Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 243


__ADS_3

"Grandma, Uncle, Mom kenapa?"tanya Lucas, langsung berlari begitu melihat Dion menghampiri mereka.


”Mom kalian tidak apa-apa," jawab Dion. Tidak mungkin kan mengatakan bahwa Andrean diduga melakukan KDRT pada Mom mereka bukan?


"Tapi, Ayah tadi, lalu Mom, Uncle, ada apa sebenarnya?" Liam tidak percaya itu.


"Ada kabar baik," ucap Nyonya Shane.


"Kabar baik? Apa Mom masuk rumah sakit adalah kabar baik?"tanya Lucas, nadanya sinis.


"Keluarga kita akan bertambah satu orang," ujar Nyonya Shane.


"Hah?"


"Maksud Grandma … kami akan punya adik?"tanya Lucas, memastikan. Disambut dengan anggukan Nyonya Shane.


Mata ketiga bocah itu melebar seketika. Dan langsung bersorak riang. Mereka berjingkrak senang. Rasa curiga pada masalah Camelia dan Andrean seolah meluap dengan kabar tersebut.


"Yeah! Yeah!"


"Punya adik, kita punya adik."


"Yeah!"


"Ayo-ayo, lihat Mom," ajak Lucas.


"Jangan lari-lari, anak-anak," ucap Nyonya Shane, setengah berlari mengejar langkah bocah-bocah itu.


Dion sedikit tersenyum. Dan segera menyusul mereka.




*


Tiba di kamar rawat Camelia, ketiga bocah itu langsung mendekati ranjang Camelia. Dan mengabaikan Andrean yang pingsan di sofa.


"Wajah Mom pucat, apa pengaruh adik kita ya?"tanya Lucas.


"Apa Mom sakit kemarin karena adik kita?"pikir Lucas lagi.


"Bukankah itu menyusahkan?"tanya Liam, tatapannya menjadi tidak senang.


"Sebelum tahu hamil kalian berdua, Mom kalian juga seperti ini. Lucas, Liam, Crystal awal kehamilan terkadang bukan hal yang nyaman tapi itu adalah perjuangan seorang ibu. Jadi, kalian harus menyayangi Mom kalian, jangan pernah sekalipun kalian melawannya, okay?"ujar Dion. Ia sudah melihat perjuangan Camelia.


"Hei, Liam, ini yang diinginkan Mom. Ini juga bisa jadi penyembuh untukmu. Jadi, jangan tunjukkan ekspresi seperti itu, sangat tidak menyenangkan!"peringat Lucas.


Liam mendengus pelan.


Crystal menatap itu dengan perasaan campur aduk. "Ibu …." Bergumam pelan.


"Ibu? Kau mengingat ibumu?"tanya Liam, mendengar itu. Telinganya tajam sekali.


"Ah? Tidak, Kak Liam."


"Hm? Jadi, kalian ingin adik perempuan atau laki-laki?" Dion memecah suasana. Liam fokus pada wajah Camelia. Yang ada dalam benaknya adalah kesehatan Camelia.


"Laki-laki," ucap Lucas dengan penuh semangat.


"Perempuan." Bersamaan dengan Lucas, Crystal juga menyatakan keinginannya.


"Yang penting Mom baik-baik saja," jawab Liam. Tampaknya tidak begitu tertarik dengan kehamilan itu. Mungkin karena situasi juga.




*


"Jika sudah seperti ini, sepertinya akan sulit jika kita kembali ke Kanada," ujar Tuan Shane.


Kini keluarga Shane tengah berada di sebuah restoran untuk makan malam. Sementara Tuan dan Nyonya Shane kembali ke rumah dan akan datang besok pagi.


Kakek Gong juga kembali ke istana Andrean. Begitu juga dengan Kak Abi dan Evelin.


Hans dan Lie, mereka sudah meredam berita gosip yang menyebar. Andrean juga sudah memberikan klarifikasi tak lama setelah sadar. Mengubur gosip dengan kabar bahagia atas kehamilan Camelia. Alhasil, resiko atas penurunan saham dan kehilangan citra baik sudah diatasi.


"Rumah sakit di Jepang juga bagus. Bagaimana jika Liam dirawat di sana saja? Untuk mobilitas, itu tidak terlalu jauh dari sini. Kakak juga bisa dirawat dan tinggal sementara waktu di Jepang," saran Dion, setelah minum.

__ADS_1


"Jepang?"


Tuan Shane mempertimbangkannya. "Ide bagus. Besok pagi kita bahas ini dengan mereka," putus Tuan Shane yang diangguki oleh Nyonya Shane dan Dion.




*


"Jangan … jangan, Rean. Maafkan aku, aku tidak … maaf, hiks, maaf …."


Andrean tersentak pelan mendengar igauan itu. Ini sudah tengah malam, anak-anak sudah tidur dengan nyenyak.


