Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap 250


__ADS_3

“Bayi ini benar-benar duplikat Andrean,” ucap takjub Nyonya Shane saat menggendong Yuwen. Camelia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Ruang rawat yang terpisah dengan Liam.


“Grandma, darimana melihat kemiripannya?”tanya Lucas penasaran.


“Iya, Grandma, darimana melihatnya? Aku melihatnya sama saja, tidak ada bedanya,” imbuh Crystal.


“Lihat matanya, bentuk hidung, dan dahinya, mirip sekali dengan Ayahmu, bukan?”jelas Nyonya Shane. Lucas dan Crystal membandingkannya. Liam tidak di sini, ia sedang menjalani pemeriksaan untuk persiapan operasi.


“Tidak terlalu terlihat,” ucap Lucas menyengir. Bayi mungil itu berbeda jauh dengan Ayahnya!


Nyonya Shane terkekeh pelan. “Mungkin hanya seorang ibu yang dapat melihatnya. Ayah kalian juga kebingungan.”


“Keterlaluan bukan, Mom?”sahut Camelia.


Owekk


Owekk


Owekk


“Lapar lagi?”tanya Camelia, kemudian meminta Yuwen dalam gendongannya.


“Lekaslah disusui kemudian Yuwen akan masuk ke ruang bayi lagi,” ujar Nyonya Shane, yang diangguki oleh Camelia. Nyonya Shane kemudian duduk di sofa bersama dengan Tuan Shane.


Lucas dan Crystal masih di sisi Camelia, sibuk bercengkrama dengan adik mereka.


Sementara Andrean beralih menunggui pemeriksaan Liam.


“Sebentar lagi kita akan kembali ke negara masing-masing,” ucap Tuan Shane.


“Mengapa kau membahas hal itu?”kesal Nyonya Shane.


“Jadi?”tanya balik Tuan Shane. “Atau kau mau tinggal di sini lebih lama?”


“Kita kan bisa tinggal lebih lama di rumah Andrean,” ucap Nyonya Shane mencembikkan bibirnya. “Cucu baru lahir, harus menemani lebih lama.”


“Kita sudah kurang lebih 5 bulan di sini, Dion pasti sangat kesulitan mengurus semuanya di sana.”


Ah, Dion, setelah pulang dari Jepang itu, ia tidak lagi datang berkunjung, berkomunikasi lewat telepon saja. Camelia merindukan adik laki-lakinya itu.


“Kalau begitu kau saja yang kembali lebih dulu. Aku ingin memenami cucuku lebih lama,” ucap Nyonya Shane.


Camelia, benar-benar seorang anak perempuan baginya, putrinya yang berharga. “Jika seperti itu, baiklah. Aku akan kembali lebih dulu.”


“Apa tidak apa-apa?”tanya Camelia tidak enak.


“Tidak apa, Lia. Lagipula selama di sini, Daddy tidak bisa banyak membantu Dion.” Sebenarnya itu juga ujian dan sebuah ajang membuktikan kemampuan Dion. Jika terus di backing, pasti akan ada yang meremehkan Dion. Jika bisa mengurus perusahaan dengan baik tanpa banyak campur tangannya, maka itu akan menjadi pencapaian yang baik untuk Dion dan melegakan hati Tuan Shane karena mempercayakan perusahaan di tangan yang tepat.


Camelia mengangguk. Ia belum memberitahu Dion tentang kelahiran Yuwen. Karena di sana, ini adalah dini hari.


*


*


*


“Operasi dijadwalkan besok pagi,” ucap Andrean memberitahu hasil pemeriksaan Liam.


Camelia mengangguk lalu memeluk Liam. “Bagaimana perasaanmu, Liam?”


“Entahlah, Mom. Rasanya campur aduk. Aku merasa takut, senang, lega,” jawab Liam.


“Jangan takut, Mom ada di sini, okay?”


“Sebentar lagi kita akan pulang. Penantian kita akan berakhir.”


“Iya, Mom. Aku senang. Aku sangat merindukan rumah,” jawab Liam.


Lucas dan Crystal yang tak mau ketinggalan moment, ikut nimbrung dalam pelukan itu.


Kondisi Liam yang sudah stabil, jadwal operasi bisa ditetapkan dengan cepat. Sebenarnya pemberian antibiotik sudah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi kesehatan Liam. Namun, saat tinggal sedikit lagi, terasa seperti stuck di tempat.


Alhasil keputusan untuk segera melangsungkan operasi diambil.


“Kakak!”


“Dion!”


“Bagaimana keadaanmu, Kak?”tanya Dion khawatir di sana.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja.”


