
Margaretha membulatkan matanya. “Lina sudah hamil?”
It,s okay. Margaretha tidak terlalu terkejut dengan David yang menikah dengan Lina. Sebelumnya, Margaretha hanya menerka-nerka alasannya, mengingat kembali rumor bahwa David diduga adalah seorang yang tidak normal sehingga untuk menekan rumor itu David dituntut untuk menikah. Awalnya, Margaretha hanya menerka adalah pernikahan itu hanyalah pernikahan kontrak.
“Aku mencintainya. Namun, dengan statusnya di perusahaan yang hanyalah seorang trainee, aku tidak bisa leluasa menjaganya,” ujar David.
“Tidak dapat leluasa?” Margaretha merasa bingung. Justru dengan identitas David, dia bisa menjaga Lina dengan sangat leluasa.
David mengarahkan pandangannya pada Lina. Lina menghela nafas pelan. “Sebenarnya seperti ini, Bu.” Lina menjelaskan alasannya pada Margaretha. Tentang ia yang belum siap jika identitasnya sebagai istri David terpublikasikan. Namun, ia juga tidak bisa selamanya merahasiakannya. Jadi, keputusan ini diambil. Dimulai dari Margaretha yang paling dekat dengan Lina di kantor.
Margaretha butuh waktu untuk mencernanya.
“Jadi, intinya Anda meminta saya untuk menjaga Lina dan calon anak kalian?”tanya Margaretha memastikan. David mengangguk membenarkan.
“Ini tugas yang menantang,” ucap Margaretha, menyentuh dagunya.
“Tidak bisa?” David menatap serius Margaretha.
“Tentu saja bisa. Saya bersedia!”jawab tegas Margaretha. Di awal, ia sudah mengatakannya, suatu kehormatan bisa dipercaya oleh David.
David tersenyum puas. “Namun, sampai kapan? Oh iya, berapa bulan kehamilan Lina?”tanya Margaretha penasaran.
“Jalan 2 bulan,” jawab Lina.
“Dua bulan, masih belum terlihat. Bagaimana jika sudah terlihat nanti? Maksud saya, pekerjaan menjadi asisten manajer artis bukan hal mudah, terlebih lagi untuk ibu hamil. Dan jika kehamilan Lina sudah terungkap, akan menjadi gunjingan,” papar Margaretha.
David kembali menatap Lina, keputusan ada di tangan sang istri. Jika David, saat ini pun ia siap mengumumkan pada dunia bahwa istri tercintanya adalah Xiao Lina.
“Secepatnya,” jawab Lina. Ia masih butuh waktu untuk hal itu. Margaretha mengangguk paham.
“Kau boleh kembali,” ujar David. Margaretha undur diri. “Kau mau ke mana, Lina?”tanya David yang melihat sang istri juga beranjak.
“Kembali bekerja,” jawab Lina dengan polosnya.
“Ah ….”
“Sampai jumpa nanti,” ujar Lina, benar-benar beranjak tanpa melihat ekspresi penolakan dari David.
David mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar gemas dengan Lina. “Yang sabar, Tuan,” ujar sekretaris David.
*
Camelia telah tiba di Glory Entertaiment. Langsung menuju ruangannya. Di mana kak Abi sudah menunggu dengan wajah galaknya.
“Kak … hehehe ….” Camelia cengengesan. Tahu mengapa ekspresi Kak Abi seperti itu. Kak Abi mengambil ponselnya, di layar tertera berita Camelia dengan Nicholas.
“Itu ulah hatters.”
Kak Abi mendengus. “Sepertinya aku haryus segera menikah. Aku bosan dengan rumor seperti ini,” ujar Camelia, kembali dengan cengegesan.
“Apa?” Kak Abi memekik kaget.
“Ya kalau aku menikah, tidak ada lagi rumor kedekatanku dengan pria di luar sana,” jawab Camelia. Kini ekspresinya acuh, mengangkat bahunya. Kak Abi membulatkan matanya.
Ceetak!
“Kak?” protes Camelia, mengusap kepalanya.
“Kau pikir ini saat yang tepat untuk menikah?”ketus Kak Abi.
“Huft!” Kak Abi menghembuskan nafas kasar.
“Lupakan saja!”
“Divisi hubungan masyarakat telah mengurusnya. Agensi Nicholas juga sudah menjelaskan. Setidaknya mereka fast respon,” ucap Kak Abi. Camelia mengangguk paham.
“Menurutku dia pria yang unik,” ujar Camelia tiba-tiba.
__ADS_1
“Kau?” Kak Abi langsung memberikan tatapan horror pada Camelia. “ Kau berpindah hati? Kau tertarik pada anak muda itu?” tanya Kak Abi dengan terkejut.
“Lia, sadar umur. Kau ini sudah punya dua anak!”oceh Kak Abi.