Andrean yang terjaga langsung berdiri dan menatap Camelia. Segera menahan kedua tangan Camelia yang memukul udara dengan mata terpejam.


Deg!


Perasaan Andrean sakit seketika. Ia merasa sangat bersalah dan dirinya memang seorang bajingan. "Lia … maafkan aku. Ku mohon sadarlah, jangan seperti ini."


"Hiks … hiks … jangan, maaf … sakit, Rean. Sakit, kau sangat kasar, jangan …."


Igauan itu tak kunjung berhenti. Air mata Camelia juga terus keluar.


"Maafkan aku … hiks, maaf …."


Tak mau igauan itu terus berlanjut dan untuk menyadarkan Camelia, Andrean membungkamnya dengan ciuman. Ciuman yang lembut, dan penuh rasa bersalah.


Betapa brengsek dan lepas kendalinya ia sampai Camelia ketakutan seperti itu bahkan dalam kondisi tak sadari diri.


Netra Camelia mulai terbuka. Matanya membulat seketika saat mendapati Andrean tengah menciumnya.


Grep.


Camelia langsung memeluk erat Andrean. Melepas ciuman dan langsung kembali merapalkan kata maaf.


"Hiks … maaf … maaf. Aku salah. Aku tidak memikirkan perasaanmu. Aku hanya memikirkan kesembuhan Liam, maafkan aku, hiks …."


"Tidak, Lia. Aku yang salah. Aku yang lepas kendali dan tidak bisa mengerti perasaanmu. Harusnya aku bisa menahan diri dan mengerti perasaanmu sebagai seorang ibu. Aku yang egois, aku yang brengsek, pukullah aku, Lia. Lepaskan semua rasa sakit yang aku berikan." Andrean balas memeluk Camelia erat.


"Ini salahku. Aku yang egois, Rean. Hiks …."


Andrean melepas pelukannya, menatap sendu Camelia.


Camelia tidak paham. "Di sini," ucap Andrean menyentuh perut Camelia. "Ada buah hati kita."


Camelia menunduk melihat perutnya dan kembali menatap Andrean lekat. Matanya mencari kepastian.


"Sungguh?"


Andrean mengangguk dan mereka kembali berpelukan.


Camelia kembali menangis. Dengan masih perasaan campur aduk, bahagia, lega, dan juga bersalah. Namun, Andrean menenangkan dan menyakinkan sang istri hingga akhirnya Camelia tertidur lelap dalam pelukannya.




*


Camelia terbangun sekitar pukul 08.00. Tidak mendapati sang suami ataupun ketiga anaknya. Camelia mendapati Dion yang duduk di dekatnya dengan memegang tablet. Sepertinya tengah mengurus pekerjaan.


Camelia tidak mengeluarkan suara apapun. Ia mengingat hal tadi malam. Dan kemudian dengan lembut menyentuh perutnya.


Terima kasih, Tuhan ….


"Air."


Padahal Camelia ingin memanggil Dion namun kerongkongannya sangat kering.


"Kak? Kau sudah bangun?" Bergegas mengambilkan minum dan membantu Camelia untuk meminumnya.


"Bagaimana perasaanmu, Kak? Apa kakak merasa trauma? Katakan padaku, Kak. Aku akan memukul pria sialan itu!"ucap Dion dengan menggebu.


Camelia malah terkekeh pelan mendengarnya. "Semuanya telah lenyap dengan kehamilanku, Dion," jawab Camelia.


Dion mencebikkan bibirnya dengan kemudian berubah menjadi sendu. "Syukurlah kakak baik-baik saja. Aku merasa gila menunggu kabar dari dokter."


"Apa kau butuh hal lain lagi, Kak? Katakan saja padaku. Kata dokter, kau harus istirahat total," ucap Dion, kembali membantu Camelia untuk berbaring.

__ADS_1


"Anak-anak kemana?"tanya Camelia.


"Mereka pulang dulu, sebentar lagi juga akan kembali. Sementara suamimu itu … dia ke kantor," ujar Dion memberitahu. Camelia mengangguk mengerti.


"Kak …."


Dion tiba-tiba memanggil Camelia dengan parau.


"Hm?"


"Seharusnya aku datang lebih cepat. Seharusnya aku menemanimu, Kak. Aku tidak menduga Kakak akan tertekan seperti itu," ujar Dion.


Camelia menggeleng pelan. "Akulah yang tidak menyadari kehadirannya, Dion. Jangan menangis. Kakakmu ini baik-baik saja. Ini bahkan tidak seburuk waktu itu."


"Kakak …."


"Aku lapar," ucap Camelia. Jika diteruskan pasti akan berlarut-larut.


Dion sontak berdiri. "Katakan kau ingin apa, Kak. Bubur? Pangsit? Atau apa?"


"Bubur, tapi buatan Ibu," jawab Camelia.


