Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 109


__ADS_3

*


*


*


Pesawat pribadi Andrean mendarat dengan sempurna di bandara internasional Ottawa pukul 17.00 waktu Ottawa. Penerbangannya memakai waktu sekitar 13 jam. Penerbangan yang panjang, dan ini adalah kali pertama Andrean terbang selama itu. Karena, biasanya, mobilitasnya hanya di dalam negeri atau paling jauh ke Eropa dan Asia bagian lainnya.


Sebelum berangkat, Andrean telah memesan hotel lebih dulu. Lokasinya tidak jauh dari bandara.


Selagi menunggu mobil keluar dari pesawat, Andrean memeriksa ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari kakek Gong.


Segera, pria itu melakukan panggilan untuk Kakek Gong.


Hm?


Menatap ponselnya, karena panggilan tak kunjung dijawab meskipun ini sudah percobaan keduanya.


Ah! Aku lupa! Andrean memejamkan matanya.


Baru ingat, ini masih subuh jika di Shanghai. Kakek Gong pasti masih tidur. Menyimpan kembali ponselnya. Tak berapa lama kemudian, mobil sudah keluar dari pesawat. Andrean memasukkan kopernya ke bagasi kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara menuju hotel tempatnya akan menginap selama beberapa hari ke depan.


Perjalanan menuju hotel hanya memaksn waktu kurang dari 20 menit.


Hotel di depan matanya ini, kental dengan arsitektur Kanada.


"Excuse me," sapa Andrean saat tiba di meja resepsionis.


"Yes, Sir. Can anyone help, Sir?"jawab resepsionis itu ramah.


"Reservation on behalf of Andrean Gong," jawab Andrean.


"Alright. Wait a minute, Sir," balas resepsionis itu, mengecek reservasi atas nama Andrean Gong.


Andrean mengangguk. Tak berapa lama kemudian, resepsionis itu memberikan kunci pada Andrean.


"Thank you," ucap Andrean.


"You're welcome, Sir. Have a nice day," balasnya dengan menangkupkan kedua tangan.


Andrean segera menuju lift untuk naik ke menuju lantai kamarnya. Kamar yang ia pesan adalah tipe presidential suite.


Kamar yang luas, dengan pemandangan yang menakjubkan. Andrean segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Lelah?


Jelas.


Mengantuk?


Ia juga mengalami jet lag.


Ini sudah terlalu sore untuk menemuinya. Besok pagi saja, pikir Andrean.


Matanya mengatup. Dan akhirnya terlelap di ranjang besar nan empuk itu.


Sekitar lima jam kemudian, Andrean terbangun. Matanya mengerjap lambat, mengusir kantuk yang masih mendera. Posisinya masih berbaring dengan dua kancing kemeja atas yang terbuka. Sungguh menggoda.


Matanya lantas melirik jam, sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu Ottawa. Sudah malam rupanya. Cukup lama ia tidur.


Perutnya pun terasa lapar. Andrean kemudian bangkit, duduk dengan menyugar rambutnya. Dan sedikit melakukan perenggangan.


Andrean menolehkan wajahnya, ketika mendengar suara ponselnya. Sebuah panggilan dari sang Kakek. Gegas, Andrean menjawabnya.


"Ya? Hallo, Kakek," jawab Andrean.


"Hallo, Rean. Kau sudah tiba?"balas Kakek Gong disana.


"Sudah, Kakek."


"Baguslah. Dan cepatlah kembali setelah urusanmu selesai. Selain itu, ingat bahwa jangan sampai kau melewati batas!"ucap Kakek Gong. Kakek Gong kembali memberi peringatan.


"Aku tahu, Kakek. Ah ya, bagaimana Crystal, Kakek?"tanya Andrean dengan nada pelan karena saat meninggalkan kediaman lama, Andrean tidak pamit dengan putri kecilnya itu.


"Apalagi? Kau pergi tanpa pamit. Untung ada nenek Allen yang menjaga yang menghiburnya," sahut Kakek Gong ketus.


Andrean meringis pelan. Tapi, setidaknya ia lega.


"Baiklah, Kakek. Maafkan aku. Dan aku titip putriku, ya. Jaga dia dengan baik. Aku akan berusaha semaksimal mungkin di sini," ujar Andrean.


"Hmph!"dengus Kakek Gong.


"Ya sudah, aku tutup." Tidak mendengar balasan lagi, Andrean menutup panggilan.


Meletakkan ponselnya dan berjalan menuju jendela. Menyibak jendela. Hari jelas sudah gelap bahkan mendekati larut.


Andrean sedikit terkesima dengan pemandangan malam hari kota Ottawa. Lampu-lampu aneka warna menerangi kota, ditambah dengan lampu kendaraan yang lalu lalang. Sungguh pemandangan yang menyenangkan.

