
Keesokan paginya. Dokter tengah melakukan pemeriksaan dan pemberian antibiotik pada Liam.
Liam, anak itu tidak bisa bebas, singkatnya diisolasi di dalam kamar untuk pengobatan dan penyembuhan. Jika ingin bertemu dengan Liam secara langsung, harus memakai pakaian pelindung yang lengkap.
"Lia, Andrean, ayo," ajak Tuan Shane, menatap anak dan menantunya itu. Andrean dan Camelia saling tatap sejenak, untuk apa? Namun, keduanya tetap mengikut. Tuan Shane membawa mereka ke ruang kerjanya. Di sana, ada Nyonya Shane. Sepertinya akan ada pembicaraan serius.
"Ada apa, Mom, Dad?"tanya Camelia, sesaat setelah tiba di ruangan kerja Tuan Shane.
"Kami sudah membahas hal ini dan kami sudah membuat keputusan," ucap Tuan Shane, menjawab pertanyaan Camelia dengan jawaban yang tidak Camelia ataupun Andrean mengerti. Pasangan yang baru menikah itu mengernyit dahi.
"Kesepakatan itu, diubah. Andrean, tanggung jawab menantimu di China. Lia, ikutlah dengan Andrean. Sementara Lucas dan Liam …."
Tuan Shane menjeda ucapannya. Raut wajah Camelia dan Andrean berubah seketika. Wajah keduanya pucat. Apakah itu sebuah perintah?
Tapi, bagaimana bisa? Jika hanya Andrean, tidak masalah.
Camelia menggeleng. "Aku tidak bisa, Daddy!"tolak Camelia.
"Dengarkan dulu!"balas Tuan Shane.
"Jika hanya aku yang pulang lebih dulu, tidak masalah. Namun, jika Lia juga, sementara Liam kondisi masih seperti itu, aku juga menentang!"ungkap Andrean, memalingkan wajahnya.
"Daddy, aku masih bisa menerima kesepakatan itu! Namun, dalam kondisi seperti ini, bagaimana bisa Mom dan Daddy menyuruhku pergi?!" Mata Camelia memerah. Tuan Shane memijat dahinya.
"Dengarkan dulu Daddy sampai selesai!"tegas Tuan Shane.
"No! Aku menolak!"
"Apa kalian serius? Mengapa tidak mau mendengarkan sampai selesai?" Nyonya Shane buka suara.
"Mom yakin, kalian akan kecewa jika menolaknya. Tidak, kalian akan sangat kecewa!"ucap Nyonya Shane ketus.
Camelia terdiam. Sementara Andrean masih memalingkan wajahnya. Kekesalan dan kegundahan menguasai dirinya. Mendengus kasar mendengar ucapan Nyonya Shane itu.
"Lia, apa kau tahu hal apa yang katakan?"tanya Nyonya Shane.
Camelia mulai merasa bahwa amarahnya adalah sesuatu yang salah. Ia terlalu impulsif dan terbawa emosi.
"Hentikan. Kalian tidak mau mendengarnya, bukan? Keluarlah!"tegas Tuan Shane. Raut wajahnya datar. Andrean langsung bangkit. Namun, Camelia menahan langkahnya untuk tidak pergi.
"Maafkan kami, Mom, Dad. Pikiranku dan Rean terlalu kacau karena penyakit Liam. Tolong, katakan kelanjutan dari ucapan Mom dan Daddy tadi," ucap Camelia, dengan menundukkan kepalanya. Berharap, apa yang akan ia dengar selanjutnya adalah hal baik.
"Lia?" Andrean protes. Camelia hanya semakin menguatkan genggamannya pada Andrean.
Nyonya Shane menghela nafas pelan. "Tetaplah berpikir jernih dan tidak gegabah dalam kondisi apapun. Baiklah. Kami juga tidak sekejam itu memisahkan kalian dengan Lucas dan Liam, terlebih dengan kondisi seperti itu. Jadi, kembalilah ke Beijing bersama dengan mereka. Rawat dan jagalah kedua cucu keluarga Shane dengan baik," ucap Nyonya Shane. Camelia dan Andrean membelalakkan mata seketika.
Apa yang baru saja Nyonya Shane katakan?
"Kami akan sering mengunjungi kalian," tambah Nyonya Shane, dengan senyum mengembang lebar, merangkul lengan sang suami.
"Really?"
"Really?"
"Really? Seriously?"
