
Hari yang dinantikan oleh kedua mempelai telah tiba. Kediaman Shane begitu ramai dan sibuk. Prosesi pemberkatan akan dilakukan pukul 10.00. di mana sebelum matahari terbit anggota keluarga Shane telah bangun dan bersiap untuk acara tersebut.
Dan tentu saja Camelia juga bersiap dengan penuh hikmat. Pukul 08.00 ya sudah selesai make up.
Yang bertugas untuk memake up wajahnya adalah make up artis yang sudah menjadi kepercayaan Camelia. Yang mana make up artis itu juga akan merias keluarga yang lainnya.
*
*
*
Satu persatu tamu undangan yang diharapkan untuk hadir pada acara prosesi pemberkatan mulai berdatangan dan mengisi bangku yang telah disediakan.
David, Lina, dan Nyonya Smith sudah di tempat. Begitu juga dengan rombongan Andrean termasuk Andrean sendiri.
Keluarga Shane juga sudah berada di tempat. Kecuali Tuan Shane dan Camelia.
Tepat pukul 10.00, acara dimulai. Andrean sudah menunggu di altar pernikahan. Dengan mengenakan setelan jas berwarna putih, Andrean benar-benar seperti seorang pangeran. Tubuhnya yang tinggi, tegap, wajah yang menawan sukses menjadikannya pusat perhatian.
Pintu gereja terbuka. Semua perhatian langsung tertuju ke arah sana.
Tak
Tak
Tak
Terdengar suara langkah kaki memasuki gereja. Suara langkah kaki itu tak lain adalah milik Camelia yang berjalan menuju altar didampingi oleh Tuan Shane. Di depan keduanya adalah Lucas dan Liam, yang bertugas menaburkan bunga di sepanjang jalan yang akan Camelia lewati.
Langkah yang begitu anggun, pelan namun pasti jarak antara Andrean dan Camelia terkikis.
Kilat lampu kamera tak hentinya berhenti, mengabadikan detik-detik momen sakral itu.
Senyum tersenyum lebar pada bibir kedua pengantin.
Aku tak sabar melihatmu dalam balutan gaun pengantin. Aku tak sabar melihatmu berjalan ke arahku. Dan aku sangat tidak sabar untuk mengulurkan tanganku padamu.
Andrean benar-benar tertegun di tempatnya. Gaun pengantin itu membungkus indah tubuh tinggi dan langsing Camelia.
Gaun pernikahan itu, benar-benar cocok dengan Camelia.
Hadirin yang menyaksikan jalannya prosesi pemberkatan itu tak hentinya berdecak kagum, dengan kecantikan dan ketampanan kedua pengantin. Keduanya seperti benar-benar ditakdirkan untuk bersama. Pasangan yang sempurna.
Andrean mengulurnya tangannya. Camelia menerimanya. Tuan Shane meletakkannya tanyannya di atas genggaman tangan kedua orang itu.
"Andrean Gong, aku menyerahkan putriku, Camelia Shane kepadamu. Aku sangat berharap kau menjaganya, mencintainya seumur hidupmu seperti kau menjaga dan mencintai dirimu sendiri. Aku berharap kau tidak akan pernah mengecewakannya. Aku berharap dan aku memintamu untuk berjanji, kau akan menepati semua janji yang pernah kau ucapkan padaku," ucap Tuan Shane serius.
"Aku akan memegang janjiku sampai mati," jawab Andrean, tegas.
Tuan Shane mengangguk puas. Ia kemudian menuju tempat duduknya. Crystal duduk di samping Lucas dan Liam.
Pendeta kemudian memulai acara pemberkatan.
"Saya mengambil engkau, Camelia Shane, menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus," ucap Andrean dengan lantang. Tatapannya tidak lepas dari Camelia. Yang mana, wajah Camelia ditutupi oleh tudung berwarna putih itu.
Camelia tersenyum, matanya sudah memerah haru.
"Saya mengambil engkau, Andrean Gong, menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Camelia juga mengucapkan janji suci pernikahannya. Andrean tersenyum lebar keduanya saling bertatapan dengan penuh arti.
