
Hari yang tenang Camelia lewati. Tiga hari, ia menghabiskan waktunya tidak keluar kediaman Shane. Waktunya Camelia habiskan dengan olahraga, bersantai, dan belajar. Juga selama tiga hari itu, ia menjadi chef di dapur.
Drama Split Love tayang kemarin lusa. Penayangan yang tidak sesuai pada waktunya, menambah rasa penasaran dan antusias publik. Terutama ditayangkan sehari setelah kasus pemeran utama pria diberitakan.
Drama itu berjumlah 20 episode, dan masing-masing episode berdurasi 1 jam. Dengan waktu penayangan pukul 20.00 waktu setempat. Selain ditayangkan di televisi, drama itu juga ditayangkan di aplikasi streaming film, yang mana juga ditayangkan di luar negeri.
Rating yang diperoleh setelah penayangan selama tiga hari cukup bagus. Meskipun belum mencapai target, itu bukan nilai yang buruk.
Ulasan pun banyak yang positif. Mendukung alur cerita juga akting pada pemainnya. Ya, meskipun masih ada kritik dan hal itu memang tidak bisa dihindarkan.
Rating sementara itu sudah cukup untuk drama dengan pemain utama yang terkena kasus.
*
*
*
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Belakangan ini dia sangat bersemangat. Aku merasa tidak sanggup mengimbanginya," cerita Lina pada Camelia.
Hari ini, Lina dan Camelia bertemu untuk bersenang-senang berdua. Keduanya melepas rindu setelah lebih dari dua bulan tidak bertemu. Padahal satu perusahaan. Tapi, kesibukan menghalangi mereka. Camelia yang lebih sering bekerja di luar perusahaan, dan juga Lina yang sering ikut mentornya keluar.
"Bersemangat dalam hal apa?"tanya Camelia, mengaduk minumannya. Menatap Lina tidak mengerti.
"Itu … masa' kau tidak tahu?" Wajah Lina memerah. Memainkan jarinya.
"Bersemangat? Tidak sanggup mengimbangi?" Camelia mengulangi kata kuncinya. Dahi Camelia berkerut-kerut.
"David?"
Ah
"Sudah paham?"tanya Lina. Camelia mengangguk. Senyumnya mengembang lebar.
"Sepertinya dia serius menanggapi ucapanku itu," celetuk Camelia.
"Apa yang kau katakan padanya, Lia?"
"Itu … kapan David kecil akan launching, hehe," jawab Camelia.
Lina terbelalak. Pantas saja. Pancingannya begitu kena. Lina mencembik.
"Apa kau tahu seberapa semangat dia? Malam dan pagi, rasanya pinggangku mau putus!"ketus Lina. Bersungut-sungut.
"Kalau begitu, bukan David kecil yang ada. Aku yang masuk rumah sakit iya!"sungut Lina lagi. Camelia terkekeh pelan. Menggaruk pipinya.
"Bukankah itu menyenangkan? Dia serius padamu," goda Camelia.
"Iya. Tapi, nggak malam dan pagi juga dong!"sungut Lina lagi. Menatap tajam Camelia. "Lia, jangan pancing David seperti itu. Apa kau tidak kasihan padaku?"
"Tolak saja kalau begitu," sahut Camelia.
"Tidak bisa!"
"Hah?"
"Ya … aku tidak bisa menolaknya. Dia selalu berhasil merayuku. Bagaimana ini? Aku … akan takut masuk kamar."
Camelia menopang dagunya. Wajah Lina berubah lesu. Ya, berlebihan juga tidak bagus. Bukannya jadi, takutnya malah membuatnya semakin lama.
"Begini saja … ajak kak David ke dokter kandungan," saran Camelia.
"Aku kan belum hamil," sergah Lina.
"Dengarkan dulu aku!"tegas Camelia. "Konsultasi pada dokter. Dokter akan memberi penjelasan dan saran untuk kalian. Dan Kak David, pasti akan melakukannya."
"Yakin akan berhasil?" Lina ragu. Apa hasrat bisa ditahan? Jika ditahan, Lina akan sangat kasihan pada suaminya.
"Coba saja dulu. Jika tidak bisa pikirkan cara lain. Jika tidak ada juga, ya sudah pasrah saja," sahut Camelia. Mengedikkan bahunya. Lina terkesiap. Santai sekali Camelia.
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan begitu, suamimu terlampau serius. Mungkin dia bertekad untuk bekerja keras malam dan pagi. Saranku hanya seperti itu. Aku tidak bisa mencampuri rumah tangga kalian lebih jauh."
