Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 118


__ADS_3

Apa yang aku pikirkan terjadi.


Camelia tersenyum simpul. Tidak meleset sama sekali. Luka di pipinya langsung menjadi sorotan. Konferensi pers dihadiri banyak wartawan dan beritanya langsung trending topic.


Dan saat ini, ia tengah berada di depan para wartawan. Sejauh ini, Camemia duduk diam tanpa menjawab sebab jawabannya diwakili oleh Kak Abi, Tuan David, dan orang kepercayaan Tuan Shane.


"Jadwal syuting Anda sudah ditetapkan. Apakah Anda akan tetap melanjutkannya dengan kondisi Anda?"tanya salah seorang wartawan.


"Aku yang akan menjawabnya." Camelia mengangkat tangannya, mencegah kak Abi ataupun Tuan David menjawab. Dan sejujurnya, ini adalah pertanyaan yang ia nantikan. Mengenai luka dan penculikan itu, ia sudah bungkam, sekarang gilirannya menjawab.


"Saya tidak ada masalah dengan luka ini. Jadi, saya tidak akan mundur dari drama ataupun pekerjaan yang telah saya ambil!"tegas Camelia. Menjawab dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Namun, jika pihak produksi merasa saya tidak cocok lagi, mungkin saya akan mundur," tambah Camelia dengan tersenyum. Artinya, jika Camelia mundur maka itu karena pihak produksi.


"Apakah Anda akan melakukan operasi untuk menghilangkan bekas luka?"


Camelia mengangguk. "Ya."


"Konferensi pers cukup sampai di sini. Jika ada pertanyaan lagi, silahkan tanya pada Kominfo," ucap Tuan David, mengakhiri acara itu.


Kemudian, Camelia dan lainnya meninggalkan tempat dengan para wartawan yang masih mengambil foto mereka.


Huft! "Padahal hal duduk dan menjawab sedikit tapi mengapa terasa begitu lelah?"keluh Camelia saat sudah berada di ruangannya.


"Jawabanmu tadi, secara tidak langsung memperingati pihak yang bekerja sama denganmu," cetus Tuan David.


"Aku sengaja."


"Itu dapat mengundang kontroversi," tambah Kak Abi.


"Mereka tidak akan seceroboh itu," sahut Camelia. Ia menjawab dengan telah memperkirakan semuanya. Anggap saja angkuh, karena itu normal untuknya.


"Tuan." Sekretaris Tuan David masuk.


"Ada apa?"


"Pihak produksi Split Love akan tetap memilih Nona Camelia sebagai peran utama wanita," lapornya. Dan pasti, pihak produksi itu sudah menghubungi dan mengkonfirmasi apa yang Camelia katakan pada saat konferensi pers tadi.


"Yang lain?"


"Jawaban mereka sama."


"Hm … baguslah." Tuan David menghela nafas lega.


Camelia menampilkan raut wajah santai. Semua dalam perkiraannya.


"Ini sudah selesai. Aku akan pergi untuk latihan." Camelia bangkit.


"Kau akan latihan?" Kak Abi terkesiap. "Lebih baik aku libur satu hari," saran Kak Abi.


"Hm … tidak. Ada hal yang juga harus aku selesaikan," tolak Camelia.


"Aku pergi. Sampai jumpa," pamit Camelia kemudian. Kak Abi menggeleng pelan.


"Saat ke Korea Selatan nanti, kau ikut dengannya," titah Tuan David. Kak Abi mengangguk.


"Selain itu, cari tahu ada urusan apa dia di tempat latihan selain latihan!"


"Hah?" Belum sempat bertanya, Tuan David meninggalkan ruangan.


"Bukankah itu sedikit private? Apa perasaanku saja, Tuan agak posesif pada Lia?"gumam Kak Abi, bertanya-tanya.


*


*


*


"Ternyata itu yang Anda sembunyikan." Begitu tiba langsung disambut dengan pertanyaan itu. Artinya, Joseph sudah menunggu kedatangan Camelia.


"Kau sudah tahu. Rasa penasaranmu sudah hilang, bukan?"sahut Camelia, dengan menyilangkan kedua tangannya, menarik senyum tipis.


Joseph tersenyum. "Saya sangat puas dan juga kagum dengan keberanian Anda."


"Di saat yang lain sibuk menutupi wajah jika ada luka, bahwa jerawat kecil pun, Anda malah melakukan konferensi pers dan menunjukkan luka itu."


Camelia terkekeh pelan. "Sudahlah. Saya harus latihan."


"Nona Camelia." Joseph memanggil.


"Ya?"


