
"Luar biasa!"gumam Lucas setelah membaca berita tentang Tuan Jerry.
"Tidak mengecewakan menunggunya," sahut Liam. Kak Abi yang sedang mengemudi, tersenyum simpul mendengarnya.
"Menurutmu hukuman apa yang akan diberikan padanya, Liam?"tanya Lucas, menyimpan ponselnya.
"Berdasarkan hukum negara ini, diblacklist dan penjara untuk pelaku pelecehan seksual dan kasusnya itu sangat ringan. Hukuman mati bukanlah hal yang tidak mungkin."
Liam sudah banyak membaca mengenai hukum negara ini. Ataupun membaca artikel dengan artis yang terjerat kasus serupa beserta hukumannya. Yang terbaru, Liam membaca bisa dituntut hukuman mati.
Kak Abi mengangguk kecil mendengarnya. Begitu juga dengan Lucas. "Well. Itu benar. Hukuman mati!"
"Aku sangat senang, nama ibu di masa lalu sudah bersih."
"Ya, aku juga," sahut Liam. Keduanya tersenyum lebar. Sangat bahagia.
"Aunty, jangan lupa nanti pukul jam kita ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA," ucap Liam pada Kak Abi. Kak Abi menoleh sekilas.
"Okay."
*
*
*
Di lain sisi, Dion menarik senyum miring. Ia baru saja selesai meeting. Begitu kembali ke ruangannya, notifikasi berita tentang Tuan Jerry memenuhi jendela notifikasinya. Dion membaca sekilas. "Karma memang nyata," gumam Dion.
Dion juga menerima notifikasi pesan dari Camelia. Segera Dion membaca pesan tersebut.
Dion jalankan rencana selanjutnya.
Isi pesan Camelia.
Alright, Kak.
Dion membalas pesan tersebut. Ia kemudian membuka dan menyalakan laptopnya.
Dia menatap dingin foto-foto vulgar yang berada di dalam layar laptopnya. Raut wajah jijik terlihat, rahangnya mengeras dengan tangan mengepal.
Dion kemudian mengesah. "Kau pasti begitu takut, bukan?"gumam Dion dengan nada sinis.
"Nama kakakku sudah bersih," gumam Dion dengan nada bahagia.
"Kau takut, giliranmu akan segera tiba, bukan? Kau takut, selanjutnya adalah dirimu!" Mencibir. Dion kemudian terkekeh.
"Andai saja … andai saja kau tahu diri, aku pasti tidak akan tega melakukannya. Tapi, kau sendiri yang berjalan menuju jurang seakan kau berjalan menuju surga. Hah …."
Dion menyayangkan sesuatu. Akan tetapi, nasi sudah jadi bubur. Kebenciannya sudah terlalu besar. Sulit untuk dipadamkan.
"Aku harap kau sekuat waktu dulu. Aku harap kau tidak mengecewakanku, Kakak!" Panggilan Kakak itu ditujukan pada Rose. Nada memanggilnya pun seperti jijik.
Dion lalu menekan tombol enter dengan kembali menarik senyum tipis.
"Aku harap, Ayah dan Ibu tidak terlalu sedih dengan hal ini," gumam Dion. Gurat cemas hadir di wajahnya yang kemudian membuatnya mengirim pesan pada Camelia.
Kakak, aku akan kembali ke Beijing sekarang. Aku merindukan juga mencemaskan ayah dan ibu.
Bagitulah isi pesannya. Dion kemudian memakai jasnya. Pemuda 18 tahun itu kemudian meninggalkan ruangannya.
Di depan pintu bertemu dengan sekretarisnya. "Anda mau ke mana, Tuan Muda?"
"Aku ada urusan. Paman, kau yang handle selama aku di luar," jawab Dion.
"T-tapi, Tuan Muda. Sebentar lagi ada meeting dengan …."
"Undur saja," jawab Dion, kembali melangkahkan kakinya dan hilang dari pandang sekretarisnya setelah pintu lift tertutup.
Wajahnya terlihat cemas. Apa aku perlu menghubungi Tuan Besar?pikir sekretaris Dion itu, merujuk pada Tuan Shane.
__ADS_1
*
*
*
Di satu sisi, Camelia yang sedang dalam sesi break mengecek ponselnya. Pesan Dion yang masuk segera ia balas dengan "okey."
Camelia kemudian minum. Wajahnya sangat berseri. Senyumnya begitu lembut.
Bagaimana tidak?
Akhirnya. Setelah lima tahun lebih, namanya dulu, Jasmine Liang telah bebas dari kasus menjual diri demi peran.
Now, namanya benar-benar bersih. Rumor tentangnya sudah selesai. Di media, banyak yang menyampaikan permintaan maaf dan menyesal karena dulu telah menghakimi Jasmine Liang. Camelia tidak butuh kata maaf itu, namanya bersih saja itu sudah sangat membuatnya bahagia. Namun, berarti balas dendamnya selesai. Tidak! Pelaku utamanya belum selesai.
