
Tiga hari kemudian, putusan untuk Allen dibacakan. Pria itu didakwa dan menjadi tersangka asal kasus percobaan pembunuhan pada Andrean. Berupa hukuman penjara selama 15 tahun.
Itu hanyalah hukuman secara pidana. Belum sanksi sosial serta namanya yang masuk daftar hitam dari dunia bisnis. Dan ia juga dikeluarkan dari silsilah keluarga Gong. Mengingat kesalahan yang ia lakukan sangatlah fatal.
Selama tiga hari itu pula, Andrean berada di kediaman Gong. Bekerja sembari menunggu luka di pahanya cukup kering. Mengingat akan bahaya dan semakin lama sembuhnya jika terus terbuka. Seperti yang pernah ia lakukan.
Dari sehari setelah keputusan untuk Allen dibacakan, Andrean mengambil alih kursi Presdir Group Gong. Di mana, ia mendapat dukungan penuh untuk hal itu. Baik dari kakek Gong sendiri maupun dari jajaran direksi serta tetua keluarga Gong. Karena, sejak awal, memang ia lah yang diinginkan untuk naik. Yang utama, bukan yang kedua atau seterusnya. Kursi itu memang untuknya. Dan benar kata pepatah, jika memang milik kita, tidak akan jatuh ke tangan orang lain.
"Karena aku tinggal di Beijing, juga perusahaan entertainment berpusat di sana, maka aku berencana memindahkan pusat Group Gong ke Beijing juga. Perusahaan cabang di sana akan menjadi perusahaan pusat. Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?" Selesai Andrean mengambil alih kursi Presdir Group Gong, ia langsung mengadakan rapat.
Pertanyaan itu ia luncurkan mengingat akan berat jika ia terbang bolak balik Beijing-Shanghai untuk mengurus dua perusahaan. Akan lebih baik, salah satu dijadikan sebagai semua pusatnya agar kendala dapat diminimalisir.
"Memindahkan perusahaan pusat? Jujur ini sangat sentral dan berat, Andrean."
"Jika begitu, apa kalian percaya jika aku menunjuk salah seorang menjadi kepercayaanku? Jujur saya, karena aku sudah mengambil alih kursi, maka aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Jika kalian tidak setuju, maka kalian bisa memberikan opsi lainnya! Jika tidak, pemindahan data akan dilaksanakan setelah rapat ini!"tegas Andrean. Kepemimpinannya, caranya.
"Tuan Besar?" Kecuali Andrean, semua menatap Kakek Gong yang turut serta di dalam rapat itu.
"Cabang di Beijing hampir sama besarnya dengan perusahaan pusat. Memindahkan kantor pusat bukan ide yang buruk. Aku setuju dengan Rean." Kakek Gong berkata sembari melempar pandang. Nada bicaranya tidak terlalu keras. Namun, terasa jelas ketegasannya.
__ADS_1
"Jika begitu, kami hanya bisa percaya pada Anda!" Satu suara bulat diterima. Andrean tersenyum.
"Kakek tolong bantu aku mengurusnya," pinta Andrean pada Kakek Gong.
"Tentu." Kakek Gong tersenyum. Suatu kesenangan tersendiri di mana akhirnya Andrean duduk di kursi yang ia kehendaki.
Dan dari hasil rapat itu, terjadi perombakan besar di Group Gong. Dimulai dari susunan kepemimpinan dan juga kantor pusat.
Seperti yang Kakek Gong sanggupi, pria itu turut serta dalam perombakan itu. Selain itu, Hans juga menjadi tumbal untuk proses tersebut.
Sementara Andrean sudah pulang ke Beijing, mengurus perusahaan dari kursinya. Duduk di sana, bahkan lebih sibuk dari pekerja yang bekerja di lapangan. Andrean adalah kepala, pusat dari dua perusahaan besar.
Kini, Andrean benar-benar sudah duduk di dua kursi. Presdir Starlight Entertainment dan Presdir Group Gong.
*
*
*
__ADS_1
"Hah!"
Camelia menghela nafasnya. Sudah dua minggu syuting berjalan. Dan itu berjalan cukup lancar.
"Bagus!" Satu kata dari Sutradara. Dibalas senyum Camelia.
"Okay, kita break lima belas menit." Camelia mengangguk. Kemudian, melangkah menuju ruang istirahatnya.
"Anda mau dessert, Camelia?"tanya Joseph. Keduanya baru selesai take adegan.
"Dessert?" Camelia menaikkan alisnya.
"Boleh," jawab Camelia kemudian.
"Okay. Akan aku antar ke ruanganmu nanti," jawab Joseph.
Setibanya di ruang istirahatnya, Camelia mengecek ponselnya.
Menghela nafasnya kasar. Kecewa.
__ADS_1
"Ke mana dia?"