Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 199


__ADS_3

Lucas dan Liam saling melempar pandang. Keduanya teringat pembicaraan dengan Tuan Shane, beberapa waktu lalu di gazebo.


Tidak disangka. Tuan Shane serius dengan ucapannya. Dan keduanya juga ingat bahwa mereka menyetujui hal tersebut.


"Astaga!" Keduanya menatap Tuan Shane yang masih tersenyum lebar, menatap dua ekor panther hitam yang meringkuk di dalam box kayu itu. Mungkin usianya belum ada satu tahun.


"Apa-apaan kau?! Membeli hewan buas ini? Kau mau mati, hah?!"marah Nyonya Shane. Menatap berang suaminya yang sama sekali tidak melunturkan senyumnya.


Tuan Shane malah merangkul sang istri. "Ugh! Sakit, Lily!"keluh Tuan Shane, saat siku Nyonya Shane menyikut pinggangnya.


Tuan Shane mengaduh sakit.


Dion melangkah, mendekati dan berjongkok di depan kandang. Kedua panther hitam itu tampak takut. Terlihat jelas kebingungan. Apalagi usia mereka masih muda. Saling bersembunyi dengan merapatkan tubuh.


Dion menjulurkan telunjuknya. Salah satu panther hitam itu membuka mulutnya, menunjukkan taring yang masih kecil. Dion tersenyum. Tampaknya ia suka dengan panther hitam itu.


"Berapa harganya itu? Untuk apa kau membelinya? Katakan!!"seru Nyonya Shane. Ia masih tidak habis pikir. Bukankah kalau mau memelihara hewan ada banyak pilihan? Mengapa harus kucing besar itu? Ada kucing dan anjing, bukan? Yang sudah lazim dipelihara.


Kalau panther hitam, itu buas dan berbahaya. Terlebih ada anak kecil.


"Tidak sampai milyaran kok," jawab Tuan Shane. Itu berjongkok di samping Dion. Sementara Camelia berdiri di belakang Lucas dan Liam, tidak membolehkan kedua anaknya mendekat. Camelia masih ragu.


"Berapa usianya, Dad?"tanya Dion.


"Sekitar 4 bulanan. Bukankah itu usia yang pas untuk dilatih?"sahut Tuan Shane. Dion mengangguk paham.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!"ketus Nyonya Shane, berdiri di belakang Tuan Shane. Nyonya Shane bersedekap tangan.


"Anjing atau kucing itu sudah biasa. Lagipula, ini bukan hal baru lagi. Ditambah lagi, aku hanya mengabulkan keinginan kedua cucuku. Ada yang salah dengan itu?"jawab Tuan Shane, ia begitu santai.


"Lucas? Liam?"


"M-Mom!"


Kedua anak itu merasakan hawa dingin di belakang punggung mereka. Juga dari depan. Keduanya mendapat tatapan tajam dari Camelia dan Nyonya Shane. "Tidak! Bukan seperti itu ceritanya! Grandpa bertanya pada kami, kami bilang itu menarik. Kami tidak tahu kalau Grandpa serius membeli itu!"ucap Lucas, cepat-cepat menjelaskan.


"Tidak adil tidak Grandpa melemparkan alasannya pada kami! Grandpa juga tidak ada bilang saat membelinya!"imbuh Liam.


"Hahaha, bukankah ini yang namanya kejutan?"sahut Tuan Shane, ia berdiri dan membalikkan tubuhnya. Mengangkat salah satu alisnya.


"Tapi, Dad, kejutan ini benar-benar membuat jantungan. Siapa yang akan merawat anak panther hitam itu?"tanya Camelia.


"Aku bisa, Kak!" Dion menjawab, mengajukan dirinya.


"Benar, ada Dion. Ini masih kecil, mudah dilatih. Jadi, tidak perlu terlalu risau. Dad juga akan belajar dari pawang di kebun binatang," timpal Tuan Shane. Daddy dan anak itu begitu kompak. Keduanya saling rangkul.


Nyonya Shane mendengus. Ia memijat pelipisnya.


Sudah dibeli. Dion menyukainya.


Nyonya Shane melirik kedua cucunya. Jika tidak ditahan Camelia, pasti keduanya sudah bergabung dengan dua pria dewasa itu.


Camelia masih tampak ragu. Nyonya Shane menghela nafasnya. "Baiklah. Atur tempat untuk itu. Kau pasti sudah membuat perhitungan saat membelinya," ujar Nyonya Shane, pada akhirnya setuju.


"Kandangnya akan dibuat besok. Selama itu, anak-anak berbulu hitam ini akan tinggal di halaman belakang, tetap di depan kandang ini. Oh iya, aku Dion, kau yang akan memberi mereka susu, okay?"ucap Tuan Shane, menepuk bahu Dion.


"Aku?"tanya Dion, tersentak. Tuan Shane mengangguk.