“Serius? Kau tidak berbohong kan, Kak?”tanya Dion menyelidik. Camelia menggelengkan kepalanya.


“Lihat rona wajahku, apakah terlihat seperti sakit, hm?”tanya balik Camelia. Dion tersenyum lega.


“Syukurlah kalau begitu, Kak. Lalu di mana keponakanku, Gong Yuwen?”


Camelia memutar kamera menjadi kamera belakang. “Tampan sekali.” Setelah Dion puas melihat keponakan barunya, Camelia mengembalikan kamera menjadi kamera depan.


“Lalu … kapan operasi Liam, Kak?”


“Besok pagi,” jawab Camelia.


Dion mengangguk paham.


“Aku akan segera menemui Kakak.”


“Ke Jepang?”


“Iya.”


“Lebih baik ke Beijing saja. Ayah dan Ibu tidak akan ke Jepang karena sebentar lagi kami akan pulang,” jelas Camelia.


“Begitu rupanya. Baiklah.”


“Bagaimana pekerjaanmu, Dion?”


“Ya begitulah, Kak. Jika aku katakan lancar-lancar saja terlalu muda untukku. Tapi, semuanya bisa aku atasi dengan baik,” ujar Dion. Camelia tersenyum bangga. Dan hanya sampai di sana pembicaraan keduanya lancar karena setelahnya ponsel Camelia di monopoli oleh anak-anak.


*


*


*


Semuanya menunggu di depan ruang operasi dengan harap-harap cemas. Sudah sekitar satu jam Liam di dalam ruangan itu. Lampu operasi masih menyala. Camelia berharap besar.


Lucas diam sembari memegang dadanya. Jantungnya berdebar keras. Matanya terpejam rapat. Di detik berikutnya, Liam menepuk-nepuk pelan dadanya. “Rasa sakitnya berkurang banyak …. Liam, akhirnya.” gumam Lucas, membuka matanya dengan senyum begitu lebar diikuti dengan matinya lampu operasi, pertanda operasi telah selesai dilakukan.


Semua berdiri, menantikan dokter keluar. “Bagaimana?”tanya Andrean pada dokter Adam dan Dokter Leo yang keluar bersamaan. Kedua dokter membuka masker mereka.


Kedua dokter tersenyum lebar. “Selamat, Nyonya, Tuan, operasinya berhasil dan sekarang Tuan Muda Liam hanya perlu menjalani tahap pemulihan pasca operasi, setelah kondisinya cukup kuat, maka bisa keluar dari rumah sakit dengan tahap pemulihan rawat jalan,” jelas Dokter Adam.


“Syukurlah.”


“Puji Tuhan. Thanks, God.” Camelia langsung menangis lega dalam pelukan Andrean.


Tuan dan Nyonya Shane berpelukan. Lucas menghapus air matanya, begitu juga dengan Crystal.


*


*


*


“Liam? Liam? Kau sudah sadar?”


Liam mengerjapkan matanya perlahan. Meringis pelan karena pengaruh obat bius yang sudah hilang. Jahitan luka operasi terasa sakit, perih, dan sedikit gatal.


“Air.”


Camelia segera membantu Liam minum. Setelah minum, Liam diam cukup lama. Ia tengah mengingat apa yang terjadi. Kemudian menolehkan kepalanya. Keluarganya, menatap dirinya dengan cemas. Ada Yuwen dalam gendongan Andrean. “Mom,” panggil Liam pelan.


“Iya, Liam. Mom di sini.” Tangan anak dan ibu itu berpegangan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi Camelia.


“Sudah berakhir, kan? Penyakit kurang ajar itu sudah pergi, kan?”tanya Liam.


“Iya. Penyakit itu sudah hilang dan tidak akan kembali lagi. Kau sudah sembuh, Liam!”


“Hiks … hiks … Mom, syukurlah … hiks.”


Liam menangis. Terbayang di benaknya perjuangan dan apa saja yang telah dilalui semenjak ia jatuh sakit. Camelia yang tertekan. Kabut kesedihan yang datang dan tinggal dalam waktu yang cukup lama telah sirna. Dan juga perpisahan sementara serta jauh dari rumah, rasanya sangat tidak nyaman. Semua itu agar segera berakhir.


“Thank you, Mom. Thank you … karena Mom sudah sangat bersabar dan tidak menyerah untukku. Terima kasih karena Mom nggak meninggalkan Liam sendiri, selalu menemani Liam. Thank you, Mom,” isak Liam pada Camelia. Bahkan rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk itu.


“Semua sudah berakhir, Liam. Kita akan segera pulang.” Camelia mengecup rambut Liam.