Rasa haru dan bahagia begitu mendominasi. Akhirnya, setelah lika liku yang panjang mereka benar-benar menikah.
__ADS_1
"Mempelai pria silahkan memasangkan cincin di jari manis mempelai wanita." Pendeta memberi instruksi.
Andrean mengambil cincin yang akan ia sematkan pada jari manis Camelia. Cincin itu adalah cincin yang berbeda namun dengan warna yang sama. Mungkin itu istimewa karena di dalamnya ada pahatan inisial nama Andrean dan Camelia.
"Cincin ini adalah pengikat di antara kita. Aku mohon, jangan pernah melepaskan sekalipun, dalam keadaan apapun," ucap Andrean, kemudian menyematkan cincin tersebut di jari manis Camelia.
"Dan hal yang sama juga berlaku untukmu," balas Camelia, menyematkan cincin di jari manis Andrean.
"Dengan ini saya mengumumkan bahwa Andrean Gong dan Camelia Shane adalah pasangan suami istri!"
Tepuk tangan meriah langsung menyambut pengumuman pendeta itu.
Tak sedikit yang menitipkan air mata, bahkan banjir air mata setelah menyaksikan prosesi sakral itu. Di antaranya adalah keluarga dari kedua belah pihak.
Semua menyambut kebahagiaan itu.
"Sebagai bentuk cinta kasih suami kepada istri, Tuan Andrean silahkan mencium istri Anda," ucap pendeta lagi.
Andrean tidak ingin melakukannya buru-buru. Ia ingin mengingat setiap detik acara hari ini. Kedua tangannya bergerak pelan, menyentuh tudung putih Camelia, dan membawanya ke belakang.
Andrean kembali terdiam saat melihat wajah cantik Camelia benar-benar sepampang di hadapannya. Camelia menunduk, ia merasa malu dengan tatapan Andrean.
Kembali perasaan bahagia dalam diri Andrean meledak-ledak. Ya sangat senang hingga matanya memerah. Bahkan bibirnya bergetar.
Pendeta menatap heran pasangan itu. Bukannya segera berciuman, keduanya malah terus saling bertatapan.
Hiks
Hiks
Hiks
Camelia sontak membawakan matanya. Bukannya segera mencium dirinya Andrean malah menangis.
"Sayang? Kau? Mengapa kau menangis? Ada yang salah?"cemas Camelia, langsung memegang lengan Andrean.
Hans dan Lie, ya keduanya bertanya-tanya sambil mengabadikan momen tersebut. Itu momen yang sangat-sangat langka, seorang Andrean menangis di depan umum dan di hari pentingnya.
"Ada apa dengan Ayah, Kakek?" Kakek Gong menggeleng tidak tahu.
"Harusnya sekarang kan saatnya ciuman," bingung Lucas.
"Sayang? Ada apa? Jangan menangis, malu loh sama tamu undangan." Camelia membujuk Andrean seperti membujuk anak kecil.
"Aku, aku hanya sangat bahagia, Istriku. Mimpiku untuk menikah denganmu benar-benar tercapai. Aku menangis karena tidak tahu harus berkata apa dengan kebahagiaan ini."
"Terima kasih karena kau telah menjadikanku sebagai suamimu. Terima kasih karena kau telah bersedia hidup menua bersamaku. Terima kasih kau telah memberikan hal yang sangat penting dalam hidupku. Aku menciummu, Camelia Shane," ungkap Andrean.
Tangannya masih gemetar, mendekati dan menarik tengkuk Camelia. Menyatukan bibirnya dan bibir Camelia.
Ciuman itu, benar-benar ciuman yang lembut dan penuh dengan kasih sayang.
Dan gereja kembali riuh dengan tepuk tangan.
"Ayah benar-benar mendramatisir," keluh Liam, ia meniup rambutnya. Tidak, lebih tepatnya meniup matanya.
"Ck! Menangis yang menangis saja tidak usah ditahan!"gerutu Lucas.
"Berisik!"
Hiks
Hiks
__ADS_1
Hiks
"Apa lagi?"
