
Malam kedua di Korea Selatan, Camelia kembali menikmati pemandangan malam kota Seoul. Rainbow Fountain kembali Camelia lihat. Menikmatinya ditemani dengan Soju atau arak beras khas Korea.
Hah!
"Aku tidak bisa tidur," gumam Camelia. Meskipun matanya sudah merah, rasa kantuk belum menyerang dirinya.
Perasaan gugup masih hadir di dalam hatinya. Besok, ia akan menjalani metode penghilangan bekas luka yang ia pilih.
Itu adalah pertama kalinya. Perasaan gugup, itu adalah hal yang wajar.
"Mom…." Camelia menoleh saat mendengar suara salah seorang putranya.
"Liam?" Camelia segera bangkit. Masuk ke dalam kamar dan menutup balkon. "Kau belum tidur, Mom?"tanya Camelia, duduk di tepi ranjang.
"Aku sudah tidur 2 jam, Mom," jawab Liam dengan mengusap matanya.
"Dua jam?"beo Camelia, mengalihkan pandang melihat jam dinding. Hampir tengah malam.
"Hahaha."
"Kau belum tidur, Mom? Mata Mom merah," celetuk Liam.
Camelia tertawa pelan. Kemudian mendekap Liam dalam peluknya. "Mom insomnia atau gugup sampai tidak bisa tidur?"
"Sepertinya keduanya benar," jawab Camelia.
"Tidurlah, Mom. Kalau tidak besok, Mom akan jadi panda," cetus Liam lagi. Camelia kembali tertawa.
"Kau pandai melakar, ya?"gemas Camelia, mencium gemas putranya.
"Mom?!" Bocah itu protes.
"Ehmmm…." Terdengar gumaman tidak jelas. Dari nadanya terdengar kesal. Tampaknya Lucas terganggu.
"Tidurlah, Mom." Liam melepaskan diri dan kembali berbaring.
"Berbaring saja. Kantuk akan datang sendiri."
Camelia ikut membaringkan tubuhnya di samping Liam. Menatap langit-langit kamar. Dan benar saja. Rasa kantuk pun datang. Mata menjadi berat dan pada akhirnya Camelia tertidur.
*
*
*
Tok…
Tok…
Pagi harinya, Camelia terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamar. Lucas dan Liam masih tidur.
Melihat jam, pukul 07.00.
"Mungkin Kak Abi," pikir Camelia, segera bangkit untuk membuka pintu. Wanita itu pasti takut ia akan terlambat.
Ceklek.
Camelia membuka pintu. Namun, betapa terkejutnya ia, bukannya kak Abi, melainkan sosok lain. Camelia mengusap matanya, memastikan ia tidak salah lihat.
Namun, tak peduli berapa kali ia mengusap, sosok di depannya tidak berubah.
"Rean?"kaget Camelia.
"Surprise." Yang dipanggil tersenyum lebar dengan melebarkan tangannya.
"Is this really you?!"
"Yes. It's me."
"Kau? Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah kau di China? Sedang apa kau?"tanya Camelia bertubi-tubi. Ia sungguh tak habis pikir.
"Bukankah aku mengatakan aku akan menemaniku?"balas Andrean, menaikkan alisnya.
"Hah?" Camelia terhenyak. Teringat pembicaraan tadi malam dengan Andrean.
"Bukankah aku sudah menolaknya? Mengapa kau tetap datang?!"ujar Camelia.
"Hm … maybe because I miss you," jawab Andrean. "Namun, tidak bisakah kau sedikit peka, Lia? Aku sudah lelah merentangkan tanganku," keluh Andrean kemudian.
"Hehe." Camelia terkekeh. Segera memberikan pria itu pelukan.
"Bagaimana? Senang tidak?"
"Aku kesal."
"Kesal?" Alis Andrean menyatu.
"Hm. Kesal."
"Jika aku pulang, kesalmu akan hilang?"
"Kau akan pulang? Kau kan baru tiba?" Camelia mengeluh, menggerutu.
"Bukankah kau kesal?"sahut Andrean. Camelia mencebikkan bibirnya.
"Memangnya aku menyuruhmu pulang?"kilah Camelia, masih dengan bersungut.
Andrean tertawa renyah. Tingkah Camelia sangat menggemaskan.
Jangan tanya ia tahu lokasi menginap Camelia dari mana, tentu saja sudah ia cari tahu lebih dulu.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Camelia, tulus.
"Anything for you, Lia."
"Eh-eh, siapa ini?!" Dari samping, terdengar suara galak. Keduanya menoleh. Camelia sontak melepaskan pelukannya, begitu tahu itu Kak Abi.
"Mr. Gong, right?"tanya Kak Abi, menatap tajam Andrean.
Andrean mengangguk. "Wow. Pagi-pagi, mataku sudah ternoda."