“Benar. Kita akan segera pulang,” imbuh Lucas.

__ADS_1


“Kakek Buyut pasti akan sangat senang kita sudah berkumpul tanpa berpisah lagi,” celetuk Crystal.


Ya, itu juga. Kakek Gong pasti sangat kesepian. Saat ini hanya ditemani oleh Toby, Kak Abi, dan juga Evelin.


*


*


*


Tiga hari kemudian.


Mereka akan kembali ke Beijing. Barang-barang sudah dikemas dan dikirim lebih dahulu ke pesawat. Dan kemudian melakukan perpisahan dengan para dokter yang telah berjuang untuk kesembuhan Liam.


Mereka keluar dari rumah sakit dengan senyum yang mengembang. Musim panas telah tiba. Ini adalah musim atau waktu libur semester yang panjang, oleh karenanya dikenal dengan libur musim panas. Sebelum nantinya akan masuk tahun ajaran baru dan direncanakan pada tahun ajaran baru ini, Lucas dan Liam akan mendaftar sekolah dengan kelas akselerasi.


Terima kasih atas kenangannya, Tokyo!


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam penerbangan, akhirnya mendarat di Beijing.


“KAKAK!!” Dion berseru kencang menyambut mereka. Ia datang bersama dengan Tuan dan Nyonya Liang, serta Hans dan Lie.


Kak Abi dan Evelin tidak ikut karena tetap menjaga Kakek Gong.


“Dion.” Adik dan kakak itu berpelukan erat.


“Aku sangat merindukan Kakak,” ucap Dion, kemudian melihat penampilan fisik Camelia.


“Kakak agak kurusan,” ucap Dion. Camelia langsung mendelik kesal.


“Kau mengejekku, Dion?!”


“Hehehe.”


Tubuh Camelia sedikit mengalami penggemukan pasca melahirkan. Berbeda saat ia melahirkan Lucas dan Liam dulu, tubuhnya tidak berubah seperti ini. Pipinya semakin menggembung. Ya, itu bukan hal yang asing, kerap terjadi pada ibu setelah melahirkan.


“Aku harus melakukan program itu mengembalikan bentuk tubuhku,” ucap Camelia. Sebagai seorang model dan juga aktris, tentu tidak nyaman dengan kondisinya sekarang. Andrean mengernyit tipis. Seperti ada yang mengganggu dirinya.


“Hahaha … kau sensitif sekali, Kak. Di mataku, Kakak tidak ada perubahan kok, tetap cantik. Yang terpenting bagiku adalah kebahagian Kakak,” ujar Dion.


Takk!


“Kakak ipar?!”


“Jangan menggoda istriku!”ketus Andrean.


“Menggoda dari mana?! Hei aku belum berurusan denganmu, ya!!” Tampaknya Dion masih menyimpan kekesalan atas kejadian yang menimpa Camelia tempo lalu, saat hendak berangkat ke Kanada dan gagal kemudian berangkat ke Jepang.


Andrean membelalakan matanya. “Sudah-sudah.” Camelia melerai.


“Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik segera beri aku keponakan,” ucap Camelia dengan senyumnya.


Dion langsung merengek. Lagi-lagi diminta untuk berpacaran, menikah, dan punya anak.


“Aku berencana menikah saat umurku 30 tahun. Aku ingin menikmati kebebasan, Kak. Lagipula, aku tidak ada tanggung jawab untuk memberikan penerus, kan sudah ada,” jawab Dion dengan santainya.


“Dion.” Tuan dan Nyonya Liang tercengang.


“Keluarga Liang tidak memiliki penerus lagi jika kau tidak mau menikah dan punya anak.”


“Kena kau, Dion!”ejek Andrean, kemudian menggandeng Camelia untuk masuk mobil. Sedang Dion sibuk menenangkan kekesalan Tuan dan Nyonya Shane.


“Sekretaris Hans, kami sudah kembali. Maaf membuatmu kesusahan dan jauh dari istrimu. Kau tidak perlu lembur lagi sekarang. Terima kasih atas kerja kerasmu,” ujar Camelia pada Hans sebelum masuk ke dalam mobil.


“Sudah kewajiban saya, Nyonya.”


“Sekretaris Lie, apa Anda tidak ada niat menyusul Sekretaris Hans?”tanya Camelia pada Lie.


“Ah … begini, Nyonya. Untuk niat ada tapi masih mencari, belum bertemu yang cocok,” jawab Lie dengan mengusap tengkuk dan menyengir.


Camelia mengangguk paham. “Terima kasih atas kerja kerasmu juga.”


“Sudah seharusnya, Nyonya.”

__ADS_1


__ADS_2