Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 73


__ADS_3

Satu jam tiga puluh menit waktu penerbangan Dion dari Shanghai ke Beijing. Kini, ia sudah mendarat di Beijing. Menunggu mobil keluar dari kargo pesawat, Dion mengeluarkan ponselnya dan mengecek perkembangan terkini berita tentang Rose. 


Benar saja dugaannya. Banyak komentar negatif yang ditujukan untuk Rose. 


Tagar blacklist Rose dari dunia entertainment pun banyak bertebaran. Industri hiburan Negeri Tirai Bambu itu begitu ketat. Rose dianggap sebagai sampah masyarakat. 


Selain menyeret nama Rose Liang, berita tersebut juga menyeret nama Andrean. Yang mana, mereka merasa kasihan dengan Andrean yang nyata diselingkuhi. 


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.


Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga. 


Tidak menyangga pria setampan dan sekaya Presdir Gong saja memakai topi hijau, bagaimana denganku yang remahan kacang ini? 


Ada juga komentar yang insecure dengan dirinya sendiri. 


Angkat kaki dari entertainment. Kau mempermalukan kami! 


Artis yang menjual tubuhnya? Pergi ke neraka saja sana!


Foto mungkin bisa diedit. Bagaimana dengan videonya? Itu terlalu sempurna untuk hasil editing!


By de way, dia seksi juga ya?


Desahannya membuatku tegang. ****!


Beragam komentar memenuhi kolom komentar. Dengan begini, kemungkinan besar Rose tidak akan punya kesempatan berkarier lagi di dunia entertainment. 


Riwayat Rose dalam dunia entertainment akan tamat. Namun, itu bukan akhir dari balas dendam ini.


Senyum Dion berubah menjadi geram saat membaca salah satu kolom komentar. 


Heran deh dengan didikan keluarga Liang. Nggak kakak enggak adik, sama-sama menjual tubuh demi peran. Padahal mereka cantik dan punya bakat. Sayang ya? Cantik-cantik sukanya goyang sana goyang sini.


Dion sudah menggerakkan jarinya untuk membalas komentar itu. Namun, setelah ia mengetik cukup panjang, Dion menghapusnya kembali. 


Dion menghela nafas. Tidak. Ia menggunakan akun asli. Jika ia membela Jasmine maka akan menjadi sebuah pertanyaan besar. 


Tapi, Dion benar-benar sangat kesal karena tidak bisa membalas komentar itu. 


Hm?


Apa kau tidak membaca berita sebelumnya?  Jasmine itu korban! Dia dijebak bukan sukarela!


Ada balasan yang menentang komentar buruk itu. 


Benar! Jangan samakan Jasmine dengan Rose. Mereka berbeda jauh!


Dia temanku sewaktu kuliah. Dia adalah yang terbaik. Rose tidak sebanding dengan Jasmine. Jasmine, aku minta maaf karena dulu tidak bisa berada di sampingmu.


Jasmine, jika kau melihat semua komentar ini, kami ingin kau kembali. Kami semua menyesal telah menghakimimu. 


Dion tersenyum simpul. Balasannya masih terus berlanjut namun Dion sudah menyimpan ponselnya. Mobilnya sudah keluar dari kargo dan Dion segera masuk ke dalam mobil. 


Dion mengemudi sendiri. Ia mengemudi dengan kecepatan cukup kencang. Menyalip kendaraan yang lambat dan tancap gas ketiga jalanan lenggang. 


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Dion menghentikan mobilnya di depan sebuah kediaman. 


Dion turun dari mobil dan membunyikan bel gerbang. "Ya, dengan siapa?" Disahut oleh seseorang. Diikuti dengan pintu berbentuk persegi ukuran kecil yang hanya muat untuk melihat siapa yang datang. 


"Saya Dion, mitra bisnis Tuan Liang. Saya ingin bertemu dengan beliau," jawab Dion sopan.


"Mitra bisnis Tuan Besar? Tapi, mohon maaf Tuan Muda. Tuan Besar tidak berada di kediaman," jawabnya penuh sesal. Ada nada sedih di dalamnya. 


"Bagaimana dengan Nyonya Liang?" 


