikahan yang dirundung sedih dan jadwal yang harus diatur ulang.
Andrean menghela nafas berat. Kini ia dalam dilema yang besar.
Menghisap sebatang rokok, itulah yang Andrean lakukan saat ini di rooftop. Hanya sendirian.
Hans dan Lie sudah ia suruh kembali ke Beijing dua hari yang lalu. Kedua perusahaan tidak bisa ditinggalkan.
Dan Hans dan Lie memintanya untuk segera pulang. Keduanya tidak sanggup mengurus pekerjaan di sana. Selain itu, keluarga Gong juga ribut mengenai acara pernikahannya.
Dan masalah utamanya adalah, Liam sakit dan sulit juga untuknya kembali ke Beijing.
Asap putih Andrean hembuskan. Ia benar-benar bingung. Apa yang harus ia lakukan?
"Mengkhawatirkan hal-hal di Beijing?" Andrean menolehkan wajahnya saat mendengar itu.
Camelia datang. Mendekatinya. "Pergilah. Di sana lebih membutuhkanmu," ucap Camelia.
"What? Kau menyuruhku untuk pergi? Sementara Liam belum sembuh?" Andrean terhenyak.
Camelia mengangguk. "Liam ada aku. Ada Lucas, dan segenap keluarga Shane. Sementara perusahaanmu, mereka pasti benar-benar kesulitan. Pergilah, aku bisa menghandle semuanya," ujar Camelia.
"Tidak, Lia! Bagaimana bisa aku pergi? Perusahaan memang penting namun Liam lebih penting lagi!"tolak Andrean. Ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Camelia menyarankan hal tersebut?
"I know. But, mereka lebih membutuhkanmu. Because, you're the leader. Sayang, listen me, ada ribuan orang yang bergantung di bawahmu. Kau pulang dulu ke Beijing. Kemudian kau bisa datang lagi," ujar Camelia, mencoba meyakinkan Andrean.
"Aku menolak, Lia! Aku telah melewatkan 6 tahun untuk mereka. Dan sekarang, Liam sakit. Aku tidak bisa pergi kemanapun! Tolong pahami aku!"tegas Andrean.
Keduanya berdebat.
"Aku bisa menanganinya, Rean! Lagipula kau tidak sepenuhnya lepas tangan! Kau sudah membawa dua dokter terbaik di bidang ke kediaman ini. Kau tidak meninggalkannya, Rean. Kau hanya pergi sebentar, tidak lama, okay? Percaya padaku, saat kau pulang, Liam sudah sembuh dan kita akan pulang bersama-sama ke Beijing, okay?" Camelia kembali membujuk dan meyakinkan Andrean, menggenggam kedua tangan sang suami, berharap Andrean mau mengerti.
Keduanya sama-sama berada di posisi yang sulit.
Andrean tidak menjawab. Tatapannya masih sama, menolak.
Camelia menatap Andrean dalam. Tatapannya rumit dan juga kecewa.
"Ahh … terserahmu saja. Namun, jangan jadikan Liam alasanmu mengabaikan kewajibanmu sebagai Presdir perusahaan. Aku tidak akan menerimanya!!"peringat Camelia.
Ia melepas genggaman tangannya. Berbalik dan bersiap untuk pergi. Namun, sebelum itu, Andrean menarik Camelia dalam pelukannya. "Sekali saja. Tidak masalah. Tolong, jangan paksa aku," ucap Andrean, meminta pada Camelia, meletakkan dagunya di bahu Camelia.
Camelia tidak membalas pelukan itu. Jujur saja, ia juga merasa bingung. Sebagai ibu dan istri, tentu ia ingin Andrean tetap ada di sini. Namun, sebagai istri seorang Presdir, tentu saja ia mengkhawatirkan perusahaan.
__ADS_1