Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 214


__ADS_3

Kehebohan terjadi di dunia entertainment China. Bukan perihal artisnya melainkan karena pimpinan dari agensi Starlight Entertainment.


Hans memijat dahinya. Sementara Lie menatap Lie dengan senyum mengejek.


"Look. Tuan sendiri yang memberi kode. Publik pasti penasaran dengan arti postingan itu," celetuk Lie.


Hans memandang layar ponselnya, menatap postingan terbaru dari akun media sosial Andrean. Yang mana, Andrean memposting tangannya dengan cincin di jari manis. Dan dengan caption emotion pengantin wanita dan angka 520 1314.


Bukankah itu terlalu jelas? Meskipun hanya foto cincin, jelas itu menggemparkan dan menjadi kabar patah hati untuk banyak wanita yang mendambakan Andrean.


"Ini akan menyusahkan kita," ucap Hans.


Lie melunturkan senyumnya. "Kau benar. Besok, kita akan menjadi tokoh penting," sahut Lie. Wajahnya langsung lesu.


Hans terkekeh hambar. Mengapa Tuannya senang menyiksa mereka?


*


*


*


Andrean mengamati kamar yang Camelia tempati. Kamar dengan nuansa yang masih kental dengan manley.


Camelia memang tidak melakukan perombakan pada kamar ini. Warna cat, letak furniture, dan dan lain sebagainya tidak pernah ia rubah. Hanya warna seprai dan selimut saja yang diganti.


Sprei berwarna coklat susu, dengan selimut senada.


Kemudian melihat lukisan yang tergantung. Foto Chris berjejer. Dan foto pernikahan dengan Camelia juga masih diletakkan di sana. Foto keluarga, baik keluarga besar maupun inti.


Kemudian beralih ke lemari penghargaan. Ada banyak piala dan medali.


Andrean melihatnya dengan datar. Cemburu? Ya tentu saja. Camelia sudah menjadi istrinya. Namun, masing memajang foto pernikahan dengan Chris. Sayangnya, mereka belum ada foto wedding. Jadi, Andrean tidak bisa menggantinya.


"Dia sangat berarti bagiku, Sayang. Dan ini juga kamarnya, aku tidak bisa menurunkan foto itu," ucap Camelia. Ia baru masuk ke kamar setelah selesai membuat susu mengecek kamar anak-anak. Hari sudah malam. Sudah memasuki jam tidur.


Andrean berbalik. Menatap Camelia dengan dahi mengernyit. "Kau cemburu?"tanya Camelia.


Andrean menghampiri Camelia. Langsung menyembunyikan wajahnya pada ceruk sang istri. "Aku kan suamimu, mana mungkin aku tidak cemburu. Foto itu, apakah selamanya akan di sana?"tanya Andrean, dengan nada merajuknya. Ia berubah menjadi manja.


Camelia menepuk punggung Andrean. "Ini adalah kamarku dengan Chris. Kita juga akan punya foto pernikahan tersendiri nanti, di kamar kita," ujar Camelia. Mendengar itu, wajah Andrean langsung memerah.


Kamar kita?


Andrean mendapatkan suatu rencana.


Ia melepas pelukannya. Dan menarik Camelia. Lebih dulu melemparkan tubuhnya di ranjang.


"Kemarilah."


"Apa?"


Andrean tidak menjawab. Langsung menarik Camelia. Dan posisi mereka berubah. Keduanya saling tatap. Sangat dalam.


Perlahan, Andrean mendekatkan wajahnya. Menggosokkan hidungnya pada hidung Camelia.


Dan perlahan mulai mengecup bibir chery itu.


"Kau tidak lupa, bukan? Ini malam pertama kita," ucap Andrean.


"Haruskah aku meralatnya? Menjadi malam ketiga kita?"sahut Camelia.


Andrean tertawa. Ia kembali meneruskan aksinya. Dibalas dengan desah Camelia. Sudah lama, tidak merasakan perasaan dan sensasi seperti ini. Jika malam pertama dan kedua adalah kesalahan, maka kali ini benar-benar sadar dan dengan status hubungan yang berbeda, suami dan istri.


Dalam setiap hela nafas dan tetes keringat, tercurah harapan dan doa. Semoga hubungan mereka langgeng sampai akhir. Semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi mereka.


"Maaf, Sayang. Akan ada saatnya kita menambah anak. Namun, tidak sekarang. Secepatnya, kita akan melangsungkan pernikahan, okay?"janji Camelia.


"Baiklah. Aku akan menunggu saat itu, Lia," jawab Andrean.