"Kalian, bawa kandang itu ke halaman belakang. Dion, sana buat susunya. Yang di atas kandang itu susunya," ucap Tuan Shane, memberikan perintah. Tuan Shane kemudian masuk ke dalam rumah, disusul oleh Nyonya Shane.


Pelayan yang ditunjuk segera melaksanakannya. Sebelumnya menurunkan box yang berisi susu untuk kedua anak panther hitam itu. Sementara Dion melongo. Membuat susu? "B-bagaimana caranya? Kakak…." Menatap harap Camelia.


"Ah, ini sedikit menyebalkan," gumam Camelia, kemudian mengangguk kecil.


"Anak-anak, ayo ke belakang," ajak Dion.


Lucas dan Liam saling lirik. Tanpa menjawab, dan saling melempar kode, keduanya langsung berlari.


"Lucas! Liam!"teriak Camelia. Ia masih ragu.


"Tidak apa-apa, Mom. Tenang saja!"sahut Lucas dengan berteriak pula.


*


*


*


Meskipun masih khawatir, Camelia tetap membuatkan susu untuk kedua panther hitam itu. Biar bagaimanapun, kedua panther hitam itu tidak memiliki salah, dan masih kecil. Jika tidak dirawat, artinya melakukan penindasan pada hewan.

__ADS_1


"Masih empat bulan?" Jika diibaratkan bayi manusia, itu bahwa belum bisa berjalan.


"Biar bagaimanapun sudah dibeli," gumam Camelia.


Camelia meninggalkan dapur, menuju halaman belakang dengan membawa dua botol susu untuk kedua panther hitam itu.


"Sepasang!"


Camelia mendengar seruan Lucas. Dalam hatinya langsung menerka-nerka.


"Kita harus memberi mereka nama." Terdengar Dion memberi saran.


"Bentar. Ayo pikirkan nama untuk mereka!"sahut Lucas.


"Bagaimana jika snow dan white?"ujar Liam.


"Tidak cocok!" Dion dan Lucas langsung menolak.


"Snow dan white itu identik dengan warna putih, sementara bulu mereka kebalikannya," ujar Dion, memberikan alasan untuk penolakan itu.


"Meskipun ini musim dingin, sama sekali tidak cocok dengan mereka. Kau pikir mereka ini beruang kutub?"timpal Lucas.


"Lantas? Black? Black one, black two?"tanya Liam, dengan sedikit ketus.


Disambut tawa oleh Dion. "Memang lirik lagu? You one, you two?"


"Garing, Uncle. Ayo pikirkan namanya!"sahut Lucas, diangguki oleh Liam.


"Shadow? Bukankah bayangan selalu gelap?"saran Dion.


"Terlalu sering nggak sih?"sahut Liam gantian ia yang kontra.


"Jadi?" Lucas menengahi. Tampaknya ketiga orang itu buntu.


"Archie dan Alel, bagaimana?" Camelia bergabung setelah melihat ketiganya buntu. Ikut berpartisipasi menamai kedua anak panther hitam yang masih kecil dan mirip dengan kucing berwarna hitam itu. Apalagi dengan kumis dan mata kuningnya, masih benar-benar seperti kucing biasa.


Dan kedua kucing itu sudah keluar dari kandang. Camelia tidak tahu pasti kedua hewan itu dikeluarkan. Yang pasti saat ia mendengar seruan Lucas tadi, itu sudah keluar dan kini satu dalam pangkuan Dion, sementara satu lagi dalam kendali Liam.


Keraguan Camelia sudah menurun. Mengingat kedua hewan itu masih kecil dan mudah dilatih. Kedua hewan itu juga bisa melindungi Tuannya.


"Archie dan Alel?" Dion mengulang kedua nama itu. Camelia mengangguk. Menyodorkan botol susu pada Dion dan Lucas, agar kedua anak panther hitam yang tampak kelaparan itu segera makan.


"Aku setuju, Mom!"ucap Lucas.


"Nama yang bagus, Mom," imbuh Liam.


"Tampaknya mereka menyukai nama itu. Kak, kau akan menjadi ibu sambung mereka," ucap Dion, diakhiri dengan kekehan.


Camelia tidak menjawabnya. Hanya diam mengamati kedua anak panther hitam yang sedang menyedot susu.


*


*


*


"Lina, ayo minum ini," ucap David dengan raut wajah cemas.


"Apa ini?"tanya Lina.


"Air lemon. Ku dengar ini bisa mengurangi mual ibu hamil," jawab David, membantu Lina minum.


Setelah minum, Lina kembali berbaring. Sudah beberapa hari ia mengalami morning sickness. Itu kian menjadi dari hari ke hari. Tadi, sarapannya saja ia muntahkan.


"Aku akan menemanimu," ucap David.


"Pekerjaanmu bagaimana? Tidak apa, ada Mom yang menjagaku," ucap Lina, lemah. Tersenyum pada David.


"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?" David duduk di samping Lina. "Sementara kau begini karenaku," lanjut David.