"K-kak."
"Segeralah bersiap, Lia!"titah Kak Abi. Dan Camelia tidak bisa menolaknya, pasrah. Apalagi, tatapan Kak Abi begitu tajam.
"Kejutan Anda mengejutkan, Mr. Gong," ucap Kak Abi setelah Camelia masuk ke dalam kamar.
"Dan sepertinya Anda sangat senggang," tambah Kak Abi.
"Terima kasih atas pujiannya."
Kak Abi mendengus. "Follow me!"ucap Kak Abi, melangkah pergi.
Andrean melihat sekilas ke arah pintu kamar kemudian menyusul Kak Abi.
Mereka naik menuju roof top. Pemandangan pagi kota Seoul juga tak kalah cantik. Kak Abi menatap lurus ke depan. Sedangkan Andrean menarik nafasnya. Udara pagi memang sangat segar.
"Tuan Shane pasti sudah banyak memperingatimu berbagai hal," ucap Kak Abi, membuka pembicaraan.
Andrean menoleh dan tersenyum. Kak Abi melirik sekilas padanya.
"Jangan pernah main-main dengan Camelia!"tegas Kak Abi.
"Jika saya main-main, saya tidak akan menghabiskan banyak hal untuk itu," jawab Andrean. Santai.
"Jadi, kau mengungkit apa yang telah kau habiskan untuk Camelia?"
"Tidak." Andrean menggeleng. "Aku melakukan atas kemauanku sendiri. Ku harap kau melihat keseriusanku." Usia mereka sama, jadi bicara non formal pun tidak masalah.
"I see. Namun, jika suatu hari kau mengecewakan atau menyakiti Camelia, aku tak segan untuk mencabikmu!" Mata Kak Abi memancarkan keseriusan yang dalam. Manajer Camelia itu benar-benar serius.
"Sebelum itu, saya akan menghukum diri saya sendiri jika mengecewakan atau menyakitinya," sahut Andrean.
Kak Abi terkesiap sesaat. "Kau sendiri yang berjanji, Mr. Gong!"
"Ya."
"Kau datang untuk menemaninya?"
"Hm."
"Kalau begitu temani dia."
"Kau percaya padaku?"
Andrean seketika tertawa. Ia mengusap wajahnya. "Aku tidak akan mengecewakanmu!"
Keduanya kemudian meninggalkan rooftop, kembali ke lantai kamar. Andrean menunggu di luar kamar. Sekitar lima belas menit kemudian, Camelia, Lucas, dan Liam keluar dari kamar. Siap untuk pergi ke rumah sakit.
Lucas dan Liam memicingkan mata, saat mendapati sosok yang familiar bagi mereka.
"Hai, Lucas, Liam," sapa Andrean, dengan senyum lebarnya.
"Ayah?!" Lucas dan Liam berseru kaget.
"Haha." Andrean tertawa. Lucas dan Liam lekas berlari untuk memeluk sang ayah.
Namanya juga hubungan batin dan darah, cepat sekali dekatnya. "Bagaimana kabar kalian?"tanya Andrean.
"Kami baik," jawab Lucas.
"Tapi, mengapa ayah ada di sini?"tanya Liam, menatap heran Andrean.
"Apalagi? Tentu saja karena merindukan kalian," jawab Andrean.
"Really?"
"Yes."
"Semakin lama ayah semakin mirip Daddy," cetus Lucas.
"Benarkah? Daddy kalian juga pernah melakukan hal ini?"tanya Andrean penasaran.
Lucas dan Liam mengangguk membenarkan. "Daddy sangat romantis," ucap keduanya.
Camelia menyentuh rambutnya. Kedua anaknya banyak omong juga. Lihatlah wajah Andrean yang terlihat cemburu.
Anak-anak, kalian sedang membuat cuka, sungut Camelia dalam hati.
Sangat romantis ya? Aku akan lebih romantis darinya!
Andrean menatap Camelia penuh arti. Dan itu malah membuat Camelia merinding.
"Hei! Mengapa kau menunggu di sini!"sentak Kak Abi saat mendapati Andrean bercengkrama dengan Lucas dan Liam.
"Lantas?" Andrean mengernyitkan dahinya.
"CK!" Kak Abi menepuk dahinya pelan. "Aku meragukan bahwa kau benar seorang Presdir Entertainment!"cibir Kak Abi.
"Kau keluar lebih dulu, jaga-jaga saja. Meskipun ini luar negeri, netizen dan paparazzi selalu ada," jelas Camelia.
Dan ya, juga sama seperti Kak Abi. Apa Andrean tidak paham hal ini? Camelia rasa ini sudah jadi rahasia umum.
__ADS_1
"Oh," jawab Andrean.
"Aku duluan," ujar Andrean kemudian, melangkah pergi.