"Lia!" Lina mengeram kesal.
"Ayo-ayo. Kita lanjut berkeliling. Dari tadi kita hanya makan dan minum," ajak Camelia, mengalihkan pembicaraan.
Lina mengatur nafasnya. "Pokoknya nanti kau harus mengatakan padanya untuk jangan berlebihan. Aku bisa tumbang jika setiap hari begitu!!"ucap Lina, masih dengan nada ketus.
"Hehe … siap, Mrs. Smith!"jawab Camelia.
Meskipun masih dalam mode bad mood, Lina berkeliling bersama dengan Camelia. Dan selama berkeliling itu perlahan mood Lina membaik. Mereka membeli beberapa barang.
*
*
*
"Sepertinya hari ini cukup, Kak," ucap Camelia. Saat ini mereka tengah ada di restoran. Kembali makan dan minum setelah puas berkeliling dan berbelanja.
"Anak-anakmu sudah menunggu?"
"Hm … aku ada janji main golf dengan mereka sebentar lagi," jawab Camelia.
"Tampaknya akan sangat menyenangkan."
"Anak-anak yang pandai. Aku tidak begitu."
"Setidaknya kau tahu cara mainnya. Ah ya, kapan kau berangkat ke Paris? Aku dengar tidak akan lama lagi," tanya Lina. Mungkin setelah ini, mereka akan kembali sibuk pada aktivitas masing-masing. Entah kapan akan bertemu lagi seperti ini.
"Dua hari lagi aku berangkat," jawab Camelia.
"Semangat! Aku jamin, kau adalah model tercantik di sana!"ucap Lina, dengan mengangkat kedua jempolnya.
Camelia tertawa renyah menanggapinya. Setelah selesai makan dan minum, dan tentunya membayar, kedua berpisah. Pulang ke kediaman masing-masing. Sebelum berpisah, Lina mengingatkan kembali Camelia agar memberitahu David untuk tidak terlalu ngegas.
*
*
*
Siap untuk bermain. Apapun hanya bermain hanyalah Tuan Shane bersama dengan Lucas dan Liam. Bermain sembari belajar, itulah yang Lucas dan Liam lakukan. Sementara Camelia dan Nyonya Shane bersantai di bawah pohon. Tema kegiatan sore itu adalah bermain golf dan piknik.
"Belakangan ini sangat damai ya, Lia?"
"Benar, Mom." Camelia menganggukinya. Keduanya berbincang sembari menikmati secangkir coklat hangat.
"Setelah kembali dari Paris, kau akan langsung mengambil proyek atau bagaimana?"tanya Nyonya Shane. Ingin tahu rencana Camelia.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Andrean?"
"Kalian … benar-benar berencana menikah? Jika kau menikah dengannya dan pindah ke China, bagaimana dengan kariermu? Mengulang dari awal lagi di sana?"
"Kemudian juga, apa kalian sudah memikirkan waktu rutin ke Kanada? Tiga bulan sekali, Mom rasa itu jangka yang tepat."
Nyonya Shane mengajukan banyak pertanyaan. Camelia nyengir. Satu pertanyaan saja jawabannya sudah panjang, malah ada tiga. Ayo, pikirkan jawabannya secara singkat.
Nyonya Shane menatap Camelia. Menanti jawabannya.
"Jika ada proyek yang cocok, akan Lia ambil, Mom. Jika tidak ada, Lia akan menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Lalu untuk hubunganku dengan Andrean, kami sangat baik. Dengan Lucas dan Liam juga." Camelia menghela nafasnya. Menjeda jawabannya sebentar.
"Dulu Lia adalah artis China, Mom. Jika Lia menikah dengan Andrean, Lia akan tetap berkarir. Lia akan menganggapnya comeback setelah vakum cukup lama. Dan untuk waktu rutin kembali ke Kanada, mungkin tidak bisa seperti itu, Mom. Tapi, akan Lia usahakan mendekatinya," lanjut Camelia, menuntaskan jawabannya.
Nyonya Shane manggut-manggut.
"Sejujurnya berat melepasmu pergi ke keluarga lain," ujar Nyonya Shane kemudian. Ia menghela nafasnya.
"Namun, begitulah kodrat seorang anak perempuan. Setelah dewasa dan menikah, akan ikut dengan suaminya. Menjalani hidupnya di keluarga baru. Ternyata begini rasanya akan kehilangan seorang putri." Nyonya Shane menyeka sudut matanya.