"Nyonya juga tidak berada di kediaman, Tuan Muda." Semakin sedih. Dion mengeryit. Hatinya gelisah. 


"Apa mereka ada di restoran?" 


"Maaf. Kami tidak bisa memberitahu mereka pergi ke mana." Pintu kecil itu ditutup dan suara langkah kaki menjauh. 


Dion kembali memanggil namun tidak ada jawaban.


Perasaanku tidak enak. 


Dion bergegas kembali ke mobilnya. Di dalamnya, Dion mengeluarkan laptopnya. 


Maaf, Ayah, Ibu. Aku harus melakukannya!


*


*


*


Memasuki makan siang, proses syuting pembuatan video sudah selesai. Tinggal beberapa foto lagi yang akan dilanjutkan setelah jam makan siang. Camelia kini berada di ruang istirahatnya. Pakaiannya belum berganti hanya beberapa aksesoris saja yang dilepas.


Di depan Camelia terdapat cemilan, juga aneka minuman. Ada makanan berat juga sebagai menu makan siang. 


Camelia menyeruput air mineral, habis hingga setengah botol kecil. 


Selesai minum, Camelia mengambil ponselnya. 


Begitu trending, kau mengalahkanku dalam hal ini, Rose. 


Tiba-tiba ponsel Camelia berdering. Panggilan dari Dion. Segera Camelia menjawabnya.


"Halo, Dion. Apa kau sudah mendarat?"


"Apa?" Mata Camelia membulat. 


"Aku akan segera ke sana!" Camelia meraih tasnya dan keluar dari ruangannya. 

__ADS_1


"Pak Sutradara, aku harus pergi. Ada urusan mendadak. Aku mohon maaf pada semuanya," ucap Camelia dan tanpa menunggu balasan, Camelia langsung melangkah pergi. Bahkan ia masih mengenakan kostum syuting. 


Hal apa yang membuatnya begitu cemas? Apakah anak-anaknya? Itulah batin semua orang yang ada di ruang syuting tadi. 


*


*


*


Camelia mengendarai mobilnya dengan cepat. Wajahnya begitu cemas. 


"Tidak. Tidak boleh!"gumamnya. 


Camelia mengerang kesal kala lampu merah menahan jalannya. Namun, apa daya ia harus mematuhinya. Cukup lama, akhirnya Camelia kembali melajukan mobilnya. 


Memasuki gerbang rumah sakit dan segera turun dari mobil. 


"Dion!" Camelia memanggil Dion yang menunggu di dekat mobilnya.


"Kakak!" Dion membalas dan mereka saling menghampiri.


"B-bagaimana kau tahu ayah masuk rumah sakit?"tanya Camelia dengan nafas terengah. 


"Aku menghack CCTV rumah, Kak," jawab Dion.


"Kau tahu di mana ruangannya?"tanya Camelia.


"Tidak."


"Ayo," ajak Camelia, menuju meja resepsionis. 


Keduanya masuk ke dalam rumah sakit dan menuju meja resepsionis. Sayangnya rumah sakit ini memiliki kebijakan tidak memberitahu informasi tentang pasien kepada yang bukan keluarga. Hal itu membuat Dion dan Camelia berpikir. 


Menyisir setiap kamar rumah sakit? Itu ide gila dan konyol. Ada ratusan kamar, mau berapa lama? Itu bukan kerjaan!


Ah! 


Camelia berseru. Bagaimana bisa ia melupakannya? Camelia dan Nyonya Liang sudah pernah bertukar nomor ponsel. 


Segera Camelia menghubungi Nyonya Liang. 


Cukup lama baru diangkat. 


"H-hallo, Nak Lia," jawab Nyonya Liang dengan suara serak khas habis menangis. 


"Halo, Ibu. Bagaimana kabar ibu? Apa Ibu ada waktu akhir pekan ini? Bagaimana dengan piknik bersama sebelum kami kembali ke Kanada?"balas Camelia. Menyamarkan nada cemasnya menjadi riang. 


"Maaf, Nak Lia. Sepertinya Ibu tidak bisa."