Liam memutar bola matanya. Setelah Andrean gantian Crystal yang menangis. "Mengapa kau menangis?"tanya Liam.
"Crystal tidak bisa menahannya. Crystal sangat bahagia akhirnya akan punya ayah dan ibu yang lengkap. Yang akan tinggal bersama," jawab Crystal dengan menangis.
Mendengar hal itu, Lucas dan Liam saling pandang. Mereka menyadari sesuatu.
Hiks
Huwaahh
Hiks
Huwaahh
Crystal menghentikan tangisnya mendengar tangis Lucas dan Liam yang lebih kencang daripada dirinya.
Lucas dan Liam menyadarinya. Bahwa mereka dan Camelia akan segera berpisah, tinggal berbeda benua. Mana mungkin mereka tidak histeris karenanya.
Kakek Gong, Tuan dan Nyonya Shane, Dion, Tuan dan Nyonya Liang berusaha untuk menghentikan tangis kedua anak laki-laki itu. Namun, tangis keduanya tak kunjung berhenti malah semakin bertambah keras.
Camelia membuka matanya dan menarik diri ketika mendengar tangis kedua anaknya. "Lucas, Liam!" Dengan cepat Camelia turun dan menghampiri kedua anak itu.
"Ada apa, Lucas, Liam?"tanya Camelia. Kedua anak itu langsung memeluk Camelia.
"Mom!"
"Mom!"
"Hiks … hiks … hiks …."
"Nous ne sommes pas prêts de," ucap Liam dalam bahasa Perancis. Yang artinya kami belum siap.
Camelia melihat sekeliling. Mereka menjadi pusat perhatian. "Syuttt …. Jangan menangis. Percaya pada Mom," ujar Camelia.
"Mom?"
"Percaya pada Mom, okay?" Kedua anak itu mengangguk.
Andrean menyusul. Ia terhenyak beberapa saat, melihat ada kesedihan di mata Camelia. Namun, segera berganti dengan sorot mata yang penuh dengan kebahagiaan.
Setelah kejadian tidak terduga itu, acara dilanjutkan. Sesi ucapan selamat dari hadirin yang hadir juga sesi foto bersama.
Dion membagikan kebahagiaan hari ini di Instagram storynya. Sementara untuk rombongan Andrean, memposting di Weibo.
Dan setelah acara di gereja selesai, mereka menuju hotel tempat ballroom resepsi dilaksanakan. Itu adalah hotel keluarga Shane.
Acara resepsi dilaksanakan pukul 16.00 sampai dengan selesai. Jeda waktu itu, digunakan untuk istirahat. Makan dan juga bersiap untuk acara resepsi.
"Lia, tadi Lucas dan Liam menangis kenapa?"tanya Andrean. Mereka kini hanya berdua.
Camelia menghela nafas pelan. "Anak-anak tetaplah anak-anak. Andrean, pernikahan ini, adalah kebahagiaan sekaligus kesedihan. Karena akan ada ibu yang terpisah dengan anak-anaknya. Dan anak-anak itu belum siap, Andrean. Aku sangat sedih dan tidak tega melihat mereka menangis seperti itu," ucap Camelia, air matanya kembali jatuh.
Ya, ini memang keputusan yang sangat sulit. Dan sangat sulit juga untuk Andrean.
Andrean membawa Camelia dalam pelukannya. "Aku akan kembali mencobanya. Barangkali hati mereka luluh," bisik Andrean.
Ya, Andrean tidak bisa menyerah. Ia akan kembali mencoba. Barangkali setelah melihat Lucas dan Liam menangis hebat tadi, hati Tuan dan Nyonya Shane terbuka. Dan mengizinkan keduanya tinggal bersama di China.
"Aku juga tidak siap berpisah dengan mereka, Sayang. Aku tidak siap. Aku tidak sanggup," lirih Camelia.
__ADS_1
Air mata Andrean juga jatuh. Orang tua mana yang sanggup berpisah dengan anak-anaknya?
"Aku akan mengusahakan yang terbaik, Lia. Berdoalah agar keinginan kita tercapai," bisik Andrean, mencium pucuk kepala Camelia.