"Jika dia seperti ini terus, mana bisa menyembunyikan hubungan Lia," ucap Kak Abi, menepuk pelan bahu Camelia.
"Entahlah, Kak. Terkadang ia pura-pura bodoh," sahut Camelia.
"Ya sudah. Ayo pergi," ajak Kak Abi.
*
*
*
"Tidak perlu terlalu tegang. Ini tidak akan lama dan sakit," ujar dokter Kim Jae Hyun sesaat sebelum pengobatan dimulai.
Kini, Camelia telah berada di ruangan untuknya menjalani proses penghilangan luka. Bersama dengan dokter Kim Jae Hyun dan beberapa orang suster. Ruangan ini, hampir mirip dengan ruang operasi.
Dan Camelia juga mengenakan pakaian operasi.
"Baik," jawab Camelia.
Dokter Kim Jae Hyun kemudian menyuntikkan obat bius pada Camelia dan mulai melakukan metode peeling.
*
*
*
Di luar ruangan, Andrean dan lainnya menunggu dengan cemas. Sudah hampir satu jam. Dan dokter belum keluar juga.
"Lama sekali," gerutu Andrean.
"Namanya juga perawatan," sahut Kak Abi.
Sekitar sepuluh menit kemudian dokter Kim Jae Hyun keluar. "Bagaimana?" Dan langsung ditodong pertanyaan oleh Andrean.
"Lancar. Kulit Nona Camelia tidak susah untuk ditangani."
"Berapa lama untuk penyembuhannya?"
"Karena ini peeling dalam, Nona harus tetap di Korea Selatan selama satu Minggu ke depan," jawab Dokter Kim Jae Hyun.
"Satu Minggu?" Lucas dan Liam membeo. Itu waktu yang cukup lama. Sedangkan keduanya ada jadwal dalam jangka waktu itu.
"Benar. Untuk pemantauan dan perawatan lebih lanjut. Agar hasilnya benar-benar maksimal dan meminimalkan efek sampingnya," jelas dokter Kim Jae Hyun. Ya, karena setiap tindakan pasti ada resikonya.
Seperti metode peeling dalam yang Camelia pilih, dapat menyebabkan wajah bengkak. Dan kemungkinan ada perbedaan warna kulit. Oleh karenanya, harus tetap kontrol rutin selama satu minggu ke depan.
"Baiklah. Kami mengerti. Lantas Camelia mana?"tanya Kak Abi.
Tak setelah pertanyaan itu Camelia keluar. Luka di wajahnya, sudah tidak terlihat. Mulus namun sedikit kemerahan. Mungkin efek dari bahan kimia yang digunakan.
"Mom!" Lucas dan Liam menghampiri Camelia.
"Bagaimana perasaanmu, Mom?"tanya Lucas.
"Lebih baik. Namun, ini terasa panas. Dan aku merasa, wajahku bengkak," ujar Camelia.
"Itu reaksi yang wajar, Nona. Tenang saja, saya akan berikan salep untuk meringankannya," ujar dokter Kim Jae Hyun.
Camelia mengangguk. "Mari, Nona. Kita ke kamar Anda," ajak Dokter Kim Jae Hyun.
Camelia mengangguk. Memang memutuskan untuk rawat inap selama dua hari agar gampang untuk kontrol.
Pria ini, siapa nya Nona Camelia? batin dokter Kim Jae Hyun yang asing dengan Andrean.
Keluarga atau siapa? batinnya kembali bertanya, memicingkan mata melihat interaksi Andrean dengan keluarga Shane.
"Terima kasih atas kerja keras Anda, dokter," ucap Camelia.
"Saya tanggung jawab saya, Nona," sahut dokter Kim Jae Hyun.
Dokter Kim Jae Hyun kemudian berlalu.
"Mom, katanya Mama akan tinggal di sini selama seminggu ke depan," ujar Lucas. Saatnya mendiskusikan hal itu.
Andrean tidak menyambung, fokus mengamati wajah Camelia.
"Benar. Kalian akan pulang ke Kanada besok," jawab Camelia.
"Besok?" Kedua bocah itu terhenyak.
"Kakak juga ikut bersama mereka." Tidak mungkin, keduanya pulang tanpa orang dewasa dan juga melakukan jadwal tanpa didampingi manajer.
Kak Abi merenung. Lucas dan Liam saling tatap.
Enggan.
But ….
Mereka kan sudah kembali aktif. Jadwal juga sudah disusun.
"Jika kalian ada urusan, aku akan menjaga Lia," ucap Andrean, mulai menimbrung.
"Siapa yang mau dijaga olehmu?!"tolak Camelia.
"Tidak bisa!"sergah Kak Abi.
__ADS_1
"Why?" Andrean bertanya, heran dan tidak terima.