
Selama satu minggu kontrol dan perawatan lebih lanjut, wajah Camelia jauh lebih baik daripada sebelumnya. Bengkaknya sudah hilang. Tinggal sedikit kemerahan yang bisa ditutupi dengan bedak atau make up.
Camelia tersenyum puas melihat wajahnya. Lukanya sudah hilang tak berbekas, kembali mulus.
Ia akan pulang siang nanti. Selagi itu, Dokter Kim Jae Hyun memberikan saran dan mewanti-wanti untuk Camelia. Tak lupa juga membawakan obat yang masih harus digunakan. Juga mengingatkan Camelia untuk kontrol jarak jauh selama beberapa bukan ke depan, agar hasilnya lebih maksimal.
"Terima kasih atas kerja keras Anda selama ini, Dokter," ucap Camelia.
"Sama-sama, Nona. Senang bisa bertemu dengan Anda," jawab Dokter Kim Jae Hyun.
"Kapan Anda akan pulang ke Kanada, Nona?"
"Siang ini," jawab Camelia.
Barang-barangnya sudah ada di sini, tinggal ganti baju saja dan menunggu jam terbang, Camelia akan meninggalkan negara ini. Kali ini, Camelia pulang dengan menggunakan pesawat komersial.
"Kalau begitu semoga perjalanan Anda menyenangkan," ujar dokter Kim Jae Hyun yang diangguki oleh Camelia.
Setelahnya, dokter Kim Jae Hyun meninggalkan ruangan. Camelia meraih buku naskahnya, kembali membaca naskah drama dan memahami screen bagiannya.
Saat asyik membaca, ada panggilan masuk. Dari Kak Abi, segera Camelia menjawabnya.
"Hallo, Kak?"jawab Camelia.
"Hello, Lia. Ku dengar dari Lucas kau hari ini pulang?"balas Kak Abi di seberang sana.
"Iya, Kak," jawab Camelia membenarkan.
"Ada undangan dari film 'Starlight' untuk menghadiri pemutaran perdananya," beritahu Kak Abi.
"Kapan?"
"Dua hari lagi."
"Baiklah. Aku akan datang," jawab Camelia. "Tolong atur jadwalku ya, Kak?"lanjut Camelia.
"Sudah kewajibanku."
Panggilan berakhir. Camelia menghela nafasnya. Kembali ke Kanada, kembali beraktivitas seperti biasa, kembali pada kesibukannya.
Tok ….
Tok….
Lamunan Camelia pecah saat mendengar ketukan pintu.
"Masuk!"
Pintu terbuka. "Aunty?"sapa seorang bocah perempuan, menggunakan dress berwarna maroon, dengan bando berwarna senada. Camelia mengernyit. Siapa bocah ini?
"Siapa dirimu, Cantik?"tanya Camelia, seperti pernah bertemu namun lupa di mana.
"Ayah … kata Ayah Aunty bakal mengenali Crystal?"bocah itu menoleh ke belakang dan mengadu pada seseorang yang dipanggilnya ayah.
Bahasa China? Crystal?
Mata Camelia membulat.
"Crystal!"panggil Camelia segera.
"Nah, dia sudah ingat," sahut seseorang dengan nada barito, disusul dengan menunjukkan wujudnya.
"Andrean?"
"Hai."
"Kalian datang?" Camelia tidak percaya. Bukan karena Andrean datang namun karena Crystal ikut.
"Hai, Aunty. Crystal datang bersama ayah." Bocah itu kembali menyapa.
Camelia mengangguk. Meletakkan ponselnya. "Kemarilah, Crystal." Camelia melambai memanggil bocah itu.
"Ayahmu mengajakmu?"tanya Camelia saat bocah itu sudah dalam pelukannya. Matanya melirik Andrean yang masuk dengan membawa beberapa paper bag.
"Iya. Kata ayah mau jenguk Aunty. Terus sekalian jalan-jalan," jawabnya dengan nada ceria.