Bagaimana cara Camelia membersihkan namanya di masa lalu? Tentu saja lewat pengakuan Tuan Jerry. Menjelaskan bahwa dialah yang memaksa hingga menggunakan obat untuk bisa menyentuh Jasmine Liang. Singkatnya, Camelia adalah korban dan Tuan Liang adalah pelakunya.
Meskipun pada nyatanya, Camelia tetap kehilangan kehormatannya dengan pria tidak dikenal hingga melahirkan Lucas dan Liam, Camelia sama sekali tidak menyesal. Karena ia mendapatkan dua anak yang tampan nan pintar. Belum lagi, hidupnya semakin bertambah baik. Namun, bukan berarti ia menerima perlakuan Rose dan Jordan padanya. Camelia sudah jadi orang yang sempit hati untuk yang mencari masalah dengannya.
"Tapi …." Tiba-tiba saja wajah Camelia murung.
Apa reaksi Ayah dan Ibu ketika membaca berita ini? Apakah mereka akan merasa bersalah dan mencariku atau mereka bahkan sudah melupakanku?gumam Camelia dalam hati. Ingin rasanya ia meninggalkan lokasi pemotretan dan menghampiri Tuan dan Nyonya Liang. Sayangnya itu tidak bisa ia lakukan.
Lalu apa reaksi Ayah saat membaca berita tentang Rose nanti? Apakah akan sama dengan apa yang lakukan padaku? Ayah, maaf. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku tidak sehina itu. Aku korban. Aku harap, setelah ini namaku di hati ayah sudah berubah
Camelia menghela napas. Ia harus segera menyelesaikan pemotretannya agar bisa cepat bertemu dengan Tuan dan Nyonya Liang.
*
*
*
Baru saja rasa bersalah pada Camelia memenuhi relung hati Tuan Liang, emosinya langsung ketika berita tentang Rose rilis.
Emosinya itu membawa Tuan Liang meninggalkan restoran. Nyonya Liang yang melihat wajah Tuan Liang begitu buruk langsung mengejar setelah sebelumnya melihat apa yang Tuan Liang baca.
*
*
*
"ROSE LIANG!"teriak Tuan Liang dengan penuh amarah dengan membuka kasar pintu rumah. Suaranya menggelegar di rumah ini. Siapapun yang mendengarnya merasa takut dan memilih untuk diam. Wajah Tuan Liang begitu gelap, amarahnya begitu besar.
Para pelayan tidak tahu apa yang cara membuat Tuan Besar mereka begitu marah. Namun, dari teriakannya jelas yang membuatnya marah adalah Nona mereka.
Dalam benak mereka bertanya-tanya apa yang telah diperbuat oleh nomor Eka hingga tuan besar begitu marah.
Di belakang, Nyonya Liang menyusul dengan wajah pias. "Suamiku, tenangkan dirimu."
"Di mana anak tak tahu diri itu? Di mana ******* itu!!*teriak Tuan Liang dengan terus memanggil nama Rose.
"Suamiku! Tenanglah. Biar bagaimanapun dia putri kita. Putri kandung dia!" Sayangnya Tuan Liang tidak menggubrisnya.
"Aku tidak punya anak jal*ng seperti itu!" Malah jawaban dingin dan menusuk yang diberikan.
Tuan Liang menaiki tangga, menuju kamar Rose. Nyonya Liang yang terdiam beberapa saat langsung mengejar langkah suaminya.
Tuan Liang begitu marah saat melihat berita tentang Rose. Tidak langsung melainkan hanya inisial dan foto-fotonya begitu vulgar dengan pria yang berbeda di setiap fotonya. Orang tua mana yang tidak terkejut dan marah melihat foto-foto seperti itu.
Tuan Liang yang begitu marah langsung meninggalkan restoran pulang ke rumah. Walaupun Nyonya Liang berusaha untuk menenangkan dirinya, tetap saja amarah begitu menguasai dirinya.
Foto-foto itu adalah tamparan keras bagi Tuan Liang. Setelah kasus putrinya selesai, malah mendapatkan kasus yang lebih besar lagi. Sebagai publik figur, pasti beritanya akan cepat meluas dan itu benar-benar menghancurkan citra.
Bukan hanya citra Rose melainkan citra keluarga yang akan dianggap gagal mendidik anak. Selain itu, hal itu bisa memicu masalah lain.
"Rose Liang kelaurkan kau!!" Tuan Liang berteriak dengan menggedor pintu kamar Rose.
__ADS_1
Tidak terdengar sahutan atau pergerakan dari dalam. Emosi Tuan Liang semakin menggunung. Dalam sekali tendangan, bentuk kamar Rose sudah terbuka. Nyonya Liang berteriak kaget. Sementara para pelayan hanya berani mengintip dari dekat tangga.
Kamar Rose berantakan. Yakin, bahwa ia sudah tahu berita buruk yang kembali menimpa dirinya. Rose pasti mengamuk kemudian duduk dengan putus asa. Rasa malu pasti menyelimuti dirinya. Foto-foto yang tersebar itu bisa menjadi hambatan besar untuknya kembali bangkit.
