Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 167


__ADS_3

"Kau dari lokasi syuting, Kak?"tanya Dion, mengalihkan pandang ke arah Evelin. Evelin terkesiap. Segera menundukkan kepalanya.


Jantungku berdebar kencang, batin Evelin.


"Ada wajah baru di sini. Asistenmu, Kak?"tanya Dion lagi.


"Lalu aku lapar. Ayo kita pulang," ajak Dion. Bahkan Camelia belum menjawab pertanyaannya.


"Dia Evelin, Asistenku sekarang. Sebelum pulang, ayo ambil foto dulu," ujar Camelia. Camelia menyerahkan ponselnya pada Evelin.


Evelin mengambil beberapa foto. Camelia dan Dion berfoto dengan beberapa fose. Mulai formal, candid, dan juga acak.


"Oh iya, Eve. Aku lupa memperkenalkannya. Ini Dion, adikku," ujar Camelia, setelah mengecek hasil fotonya.


"Adik?"


Evelin tahu Camelia punya adik. Namun, tidak menduga semuda ini. Terlihat lebih muda dan tampan ketimbang di foto.


"Dia baru kembali dari China," imbuh Camelia.


Setelah semua barang bawaan Dion masuk bagasi, mereka meninggalkan bandara.


Dalam perjalanan itu, Camelia memposting fotonya dengan Dion.


*


*


*


"Em … Nona, saja turun di depan saja," ujar Evelin, merujuk pada persimpangan empat, di mana jika dari bandara, rumah Evelin dengan kediaman Shane berbeda arah. Namun, jika dari lokasi syuting, mereka akan searah. Jika tidak searah, biasanya Evelin dan Camelia pulang terpisah. Evelin merasa segan.


"Kami antar saja," jawab Camelia.


"Tidak perlu, Nona. Nanti Anda akan jauh sekali jadinya. Lagipula, Tuan Muda juga butuh istirahat," tolak Evelin. Dari tempatnya berada, Evelin bisa melihat Dion tengah tertidur.


"Ya sudah kalau begitu." Camelia menyuruh sopir berhenti setelah belok kiri di persimpangan.


"Maaf merepotkanmu, Eve," sesal Camelia.


"Tidak apa, Nona. Hati-hati di jalan."


Camelia mengangguk kecil. Evelin menatap mobil yang menjauh. Kemudian segera bergegas untuk mencari taksi.


*


*


*


"Dion, wake up." Camelia membangunkan Dion, memberi guncangan ringan pada Dion.


Dion terbangun. Mengerjap beberapa kali sembari menyugar rambutnya.


"Sudah sampai?"


"Apa kau tidak tidur di pesawat?"tanya Camelia.


Baru turun dari pesawat dengan perjalanan jauh, belum ada lima menit di mobil sudah tertidur. Artinya, Dion sangat lelah.


"Hoam … hanya efek jetlag, Kak. Sekarang aku benar-benar lapar. Apa makan malam sudah ada?"jawab Dion. Menjawab dengan merenggangkan tubuhnya kemudian mengusap perut.


Camelia melihat jam tangannya. "Pasti ada yang sudah matang. Jika tidak ada, mie instan jalan keluarnya."


Dion mengangguk. Keduanya masuk ke dalam rumah.


"Nona, Tuan Muda."


"Yang lain sudah pulang?"


"Tuan dan Nyonya Besar belum kembali, Nona."


"Baiklah. Apa makan malam sudah ada?"


"Tinggal dua menu lagi yang belum selesai, Nona."


"Kalau begitu tolong panggilkan Lucas dan Liam."


Satu pelayan bergegas menjalankan perintah Camelia. Satu pelayan lagi membereskan barang bawaan Dion. Sementara Camelia dan Dion, mereka menuju meja makan.


"Mom!"


"Uncle!"


Lucas dan Liam berlari menuju meja makan.


"Grandpa dan Grandma sebentar lagi akan pulang," ujar Lucas. Setelah mereka bertukar kabar dan saling melepas rindu. Tak lupa, Dion memberikan oleh-oleh yang ia bawa untuk Lucas dan Liam.


Tiba-tiba, Dion yang sudah membuka piringnya, kembali menutup piring itu.


"Aku tidak bisa makan duluan. Apa ada camilan?"

__ADS_1


"Ada banyak." Lucas turun dari kursinya, menuju kulkas dan membawa beberapa makanan ringan. Tidak. Ada juga biskuit di dalamnya.


Camelia menghela nafasnya. Padahal katanya sangat lapar dan juga lelah. Tapi, Dion tetap menunggu Tuan dan Nyonya Shane untuk makan malam bersama.


"Ini, makanlah semua, Uncle."


Dion tertawa. "Jika begitu aku tidak akan makan malam lagi."