*


*


*


"Kau sudah bangun?"tanya Andrean. Ia baru saja selesai mandi.


"Sayang, jam berapa sekarang?"tanya Camelia, mengucek matanya.


"Jam 07.00," jawab Andtan.


"07.00?! Astaga aku terlambat ke dapur!!"seru Camelia. Ia langsung bangkit dari ranjang. Andrean membulatkan matanya.


Karena penampilan Camelia dan juga kata dapur.

__ADS_1


"Astaga-astaga! Ini gara-gara kamu, Sayang!"gerutu Camelia, segera menuju kamar mandi.


"Loh?" Andrean menyusul Camelia. Menahan pintu kamar mandi sebelum ditutup oleh Camelia.


"Aku harus cepat, Sayang!"tegas Camelia.


"Bukankah sudah terlambat?"sahut Andrean. Menaikkan alisnya. Menarik senyum. Camelia merinding.


"Hah?"


"Mereka akan paham, Lia."


"Kau! Mengapa kau masuk?!"


"Bukankah kau sudah mandi?!"


"Get out!!"


"Morning, Lia. Kita akan mandi bersama," jawab Andrean. Menutup pintu.


"K-Kau!!" Camelia menatap horor Andrean. Yakin, itu tidak hanya sekadar 'mandi'.


*


*


*


Camelia menghembuskan nafas kesal. Ia berbaring di ranjang. Baru selesai mandi dan tubuhnya terasa sangat remuk. Sementara pelakunya, keluar dari kamar.


"Gila!" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Camelia. Semangat Andrean begitu besar, dan seakan tidak lelah melakukan aktivitas itu.


Camelia memejamkan matanya. Baru saja sebentar, ponselnya berdering.


"Ya? Hallo, Kak," jawab Camelia. Itu panggilan dari Kak Abi.


"Kau kenapa, Lia? Suaramu, terasa sangat lelah," heran Kak Abi.


"Hahaha. Aku habis olahraga, Kak," jawab Camelia.


"Oh, okay. Aku hanya ingin mengingatkanmu, hari ini, jam 14.00 adalah pemotretan lanjutan majalah musim dingin, edisi yang ketiga," ucap Kak Abi.


"Hari ini?" Camelia langsung bangkit.


"Ah … haha. Iya aku ingat, Kak," jawab Camelia lagi.


"Kau sangat kelelahan, Lia? Aku batalkan saja jadwalnya?"


"Jangan!"tolak Camelia.


"Ada waktu istirahat, aku baik-baik saja."


"Okay…." Jawaban Kak Abi masih ragu.


"Sampai jumpa nanti, Kak." Camelia langsung mengakhiri panggilan.


Beberapa saat kemudian Andrean kembali dengan membawa nampan berisi makanan.


Camelia terhenyak sesaat. "Ayo makan. Aku suapi."


Camelia kini bertopang dagu. "Melihat sikapmu ini, aku tidak yakin kau baru pertama kali menjalin hubungan. Sayang, katakan padaku dari mana aku belajar semua ini?"tanya Camelia.


"Buku, video, komik, film," jawab Andrean, menyebutkan satu persatu sumber belajarnya.


"Ayo makan, Lia."


"Satu piring berdua?"tanya Camelia.


"Katanya ini sangat romantis. Dan aku rasa iya," jawab Andrean.


"Haha." Camelia tertawa singkat. Sebelum menerima suapan Andrean.


*


*


*


Setelah selesai makan, Andrean mengembalikan piring ke dapur. Dan sekali lagi, ia mendapat godaan dari Kakek Gong.


Saat hendak kembali ke kamar, Camelia menuruni tangga.


"Kok turun? Ayo istirahat," ujar Andrean.


"Aku mau istirahat di gazebo," sahut Camelia.

__ADS_1


"Aku temani."


Andrean langsung menggandeng tangan Camelia. Ia sudah cukup familiar dengan kediaman ini.


"Di sana juga anak anak-anak," ucap Nyonya Shane.


"Sepertinya malam mereka cukup wah!"kekeh Tuan Shane.


"Hush! Jangan membahasnya. Itu private!"tegur Nyonya Shane.


"Iya-iya."


Tuan Shane dan Kakek Gong kembali mengobrol. Bahasannya tak jauh dari keluarga dan pekerjaan.


Dan di saat itu juga, Kakek Gong mencoba melakukan negosiasi, tentang Lucas dan Liam. Keinginan Kakek Gong untuk membawa pulang Lucas dan Liam sama sekali tidak hilang.