Camalia terkejut dengan itu. “Kau salah paham, Kak. Aku memang suka dengan kepribadiannya. Namun, tidak dalam konteks perasaan suka kepada lawan jenis. Sayangku tidak akan tergantikan dengan orang lain!”tegas Camelia.
Bisa-bisanya Kak Abi berpikir demikian.
“S-Sayangku?”
“Andrean Gong,” jelas Camelia.
Kak Abi mendengus pelan. “Baiklah. Lupakan saja. Ayo bahas pekerjaan kita,” putus Kak Abi.
*
Selesai mengurus pekerjaannya, Camelia memutuskan untuk mampir ke ruangan David. Biasa, mencari tahu jalannya hubungan David dan Lina bagaimana.
“So, Margaretha sudah tahu?”tanya Camelia, setelah mendengar cerita David.
“Kalau begitu, harus ada persiapan untuk pengumumannya!”seru Camelia tiba-tiba. Camelia sangat bersemangat.
“Pengumuman apa?”
Camelia berkacak pinggang. “Jangan katakan kau tidak akan membuat persiapan apapun?! Hanya membuat pengumuman di media?”
David terhenyak. Melihat itu, Camelia semakin berang.
“Tidak bisa!!”
“Kau harus membuat persiapan. Pesta pernikahan atau apa untuk perkenalan formal!”tegas Camelia.
“Masalahnya apa Lina mau?”balas David. Camelia menyipitkan matanya. Jadi, intinya ada pada Lina?
“Pasti mau!”jawab Camelia.
“Menurutku, kau harus ada persiapan, Kak. Kak Lina orang yang tidak enakan,” saran Camelia.
Pengumumannya kelak nanti akan menjadi awal Lina memasuki pergaulan kelas atas. Jika tidak begitu meriah, maka Lina akan digunjingkan tidak dicintai oleh David, atau bisa saja tidak disukai oleh keluarga Smith. Suatu acara keluarga, menunjukkan kelas keluarga tersebut.
“I know. Jangan khawatir, aku akan melakukan semua persiapan dari sekarang,” jawab David pasti.
“Oh iya, apa urusanmu sudah selesai?”tanya David.
“Ya, begitulah. Lusa aku ada pemotretan. Jadi, aku harus pulang dan membuat persiapan. Bye-bye, Kak,” pamit Camelia.
“Hati-hati di jalan. Titip sama untuk yang lain,” sahut David. Camelia kemudian meninggalkan ruangan David.
“Kita ke butik,” ujar David pada sekretarisnya.
“Sekarang, Tuan?”tanya sekretarisnya.
“Lantas?”
“Sebentar lagi Anda ada meeting,” jawab sekretaris David.
“Setelah meeting.”
“Ada pertemuan lagi. Hari ini jadwal Anda padat. Bagaimana jika besok saya jadwalkan Anda ke butik?”tawar sekretaris David.
“Ck!” David berdecak.
“Ya sudah.”
*
“Nona.” Begitu Camelia tiba di kediaman, Ling Rui menghampirinya.
__ADS_1
“Ya?”
“Bisa saya bicara sebentar pada Anda?”tanya Ling Rui, gugup. Takut ditolak oleh Camelia.
“Ada apa memangnya?”tanya Camelia.
“Ada yang ingin saya katakan pada Anda,” ujar Ling Rui. Camelia mengangguk pelan.
“Katakan saja,” jawab Camelia.
Ling Rui mengambil posisi berdiri tegap. Kemudian memberi hormat pada Camelia. Camelia mengeryit bingung. Apa yang ingin dikatakan Ling Rui?
Ling Rui kemudian membungkuk 90 derajat pada Camelia. Memberi hormat dan salam secara tradisional. “Saya Ling Rui, dari keluarga Ling,bersumpah dan berjanji akan selamanya setia pada Nona Camelia Shane. Saya akan dengan segenap hati menjaga Tuan Muda Lucas dan Liam. Apabila saya gagal ataupun lalai, saya bersedia menghukum diri saya sendiri. Saya tidak akan pernah mengkhianati Anda. Nona, tolong terima sumpah janji setia saya,” ucap Ling Rui, dengan menyatukan kedua tangannya ke depan. Matanya dipenuhi dengan keseriusan.
Camelia terdiam. Terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. “Jika kau memberikan sumpah janji setia, mengapa padaku?”tanya Camelia tidak mengerti.
“Karena yang saya lindungi adalah kedua putra Anda. Selain itu, karena Anda adalah keluarga saya, yang menganggap saya serius. Andalah yang pantas untuk menjadi Tuan saya,” jawab Ling Rui.
“Saya tidak punya tujuan pulang. Saya pikir dan yakin, mengabdi pada Anda adalah tujuan hidup saya sekarang dan selamanya. Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda!” Ling Rui kembali menegaskan.