"Urusan pekerjaan tidak perlu kau risaukan. Ada sekretarisku yang kompeten," ucap David lagi, mencium kening Lina.


Lina tertawa pelan.


"Apakah sekretaris selalu menjadi tumbal?"


"Kau bisa melakar. Bagaimana? Sudah lebih baik?"tanya David.


"Mungkin akan lebih baik setelah tidur," jawab Lina. David mengangguk.

__ADS_1


"Ku pikir setiap ibu hamil itu sama." David kembali menatap sayu sang istri. Lina tersenyum lembut, menyentuh pipi sang suami.


"Artinya kau sangat mencintaiku. Namun, mungkin belum saatnya bagimu kesusahan," jawab Lina, disertai dengan kekehan.


"Maksudnya?" David tidak mengerti. Istrinya kesusahan karena morning sickness, karena ia sangat mencintai Lina? Bukankah jika karena sangat mencintai, ia yang seharusnya merasakan hal itu?


Lantas? Apa maksud mungkin belum saatnya ia kesusahan?


"Lupakan saja. Jika kata anak sekarang setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya," ujar Lina. Geli rasanya melihat raut wajah kebingungan David.


"Ya?" David memiringkan kepalanya. Masih tidak paham.


"Aku tidur dulu," ujar Lina. David mengangguk.


Ia masih memikirkan ucapan Lina..


Apa aku tanya Lia saja, ya? pikir David.


Saat David tersadar, ia mendapati Lina sudah tidur. Dengan raut wajah yang kurang nyaman.


David menghela nafasnya pelan. Kemudian mendekatkan wajahnya ke perut Lina. "Anak Papa, jangan nakal ya. Kasihan Mama, Nak. Kalaupun kamu nakal, cukup reporkan saja Papa, ya? Jangan Mama, okay?"bisik David, mencium perut Lina kemudian keluar dari kamar.


"David, kau mau kemana?"tanya Nyonya Smith yang berada di ruang keluarga.


"Lina bagaimana?"tanya Nyonya Smith lagu.


"Lina tidur, Mom," jawab David.


"Oh iya, Mom. Bantu David sebentar di dapur, ya?"


"Lina ingin sesuatu?"tanya Nyonya Smith, wanita itu segera bangkit dari duduknya.


"David ingin membuat beberapa makanan. Barangkali tidak akan dimuntahkan lagi," jawab David. Nyonya Smith mengangguk. Ia segera menarik David menuju dapur.


*


*


*


Lina terbangun saat merasakan perih pada perutnya. "Makan apa aku ini?"gumam Lina.


"Lina, kau sudah bangun?" Di saat Lina kebingungan, David masuk. Diikuti oleh beberapa pelayan. Lina mencium bau harum masakan.


Pelayan meletakkan makanan dan minuman di atas meja, ada juga buah yang sudah dipotong. "Ayo-ayo. Semuanya masih hangat. Aku yakin kali ini tidak akan muntah," ujar David, merangkul Lina dengan lembut menuju sofa.


"Ini apa? Kau membuatnya sendiri, David?"tanya Lina, menatap meja yang penuh dengan makanan dan minuman. Ada sup, kue jahe, dan sereal. Juga ada air lemon, apel, serta pisang.


"Sebenarnya dibantu oleh Mom," jawab David.


Meskipun aku diomelin karena menghancurkan dapur, batin David.


"Tapi…." Lina memang selera. Tapi, ia takut perutnya tidak akan menerima.


"Ayo, coba dulu. Aku dengar ini ampuh untuk ibu hamil yang mual terus," ujar David, tak ingin usahanya sia-sia.


David mengambil mangkuk berisi sup ayam. "Ayo, bukan mulutmu," ujar David, bersiap menyuapkan sup pada Lina.


Lina membuka mulutnya ragu. Ia memejamkan matanya saat sup masuk dan mengalir di kerongkongan.


David menanti dengan cemas.


Satu detik, dua detik, dan lima detik kemudian. Tidak ada tanda-tanda akan dikeluarkan kembali. Sepertinya lambung Lina mulai bersahabat.


"Bagaimana? Lagi?"


Lina membuka matanya, mengangguk. Hingga sup itu habis. Meskipun sedikit tawar, sup itu aman untuk ia konsumsi.


David menyodorkan air lemon. Rasanya segar. Lina merasa sedikit lega.


"Syukurlah." David menghela nafas lega.


"Sepertinya anak kita akan sangat manja padaku nanti," ujar David, mengusap perut Lina yang masih datar. "Karena dia tenang setelah merasakan makanan yang Papanya buat."


"Benarkan, Lina?"


Lina mendengus pelan. "Maafkan aku, seharusnya aku lebih peka lagi." David mengecup kening Lina.


"Aku senang karena tidak mual tadi. Terima kasih, David."

__ADS_1


"Sudah seharusnya," sahut David.


__ADS_2