Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Familiar


__ADS_3

"Mom malam ini kita makan apa?"tanya Lucas penasaran. Sepulangnya melihat Tuan Liang dari jarak yang cukup dekat, Camelia dan Dion pulang ke apartemen. Kini kelimanya tengah bersantai di ruang tengah, ia dan kak Abi menonton televisi yang tengah menanyakan drama popular saat ini. Dibintangi oleh aktor dan aktris ternama yang bertemakan game online. Sedang Lucas dan Dion bermain game sementara Liam memejamkan matanya.


"Kita belum belanja kebutuhan dapur. Bagaimana jika kita makan malam di luar?"jawab Camelia sehari mengupas kuaci.


"Restoran Kakek?"usul Liam. Ia membuka matanya dan menoleh pada Camelia.


Camelia terkesiap. Dion berhenti sejenak bermain game. Hanya sejenak kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali fokus pada gamenya. 


"Setuju!"sahut Lucas tanpa berpaling dari layar ponselnya. 


"Tapi …." Camelia ragu. Ia takut jika makan malam di restoran keluarga Liang dapat mengungkap kepulangannya. 


"Tidak ada yang mengenali kita. Lima tahun itu waktu cukup lama, Mom. Ayolah! Lagi di sana apa tidak ada ruang VIP?"bujuk Lucas. Ia telah selesai nge game. Matanya menatap penuh harap Camelia.


Camelia bimbang. Ia menatap Dion meminta saran. 


"Benar kata Lucas, Lia. Jika kau takut dikenali, gunakan masker. Dion kecil ini sudah sangat dewasa dari sebelumnya. Kemungkinan kalian dikenali sangatlah kecil," ujar Kak Abi.Ia mengalihkan pandangannya dari layar televisi ke arah Camelia.


Sebagai seorang manajer yang telah menemani dan menjaga Camelia dari awal debut sebagai seorang model hingga menjadi seorang aktris besar seperti saat ini, tentu Kak Abi tahu apa yang terbaik untuknya. 


Benar juga. Tiada alasan untuk menolak. Kemungkinannya sangat kecil, seingatnya Tuan atau Nyonya Liang sudah tidak berada di restoran sejak pukul 17.00.  


“Aku yakin kita akan aman,” tambah Kak Abi meyakinkan.  


“Kakak aku rindu masakan keluarga Liang,” ucap Dion. Ponselnya ia lipat karena telah selesai bermain game.


Empat lawan satu, Camelia jelas kalah. Apalagi alasan yang dikemukakan sangat tidak bisa untuk ia tolak. Camelia mengangguk setuju yang disambut dengan seruan menang dari Lucas, Liam, Dion, dan Kak Abi. 


***


Pukul 19.00, Camelia, Lucas, Liam, Dion, dan Kak Abi keluar dari apartemen menuju basement tempat mobil yang baru dibeli beberapa jam lalu. Camelia membeku sesaat setelah keluar dari lift, begitu juga dengan Dion.


Mereka berdua berpapasan dengan Jordan yang hendak masuk ke dalam lift, sepertinya baru kembali dari suatu tempat. Jordan mengernyit melihat lima orang itu terlebih pada Camelia yang tampak tegang dan gugup.


“Mom, what’s up?”tanya Lucas bingung. Sedangkan Liam menilik lekat Jordan.


Jordan terhenyak mendengar panggilan anak berwajah manis pada wanita cantik yang berpenampilan elegan nan mewah itu. Apa dia sudah menikah dan punya anak? Lalu …. 


Tatapan Jordan beralih pada Dion, dia suaminya? Muda sekali wajahnya atau memang baby face? 


Dion tertegun sesaat menerima tatapan penasaran Jordan. Ia berdehem lalu berbisik pada Camelia, "aku bawa Lucas dan Liam ke mobil dulu."


Camelia mengangguk. Dion segera melakukan apa yang ia katakan. Kak Abi mengikut, meninggalkan Camelia dan Jordan berdua.


Tapi, wajah kedua anak tiada ada yang mirip dengan pria itu? 


“Hallo. good night, Miss,” sapa Jordan ramah dilengkapi dengan senyum manisnya. sebagai seorang publik figur, tentu Jordan harus menjaga imagenya.


