Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 127


__ADS_3

Berita selebritis pagi di setiap channel televisi menayangkan berita kepulangan Camelia.


Foto Camelia tiba di bandara Bandar Udara Internasional Ottawa Macdonald-Cartier beredar di media.


Wajah Camelia yang sudah kembali mulus pun tersorot dan menjadi perbincangan hangat.


Ya … apapun tentangnya, besar atau kecil akan selalu disorot.


"Kau akan kembali sibuk." Sebuah pernyataan bukan pertanyaan dari Tuan Shane.


Saat ini keluarga Shane tengah berkumpul di meja makan, sarapan bersama memulai aktivitas.


Camelia mengangguk membenarkan.


Ya, ia akan kembali sibuk dengan rutinitasnya.


"Minggu depan adalah hari ulang tahun Daddy. Jangan lupa luangkan waktumu, Lia," ujar Nyonya Shane.


"Really?" Camelia terkesiap. Kemudian mengingat tanggal.


Astaga!


"Pasti!" Menjawab mantap. Mana mungkin ia tidak hadir?!


"Kau juga, Lina, jangan lupa luangkan waktumu," ujar Nyonya Shane.


"Pasti, Tuan!" Lina menjawab mantap pula.


Ikut merayakan ulang tahun Nyonya Shane?


Lina tidak yakin itu hanya perayaan sederhana. Setidaknya, ada pesta untuk itu. Jika tidak mengundang tamu, pasti dirayakan mewah oleh keluarga.


Lina sangat excited dengan itu.


"Aku berangkat denganmu, Lia," ujar Lina sebelum Camelia masuk ke dalam mobil.


Lucas dan Liam, mereka dijemput oleh Kak Abi untuk pemotretan.


"Oh, baiklah."


Lina masuk ke dalam mobil Camelia.


"Bagaimana pekerjaanmu, Kak?"tanya Camelia, tak lama setelah mobil meninggalkan kediaman Shane.


"Begitulah. Guruku sangat galak. Tiada hari tanpa kritik. Padahal yang aku lakukan sudah tepat, ada saja kesalahannya," jawab Lina, mengeluhkan mentornya yakni Manager senior Margaretha.


Camelia tertawa renyah. "Tapi, kau dapat banyak ilmu darinya kan, Kak?"


"Hm … itu tak dapat aku pungkiri!"


"Apa kau ada diganggu?"


"Awalnya. Jika diingat rasanya kembali menyebalkan menjadi kacung. Namun, ada perbedaan besar. Menjadi kacung di sini, menambah ilmu dan wawasanku. Banyak informasi penting yang aku dapat. Dan ya, aku yakin bisa melewati 18 bulan itu dengan baik," tutur Lina. Penuh semangat dan keyakinan.


Camelia kembali tertawa.


"Tapi…." Lina berkata pelan dan ragu.


"Sepertinya aku ada sedikit masalah dengan Tuan Presdir," lirih Lina.


"Masalah?" Camelia membeo. Lina mengangguk pelan.


"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


"Err … tidak. Tapi, aku takut jika berhadapan dengannya," ringis Lina.


"Kak David biasanya tidak terlalu membalas. Tapi, kalau sudah diluar batas, mungkin aku tidak bisa membantu," ujar Camelia. Lina kembali meringis.


"Sepertinya begitu."


"Begitu?"


"Ahaha … sudahlah lupakan saja," kekeh Lina, tertawa seraya menunjukkan deretan giginya.


Mendengar itu, Camelia mengangkat bahunya.


"Aku pergi dulu," ujar Lina saat tiba di Glory Entertainment, langsung lari meninggalkan Camelia.


Camelia mengerjap, kemudian menggeleng pelan. "Sepertinya ada yang aku lewatkan."


*


*


*


"Lia." Tuan David datang ke ruangan Camelia.


"Iya, Kak?"balas Camelia.


"Malam ini ada waktu?"tanya Tuan David.