"Atau harus dengan darah saya? Seperti sumpah kesetian di keluarga Ling?”tanya Ling Rui. Tangannya dengan cepat mengambil belatih yang ia sembunyikan di balik jasnya.
“Hei!” Belum lagi Camelia menyetujui, Ling Rui sudah melukai jari telunjuknya. Darah segar mengucur, jatuh ke lantai.
“Apa yang kau lakukan? Tidak perlu seperti ini!”ucap Camelia. Buru-buru mengambil tisu untuk menghentikan darah luka Ling Rui. Namun, Ling Rui menarik tangannya.
“Artinya Anda menerima sumpah janji saya?”tanya Ling Rui. Camelia menghela nafasnya. Kesal dengan keras kepala Ling Rui. Jika tidak ia terima, pasti akan lebih nekat lagi. Camelia mengangguk.
“Ya, aku terima sumpah janjimu!”jawab Camelia. Ling Rui tersenyum, kembali membungkuk pada Camelia.
“Obati lukamu. Bagaimana bisa kau menjaga kedua anakku dengan kondisi terluka?”titah Camelia.
“Terima kasih, Nona.” Ling Rui kembali membungkuk kemudian undur diri. Camelia kembali menghela nafasnya.
Apa yang dilakukan Ling Rui tadi mengejutkan dirinya. Tiba-tiba menyatakan sumpah janji setia.
Camelia menyentuh telinganya. Menggali alasan yang diberikan Ling Rui tadi.
Tidak ada tujuan pulang? Apakah dia tidak diterima di keluarga Ling? Bukankah Ling Lie kepala keluarga saat ini?pikir Camelia.
Apa mungkin Ling Lie menganggap Ling Rui ancaman? Pikir Camelia. Merasa tidak yakin dengan alasan itu. Namun, melihat perubahan Ling Rui saat ini, itu bukan hal yang tidak mungkin. Ling Rui yang sekarang sudag cukup kompeten.
“Astaga.” Camelia bergumam pelan. Ia menggelengkan kepala kemudian melangkahkan kakinya masuk menuju kamarnya. Lucas dan Liam tidak berada di rumah. Mereka diajak oleh Nyonya Shane bertemu dengan teman-teman sosialitanya.
*
Wei Yan Li langsung terbang menuju Beijing setelah menerima kabar bahwa proposalnya terpilih dan diminta untuk ke Starlight Entertaiment untuk pembicaraan lebih lanjut. Wei Yan Li sangat senang. Sepanjang perjalanan, tak hentinya tersenyum. Ia sangat yakin, tidak mungkin Andrean tidak tertarik dengan proposalnya. Untuk mengajukan proposal itu, ia butuh waktu yang sangat lama, dari mulai survey hingga merancang desain hingga pemilihan kata dalam proposal tersebut.
Sekitar 30 menit sebelum jadwal yang ditentukan, Wei Yan Li sudah tiba di Starlight Entertaiment. Sudah bertanya pada resepsionis dan diminta untuk menunggu karena Presdir tengah rapat.
Selagi menunggu, Wei Yan Li memperbaiki riasannya. Ia datang dengan tujuan ganda, yang mana satunya lagi adalah menarik dan mendapatkan Andrean. Ia juga menggunakan pakaian yang cukup tertutup namun desain yang unik. Wei Yan Li sadar bahwa Andrean tidak akan mempan dengan Wanita yang berpenampilan terbuka.
Sekitar lima menit sebelum jadwal, resepsionis menyampaikan pada Wei Yan Li untuk naik ke lantai ruangan Andrean.
Ia tersenyum lebar, lebih kepada senyum angkuh. Seakan ia sudah tahu bahwa dirinya akan berhasil dan menjadi nyonya dari pemilik perusahaan ini.
“Nona Wei?” Keluar dari lift, Wei Yan Li disambut oleh Hans. Wei Yan Li mengangguk, ia mengamati Hans.
“Anda sekretaris Presdir?”tanya Wei Yan Li.
“Saya Hans, sekretaris Presdir sekaligus orang yang akan menangani kerja sama dengan Anda,” jawab Hans.
“Hah?” Wei Yan Li terkejut. “Apa yang baru saja Anda katakan?”
“Presdir menyerahkan urusan kerja sama ini pada saya. Jadi, mohon kerja samanya, Nona Wei,” ujar Andrean. Ia tersenyum, mengingatkan pada Wei Yan Li pada di sini merekalah yang memegang kendali.
"Bagaimana mungkin? Di mana Presdir Gong?”tanya Wei Yan Li.
__ADS_1
“Presdir sangat sibuk. Dia sedang rapat saat ini,” jawab Hans. Tetap dengan senyum lebarnya.