"Dasar anak tak tahu diri!"hardik Tuan Liang dengan menarik kerah baju Rose agar berdiri dari posisinya yang semula duduk.
PLAKKK!!
Sebelum Nyonya Liang sempat menahannya, Tuan Liang yang sudah melayangkan tamparan keras pada Rose. Rose sampai memalingkan wajahnya. Pipinya merah dengan darah segar mengalir dari bibirnya. Betapa kerasnya tamparan itu!
Rose terbelalak. Ia diam, pipinya sangat sakit. Untuk menggerakkan bibirnya saja sudah sangat sakit. Tidak menyangka Tuan Liang akan menamparnya sekeras itu. Nyonya Liang segera menghampiri putrinya.
"Ah…." Air mata Nyonya Liang jatuh. Namun, Tuan Liang tidak peduli.
"A-Ayah?" Sudah payah. Rose menatap Tuan Liang tidak percaya.
"A-ayah percaya dengan berita itu?"tanya Rose. Terbata. Menahan sakit yang luar biasa. Matanya memerah. Entah itu benar atau hanya akting, yang pasti air mata Rose jatuh. Sesaat, Tuan Liang merasa de javu. Namun, ia segera menggeleng.
"Melihatmu seperti ini, aku semakin percaya!"jawab Tuan Liang dengan mata yang melotot tajam.
"Ayah itu sungguh bukan aku. Aku dijebak ayah. Itu bukan aku, ayah! Percaya padaku. Aku putri ayah, tidak mungkin aku melakukannya. Ayah, aku masih tunangan Andrean saat itu. Tidak ada alasanku untuk menyelingkuhinya!" Rose berlutut. Ia menjelaskan. Mengabaikan rasa sakit pada bibir dan pipinya. Tuan Liang tidak melihatnya. Nyonya Liang memeluk Tuan Liang agar Tuan Liang tidak memukul Rose lagi.
"Editan? Lalu bagaimana dengan videonya? Kau bisa jelaskan itu?"
"A-Ayah. A-aku." Benar. Ada satu videonya sebagai pendukung yang paling besar. Akan sulit untuk disangkal.
"Salah apa aku? Mengapa anakku tidak ada yang beres?"monolog Tuan Liang. Kini pandanganya kosong.
"Pada leluhur pasti sedang memarahiku habis-habisan di sana. Aku gagal."
"Suamiku." Nyonya liang menangis apa yang menimpa Rose hari ini mengingatkan dirinya pada apa yang menimpa putri sulungnya, Jasmine Liang 5 tahun yang lalu. Sama, jawaban bantahan yang hampir sama, wajah putus asa yang sama. Dan reaksi Tuan Liang yang sama..
"L-lalu apa ayah akan mengusirku seperti ayah mengusir Jasmine?" Rose mendongak. Tatapannya berubah menjadi menantang. Tuan Liang terhenyak. Wajahnya berangsur berubah menjadi bersalah.
"Ayah pasti merasa bersalah telah mengusirnya, bukan? Dan ayah mengusirnya hanya karena berita seperti ini juga kan? Apa ayah akan melakukan hal yang sama? Akan melakukan kesalahan yang sama? Apa ayah keledai?!"
Wow. Rose menggunakan kekeliruan Tuan Liang dulu untuk menyerang balik.
"Rose, hentikan!"ucap Nyonya Liang.
"Lebih baik kau keluar kamar! Jangan buat ayahmu tambah marah padamu!"imbuh Nyonya Liang.
"Tidak, Ibu! Aku akan keluar dari rumah ini!"ucap Rose, menuju lemari pakaiannya. Mengemasi barangnya.
"Tidak, Rose. Jangan!" Nyonya Liang ingin mencegah. Namun, Tuan Liang malah memeluknya.
"Biarkan dia pergi!"
"Suamiku?"
"Aku akui, aku salah besar pada Jasmine. Namun, kau tidak bisa dibandingkan dengannya. Dia anak yang aku besarkan selama 22 tahun. Bukan dia salah. Bukan dia yang berubah, akulah yang berubah."
"Ayah membelanya? Apa aku bukan anak ayah? Ayah masih mengharapkannya?"
"Lupakan saja. Jika kau mau pergi, silakan pergi!"
Tuan Liang berbalik.
"Hahaha!"
Rose tertawa.
"Posisinya tidak pernah terganti bukan? Kalian masih sayang menyayanginya. Aku merasakan akulah yang anak angkat. Kalian pilih kasih!!"teriak Rose.
"K-kau!!" Tuan Liang kembali melihat Rose. Jarinya menunjuk Rose dengan satu tangan memegang dada. Matanya membola, terlihat kesakitan.
"Suamiku? Kau kenapa?" Belum dijawab, Tuan Liang tak sadarkan diri.
"Suamiku?!"
__ADS_1
"A-ayah?"