"Meskipun wajah Anda terluka, sama sekali tidak mengurangi kecantikan dan pesona Anda. Saya sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Anda!"ujar Joseph, dengan tersenyum lembut. Camelia terkesiap. Dan segera melanjutkan langkahnya.


"Apa-apaan dia?"gerutu Camelia.


Dan begitulah. Tidak terlalu buruk. Karena di dunia ini, selalu ada dua sisi. Apapun itu, pasti ada sisi baik dan positifnya. Tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan tanggapan publik. Ada yang positif dan negatif.


"Masalah sudah teratasi." Tuan Shane meletakkan tabletnya. Tersenyum, puas dengan Camelia. Putrinya yang tidak lemah dan tegas. Energik dan penuh dengan pesona.


*


*


*


"Kakak!" Camelia menjauhkan ponselnya saat mendengar Dion berteriak keras padanya.


"Apa-apaan kau, Kak?!"seru Dion. Dapat terdengar jelas seruan kekesalannya. Not, bukan kesal namun marah.


Camelia menghela nafas pelan. Sore hari yang seharusnya tenang diisi dengan omelan Dion diujung sana. Mungkin, adiknya itu baru bangun dan begitu mengecek ponsel melihat beritanya.


"Mengapa tidak memberitahuku?!"


"Firasat tidak enakku kemarin karena ini, kan?!"


"Kakak tidak menganggapku?!"


"Answer me, Kak!"


Dion bertanya bertubi. Camelia memijat pangkal hidungnya.


"I'm sorry. Kakak tidak ingin kau khawatir terlalu jauh di sana," jawab Camelia lembut.


"CK!" Dion berdecak. "Dalam waktu satu bulan, sudah berapa kali kakak menjadi trending topic?"keluh Dion. Apalagi setelah kepergian Chris, Camelia banyak tersangkut skandal. Dan kali ini, tentang penculikan dan rusaknya wajah Camelia.


"Apa kakak tahu seberapa khawatir dan kagetnya aku? Luka itu! Pasti sangat sakit, kan?" Nada bicara Dion melemah.


"Sudah tidak lagi."


"Kak!"


"I'm sorry, Dion."


"Huh!"

__ADS_1


Hening beberapa saat. "Sebenarnya ada yang terluka lebih parah dari aku."


"Siapa? Pengawal? Itu wajar karena mereka melindungi kakak. Anda aku di sana, aku akan memarahi pengawal tidak becus itu!"sahut Dion, kembali bersungut-sungut.


"Ya … tapi bukan pengawal."


"Lantas?"


"Andrean."


"Andrean?" Kembali hening. Dion kembali loading.


"Andrean Gong?"


"Iya."


"WHAT?!"


Setelahnya jelas, Dion menuntut Camelia untuk menjelaskannya. Camelia menceritakannya. Termasuk penerimaan keluarga ini pada Andrean selaku ayah kandung Lucas dan Liam.


Mendengar semuanya, Dion tidak merespons panjang. "Syukurlah kalau begitu." Hanya menjawab demikian diikuti dengan helaan nafas lega


"Hm … Dion, kau tidak akan memberitahu ayah dan ibu, kan?"


"Kakak mau jantung ayah kambuh lagi?!"ketus Dion. Camelia tertawa canggung.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Apa pernah aku melarangmu bertanya, Kak?!"


"Ah … bocah! Kau semakin sering membalikkan pertanyaanku ya!"gemas sekaligus geram Camelia.


"Kak?!"


"Baiklah. Apa kau ada dengar kabar tentang Andrean di sana? Ku dengar dia akan kembali ke Shanghai."


"Hm … ya. Aku ada mendengarnya. Group Gong akan mengadakan peresmian pimpinan baru. Kemungkinan dia ada di sana. Kakak ingin aku melakukan apa?"


Camelia tertawa. Dion langsung menanyakan tujuannya bertanya demikian. "Tidak ada. Aku hanya mau memastikan dia benar baik-baik saja. Saat pulang dari sini, lukanya belum kering. Ada kemungkinan lukanya kembali terbuka."


"Katakan saja kau khawatir, Kak."


"Hehe."


"Baiklah. Akan aku lakukan. Kebetulan ada undangan untuk itu."


*


*


*


"CK!"


"Berapa lama lagi aku harus di sini?!" Dion mengesah setelah mengakhiri panggilan pada Camelia. Melemparkan ponselnya ke atas ranjang kemudian mengacak rambutnya frustasi.


"Wanita gila itu! Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran!" Tatapan Dion sangat tajam. Amarah terlihat jelas.


