
"Apakah benar dengan kediaman Shane?"
"Ya! Ada keperluan apa?"
Penjaga gerbang itu menjawab dengan galak pada seorang pria berjas hitam dan beberapa orang lagi dengan menggunakan seragam hitam putih.
"Kami mengantar kiriman untuk Nyonya Camelia Shane," ujar Pria berjas hitam itu.
"Kiriman dari mana?"
"Dari Mr. Andrean Gong," jawabnya lagi.
Penjaga gerbang itu mengangguk kecil. Kemudian menyuruh rekannya untuk masuk ke mansion, melapor pada Camelia.
"Kiriman paket untukku dari Andrean Gong?" Penjaga gerbang itu membenarkannya.
Dalam waktu dekat aku akan mengirimkan hadiah padamu. Jangan ditolak karena ini bentuk kasih sayangku padamu.
Camelia teringat pada ucapan Andrean tempo hari. "Ah … persilahkan mereka masuk."
Camelia ikut keluar dari mansion. Pria berjas hitam dan orangnya masuk ke kediaman Shane. Mereka mengeluarkan sebuah paket besar dan ada beberapa paket kecil lainnya, kemudian menyodorkan surat tanda terima.
"Terima kasih," ujar Camelia.
"Mohon review baiknya, Nyonya," ujar pria berjas hitam itu. Dari penampilan, juga orang yang turut mengantarkan paket, juga untuk orang seukuran Andrean, paket itu pasti barang berharga.
Setelah itu, pria berjas hitam dan orangnya pamit, meninggalkan kediaman Shane. Penjaga gerbang dan pelayan membantu Camelia memasukkan paket ke dalam mansion.
"Pagi-pagi begini sudah datang paket. Apa itu, Lia?"tanya Nyonya Shane, yang baru turun.
"Aku juga tidak tahu, Mom. Kiriman dari Andrean," jawab Camelia sembari memotret tumpukan paket itu.
"Coba buka. Mom penasaran dengan isinya," ujar Nyonya Shane.
"Iya, Mom."
Camelia menyimpan ponselnya, setelah mengirim foto dan pesan pada Andrean. Camelia kemudian mengambil pisau dan mulai membuka paket yang paling besar.
"Wow! Gaun yang bagus, Mom!" Lucas dan Liam bergabung.
"Kapan Mom memesannya?" Camelia masih tertegun, menatap gaun berwarna biru yang ia angkat. Gaun itu berwarna biru dengan payet bunga. Camelia tahu bunga apa itu, bunga Camelia, yang merujuk pada namanya.
"Bukan Mom kalian yang memesannya. Tapi, ayah kalian," ucap Nyonya Shane.
"Dari ayah?" Lucas dan Liam saling pandang.
"Itu terlihat mahal. Dan desainnya, seperti ini dipesan khusus. Lihat payetnya, ini bunga Camelia, kan?" Nyonya Shane yang memiliki mata tajam dapat melihatnya.
Camelia menganggukinya. Ia seorang model. Tentu bisa membedakan kualitas busana.
"Ada lagi, Mom," ucap Liam. Ya, paket besar itu berisi beberapa gaun.
"Yang ini cheongsam, ada bunga peony." Lucas mengambil salah satu gaun. Warna cheongsam itu putih dengan sulaman peony merah muda.
"Semua ini mencerminkan dirimu, Lia. Bunga Camelia untuk namamu, peony untuk tanah kelahiranmu, lalu ini maple merah sebagai tempat tinggalmu saat ini." Nyonya Shane menjeda ucapannya. Wanita itu menangkap makna yang begitu dalam.
"Hei, Camelia. Mom iri denganmu. Pria Asia itu, terlihat tidak tahu apapun tapi sangat romantis. Mustahil kau tidak akan jatuh hati padanya," ucap Nyonya Shane.
"Wow!" Lucas dan Liam berdecak. Ternyata ayah mereka orang yang romantis. Dan hadiah gaun, rasanya memang sangat cocok. Artis, apalagi model kental dengan fashion. Dan itu pasti akan digunakan oleh Camelia.
"Eh, ada alas kakinya. Sepertinya ini satu set," ujar Lucas setelah kembali melihat kotak paket itu.
"Aduh … aduh … pagi-pagi sudah unboxing paket," celetuk Tuan Shane. Pria itu baru turun, dengan setelan kerja, siap berangkat ke perusahaan.
"Paket dari calon menantu kita," sahut Nyonya Shane.
"Owh. Tinggalkan dulu itu, ayo sarapan dulu!"
"Tidak, kau sarapan saja sendiri. Kami mau lanjut membuka paket-paket ini," tolak Nyonya Shane.