Camelia terkekeh.


"Sayang sekali Kakek dan Nenek tidak ikut," ucap Liam.


"Ah?"


Berbeda dari yang direncanakan. Semula, direncanakan Tuan dan Nyonya Liang akan ikut ke Kanada, bersamaan dengan Dion yang pulang ke Kanada setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, beberapa hari sebelum kepulangan Dion, mereka memutuskan untuk tidak ikut.


Mengingat dan menimbang bahwa, Camelia masih sibuk dengan syutingnya. Dion yang juga akan sibuk. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. Apalagi Tuan dan Nyonya Shane. Mereka, satu keluarga adalah keluarga yang sibuk.


Melihat pula, selama di Shanghai, setengah waktu Dion dihabiskan di kantor. Pergi lebih awal dan pulang dominan malam. Jadi, waktu untuk bersama juga tidak begitu banyak.


Hal yang sama pasti akan terulang jika keduanya ikut. Masih mending jika di rumah sendiri. Ini, sudah di rumah orang lain, dan tidak tahu harus melakukan apa. Lebih banyak menunggu ketimbang kebersamaannya. Bukankah itu, tidak sepadan?


Juga, di Kanada mereka tidak mungkin satu dua hari langsung pulang. Sudah terbayang betapa jenuhnya itu. Lebih baik menunggu kesibukan itu mereda. Terutama Camelia. Karena jika Dion, tidak bisa berharap banyak padanya.


"Benar. Sayang sekali. Tapi, setelah aku pikir-pikir itu keputusan yang tepat," ujar Dion.


"Omong-omong, aku lupa mengatakannya. Mr. Gong titip salam untuk kalian. Juga ada titipannya. Ada di koper," ujar Dion. Setelah perutnya terisi dan efek jetlag memudar, pikirannya kembali jernih.


"Padahal sudah aku katakan tidak perlu," gumam Camelia.


*


*


*


Sekitar satu jam kemudian, Tuan dan Nyonya Shane pulang. Seperti biasa, keduanya tampak lelah. Namun, lelah itu seakan menguap saat disambut dan melihat senyum anak dan cucunya.


Dion bergantian memeluk Tuan dan Nyonya. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama.


Selepas makan makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Tak lupa, Dion mengambil titipan Andrean dan memberikannya pada Camelia, Lucas, dan Liam.


"Ayah tahu kalian tidak kekurangan apapun. Ayah juga bingung mau mengirim apa. Tiba-tiba, saat rapat di mall, Ayah lihat mainan bongkar pasang dan puzzle ini. Ayah harap kalian menyukainya."


Lucas membaca surat yang ada di dalam titipan Andrean untuk mereka berdua. Melihat mainan bongkar pasang juga puzzle.


"Aku menyukainya sih, tapi … aku merasa tidak cocok dengan mainan bongkar pasang ini," gumam Lucas. Yang dapat didengar jelas oleh Liam dan Camelia.


Di era yang serba digital ini, mainan jadul pun sudah ada dalam bentuk aplikasi. Namun, bukan itu esensinya. Dengan pemikiran keduanya yang di atas usia mereka, juga dengan kesibukan mereka. Sayang menyayangkan tidak bisa memainkannya.


Akan tetapi, jika untuk puzzle, mainan itu tidak memandang usai karena mengasah ketelitian, kecermatan, dan ketepatan.


"Setidaknya ayah kalian bukan tipe yang terima beres. Ketahuilah, memainkan sesuatu secara langsung lebih menyenangkan daripada game ponsel. Seperti itu pula, lebih menyenangkan dan berkesan pertemuan langsung daripada virtual," ujar Nyonya Shane.


"Iya, sih. Kami akan mengusahakannya. Namun, jika ini. Lucas, ayo pecahkan puzzle ini," ajak Liam. Keduanya langsung ambil posisi duduk yang nyaman di lantai berbalut permadani itu.


"Em?" Camelia memiringkan wajahnya saat melihat kiriman untuknya. Sebuah bingkai. Dan kanvas.


"Itu baju tradisional China?"tanya Nyonya Shane.


"Iya, Mom."


"Lukisan ini, ini kau kan, Lia?" Nyonya Shane memastikan. Matanya tidak mungkin salah. Itu adalah lukisan Camelia dalam busana hanfu.


Darimana dia dapat fotoku seperti ini?batin Camelia.


"Lihat, Mom."


Camelia menunjukkan foto itu pada kedua anaknya juga pada Dion.


"Cantik sekali. Mom seperti peri," puji Lucas. Yang diangguki Liam.


"Kakakku memang yang terbaik."


Aku ingat. Ini fotoku untuk BA Phoenix Teknologi, seru Camelia dalam hati.