Andai ini bukan perintah Tuan Shane, Dion akan langsung terbang pulang.


"Dan pria itu sudah diterima?"


"Semakin menarik dan sepertinya sangat panjang."


Tok ....


Tok ....


Ekspresi Dion berubah. "Iya, Bu!" Menjadi lembut.


"Ternyata sudah bangun."


"Iya, Bu. Ada apa, Bu?"tanya Dion, dengan menyentuh lehernya.


"Ayahmu mengajak jogging. Selagi kau libur kerja," jawab Nyonya Liang. Ini adalah hari Minggu.


"Aku akan segera bersiap."


"Ibu tunggu di luar." Dion mengangguk. Segera bersiap untuk lari pagi bersama kedua orang tuanya.


Sepuluh menit kemudian, Dion sudah berganti pakaian. Dan segera menyusul kedua orang tuanya.


Restoran cabang ini, terletak tak begitu jauh dari salah satu taman kota. Dion, Tuan dan Nyonya lari pagi dan olahraga di sana.


Menghabiskan waktu dengan keluarga. Quality time. Kegiatan itu diwarnai dengan canda tawa. Tak lupa, Dion mengabadikan momen itu.


Lelah berolahraga dan perut juga meronta lapar, mereka berhenti dan beristirahat. Dion pergi untuk membeli makanan dan minuman. Kembali dengan membawa beberapa bakpao dan minuman kemasan.


"Terbiasa makan masakan buatan Ibu dan Kakak, rasa ini kalah jauh, Bu," ucap Dion.


"Hoho. Benarkah?" Nyonya Liang tersenyum lebar.


"Benar! Memang masakan dan makanan rumah tidak ada duanya!"jawab Dion, dengan sangat yakin.


"Aduh! Anak ini semakin pandai memuji. Ibu jadi malu." Nyonya Liang tersipu.


"Kakakmu pandai memasak, sering memasak juga di sana?"tanya Tuan Liang.


Pertanyaan itu, mengehentikan aktivitas makan Dion. Wajahnya menjadi murung. "Tidak?"terka Tuan Liang.


"Bisa dikatakan jarang. Kecuali waktu hari besar semisal Imlek. Itu karena kakak sangat sibuk. Dulu, sebelum kakak ipar pergi, jika ingin makan makanan Chinese, aku akan mengatakannya pada kakak dan datang ke rumahnya jika waktunya ada. Kalau tidak, kakak akan ke mansion dan memasak di sana. But, no problem. Kakak tetap membagi waktunya di tengah kesibukan. Terlebih ada Lucas dan Liam."


Tanpa sadar, mata Dion berkaca-kaca.


"Nak ...." Nyonya Liang langsung memeluk putranya.


"Jangan menangis. Ibu akan memanjakanmu di sini. Katakan saja apa yang ingin kau makan, ibu akan membuatnya," tutur lembut Nyonya Liang.


"Syukurlah." Tuan Liang tersenyum.


*


*


*


"Ayah!" Andrean yang baru tiba di kediaman lama setelah menempuh penerbangan panjang dan perjalanan darat lagi, disambut oleh Crsytal yang langsung melompat dalam pelukannya.


"Ayah! Aku sangat merindukanmu!" Crystal memeluk erat Andrean.


"Ayah juga sangat merindukanmu," balas Andrean. Tersenyum. Tapi, tampaknya ia merasakan sakit di bahunya, ditandai dengan dahinya yang mengerut dalam.


Tahan, Andrean!


"Selamat datang kembali, Rean," sambut Kakek Gong dengan melebarkan tangannya.

__ADS_1


Andrean kemudian menurunkan Crystal dan beralih memeluk Kakek Gong.


"Cucuku yang hebat telah kembali. Kakek puas dengan hasilnya."


"I-iya, Kakek." Andrean berkata dengan menggigit bibirnya. Matanya sedikit melebar saat Kakek Gong menepuk-nepuk bahunya, bahu kirinya.


"Kakek aku lapar," adu Andrean.


"Lapar? Hoho, ayo-ayo. Kakek sudah siapkan makanan untukmu. Ayo, Crystal."


Crystal menyambut uluran tangan Kakek Gong. Berjalan di dekat kakek buyutnya itu. Andrean menghela nafas lega.


Sepertinya terbuka lagi, pikir Andrean, melirik sekilas ke bahu kirinya.


Segera menyusul Kakek Gong dan Crystal.


"Ayah, apa kerjaan Ayah diluar negeri sudah selesai?"tanya Crystal setelah selesai sarapan. Kakek Gong memang melarangnya untuk bertanya sebelum selesai sarapan.