"AHHHHGHHH!!!"
*
__ADS_1
*
*
Dua hari kemudian, Andrean dan keluarga kecilnya sudah berada di bandara, bersiap untuk penerbangan kembali ke Beijing. Tuan Shane, Nyonya Shane, dan Dion mengantar mereka. Tak lupa, Lina, David, Kak Abi, dan juga Evelin juga turut mengantar.
Jangan lupakan juga Tuan dan Nyonya Jiang serta Kakek Gong, mereka juga pulang ke Beijing bersama dengan Andrean.
Jujur saja, keputusan Tuan dan Nyonya Shane itu mengagetkan seluruh anggota keluarga. Namun, itu membawa kebahagiaan.
Keputusan itu diambil setelah Tuan dan Nyonya Shane mempertimbangkan kembali kesepakatan yang tercipta di masa lalu. Kesepakatan di masa lalu itu tercipta karena ada rasa takut keluarga Shane tidak memiliki penerus. Namun, dengan berjalannya waktu, mereka merasa keputusan itu keliru. Memisahkan ibu dan anak di usia yang masih dini, berpotensi besar membuat anak kehilangan masa golden age dan juga akan membuat anak menjadi korban broken home. Kasih sayang yang tidak maksimal padahal Andrean dan Camelia adalah orang tua kandung mereka. Terlebih dengan kondisi Liam saat ini.
Masalah penerus? Itu masih tetap berlaku. Dan Liam akan kembali menetap di Kanada setelah ia mampu untuk memimpin Shane Group.
"Kami akan sangat merindukan kalian, berbahagia di sana, jaga kesehatan, ingat juga kami di sini, orang tua ini akan sangat kesepian setelah kalian pergi," ucap Nyonya Shane, menggenggam kedua tangan Camelia.
Camelia memeluk Nyonya Shane. "Of course, Mom. Aku akan selalu mengingat kalian."
"Jaga putri dan kedua cucu keluarga Shane dengan baik. Jika kau menyakiti mereka, kau akan berhadapan dengan keluarga Shane. Apa kau mengingatnya, Andrean Gong?!"tanya Tuan Shane, menatap Andrean tajam.
Andrean mengangguk mantap. Istri dan anak yang ia perjuangkan dengan susah payah, tidak mungkin ia sakiti apalagi sia-siakan. Andrean akan menjadikan Camelia ratu di hidupnya.
"Mr. Gong aku percayakan Kakak dan kedua keponakan tersayangku padamu. Jangan sekali-kali kau berani menyakiti mereka. Jika kau berani, aku sendiri yang akan membawa kakak dan kedua keponakanku keluar dari istana megahmu itu! Tidak, aku juga akan menghancurkan istanamu itu!!" Dion juga tidak ketinggalan memberi Andrean wanti-wanti.
"Seumur hidupku, aku hanya akan mencintainya. Seumur hidupku aku akan menjaganya. Seumur hidupku, aku tidak akan pernah menyakitinya," jawab Andrean mantap, menatap Camelia yang juga menatapnya.
"Pesawat akan segera lepas landas," ucap Kakek Gong.
"Setelah anakku lahir, aku akan membawanya mengunjungi kampung halaman ibunya ini," ucap Lina. Camelia mengangguk.
"Baik-baik di sana," ucap David.
"Sampai jumpa, hati-hati di jalan."
Apalagi Dion. Saatnya tiba. Saat ia akan berpisah dengan sang kakak. Selama ini, ini tidak mudah. Hari-harinya pasti akan berbeda.
*
*
*
Meskipun Camelia dan keluarga telah bertolak ke Beijing, untuk memulai hidup baru di sana, bukan berarti jejaknya hilang di Kanada, di negara yang membesarkan namanya itu.
Setelah Camelia dan keluarga meninggalkan Kanada, keluarga Shane kembali segera mengeluarkan pemberitahuan dan klarifikasi melalui media sosial resmi Shane Group. Begitu juga dengan Glory Entertainment.
Camelia tidak keluar dari Kanada ataupun Glory Entertainment. Kewarganegaraannya tetaplah Kanada begitu juga agensinya. Sepertinya yang telah disebutkan sebelumnya, aktivitas keartisan tidaklah hiatus. Hanya saja, akan lebih selektif lagi. Terlebih lagi Camelia akan kembali berkarier di China.