Jika tidak bisa saja mengancam karir dan hidupnya. Sapaan yang ia ucapkan pun bisa dimengerti oleh berbagai kalangan dan belahan dunia mana saja, dalam arti universal.


“Hai. Night too, Master," jawab Camelia tak kala ramah. Ia sudah bisa menguasai dirinya. Ia harus bermain cantik dan bersandiwara tidak mengenal Jordan. Ia menunjukkan bakat aktingnya tidak hanya di dunia pekerjaan.


"Can you speak Chinese?"tanya Jordan sekadar basa-basi. 


"Yes," jawab Camelia, ia tersenyum. Jordan terkesiap melihat senyum itu. Senyumnya begitu familiar, gumam Jordan dalam hati.


"Perkenalan, saya Camelia. Penghuni baru apartemen di lantai 30," ucap Camelia dalam bahasa China, mengulurkan tangannya ke arah Jordan.


Mata Jordan sedikit melebar. Lantai 30? Itu lantai dengan unit termahal. Wanita itu begitu kaya! Tapi, dari namanya apakah dia berasal dari luar negeri?

__ADS_1


"Master?"panggil Camelia.


"Ah, maaf-maaf. Saya Jordan. Apartemenku berada di lantai 15," jawab tergagap Jordan, menerima uluran tangan Camelia.


Tangannya begitu lembut, wajahnya cantik, bodynya juga goal walau sudah memiliki dua  anak. 


"Nice too meet you, Mr. Jordan." Camelia melepas jabatan tangannya.


"Hm apa sebelumya kita pernah bertemu? Atau benar Anda tidak mengenali saya?"tanya Jordan penasaran.


Camelia mengerjapkan matanya beberapa saat. 


"Tentu saja ini pertemuan pertama kita, Mr. Jordan. Saya juga baru berkenalan dengan Anda tadi. Apa Anda seseorang yang terkenal? Ah maaf bukan maksudnya ingin menyinggung Anda. Hanya saja saya baru saja kembali dari luar negeri setelah sekian tahun," jawab Camelia.


Aku tidak berbohong kali ini, aku memang baru bertemu dengannya lagi setelah sekian lama, tambah Camelia dalam hati.


"Ahhh pantas saja." Jordan mengangguk paham.


"Apa saya mirip dengan seseorang yang Anda kenal?"tanya Camelia. Ia ingin tahu jawaban Jordan tentang dirinya yang sekarang dan lima tahun lalu.


"Tidak. Kalian jauh berbeda," jawab Jordan.


"Oh." Sudah Camelia duga.


Jasmine dulu selalu berpenampilan sederhana, beda dengan Camelia yang berpenampilan modis dengan barang dari brand ternama. Contohnya saja tas yang dikenakan Camelia, keluaran terbaru dari brand asal Italia. 


"Kak ayo pergi. Anak-anak sudah merengek lapar," ucap Dion, datang menghampiri Camelia dan merangkul kakaknya itu. Matanya menatap tajam Jordan menegaskan bahwa pria itu tidak boleh menganggu Camelia.


Kakak? Jadi pria ini adiknya? Lalu di mana suaminya? Jordan merasa lega sekaligus kembali sangat penasaran. 


"Baiklah." Camelia beralih menatap Jordan. "Kalau begitu saya pamit lebih dulu, Mr. Jordan."


Benar-benar kaya, gumamnya dalam hati dengan senyum penuh arti saat melihat mobil yang digunakan oleh Camelia.


*


*


*


"Sebelum turun tadi kau begitu takut, Kak. Tapi, tadi kau berbicara santai dengannya," heran Dion. 


"Ada yang salah berkenalan dengan penghuni satu kawasan apartemen?"sahut Camelia. Kak Abi yang menjadi pengemudi melirik Dion yang menoleh ke belakang. Tatapan Camelia mengatakan ini bukan saat dan tempat yang cocok untuk membahas masa lalu.


"Tidak ada sih." Dion kembali melihat ke depan. Ia mengerti arti tatapan Camelia padanya.  Kak Abi fokus mengemudi dan mengikuti arahan map. 


"Paman tadi tinggal di lantai mana, Mom?"tanya Lucas ingin tahu.


"15," jawab singkat Camelia.


"Jangan terlalu dekat dengannya, Mom. Dalam artian apapun!"tegas Liam, memperingati Camelia.