"Untuk?"tanya Camelia dengan mengernyit.


"Ada undangan pesta, aku tak ada pasangan, kau ada waktu?"tanya Tuan David. Tatapan harap-harap cemas Camelia akan menolak.


Camelia menimang.


Undangan pesta?


"Undangan seperti apa?"


"Bisa dikatakan pertemuan."


"Aku bisa."


"Really? Kau yakin?"tanya Tuan David memastikan.


"Iya."


"Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti." Tuan David tersenyum lebar.


"Tidak! Aku akan pergi sendiri. Kita bertemu di sana saja," tolak Camelia.

__ADS_1


"Kau … tidak akan memberitahu Tuan dan Nyonya Shane?"tuding Tuan David. Camelia mendengus sebal.


"Tentu saja aku beritahu! Aku tak mau kau repot, Kak. Kita bertemu di sana saja."


Tuan David diam beberapa saat. "Hm, baiklah," jawabnya kemudian.


"Kalau begitu aku pergi. Sampai nanti."


"Okay."


Kini David menuju lift. Lift itu terletak di bagian pinggir gedung, di dekatnya adalah dinding kaca yang menampakkan pemandangan luar.


"Apa-apaan kau, David?! Apa yang kau pikirkan, hah? Dia itu istri adikmu, bagaimana bisa kau menyukainya?!"erang frustasi Tuan David setelah berada di dalam lift. Ia memukul dinding.


*


*


*


"Pesta?"beo Tuan Shane saat Camelia berpamitan.


"Iya."


"David mengajakmu?"tanya Tuan Shane lagi, dengan mata menyipit, tengah menginterogasi Camelia sebelum pergi.


"Iya, Dad," jawab Camelia.


"Hanya kau dan dia?"tanya Tuan Shane lagi.


"Lia rasa begitu."


"Mengapa tidak menjemputmu?"


"Lia menolaknya," jelas Camelia. Tuan Shane manggut-manggut.


"Boleh, Dad?"tanya Camelia, dengan sedikit meringis dan menaikkan alisnya.


"Cepat pulang!"


"Tentu!" Camelia menjawab mantap.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Jangan lupa bawa makanan Mom," pesan Lucas yang diangguki oleh Camelia.


Dalam waktu sekitar tiga puluh menit, Camelia tiba di hotel tempat pesta diadakan. Rupanya ini adalah pesta untuk peresmian anak cabang perusahaan yang bergerak di bidang transportasi.


Tamu undangannya banyak. Dan banyak juga dari kalangan artis. Juga para pengusaha serta pejabat.


Tuan David telah menanti di sana. Begitu melihat mobil Camelia, langsung maju. Membukakan pintu dan mengulurkan tangannya.


Mobil itu, mobil yang biasa Camelia gunakan. Wartawan seakan sudah hafal dan langsung berburu foto dan juga berebut untuk mewawancarai.


Camelia tampil dengan dres berwarna putih yang digunakan sewaktu di Seoul beberapa waktu lalu. Dan Tuan David, setelannya formal seperti biasa.


"Mau menerima wawancara?"tanya Tuan David. Ia sudah menggandeng Camelia.


"Boleh," jawab Camelia singkat.


Camelia mengangguk, "silakan."


"Beberapa waktu lalu, ada kabar bahwa wajah Anda terluka. Namun, kemarin saat di bandara, wajah Anda mulus tanpa luka. Apakah di Korea Selatan, Anda melakukan operasi plastik?"tanya wartawan, langsung pada tujuannya.


"Untuk melakukan perawatan menghilangkan bekas luka namun bukan operasi plastik," jawab Camelia.


"Lalu, Nona?"


"Metode peeling," jawab Camelia dengan tersenyum lebar, begitu menawan.


"Anda sudah kembali, artinya Anda akan kembali aktif lagi?"


"Tentu saja."


"Tak lama lagi syuting akan dimulai. Oleh karenanya, mohon dukungan kalian," lanjut Camelia, dengan kembali tersenyum.