*
*
*
Satu Minggu sudah, Camelia, Lucas, dan Liam tinggal di kediaman baru mereka yakni istana megah Andrean, bersama dengan Andrean dan Crystal serta orang-orang yang baru.
Selama itu pula, Camelia fokus pada kesembuhan Liam. Sementara Andrean, membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarga. Ya, meskipun lebih tersita ke pekerjaan sebab ia memimpin dua perusahaan besar.
Tidak masalah. Camelia bisa menanganinya.
__ADS_1
"Mom!" Camelia menoleh ke arah suara, itu suara Liam.
"Iya?"sahut Camelia yang tengah memasak makan siang untuk keduanya anaknya, dan untuk dirinya sendiri tentunya.
"Ada tamu, Mom," ucap Lucas.
"Who?"tanya Camelia, kembali memalingkan wajahnya ke arah masakan.
"Lia ini kami." Sebelum Lucas menjawab, suara familiar lebih dulu menyapa pendengaran Camelia dan Lucas.
"Ayah? Ibu?" Ya tamu itu adalah Tuan dan Nyonya Liang.
Camelia langsung mematikan kompor dan menyambut kedua orang tua itu dengan pelukan.
"Wangi sekali, kau sedang masak apa, Lia?"tanya Nyonya Liang.
"Hanya tumis daging dan sayur, Mom. Nothing special," jawab Camelia.
"Masakan ibu itu selalu spesial, Lia. Lanjutkan masakanmu, Ibu akan melihat Liam. Di mana kamarnya?"tanya Nyonya Liang. Camelia tertawa renyah.
Kemudian menyuruh Lucas memandu jalan.
"Astaga, rumah ini besar sekali. Rasanya tidak cukup dikelilingi seharian." Entah itu keluhan atau rasa takjub, Nyonya Liang menggeleng pelan melihat besar dan luasnya istana Andrean ini. Tuan Liang tertawa pelan.
"Seharusnya ini cukup. Atau tambah beberapa menu lagi?" Camelia bergumam sendiri. Ayah dan ibunya datang dan pada akhirnya memutuskan menambah beberapa menu. Sementara Camelia berkecimpung di dapur, para pelayan yang bertugas di dapur termasuk juru masak, hanya memperhatikan dari sisi ruangan.
Entahlah, mereka merasa pekerjaan mereka diambil alih dan takut dipecat jika Camelia terus-terusan masak sendiri, dan ini sudah keberapa kalinya. Padahal baru seminggu. Sungguh, mereka takut dipecat oleh Andrean. Namun, Camelia adalah Nyonya rumah ini. Istri sah yang benar-benar diakui oleh Andrean, mana mungkin mereka menolak? Sungguh serba salah.
*
*
*
Kamar Liam selalu disterilkan. Dan untuk masuk diperlukan pakaian jenguk seperti yang ada di rumah sakit, untuk mengantisipasi penularan.
Saat ini, Liam tengah fokus pada laptopnya. Entah apa yang sedang ia kerjakan. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard.
"Hei, Liam! Sedang apa kau?" Menoleh saat mendengar suara Lucas.
"Kakek? Nenek?"
"Hai, Liam. Bagaimana keadaanmu?"tanya Nyonya Liang. Liam menutup laptopnya.
"Aku baik-baik, Nek. Hanya Mom dan dia yang berlebihan. Ahhh kebebasanku direnggut karena septicaemia ini!" Liam langsung mengeluh kesal.
"Hei?? Ini kan untuk kebaikanmu! Baik-baik saja katamu? Kau lupa jika kita itu K-E-M-B-A-R?!" Lucas emosi mendengar itu, menekankan kata-kata kembar, bahwasannya jiwa mereka itu terhubung.
Liam memutar bola mata malas. "Tidak apa. Yang penting itu positif thinking. Everything gonna be okay, right?"ucap Tuan Liang, memberikan semangat untuk cucu laki-lakinya itu.
"Yes, that's alright!" Liam mengacungkan jempolnya setuju.
"Huh!" Lucas mendengus pelan. "Cepatlah sembuh, apa kau tidak bosan di ruangan ini? Dan ya? Ada banyak hal yang harus kita lakukan," ucap Lucas. Liam tersenyum.
"Anggap saja aku tengah istirahat. Saat itu, akan tiba. Bersabarlah, Lucas," sahut Liam.
Mengapa mereka sudah dewasa di usia dini? Tuan dan Nyonya Liang saling pandang.
*
__ADS_1
*
*