"Ini adalah pertama kalinya Crystal keluar negeri!"ucap Crystal, ia begitu antusias bercerita.
"Di sini sangat indah, Aunty."
Camelia tertawa mendengarnya. "Kalau begitu tunggulah sebentar. Kita akan jalan -jalan," jawab Camelia dengan mengacak gemas rambut Crystal.
"Iyaa!" Bocah itu kembali mengangguk semangat.
"Sebelum itu, makanlah dulu ini," ujar Andrean, menyodorkan piring kecil berisi biji-biji berwarna merah.
"Delima?" Segera Camelia mengenalinya.
"Ku dengar ini bagus untuk kulit."
"Aku juga bawa plum," tambah Andrean.
"Terima kasih," ucap Camelia, menerimanya dengan senang hati.
"Mau?"tawar Camelia pada Crystal. Crystal mengangguk.
Maka, jadinya buah itu dinikmati berdua. Andrean tersenyum lebar. Mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.
Keponakan menjadi calon anak, bukankah itu menarik?
Melihat penerimaan ini, aku jadi semakin yakin.
Delima itu telah habis, Camelia bersiap untuk mengajak Crystal jalan-jalan, sekalian keluar dari rumah sakit. Camelia membawa serta barang-barangnya. Selagi ada mobil Andrean, jadi ia tidak perlu lagi mencari taksi.
*
*
*
Gyeongbokgung Palace
Menjadi tempat yang akan mereka kunjungi. Tempat itu dipilih setelah pertimbangan waktu yang tidak banyak.
Seperti kebanyakan wisatawan, mereka berkeliling dan mencoba menggunakan hanbok. Camelia kembali mengenakannya atas permintaan Crystal dan Andrean.
Dan sebagai artis, tentu ia menjaga privasi dengan memakai masker. Saat memakai hanbok, Camelia kembali menggunakan cadar.
Bersua foto juga menjadi agenda wajib.
"Foto bersama?"kaget Camelia.
__ADS_1
"Iya. Sayang tidak ambil foto bersama."
"T-tapi …." Camelia ragu. Jika acara formal, it's okay. But, acara seperti ini?
"Aku tidak akan menyebarkannya," ujar Andrean, meyakinkan Camelia.
Andrean paham konsekuensinya jika tersebar.
"Ayo, Aunty. Kita foto bertiga. Buat kenang-kenangan. Nanti mau Crystal tunjukan pada Paman Toby, Paman Hans, juga pada Kakek dan Nenek," bujuk Crystal setelah menerima kode dari Andrean.
"Err…." Camelia masih ragu. Satu sisi khawatir. Satu sisi lagi, tak tega menolak.
"Janji?"
"Aku sudah berjanji padamu, juga pada keluargamu. Jika aku melanggar, aku menerima konsekuensinya!"jawab Andrean, tentu saja dalam bahasa Inggris.
"Alright. Hanya untuk disimpan!"tegas Camelia.
"Yeah!" Crystal tersenyum riang.
Andrean meminta fotografer yang ada di sana untuk memotret mereka. Beberapa foto diambil dengan beberapa pose.
"Terima kasih," ujar Andrean pada fotografer tersebut, tak lupa memberikan bayarannya.
"Anda sangat serasi," puji fotografer sebelum melangkah pergi.
Camelia menatap lembaran foto di tangannya.
Astaga!
Benar -benar sebuah potret keluarga.
*
*
*
Setelah dari Gyeongbokgung Palace, Andrean mengantarkan Camelia ke bandara. Karena tidak ada waktu lagi untuk ke tempat lain ataupun untuk makan siang bersama.
Dan tibalah saat mereka akan berpisah. Crystal memeluk Camelia. "Crystal akan sangat merindukan Aunty," ujarnya dengan nada menahan tangis.
"Off course. Mungkin, itu tidak akan lama lagi," jawab Camelia, mengacak rambut Crystal.