"Tuan David, apa tidak ada tanggapan?"tanya salah seorang wartawan pada Tuan David.


"Mohon dukungannya!"jawab Tuan David, tersenyum.


"Eh, boleh saya ajukan satu pertanyaan lagi?"


"Silakan."


"Anda berdua datang bersama sebagai pasangan, apa Anda berdua ada hubungan spesial? Tuan David, bukankah Anda punya hubungan dengan Nona Jenny dari AX Company?"


Pertanyaan itu sontak membuat hening beberapa saat. Semua saling lirik, begitu juga Camelia dan Tuan David yang saling tatap, kaget? Tidak terlalu karena itu sudah dalam list resiko.


"Lantas? Jika kami menghadiri acara ini bersama, artinya ada hubungan?"tanya Camelia, membalas pertanyaan dengan pertanyaan.


"Saya dan Nona Jenny sudah tidak ada hubungan apapun," tegas Tuan David.


Itu artinya putus? Camelia sontak membulatkan matanya.


Kapan keduanya putus?


"Kami putus secara damai karena tidak menemukan kecocokan, serta kami punya kesibukan masing-masing membuat kami tidak ada waktu satu sama lain," papar Tuan David lagi. Wajahnya tetap tenang.


Benar juga, Nona Jenny adalah general manager, Tuan David adalah CEO Glory Entertainment, pekerjaan yang sangat sibuk dan menyita waktu. Alasan putus yang wajar.


"Sementara dengan Camelia, kami sudah dekat sejak lama, bahkan saat Chris masih ada. Hubungan kami adalah keluarga, bukan pasangan! Harap dicatat baik-baik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman!" Tuan David berkata tegas. Sorot matanya tenang namun penuh penekanan.


Terjadi bisik-bisik. Tapi, tak ada sanggahan yang keluar.


"Terima kasih atas waktunya, Nona, Tuan David." Pada akhirnya itu yang keluar. Yang diangguki oleh keduanya, kemudian memasuki ruangan pesta.


"Kapan kau putus dengan Nona Jenny, Kak?"tanya Camelia dengan berbisik.


"Dua hari yang lalu," jawab Tuan David. "Jangan bicara ini sekarang," imbuhnya.


Camelia terkekeh pelan.


Satu kata untuk ruang acara, mewah.

__ADS_1


Namun, bagi keduanya jelas itu sudah biasa.


Makanan berjajar, begitu juga dengan minuman. Dan hiburan, berupa live musik. Jika ada yang ingin menyumbang suara, dipersilahkan.


Menyapa banyak orang. Dan banyak yang mengucapkan selamat untuk Camelia. Selamat untuk kembalinya wajah yang mulus juga untuk comeback.


"Camelia," sapa seseorang. Camelia menoleh, mengenali suara itu.


"Joseph," balas Camelia, tebakannya benar. Calon lawan mainnya itu datang menghampiri dengan membawa segelas anggur merah.


Tuan David mengernyit.


Camelia?


Joseph?


Tanpa embel-embel?


Sejak kapan mereka dekat?


Batinnya bertanya-tanya.


"Ah … selamat malam, Tuan David," sapa Joseph pada Tuan David, seakan baru menyadari bahwa Tuan David ada di samping Camelia.


"Malam, Tuan Joseph," balas Tuan David.


"Bagaimana kabarmu?"tanya Joseph. Dan Tuan David yakin itu hanya basa basi.


"Aku baik."


"Artinya besok sudah bisa hadir untuk latihan?" Wajah Joseph tampak sumringah.


Camelia mengangguk. "Ah … benar. Sepekan tidak latihan fisik, pasti ada banyak gerakan yang tertinggal," ujar Joseph.


"Ku rasa."


"Kalian bicaralah, aku akan ke sana dulu," ujar Tuan David, ia merasa dirinya seolah menjadi lalat di antara dua orang itu.