__ADS_1


Krucuk!


Suara perutnya merusak suasana menikmati pemandangan itu. Andrean berdecak pelan, bergegas membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian, Andrean meninggalkan hotel untuk mencari makan malam. Bisa saja, ia memesan dari hotel. Namun, sekalian menikmati pemandangan ibukota dari negara yang digadang-gadang sebagai negara terbaik di dunia ini di malam hari.


Juga sekaligus persiapan menghadap keluarga Shane besok pagi. Setidaknya, pikirannya harus fresh.


Andrean membelokkan mobilnya memasuki salah satu restoran. Memilih duduk di rooftop, menikmati hidangan dan juga pemandangan.


"Ahh … rasanya begitu nikmat. Apalagi cuaca mendukung dengan bulan dan bintang bersanding serasi. "Sepertinya langit merestuiku," gumam Andrean.


Hei, aku sudah di Kanada. Kapan aku bisa menemui kalian? Aku dengar ibu kalian sudah mulai syuting, di mana syutingnya?


Andrean mengirim pesan pada Liam. Meskipun tidak yakin akan dibalas mengingat ini sudah larut, setidaknya pesannya sudah terkirim.


Ting.


Terdengar suara denting notifikasi. Andrean menoleh kembali ke ponselnya. Agak ragu bahwa itu balasan Liam.


Dan, siapa sangka, itu memang balasan Liam.


Benarkah?


Kau tidak berbohong, Tuan?


Where are you now?


Andrean tersenyum.


"Anak itu tidak percayaan sekali," dengus Andrean. Segera mengambil foto dengan latar belakang pemandangan malam lalu mengirimkannya pada Liam. Tak lupa juga mengirim share location.


Sudah larut, mengapa kau belum tidur?


Oh, itu balasan Liam untuk foto dan share location yang Andrean kirimkan.


Hm, balasan untuk pesan Andrean.


Fotomu terlalu narsis.


Andrean menaikkan alisnya. Lantas menggeleng pelan. "Ya, benar juga … fotoku agak narsis," gumam Andrean setelah mengamati fotonya.


"Ah … tidak masalah."


Segeralah tidur.


"Astaga! Anak ini membalikkan ucapan?!"gemas Andrean.


Segeralah beritahu. Lalu pergi tidur.


Ya … besok kami ada acara pemotretan dan Mom ada acara latihan. Sulit menemui kami di luar. Datang saja ke mansion kami.


"Hah? Datang langsung ke mansion? Anak ini … mau menjerumuskan aku kah?"


Kau serius?


Andrean membalasnya. Sebenarnya bisa saja. Namun, ia masih takut. Ya … dia akan bertemu dengan orang tua dari wanita yang ia suka, bagaimana tidak takut dan gugup? Apalagi, Tuan Shane terkenal tegas.


Membayangkannya saja sudah membuat Andrean bergidik. Dan lagi, apakah ia akan diterima di mansion itu?


Ah, ternyata seorang Andrean juga memiliki rasa takut.


Tapi … bukankah itu artinya mereka ingin cepat dan kepastian? Dan tujuannya datang memang untuk itu?


Andrean mengangkat wajahnya. Sorot matanya kini berubah tajam dan mantap.


Setelah makan, Andrean lekas kembali ke hotel untuk bersiap menemui calon mertua besok. Yeah!


*


*


*


"Sepertinya besok kita akan kedatangan tamu penting," ucap Liam, saat berbaring di samping Lucas, bersiap untuk tidur.


"Who?"


"Mr. Gong from Chinese," jawab Liam.


"Dia sungguh datang?"


Liam mengangguk. "Dia serius."


"Hm … kalau begitu kita lihat perjuangannya besok," sahut Lucas. Liam mengangguk. Tak lama kemudian kedua bocah itu terlelap.


*

__ADS_1


*


*


Dion bangun sebelum matahari terbit. Sudah menjadi rutinitas baginya. Perbedaan jam tidak begitu mempengaruhinya.


Saat melihat ponsel, ada pesan dari Nyonya Liang.


Dion, kami akan berangkat pagi ini. Kirimkan lokasi tempat tinggalmu, Nak.


Kira -kira kapan ibu akan tiba? Kalau lewat jam pergi kerja, lebih baik bertemu saat jam pulang kerja saja karena Dion ada meeting pagi ini. Untuk tempat tinggal Dion ada di asrama perusahaan. Yang tidak memegang kartu akses, tidak bisa masuk, Ibu. Jadi, nanti Dion saja yang akan ke tempat ayah dan ibu.


Dion membalas sekaligus menjelaskan agar orang tuanya tidak kecewa nanti.