"Sepertinya ada yang tinggal," ujar Andrean.
"Hah? Apa itu?" Wajah Camelia panik seketika.
"Kenangan kita di kota ini," jawab Andrean yang membuat Camelia mendengus senyum.
Perhatian kepada penumpang Air Canada rute Bandar Udara Internasional Incheon menuju Bandar Udara Internasional Ottawa Macdonald-Cartier akan segera lepas landas. Kepada seluruh penumpang harap segera menuju pintu keberangkatan.
Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan Camelia naikin akan segera lepas landas.
"Aku pamit, bye-bye." Camelia melambaikan tangannya.
"See you next time," sahut Andrean.
"Bye-bye, Aunty," balas Crystal.
Camelia tersenyum, melangkah menuju pintu keberangkatan. Andrean melepaskan dengan pandang enggan. Baru sejenak sudah harus berpisah lagi.
"Ayah, Aunty sudah pulang. Kita juga pulang?'tanya Crystal.
"Jalan-jalan sebentar lagi, boleh? Kalau tidak makan, Crystal lapar," jawabnya dengan menyentuh perut kecilnya.
"Ayo cari makan. Sore kita pulang," putus Andrean. Mumpung hari libur dan ada waktu untuk itu.
Singkat memang. Namun, sangat berarti. Membekas dan menorehkan kenangan indah.
Setibanya di pesawat, Camelia membuka buku naskah, kembali membaca.
Dari penjelasan pramugari, mereka akan mengudara kurang lebih 16 jam.
Waktu yang panjang.
"Ah … aku belum makan siang," gumam Camelia, beberapa saat setelah pesawat mengudara. Segera memanggil pramugari untuk meminta sesuatu.
*
*
*
"Hei, Liam. Apa kau tahu maksud kata-kata ini?"tanya Liam, dengan menyodorkan sebuah buku pada Liam, menunjukkan kata mana yang ia bingungkan.
"Il faut bonne mémoire après au’on a menti."
Sebuah kutipan dari Pierre Corneille.
"Seorang pembohong harus memiliki ingatan yang bagus." Liam menerjemahkannya.
"Iya, aku tahu itu. Tapi, apa maksudnya? Seorang pembohong harus memiliki ingatan yang bagus?"sahut Lucas, berdecak pelan.
"Bukankah sudah jelas?"balas Liam, menatap heran Lucas.
"Apa?"
"Jika tidak punya ingatan yang bagus, maka dia akan jatuh. Karena ketika sekali ia berbohong, maka akan terus berbohong," jelas Liam, dengan sedikit memutar bola mata. Yakin bahwa Lucas sebenarnya mengerti.
Lucas manggut-manggut. "Ternyata jadi pembohong bukan hal mudah, ya?"kekehnya kemudian.
"Terlihat mudah. Tapi, harus memiliki banyak skill," imbuh Liam.
Kedua anak itu kemudian tertawa.
"Suatu saat, aku bisa menggunakan kata-kata ini," ujar Lucas.
"Aku juga ingat salah satu kutipan Prancis. 'Qui craint de souffrir, il souffre déjà de ce qu’il craint', kutipan dari La Fontaine," ujar Liam.
"Apa artinya?"
"Dia yang takut menderita, sudah menderita apa yang dia takuti."
"Wow!" Lucas berdecak.
"Oh iya, apa jadwal kita besok? Aku lupa," tanya Lucas.
"Hanya pemotretan. Namun, kata Aunty Abi, ada tawaran drama, kita akan melihat naskahnya."
"Ah, berakting, aku sudah merindukannya."
__ADS_1
"Tapi, apakah kita memerankan peran kembar lagi?"
Liam mengangkat bahunya.
"Jujur, aku sedikit jenuh. Hanya peran yang berbeda, dengan peran yang hampir sama. Denganmu, kita sudah membangun ingatan yang kuat."
"Intinya kau mau cari suasana baru?"
"Hm."
"Katakan saja pada Aunty Abi."