__ADS_1
Anak tunggalnya adalah laki-laki. Tidak merasakan bagaimana sedihnya melepaskan seorang anak perempuan meninggalkan rumah, mengikuti suaminya.
"Mom …." Camelia menyentuh pundak Nyonya Shane.
"Lia akan sering pulang. Janji."
"Ya … Mom percaya. Kau tidak akan mengingkarinya."
*
*
*
"Mom, tadi adalah proyek terakhir kami. Besok dan sampai kita pulang dari Paris, kami sangat free!"ucap Lucas, memberitahu dengan penuh semangat.
"Benarkah? Bagus!"sahut Camelia.
"Hehehe … kami sudah menjadwalkanya!"
Satu hari sebelumnya keberangkatan, Lucas dan Liam telah menyelesaikan proyek mereka.
"Ayah sudah dikabari?"tanya Liam.
"Sudah. Ayah kalian juga sudah siap-siap. Bagaimana? Tidak sabar untuk terbang ke Paris dan bertemu dengan Ayah kalian?"tanya balik Camelia, dengan senyum menggoda.
"Tentu saja!" Lucas menjawab lugas.
"Yakin? Bukan sebaliknya?" Liam tersenyum smirk. Camelia langsung salah tingkah. Dan tertawa canggung.
"Barang sudah dipacking, persiapan apa lagi ya?" Lucas berpikir. Camelia juga turut memikirkannya.
Biasanya jika ke luar negeri adalah urusan pekerjaan. Jika pekerjaan sudah selesai, maka akan langsung pulang. Namun, kali ini konsepnya adalah setelah pekerjaan selesai, waktunya liburan.
"Aku sudah membuat list tempat yang akan dikunjungi. Ada menara Eiffel, Sungai Seine dan gembok cintanya. Lalu …." Lucas membacakan list yang sudah ia buat. Termasuk tempat mereka menginap, restoran yang akan dikunjungi, kuliner, dan banyak lagi.
Camelia dan Lucas saling tatap. Takjud mendengar list yang telah Liam buat. Sangat lengkap.
"Jadi, untuk melakukan semua ini, kita butuh waktu satu minggu," ucap Liam, menutup pembacaan listnya.
"Ahaha … ini akan jadi liburan panjang di awal musim dingin," sahut Camelia.
"Benar! Mendengarnya saja semakin membuatku bersemangat. Rasa Ratatouille, aku ingin mencobanya!"timpal Lucas.
*
*
*
Hari keberangkatan tiba. Camelia, Lucas, dan Liam diantar ke bandara oleh Tuan dan Nyonya Shane, dan juga tidak ketinggalan Dion.
Kak Abi langsung ke bandara. Mereka bertemu langsung di sana.
"Kak, jaga kesehatanmu. Gunakan jaket tebal dan banyak minum yang hangat. Ini sudah memasuki musim dingin," ucap Dion, mewanti-wanti Camelia.
"Kau juga. Jangan terlalu dipaksakan. Kasihan tubuhmu yang masih muda ini. Juga, jangan lupa cari mulai cari pasangan hidup jika tidak mau berujung pada perjodohan," balas Camelia.
"Aku masih ingin fokus bekerja, Kak. Targetku menikah adalah usia 25 tahun. Jadi, selama 6 tahun ke depan aku tidak perlu memusingkan perihal pacar," balas Dion dengan, dengan tersenyum lebar. Camelia berdecak. Anak itu membantah dengan tergetnya.
"Tidak masalah menikahnya 6 tahun lagi. Mencari dari sekarang tidak ada salahnya. Wanita itu bukan baju, yang ini butuh bisa langsung dibeli. Kau harus mengikuti ucapan Kakak, wanita bukan barang! Jika kau melakukan, berarti kau tidak menganggapku, Mom, dan Ibu!"
"Uhh! Sepertinya ini terlalu serius, Kak. Lebih baik, ayo segeralah berangkat!"ucap Dion. Memang kekasih adalah bahasan yang sentral.
"Sudahlah, Lia. Terserah adikmu saja. Mana tahu dia meniru jejak Chris, sat set menikah dan punya anak," ucap Nyonya Shane, melerai perdebatan adik dan kakak itu.
"Benar! Seperti kami akan pergi lama saja!"imbuh Lucas.
"Akan lebih baik jika begitu, Mom," sahut Camelia, membenarkan ucapan Nyonya Shane.
__ADS_1
"Ah?" Dion memijat pelipisnya. Memang sama saja. Secara tak langsung mendorong dirinya.