"Ah baiklah kalau begitu. Tapi, mengapa Ibu?" Camelia menggunakan nada kecewa. 


"Suami Ibu masuk rumah sakit. Ibu harus menjaganya. Maaf, Lia."


"Apa?" Pura-pura terkejut. Dion berdecak dalam hati. Kakaknya benar-benar pantas dijuluki ratu film. Di situasi bahkan Camelia bisa berakting dengan sempurna. 


"Terima kasih, Lia."


"Apa Lia boleh menjenguknya, Ibu?"


"Tentu. Tentu saja boleh. Dia pasti senang dijenguk oleh kalian," jawab Nyonya Liang. 


Camelia tersenyum. "Di rumah sakit mana, Bu?"


"Beijing Hospital, kamar VIP nomor 5," jawab Nyonya Liang. 


Gotta!


"Baiklah, Ibu. Aku akan menjenguk nanti." 


"Terima kasih, Lia."


Panggilan berakhir. "VIP nomor 5," ucap Camelia pada Dion. Segera keduanya menuju lift. Ada rambu atau peta ruangan rumah sakit yang dapat dilihat di setiap lantai. Jadi, tidak begitu sulit untuk menemukan kamar yang dituju. 


Camelia dan Dion sama-sama menahan langkah mereka saat melihat di depan kamar yang disebutkan Nyonya Liang, di bangku tunggu, Rose duduk. Wajahnya tampak frustasi. Entah itu frustasi akibat skandalnya atau karena Tuan Liang, yang pasti wajahnya kebingungan. 


Jika Camelia dan Dion ke sana dan bertemu dengan Rose, maka pasti akan terjadi keributan. 


Mereka memutuskan menunggu Rose pergi. Beberapa saat kemudian, Nyonya Liang keluar dari ruangan dan berbicara dengan Rose.


Setelahnya Rose bangkit dan melangkah meninggalkan tempat. Sementara Nyonya Liang menatapnya seduh, menghela nafas kemudian kembali masuk ke dalam ruangan. 


Mungkin Nyonya Liang menyuruh Rose untuk pulang. Camelia dan Dion berbalik saat Rose mendekat. Rose tidak terlalu memperhatikannya. 


Aku harus mencari Andrean. Ya, aku harus mencarinya!


Tiba-tiba saja langkah Rose melebar dan hilang setelah pintu lift menutup. 


"Kak, tidakkah kita harus membawa buah tangan?" Saat hendak melangkah, Dion bertanya. 


Camelia menoleh pada Dion. Benar juga. Mereka tidak bawa apapun. Dan terlalu cepat sampai. Terlebih mereka berdua. Nyonya Liang pasti akan curiga. 


Camelia berbalik, diikuti oleh Dion. Mereka hendak membeli sesuatu dulu. Sekitar lima belas menit kemudian, Dion dan Camelia kembali dengan membawa parcel buah dan bucket bunga matahari yang berwarna kuning cerah. Diharapkan, warna dan makna bunga itu dapat membawa dampak positif bagi pasien. 


*


*


*


Allen mengaduk-aduk makan siangnya tanpa niat menyantapnya. Lie yang melihat itu tahu Tuannya tengah galau dan memikirkan sesuatu. Dan ia bisa menebaknya. 


"Lie," panggil Allen pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Saya, Tuan."


"Apakah kau tahu bagaimana cara menaklukkannya?"tanya Allen. Matanya menatap putus asa Lie.


Lie menghela nafas, "saya juga tidak tahu, Tuan. Saya tidak punya pengalaman dalam mengejar gadis ataupun janda," jawab Lie.


"Lalu yang kemarin itu? Semua saranmu?"


"Saya mempelajari dari buku, Tuan."


"Buku?" Allen membeo.


"Buku apa?"


Lie berbalik untuk mengambil buku-buku yang ia maksud dari mejanya. 


Allen menunggu. Tak lama, Lie kembali dengan membawa sebuah kotak. 


Itu buku komik. Lie meletakannya di atas meja Allen. Allen mengambil satu komik. 


Boss Sombong?


Diambilnya lagi satu komik.


Kesayangan Tuan Lu 


Allen menatap Lie yang tersenyum. 