Camelia tersenyum tipis. Liam merasakan aura tidak menyenangkan dari Jordan. Lagi, siapa yang mau dekatnya dengannya selain karena rencana balas dendam? Camelia telah memikirkan mendapatkan langkah pertamanya. 


"Siapa namanya tadi, Mom?"tanya Lucas lagi.


"Jordan," jawab Camelia.


Liam yang mendengar itu langsung fokus pada ponselnya.

__ADS_1


"Jordan? Marganya?" Camelia mengendikkan bahunya. 


"Aneh, biasanya kan orang sini memperkenalkan nama mereka lebih dulu baru mengatakan marga/keluarganya.  Uncle kau yang formatnya kan?" 


"Of course. Hallo perkenalkan nama saya Dion. Dari keluarga Shane." 


"Chin," ucap Liam tiba-tiba.


"Hah?"


"Liam bilang marganya Chin," jelas Lucas.


"Chin? Darimana kau tahu, Liam?" Walau Dion sudah tahu betul marga keluarga Jordan, tetap saja ia sangat penasaran bagaimana cara Liam mengetahuinya.


"Sangat mudah." Liam menunjukkan layar ponselnya. "Ia seorang aktor," tambah Lucas.


Ternyata Liam sudah menginstal aplikasi pencarian yang biasa digunakan di China, Baidu. Ia mencari tahu siapa sana penghuni apartemen di kawasan apartemen mereka. Ia yang berbakat dan handal dalam meretas, keamanan bukanlah halangan.


"Wow satu profesi dengan kalian bertiga," sahut Dion. Lupa kedua keponakannya anak yang cerdas. 


"Ada beberapa publik figur juga yang tinggal satu kawasan dengan kita," tambah Liam.


"Lalu apa kalian ada niat untuk berkarir di sini?"tanya Kak Abi. 


"Niatku pulang bukan untuk menetap, Kak!"tegas Camelia.


"I know. Tapi, sekadar untuk mencicipi itu kan tak masalah. Ku dengar di sini terkenal akan reality shownya. Itu juga cara mempercepat kesedihan pergi." 


'Kalau kau mau, aku akan tentukan acara mana yang cocok."


"Hm."


*


*


*


"Kak … apa yang kau rencanakan?"tanya Dion saat memasuki restoran keluarga Liang. Lucas, Liam, dan Kak Abi telah lebih dulu mencari tempat. Sedang Dion berjalan masuk bersama Camelia setelah Camelia memarkir mobil dan Dion dari toilet.


Camelia menghentikan langkahnya, ia menghela nafas pelan lalu tersenyum simpul. 


"Aku ingin memancing rasa penasarannya denganku. Sekaligus ingin tahu apa dia masih seperti dulu? Berkhianat karena mengejar lebih baik, atau tetap setia padanya."


"Darimana Kakak tahu jika dia dan wanita ular itu masih bersama?"


"Insting." Agensi Jordan dan Rose memang menutup rapat tentang hubungan asmara artisnya. 


"Oh." Keduanya kembali melanjutkan langkah. Namun, tanpa sengaja karena ramainya pengunjung, Camelia menyenggol seseorang.


"Maaf … maaf!" Camelia segera meminta maaf. Ia menundukkan kepalanya sedang Dion terpaku. Matanya memancarkan sejuta rasa rindu.


"Tidak apa," jawab orang yang Camelia senggol tadi. Mendengar nada lembut yang familiar dan sangat Camelia rindukan ia mendongak. 


"Kamu tidak apa, kan?" Pemilik suara itu adalah Nyonya Liang. Camelia menggeleng tanpa suara. Ia sibuk menahan perasaanya sendiri begitu juga dengan Dion yang menahan tangisnya. Alhasil matanya sedikit memerah. Dion memalingkan wajahnya. 


"Ah baiklah. Sepertinya tadi kamu sedikit buru-buru. Lain kali hati-hati." Camelia mengangguk, kembali membungkuk dan langsung menarik Dion untuk pergi. 


Nyonya Liang merasakan aneh dengan dirinya sendirinya. Ia menatap rumit punggung Camelia dan Dion yang menghilang di tengah keramaian. 

__ADS_1


Rasanya familiar, yang membuatnya ingin menangis. Nyonya Liang menyeka ujung matanya dan kembali melanjutkan langkahnya.


__ADS_2