"Apa?" Tuan Shane menyipitkan matanya. Ajakan, ah tidak. Perintahnya ditolak?
"Honey? Lia? Lucas? Liam? Itu bisa dilanjutkan nanti," ajaknya lagi. Sarapan sendiri? Tak terbiasa untuk itu.
"Masih mau di sini, Grandpa," jawab Liam. Yang diangguki oleh Lucas.
"Sudah aku katakan, sarapan sendiri sana. Kami sibuk," ujar Nyonya Shane lagi.
"Kalian lebih memilih itu?!"
"Iya." Nyonya Shane kembali menjawab. Tuan Shane menunjuk dengan wajah kesal. Nyonya Shane menjawabnya dengan berkacak pinggang. "Jika dibuka nanti, kesannya akan berkurang!"tambah Nyonya Shane.
"CK!!" Tuan Shane berdecak. Ia kemudian memanggil pelayan. "Pindahkan sarapan kemari!"
__ADS_1
Tuan Shane duduk di sofa, menatap cemberut keluarganya. "Katakan saja kau tidak berani sarapan sendiri!"ketus Nyonya Shane.
"Tidak menyenangkan sarapan sendiri!"ralat Tuan Shane. "Lebih baik melihat kalian membuka semua paket-paket itu!"
"Terserahmu saja."
Jadinya, Tuan Shane sarapan di ruang keluarga sembari melihat yang lain membuka paket. Pria tua itu cukup tercengang melihat isi paket. Set pakaian, perhiasan dan aksesoris. Jika ditotalkan, akan mencapai milyaran.
Ternyata cukup royal, batinnya dalam hati.
"Apa kau tidak pergi ke kantor?"tanya Nyonya Shane, melihat Tuan Shane yang masih stay di tempat, padahal sudah selesai sarapan dan sudah selesai membuka paket.
"Sesekali terlambat tidak masalah, kan?" Tuan Shane mengangkat alisnya.
"Pergilah ke kantor!"suruh Nyonya Shane.
"Kau tidak ikut?"
"Siang nanti aku akan menyusul. Apa mau request makan siang?"
"Kau akan memasak?" Menatap ragu.
"Lia ada di rumah sampai jam makan siang. Kami akan memasak bersama."
"Oh." Tuan Shane mengangguk kecil.
"Baiklah. Aku pergi." Tuan Shane bangkit kemudian bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Mom…."
"Hm?"
"Ini semua untuk Mom. Apa tidak ada untuk kami?" Semua kiriman ditujukan untuk Camelia.
"Maybe, ayah kalian lupa," jawab Camelia dengan tertawa.
"Menyebalkan! Aku akan cabut restuku untuknya!"sungut Liam. "Cuma ingat sama Mom! Apa artinya kami?" Mencembikkan bibirnya.
"Ooo … jadi kalian cemburu." Nyonya Shane ikut tertawa. Kedua anak itu mengerutkan bibir. Sebagai anak, ya jelas mereka merasa cemburu dan juga kecewa. Mengapa Andrean hanya ingat pada Mom mereka?
"Ah kebetulan, pelakunya menelpon." Camelia menunjukan layar ponselnya. Ada panggilan masuk, dari Andrean.
"Silakan unjuk proses padanya!" Camelia memberikan ponselnya pada Lucas. Lucas menerimanya. Dari wajahnya, bersiap untuk melakukan protes.
"Ayahh!!" Keduanya langsung berteriak.
Terdengar suara gaduh di seberang sana.
"Ayahh?!" Kembali memanggil dengan berteriak.
"Ayah, kau di sana?!"
"Ahaha … anak-anak. Apa kabar?"
"Buruk!"
"Kenapa?"
"Ayah hanya ingat pada Mom. Mana paket untuk kami?!" Keduanya langsung menyampaikan maksud.
"Ah … ahahaha…." Andrean tertawa. "Bagian pertama ini memang untuk kalian. Kiriman kedua nanti untuk kalian. Jangan marah, okay?"
"Benarkah?"
"Iya. Ayah janji."
"Serius? Anda tidak berbohong, kan?"tanya Liam, dengan nada menekan.
"Ayah janji. Berikan dulu ponselnya pada Mom kalian."
"Jika Anda berbohong, kami akan cabut restu kami!" Sebelum menyerahkan kembali ponsel pada Camelia, Liam sempatnya mengeluarkan ancaman. Yang tentu ancaman itu ampuh.
"Baik-baik, Pangeran Liam. Saya berjanji!"
"Hello, Rean."
"Bagaimana? Suka dengan apa yang aku kirimkan?"tanya Andrean, dengan nada yang berharap Camelia menyukainya.
"Jika aku tidak menyukainya, paketmu tidak akan aku terima."