"Kau membaca semuanya?"


"Baru sebagian, Tuan. Anda bisa belajar dari buku-buku ini."


Allen membuka lembaran pertama dari komik Boss Sombong. 


"A-apa ini?!" Allen berteriak dan melempar komik itu ketika melihat adegan vulgar. 


"Tidak ada komik Presdir tanpa adegan seperti itu, Tuan. Lihat ini, di sini ada banyak adegan dewasanya!" Lie mengambil satu buku dengan judul Nona Muda Tidak Mungkin Jahat. 


Wajah Allen memerah. "Anda baca saja. Saya yakin nantinya Anda malah tidak bisa berhenti membaca," ujar Lie dengan penuh keyakinan. Senyumnya mengembang melihat wajah Allen yang berangsur menjadi penasaran.  


Allen kemudian merebut komik yang Lie tunjukkan. Lie tersenyum dan kembali ke tempatnya. 


Beberapa kali mendengar Allen mengumpat dan Lie yakin wajah Tuannya itu pasti memerah. 


Lie tahu. Ia sudah mengikuti Allen sejak kuliah. Tahu, bahwa Allen itu masih real perjaka. Dan sama sekali belum pernah berpacaran. 


Lie yang sudah selesai makan siang kemudian bersantai sebelum nanti di pukul 13.00 meeting dengan petinggi perusahaan. 


Sepuluh menit sebelum meeting, Lie kembali masuk ke dalam ruangan Allen. Dan mendapati Allen begitu khusyu membaca komik lembar demi lembar. 


"Tuan, kita Anda meeting di pukul 13.00, ucap Lie, mengingatkan. Allen melirik sekilas.


"Kau tidak lihat aku sedang membaca?"sinis Allen.


 


Lie terhenyak. "Kau yang menggantikanku atau batalkan saja meetingnya!"


Lie tersentak. "T-Tuan?!"protes Lie. 


"Meeting ini sangat penting, Tuan. Anda bisa lanjut membacanya nanti setelah meeting," ujar Lie yang dibalas gelengan Allen. 


"Tuan, ini penting!"


"Ini lebih penting!"


"Itu bisa ditunda!"


"Masa depanku tidak bisa ditunda!"tegas Allen. Lie seperti kehabisan kata-kata. 


Ini salahku, gumam Lie dalam hati. 


*


*


*


Ternyata Tuan Liang terkena serangan jantung dan sampai kini belum sadarkan diri. Kondisinya sudah stabil namun Nyonya Liang belum bisa bernafas lega. 


Camelia dan Dion menatap seduh Tuan Liang yang berbaring tak sadarkan diri. Ingin rasanya memeluk tubuh itu. Akan tetapi, mereka urungkan. 


Nyonya Liang merasa sedikit senang karena dapat bertemu dengan Camelia dan Dion. Ditatapnya punggung Camelia dan Dion. 


Andai saja kalian benar anak-anakku, gumamnya dalam hati. 


Sudah cukup lama Camelia dan Dion berada di ruangan ini menemani Nyonya Liang. Mereka kemudian pun berpamitan. Takut-takut kalau Rose tiba-tiba datang dan akhirnya akan terjadi kerinduan.


Meskipun tidak rela, apa daya Nyonya Liang menahan langkah keduanya. 


Di luar ruang rawat, Camelia menyeka sudut matanya. "Maaf."


Keduanya kemudian melangkah menjauh. 


"Lucas, Liam? Sedang apa kalian di sini?" 


"Mommy?!"


"Lia?!"


Camelia terkejut saat melihat kedua putranya berada di rumah sakit dan menunggu di depan ruang laboratorium. Lucas dan Liam juga sama terkejutnya dengan Camelia. Dion juga merasa terkejut, sama seperti kak Abi. 


"Nyonya, Tuan Muda, hasil tesnya sudah keluar," ucap Suster yang keluar dari ruang laboratorium. 

__ADS_1


"Tes? Tes apa?" Wajah ketiga orang itu pucat. Camelia menatap ketiganya penuh selidik. 


"Tes apa, Lucas, Liam?!"


__ADS_2