Baiklah kalau begitu. Ibu dan ayah akan menunggu di restoran ya. Nanti kalau sudah tiba, ibu kirim lokasinya.


Tidak butuh waktu lama, Nyonya Liang sudah membalas pesannya. Dion tidak membalas lagi.


Membuka jendela kamar, menghirup udara pagi yang sangat menyegarkan juga dingin. Langit masih gelap. Matahari terbit sekitar 30 menit lagi.


Seperti yang ia katakan pada Nyonya Liang tadi, pagi ini ada meeting penting. Dion bergegas bersiap.


Saat ia telah selesai bersiap, matahari sudah terbit dan perlahan beranjak naik. Dion sarapan dengan roti yang diolesi selai. Lima tahun di Kanada, seleranya sudah beradaptasi, begitu juga dengan kebiasaanya.


Pukul 07.00, Dion sudah meninggalkan asramanya menuju perusahaan. Perjalanan tidak memakan waktu lama, terlebih belum banyak kendaraan yang turun ke jalan. Dalam waktu sepuluh menit saja, ia sudah tiba di perusahaan.


"Tuan Muda," sapa penanggung jawab Shane Grup di sini, yang Dion percaya saat ia pulang ke Kanada.


"Ada kendala saat aku pulang?"tanya Dion.


"Tidak ada, Tuan."


"Bagus!" Dion tersenyum. "Semua yang diundang sudah di ruang meeting?"


"Sudah, Tuan."


"Tuan, ada apa gerangan hingga memanggil orang meeting sepagi in?" Bertanya penasaran.


"Anda akan melihatnya nanti." Dion tersenyum tipis.


*


*


*


"APA MAKSUD ANDA?!" Seorang peserta meeting memukul keras meja dan menatap nyalang Dion.


Dion tersenyum lebar. Berbeda dengan raut wajah lainnya yang bingung, kaget, juga pias.


"Anda dipecat dan harap kembalikan semua yang telah Anda ambil dari perusahan ini!"balas Dion.


Di hadapannya, ada banyak berkas yang berisi bukti kejahatan beberapa orang di ruang meeting ini.


Ya … itulah alasan Dion mengadakan meeting sepagi ini. Surprise di pagi hari, bukankah itu menyenangkan?


"Bukti apa yang kau miliki? Mengerti apa kau anak kecil? Aku sudah lama mengabdi di perusahaan ini. Mana mungkin aku melakukannya?"hardiknya marah. Tatapannya meremehkan Dion.


Ya, bertambah satu orang lagi yang menganggap dirinya paling senior dan tahu. Bagaimana bisa dibandingkan dengan anak yang belum genap dua puluh tahun?


"Heh?!"


"Dengan bukti sebanyak ini, Anda ingin mengelak lagi?!"


"Ini negara hukum, maka Anda akan diproses melalui hukum. Jika Anda merasa benar, maka Anda akan bebas. Namun, dengan bukti sebesar ini, Anda ingin mengelak lagi?"balas Dion dengan senyum smirk nya.


"Kemarin, saya sudah memberikan contoh untuk kalian semua. Peringatan itu, adalah untuk kalian. Dan sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga!"


"Dan yang lain, selamat menikmati penyelidikan dan persidangan. Kalian, aku pastikan tidak akan lolos karena semua bukti kuat ada padaku. Dan tunggulah dengan tenang, surat tuntutan perusahan untuk kalian!"tandas Dion, kemudian meninggalkan tempat.


"Tuan?!"


"Tuan Muda, tolong jangan lakukan ini! Kami bersalah!" Beberapa mengejar Dion. Namun, tertahan oleh polisi yang masuk ke ruang meeting dan menangkap semua yang Dion laporkan.


"Apa-apaan, ini?! Lepaskan!" Yang menentang Dion tadi memberontak.


"Aku tidak bersalah! Bocah tengik itu memfitnahku!"teriaknya lagi. Dan tak dihiraukan oleh polisi. Mereka ditarik keluar dan itu menjadi pemandangan tersendiri.


"Tampaknya tidak melakukan apa-apa. Namun, ia kembali membuang tikus perusahaan."


"Masih muda. Tapi, kemampuannya tidak bisa diremehkan. Dia berada di atasku."


"Entah keturunan atau apa, yang pasti dia benar-benar hebat!"


"Tuan Muda? Anda sengaja mengulur waktu?"


"Hm … hal kemarin sewaktu aku pertama kali menginjakkan kaki di sini adalah sebuah peringatan. Agar mereka merasa panik dan melakukan kesalahan dan ini adalah akhir dari penantianku."

__ADS_1


Orang kepercayaan Dion itu tertegun. "Aku harus sungguh-sungguh padanya," gumamnya pada dirinya sendiri. Mengejar langkah Dion yang sudah cukup jauh.


__ADS_2