"Okay."


Joseph melirik sekilas. "Latihan gerak sudah sampai bab mana?"tanya Camelia kemudian, mengembalikan fokus Joseph.


"Sudah cukup jauh."


"Begitu ya?" Camelia menghela nafasnya. Walaupun sudah menduga, tetap saja rasanya berat. Ia ketinggalan banyak.


"Tapi, aku yakin Anda akan dapat menyusulnya," ucap Joseph, menyemangati.


"Terima kasih."


"Tidak minum?"tawar Joseph. Camelia menggeleng.


"Terima kasih," ujarnya atas tawaran itu.


"Baiklah.


"Setelah lukanya hilang, wajah Anda menjadi semakin cantik," puji Joseph dengan sedikit berbisik. Camelia terperanjat mendengarnya. Matanya membulat dengan bibir sedikit terbuka.


"Hehehe…." Joseph malah cengengesan setelah mengatakannya.


"Saya merasa terhormat bisa satu layar dengan Anda," lanjutnya lagi.


"Ahahaha … saya juga." Camelia positif thinking saja. Meskipun masih ragu.


"By de way, kau sendirian, Joseph?"tanya Camelia.


"Ehem."


"Saya tidak menyangka Anda akan hadir bersama dengan Tuan David. Kalian berdua ada hubungan?" Pertanyaan Joseph sama dengan pertanyaan wartawan tadi. Membuat Camelia mendengus, merasa jengkel.


Berhubungan baik dengan yang sana, dikira ada hubungan spesial. Tegur sapa dan interaksi baik di lokasi syuting, juga dikira ada hubungan. Datang ke pesta acara resmi dengan banyak wartawanpun, dikira ada hubungan spesial.


Bukankah itu sangat menyebalkan?


CK! Dan bersembunyi di balik kalimat, sudah resiko menjadi seorang artis!


"Dia sudah ku anggap sebagai seorang kakak," jawab Camelia.


"Saudara pun bisa ada hubungan spesial," cetus Joseph.


"Memangnya saya orang seperti itu?" Camelia melayangkan tatapan tajam.


"Anda benar-benar orang yang kepo," cetus Camelia kemudian, membalas cetusan Joseph tadi.


"Hahaha, tidak-tidak."


Camelia berdecak pelan, melihat jam tangannya. Sudah saatnya untuk pulang. "Saya permisi dulu," ujar Camelia.


"Ah … silakan. Sampai jumpa saat latihan besok." Yang diangguki oleh Camelia.


Astaga! Mengapa aku sangat ingin tahu tentangnya dan kehidupannya? Apa aku menyukainya?


Sekali lagi, Joseph mempertanyakan itu di dalam hatinya. Yang sampai kini, ia tidak bisa memastikannya.


"Kak," panggil Camelia saat melihat Tuan David.


"Lia."


"Kenalkan, ini adalah…." Tuan David mengenalkan Camelia pada lawan bicaranya tadi.


"Hallo," sapa Camelia pada mereka.


"Camelia adalah kebanggaan Glory Entertainment. Dia adalah artis yang multitalenta," ujar Tuan David memuji Camelia.


"Saya sudah mendengarnya, Tuan David. Namun, sebagai produser musik, saya lebih tertarik pada kemampuan bernyanyi Nona Camelia." Rupanya pria yang menggunakan baret itu adalah seorang produser musik.


"Jika tidak keberatan, apakah Anda bisa menyanyikan satu lagu untuk kami, Nona Camelia?"


"Ah?" Camelia tertegun. Ia mau pulang, mengapa ada tawaran, tidak permintaan seperti itu.


"Bagaimana, Lia?"


"Baiklah." Ia harus tetap profesional. Menyanyi hanya sebentar, paling lama sepuluh menit.

__ADS_1


"Bagus! Ayo-ayo, silakan." Camelia menuju panggung untuk bernyanyi dan itu menarik perhatian pada tamu.


__ADS_2