"Aku akan segera kembali, dengan bubur buatan Ibu!" Pemuda itu segera meninggalkan kamar. Camelia kembali tertawa pelan dan kembali mengusap perutnya.


"Maafkan Mom, Nak. Mom hampir membahayakan nyawamu. Harusnya Mom lebih peka dengan kehadiranmu."


Rupanya darah yang dianggap sebagai tamu bulanan itu adalah flek atau pendarahan akibat stress. Cukup beruntung daya tahan tubuh Camelia tinggi dan kandungannya cukup kuat, dan mampu bertahan setelah 'kekerasan' yang Andrean lakukan.




*


Segera setelah Andrean membereskan pekerjaan yang dianggap paling penting, pria itu segera bertolak menuju rumah sakit. Hari sudah siang. Ia sangat merindukan sang istri.


Tiba di rumah sakit, keluarga sudah berkumpul di sana. Andrean masuk dengan canggung. Ya, tatapan keluarga Shane masih sinis padanya. Begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Liang yang datang.


"Lia, bagaimana kondisimu, hm? Apa sudah diperiksa dokter?"tanya Andrean, mendekat dan mencium kening Camelia.


"Sudah lebih baik, Rean." Wajah Camelia juga tidak sepucat tadi malam atau tadi pagi.


"Sudah makan? Aku membawakanmu kue tadi toko langganan," ujar Andrean. Selain itu juga membeli buket bunga.


"Kak Lia sudah makan tadi," ucap Dion menjawab.


"Baiklah."


"Begini, ada hal yang ingin kamu bicara denganmu, Andrean. Dan Camelia juga sudah mempertimbangkan hal ini dan setuju jika kau juga setuju," ucap Tuan Shane.


"Hal apa?"tanya Andrean. Sesaat ia merasa tidak dianggap sebagai kepala keluarga dan keputusan masih dipengaruhi oleh keluarga Shane. Namun, Andrean segera menepis hal itu. Biar bagaimanapun semua untuk kebaikan keluarganya. Dan senang, karena kali ini Camelia memperhatikan perasaannya. Tidak seperti di awal yang mengambil keputusan sepihak hingga ia hanya mampu untuk menyetujuinya.


Tuan Shane mengatakan hal yang telah disampaikan pada Camelia. Yakni tentang rencana perawatan Liam di Jepang dan Camelia juga. Bisa tinggal di sana untuk sementara waktu dan itu tidak terlalu jauh. Meskipun, pada kenyataannya masih tetap sulit karena sulit untuk membagi waktu terutama bagi Andrean yang merupakan kepala dua perusahaan besar. Kesibukannya berada di level tertinggi di perusahaan.


Andrean mendengarkan dengan seksama.


Jepang?


Negara itu memiliki bidang kesehatan yang mumpuni. Dengan kondisi Liam dan kehamilan Camelia, memang lebih baik jika tetap di kediaman pribadi. Akan tetapi, memang rumah sakit lebih efektif dengan lebih banyak dokter. Meskipun sudah menempatkan dua dokter terbaik di bidangnya, tetap saja Liam tak kunjung sembuh.


Di saat Andrean tengah mempertimbangkan, tiba-tiba Liam berlari ke arah kamar mandi. Tampaknya panggilan alam.


"Kami akan menemani mereka," ucap Nyonya Shane. Andrean terkesiap. Jika begitu, Tuan dan Nyonya Shane akan tinggal sementara waktu di Jepang, bukan? Ya, wajar saja, perusahaan sudah diserahkan pada Dion. Mereka yang sudah pensiun tentu tak keberatan dengan hal itu.


"Jika terlampau berat, untuk sementara Kakek akan menangani Gong Group. Kau hanya perlu fokus pada keluarga dan Starlight Entertainment," ucap Kakek Gong.


Kakek Gong, mendukung hal itu?


"Dasar!"dengus Andrean kesal.


"Jika kalian semua sudah setuju, apalah arti persetujuanku?"tanyanya dengan tertawa kecil.


"Bukankah kau yang meminta dihargai? Sudah, bukan?"sinis Dion.


"Baik-baiklah. Aku setuju. Hal ini lebih baik daripada opsi kemarin."


"Kalau begitu, tinggal menunggu persetujuan dokter untuk keluar dan berangkat ke Jepang," ucap Tuan Shane.


"Aku akan mempersiapkan semuanya," ucap Andrean.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Liam menatap rumit darah yang masih mengalir dari hidungnya. Lalu segera membasuh dan menyumbat hidungnya dengan tisu.


Ini bukan takdir yang aku inginkan. Mom sudah berjuang keras dan menghadapi banyak hal untuk kesembuhanku. Aku juga akan punya adik. Aku harus bertahan untuk sembuh. Cepat pulih dari sakit dan selalu diberkati, inilah arti namamu, Liam! Kau harus bertahan!


__ADS_2