Dan reaksi Tuan dan Nyonya Shane langsung tidak bersahabat. "Bukankah itu sudah pernah dibahas sebelumnya? Jika hanya berkunjung dan menginap beberapa untuk mengenal leluhur, kami tidak masalah. Namun, untuk ikut ke dalam keluarga Gong dalam jangka waktu tertentu, kami menolaknya!"tegas Tuan Shane.


Menjadi seorang pewaris bukan hal mudah. Apalagi untuk memimpin perusahaan raksasa seperti Shane Group.


"Tapi, jika hanya satu tahun, apakah tidak bisa? Saya meminta dengan sangat pada Anda. Saya juga ingin mengenal cicit saya. Saya yakin Rean juga begitu," ucap Kakek Gong. Inilah tujuan lainnya datang ikut dengan Andrean ke Kanada.


Tuan Shane tetap menggeleng. "Dan kami, dengan sangat berat hati menolak untuk itu. Saya yakin Andrean sudah mengatakannya pada Anda. Dan surat juga sudah dicap dan ditandatangani."


Kakek Gong menghela nafas kecewa. "Jika Anda memang ingin dekat dengan Lucas dan Liam, mengapa tidak tinggal di sini lebih lama? Saya dengar dari Lia, Anda sudah menyerahkan posisi kepala keluarga pada Andrean," tawar Nyonya Shane.


"Boleh?"tanya Kakek Gong, wajahnya menjadi sangat berbinar.


"Jika Anda mau, kami akan siapkan paviliun untuk Anda," jawab Nyonya Shane. Tuan Shane tampak tidak keberatan dengan hal itu.


"Haha ide yang bagus. Ide yang bagus. Saya akan mempertimbangkannya lebih dahulu," jawab Kakek Gong. Ia tertawa senang.


*


*


*


Camelia memejamkan matanya dengan paha Andrean sebagai bantal. Sedang tidur. Dari Lucas, Andrean tahu bahwa siang ini Camelia ada jadwal pemotretan. Sesaat, ia merasa ngilu, merasa bersalah karena membuat Camelia terlalu lelah. Apalagi saat menerima Lucas dan Liam memberikannya gelengan kepala.


Tapi, nasi sudah jadi bubur.


"Kalian menyukainya?"tanya Andrean. Ketiga anak itu tengah bermain bersama dengan Alel dan Archie. Memang menggemaskan sih, bulu hitam yang mengkilap, mata kuning yang masih cute, dan aungan yang masih anak-anak.


Ada banyak mainan untuk dua anak panther hitam itu.


Dan benar kata Vameia tadi. Memang biasanya gazebo ada sebuah bangunan dengan jendela terbuka. Tanpa ada penutupnya dan tanpa pintu. Namun, gazebo kediaman Shane dibangun berbeda.


Gazebo ini dilengkapi dengan jendela kaca yang dapat membuka dan menutup sesuai dengan keinginan yang berada di dalamnya. Serta juga dilengkapi dengan pintu. Jadi, meskipun musim dingin, di dalam akan tetap terasa hangat.


"Ya." Liam menjawab singkat.


"Kau mau?"tanya Andrean, menatap Crystal.


Crystal menggeleng. "Masih panda," jawab Crystal.


"Oh."


"Oh iya, Ayah. Kapan Ayah kembali ke China?"tanya Liam.


Andrean mendengus. Pertanyaan itu membuatnya kesal. Baru saja 1 setengah hari dua malam ia di sini, sudah ditanya kapan pulang. Memangnya rindu berbulan-bulan tuntas dengan waktu sesingkat itu? Tentu saja tidak!


"Ah, iya, apa kalian pernah melihat gaun pengantin Mom kalian?"tanya Andrean.


"Gaun pengantin?" Lucas heran. Mengapa menanyakan itu?


"Ada. Di lemari pakaian Mom," jawab Liam.


"Baiklah."


"Untuk apa, Yah?"tanya Lucas penasaran.


Andrean tidak menjawab. Hanya tersenyum lebar.


*


*


*


Sekitar 1 jam sebelum pemotretan dimulai, Camelia sudah berangkat menuju lokasi. Dalam perjalanan itu, Camelia mengulas kembali hal apa saja yang terjadi belakangan ini. Pagi yang berbeda, dan ya suasana yang berbeda.


Kini, ia sudah menjadi seorang istri dan juga ibu dari tiga orang anak. Dua anak kandung dan satu lagi, ya anak tiri.


Camelia tersenyum simpul. Terlihat bahagia dan simple memang. Namun, aslinya ada kerumitan di dalamnya. Setidaknya untuk saat ini Camelia telah puas.

__ADS_1


__ADS_2