Andrean menggangguk. "Sudah."


"Lalu … kapan kita pulang ke Istana? Crsytal sudah lama tidak latihan. Guru pasti kesal kalau Crsytal tidak lancar lagi nanti." Crsytal murung.


"Anak ini, sudah berulang kali membahasnya," imbuh kakek Gong.


"Besok kita pulang," sahut Andrean cepat.


"Mengapa tidak hari ini?"tanya Crystal, berharap cepat pulang. Sudah hampir satu Minggu ia berada di kediaman ini. Awalnya senang lama kelamaan jadi bosan. Lebih menyenangkan di rumah sendiri.


"Kau tidak senang di sini?"


"Kangen rumah. Kangen Paman Toby, kangen Paman Hans."


"Ayahmu lelah. Besok adalah waktu yang tepat untuk pulang." Kakek Gong membujuk.


Andrean masih diam. Menatap Crystal yang matanya sudah berembun.


"Jika kau ingin pulang, aku akan suruh Toby menjemput," ucap Andrean.


"Lalu ayah?"


"Masih ada urusan di sini."


Crystal menunduk.


"Aku akan hubungi Toby."


"Rean?"


"Jangan, Ayah," cegah Crystal. Andrean menurunkan ponselnya.


"Aku sama Ayah saja. Pulang bareng Ayah."


"Baiklah." Andrean meletakkan ponselnya.


"Istirahatlah, Rean. Kau pasti lelah. Dan mungkin terkena afek jetlag," ujar Kakek Gong. Andrean mengangguk.


Gegas, Andrean bangkit. "Ah ya, aku bawa oleh-oleh. Ambil dan pilihlah," ujar Andrean sebelum meninggalkan ruang makan.


"Ayah tampak begitu lelah."


"Oleh karenanya, jangan ganggu istirahat ayahmu. Lebih baik buka oleh-olehnya saja," jawab Kakek Gong yang diangguki oleh Crsytal.


*


*


*


"Untung tidak terbuka." Setibanya di kamar, Andrean membuka jas dan kemejanya, juga perbannya, melihat lukanya dari kaca. Sebelum itu, pintu kamar dan jendela ia tutup rapat.


Jahitannya sudah cukup kering. Hanya saja, akibat tepukan tadi kembali berdarah.


Andrean mengeluarkan perban dan obat dari kopernya. Kemudian mengganti perbannya sendiri. Lumayan sulit dilakukan seorang diri.


Huh!


"Selesai juga!" Andrean membaringkan tubuhnya di ranjang. Lukanya sudah selesai kembali diperban dan ia juga sudah memakai baju.


Aku belum menghubunginya. Di sana sudah hampir gelap. Mataku sangat berat. Ah, efek jetlag sial*an!


Dan tak lama kemudian, Andrean tertidur.


*


*


*


"Ayah, Ibu, ada yang ingin aku tanyakan," ujar Dion, setelah selesai makan malam.


"Apa itu?"


"Apa Ayah dan ibu tidak merindukan Crsytal?"tanya Dion.


Tuan dan Nyonya Liang tertegun. Tidak ada bayangan Dion akan bertanya demikian.


Tuan dan Nyonya Liang saling pandang. "Tidak ada niat menghubungi atau mengunjunginya?"tanya Dion lagi.


"Bukan tidak ada niat. Hanya saja …." Tuan Liang menggantung jawabannya.


"Kami tidak punya keberanian untuk datang, Dion," sambung Nyonya Liang, lesu.


"Why? Because her mother?"terka Dion dan dibalas anggukan.


"Kalian merindukannya?"


"Tentu saja! Sebelum tahu kakakmu punya anak, dia adalah satu -satunya cucu kami!"jawab Tuan Liang, cepat dan tegas.


"Kalau begitu mari bertemu dengannya."


"Hah?"


"Tapi ...."


"Mereka ada di Shanghai. Kebetulan, besok ada acara di keluarga itu. Aku dapat undangan untuk menghadirinya dan boleh membawa panther." Dion menunjukan undangan yang ia foto. Ribet membawa bukti fisiknya.


"Aku rasa, tanpa undangan pun Ayah dan Ibu bisa masuk."


"Ini?"


"Group Gong?" Tuan dan Nyonya Liang kembali terhenyak.


"Beberapa hari yang lalu, ada banyak pesanan atas nama Group Gong dan itu untuk besok. Andrean bagian darinya?"


Dion mengerjap. Tuan dan Nyonya Liang mengernyit.

__ADS_1


"Astaga! Bagaimana bisa kalian melupakannya?"


__ADS_2