"Okay."
"Oh iya, kapan Mom akan tiba?"
Liam melihat jam dinding. Bibirnya bergerak menghitung. Lucas menunggu hasilnya.
"Seharusnya sebentar lagi," ujar Liam kemudian.
"Ayo keluar,” ajak Liam kemudian. Menutup laptop dan turun dari kursi.
"Ayo." Lucas meletakkan bukunya. Turun lagi ranjang dan menyusul Liam.
Berkumpul bersama dengan Tuan dan Nyonya Shane yang sudah berada di ruang keluarga.
"Mom kalian sudah jalan pulang," ujar Tuan Shane.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil brand ternama memasuki gerbang kediaman Shane dan berhenti di depan mansion.
Camelia keluar dari mobil. Menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Senang bisa kembali ke rumah.
"Mom!" Lucas dan Liam berlari menyambut Camelia. Ibu dan anak berpelukan.
"Sangat merindukan Mom."
"Mom juga." Camelia mencium bergantian pipi Lucas dan Liam.
"Wajah Mom, lukanya hilang tidak berbekas!"seru Lucas, dengan begitu sumringah.
"Tentu saja." Liam yang menyahut.
Camelia tertawa renyah. "Ayo masuk." Menggiring kedua anaknya masuk. Sementara barang-barangnya dibawa oleh pelayan.
"Mom, Dad," sapa Camelia.
"Selamat datang kembali, Lia. Bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik, Mom."
"Dokter pilihan Daddy sangat kompeten!" Tuan Shane mengangguk pelan.
"Tidak ada masalah yang terjadi?"
"Semua aman, Mom."
"Syukurlah."
"Eh, iya. Lia bawa oleh-oleh, ini adalah beberapa makanan instan Korea, juga delima, plum, dan persik," ujar Camelia.
"Wah banyak sekali. Segar-segar lagi." Nyonya Shane tertarik dengan buah-buahan yang Camelia bawa.
Lain halnya dengan Liam dan Lucas yang saling tatap. Memicing curiga. Namun, setelahnya menghilangkan ekspresi curiga itu.
"Makanan Korea itu, enak," ucap Tuan Shane, menatap beberapa makanan instan yang atas di atas meja.
"Grandpa menyukainya," ucap Lucas. Kemarin, waktu Lucas dan Liam pulang, juga membawa makanan instan itu.
"Makan siang sudah dibuat. Malam saja kita makan ini," ujar Nyonya Shane.
"Baik."
*
*
*
Selesai makan siang, Camelia bergegas menuju kamarnya.
Ah … rasanya pegal sekali.
Sebelum mandi, segarkan tubuh dulu baru tidur.
"Lucas? Liam?"
Ketika keluar dari kamar mandi, Camelia dikejutkan oleh kedua anaknya.
"Ayah datang lagi?"tanya Liam langsung.
"Plum dan delima, itu dari Ayah, bukan?"
Ah … anak-anaknya sungguh jeli dan teliti. Camelia tersenyum. "Jika iya, memangnya mengapa?"
"Serius? Ayah datang lagi?"
"Ya. Begitulah."
"Dia tidak bilang apapun pada kami," gumam Lucas.
"Hm?"
"Eh?"
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada, Mom," kilah Lucas.
"Datang sendiri lagi, Mom?" Liam bertanya.
Camelia memutar bola matanya. Ia sadar tengah di interogasi.
Tak langsung menjawab. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kali ini dengan putrinya, Crystal."
"Ke depannya, jika kelak aku dan dia menikah, maka anak itu akan jadi saudara kalian."
"Saudara perempuan seayah?" Lucas dan Liam saling tatap.
Mereka tahu Crystal. Dan juga tahu bahwa ada kemungkinan menjadi saudara mereka.
__ADS_1
Ingin bertanya lagi. Akan tetapi, Camelia sudah memejamkan matanya. Terdengar dengkuran halus.
Sepertinya harus diundur.