Astaga. Bagaimana bisa ia kepikiran hal ini? Camelia berdecak.


"Semakin hari, Daddy rasakan dia semakin cocok menjadi pasanganmu, Lia," ucap Tuan Shane. Ia mulai bergabung dalam pembicaraan setelah sebelumnya hanya melihat dan mendengarkan.


"Eh?"


Camelia tersipu.


"Dion."


"Iya, Dad."


"Lusa kau sudah masuk kantor, okay? Ada beberapa hal yang harus diurus untuk penyerahan jabatan," ujar Tuan Shane.


"Hei, tidak bisakah kau beri waktu Dion untuk bernafas? Lusa terlalu cepat. Satu minggu lagi saja," tolak Nyonya Shane.

__ADS_1


"Eh, itu kelamaan, Mom," tolak Dion. Satu minggu, apa yang akan ia lakukan dengan waktu selama itu? Dua hari, itu sudah cukup. Waktu yang cocok.


"Ada banyak yang harus dipersiapkan, Lily. Lagipula, kita akan mengambil libur cukup lama nanti. Urusan itu harus segera diselesaikan agar nanti tidak repot," ujar Tuan Shane, tidak setuju dengan penolakan isterinya.


"Aku setuju dengan Daddy, Mom."


Nyonya Shane mendengus. "Terserah kalian saja. Oh iya, kapan kalian ada waktu?"


"Untuk apa, Mom?"


"Berkunjung dengan pusat pelatihan. Tidak lama, hanya sekitar 2 atau 3 jam saja."


"Aku tidak memegang jadwalku, Mom. Nanti akan aku beritahu," ujar Camelia. Nyonya Shane mengangguk.


*


*


*


"Kau dari mana, Dion?"tanya Camelia. Saat turun hendak memasak sarapan, bertemu dengan Dion yang entah darimana, wajahnya berkeringat banyak.


"Oh, jadi jogging, Kak."


"Efek jetlagmu sudah hilang?"


"Ya begitulah. Kakak mau masak?"tanya balik Dion.


"Iya."


"Ya enak ya, Kak. Oh iya, hari ini aku ikut kakak ya?"


"Untuk?"


"Mensurvei," jawab Dion dengan mimik serius.


"Okay."


Setelah itu, Dion ke kamarnya. Sementara Camelia berperang dengan alat-alat dapur.


*


*


*


Bertemu lagi?


Entah mengapa Evelin merasa tegang. Di depannya, ada Camelia dan Dion yang berbincang ria. Mereka menuju lokasi syuting menggunakan mobil Dion, dengan Dion sendiri yang menyetir.


Dan mengapa aku duduk di sini?


Evelin duduk di bangku penumpang. Jelas itu membuatnya gugup, canggung, dan bercampur tegang.


Tuan Muda ini … jauh lebih tampan dari kemarin.


Jika kemarin Dion, saat pulang Dion menggunakan setelan formal. Menunjukkan kesan serius dan lebih dewasa dari usianya.


Hari ini, Dion menggunakan setelan casual anak muda. Kaos oblong, dan jeans panjang. Aura benar-benar sesuai dengan usianya. Apalagi saat tersenyum dan tertawa.


Jantung, tenanglah.


Sekitar pukul 09.00, mereka tiba di lokasi syuting. Jadwal Camelia memang agak siangan.


"Belum keluar saja, aku sudah merasa di sana tidak nyaman, Kak," ucap Dion. Mereka masih berada di dalam mobil.


"Karena di sana ada ulat bulu dan ba*jingan, Tuan Muda," jawab Evelin spontan.


"Apa?" Dion menoleh ke belakang. Ekspresi Evelin begitu serius.


Camelia terkekeh pelan. "Nanti kau juga akan tahu, Dion."


Mereka kemudian turun. Suasana sudah ramai. Karena sedang mengambil take adegan. Dan persiapan adegan berikutnya.


"Aku bersiap dulu. Kau tunggulah di sini atau silakan jika kau mau berkeliling." Dion mengangguk. Pemuda itu memilih untuk berkeliling. Ingin merasakan langsung suasana syuting kakaknya kali ini.


"Hei, Pria muda," panggil seseorang.


"Hei!"


Dion tidak mempedulikankan. "Apa kau tuli?"


"Aku memanggilmu!"


"Hm?" Dion membalikkan tubuhnya. Seorang wanita dengan pakaian yang cukup berbuka, menatapnya dengan kesal.


"Anda memanggil saya?"tanya Dion, dengan mengeryitkan dahinya.


"Ya aku memanggilmu, kau berondongnya Camelia, kan?!"


"Apa?" Dion terhenyak.

__ADS_1


Apa wanita ini gila?


__ADS_2