"Syukurlah." Terpancar kelegaan dari nadanya.
"Tapi, itu terlalu banyak. Dan aku yakin, itu sangat mahal."
__ADS_1
"Jangan permasalahkan hal tersebut. Karena uangku sama seperti cintaku, tidak akan ada habisnya. Unlimited."
Nah kan, pria itu sudah mengeluarkan kata manisnya. Entah dari mana bisa mengatakan kalimat itu.
Cinta dan uang unlimited. Camelia sampai tercengang mendengarnya. "Takutnya … jika keterusan, uang unlimitedmu akan menjadi limit, Mr. Gong."
"Maka aku harus semakin bekerja keras."
"Jangan lupa digunakan," pesan Andrean.
"Tentu." Camelia sedikit memberi jeda. "Terima kasih. Aku tidak menduga kau serius dan hadiah-hadiah itu di luar ekspektasiku."
"Haha …aku sangat senang mendengarnya."
"Di sana pasti sudah malam, istirahatlah. Kau pasti lelah."
"Baiklah. Selamat pagi."
"Malam."
Panggilan berakhir. "Lia, tadi Mom bilang pada Daddy bahwa akan ke kantor dengan membawa makan siang. Apa kau mau membantu Mom memasak?"
"Boleh, Mom. Mau masak apa?"
"Hm …." Nyonya Shane memberitahu makanan apa yang mau ia buat.
"Tapi, sepertinya bahan-bahannya ada yang tidak ada. Bagaimana jika belanja dulu?" Camelia tadi sempat ke dapur dan membuka kulkas.
"Benarkah? Kalau begitu Mom suruh mereka belanja dulu."
"Kami saja, Grandma!" Lucas mengajukan dirinya.
"Kau?"
"Dengan Mom dan Liam," jawab Lucas, menerangkan.
"Baiklah." Camelia menyanggupinya. Ia menarik senyum tipis, menerka alasan kedua anaknya itu mengajaknya untuk belanja.
*
*
*
Setelah memasukkan semua barang kiriman Andrean, Camelia, Lucas, dan Liam berangkat menuju supermarket untuk belanja. Camelia menyetir sendiri. Sementara Nyonya Liang tetap berada di mansion.
Bagaimana dengan Lina? Dari tadi tidak kelihatan.
Lina, berangkat lebih pagi ke Glory Entertainment karena ada adegan yang harus ia kerjakan. Oleh karenanya, ia tidak ikut sarapan, ataupun membuka paket.
Setibanya di supermarket, Camelia langsung mengambil troli. Yang utama adalah mencari bahan untuk membuat makan siang. Dan ini, juga sekalian belanja banyak.
Setelah bahan-bahan untuk makan siang didapat semua, maka giliran Lucas dan Liam beraksi.
Mereka mengambil banyak frozen food, terutama sosis dan nugget. Juga ada mie, dengan brand asal Asia, tempatnya Indonesia.
Tak lupa snack dan minuman. Camelia tersenyum melihat kedua anaknya yang aktif mengambil dan menunjuk. Beginilah cara Lucas dan Liam, mengobati rasa kesal mereka. Belanja makanan.
"Cukup?"tanya Camelia, melihat sudah dua troli penuh.
"Sebentar, Mom." Kedua bocah itu memikirkan apa yang belum mereka beli.
"Ada satu lagi."
"Ice cream!" Gegas keduanya menuju bagian es cream. Mengambil beberapa kotak.
Setelah itu, barulah Camelia membayar semua belanjaannya.
"Mom, nanti berhenti beli donat, ya?"ujar Lucas setelah masuk ke dalam mobil. Belanjaan sudah berada di dalam bagasi.
Camelia membuka maskernya. "Donat saja?" Bertanya tidak percaya.
"Hehehe." Menandakan bahwa tidak hanya donat yang akan dibeli. Camelia mendengus senyum. Kemudian menyalakan mesin mobil dan meninggalkan parkiran supermarket.
*
*
*
Setibanya di mansion, pelayan memindahkan belanjaan dari bagasi menuju dapur, kemudian menatanya di dalam kulkas. Sementara bahan untuk makan siang, disisihkan.
Nyonya Shane dan Camelia langsung memasak. Mengingat, makan siang tidak lah lama lagi.
__ADS_1
Lucas dan Liam berada di ruang keluarga. Dengan aktivitas masing-masing. Namun, sama-sama menikmati donat dan juga roti yang dibeli tadi.
Setengah jam sebelum makan siang, Nyonya Shane sudah berangkat menuju Shane Group. Sementara Camelia bersiap untuk pergi latihan setelah jam makan siang. Lucas dan Liam, mereka free hari ini.