Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 196


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Camelia latihan di panggung. Besok adalah hari H acara penghargaan. Bukan hanya Camelia seorang yang berlatih, namun ada banyak lainnya.


Mereka harus mengenal panggung agar penampilan saat hari H sukses. Hari ini Camelia ditemani oleh Evelin. Sementara Kak Abi menemani Lucas dan Liam yang latihan teater. Pergelaran teater itu akan diadakan pada tanggal 2 awal tahun.


Masih ada waktu sekitar 2 minggu lagi sebelum pergelaran itu tiba.


"Nona, apakah ada screen berganti pakaian di atas panggung?"tanya Evelin. Camelia mengangguk. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya. Nafasnya sedikit terengah.


"Pasti hasilnya akan sangat keren, Nona!"ucap Evelin.


"Aku juga berharap begitu," jawab Camelia. Ia istirahat dengan mengamati beberapa artis yang tengah berlatih. Ada yang memakai dance dengan campuran akrobat. Ada pula yang akan menampilkan pole dance. Intinya beragam.


"Nona, apa Nona sudah mendengar bahwa aktor pendatang baru tahun ini akan dimenangkan oleh lawan main Nona nanti?"bisik Evelin.


"Hm?"


"Sudah pasti Nona tidak tahu. Saya dengar gosipnya seperti itu. Pantas saja sutradara itu tertarik menjadikannya lawan main Nona," bisik Evelin lagi. Camelia mendengus pelan.


"Eve, seorang artis ditunjuk menjadi pemeran bukan hanya karena ketertarikan sutradara. Namun, juga karena memiliki kecocokan dengan karakter yang dimainkan. Jika tidak, aktingnya akan dicap tidak menguasai peran yang dibawakan. Dia dipercaya oleh sutradara. Aku akan menantikan kerja samanya nanti." Camelia tersenyum. Ia tertarik dengan lawan mainnya nanti. Jika benar akan menjadi pemenang aktor pendatang baru terbaik, artinya sangat berkualitas.


Camelia berharap ia tidak akan mendapat lawan main seperti Joseph lagi. Itu sangat menyebalkan. Akan lebih baik jika mendapat lawan main yang acuh saat akting selesai.


"Nona, Anda tidak takut?"tanya Evelin.


"Takut?" Dahi Camelia mengernyit. Tadi Evelin sangat antusias. Kini malah bertanya demikian.


"Seperti Tuan Joseph kemarin," bisik Evelin.


Camelia langsung terkekeh. "Jika seperti itu, seharusnya kau mengkhawatirkannya, bukan diriku.'


"Eh, benar juga ya?" Evelin ikut terkekeh.


"Ucapanmu tadi, benar tidaknya kita lihat besok," ujar Camelia. Evelin mengangguk.


"Jika benar, Anda harus mentraktir saya, Nona!"ucap Evelin.


"Alright," jawab Camelia. Itu bukan hal besar.


*


*


*


"Tuan," sapa Hans, diikuti dengan Lie Hari ini ia menginap di kediaman Andrean. Begitu juga dengan Lie.


"Kediaman ini punya banyak kamar. Mulai saat ini kalian tinggal di sini," ucap Andrean.


"Tuan?" Hans dan Lie saling tatap.


"Ada masalah?"tanya Andrean, menatap datar kedua sekretarisnya itu.


Keduanya menggeleng.


Andrean mengambil keputusan itu untuk mempermudah pekerjaan.


Mengapa tidak terpikirkan dari dulu? pikir Andrean.


"Tuan, hari ini Presdir Gu mengirimkan email permintaan maaf serta mengajukan permintaan penjadwalan ulang meeting kemarin malam," ucap Lie, memberikan laporan lebih dulu.


Eh?


Lie terkesiap. Raut wajah Andrean berubah menjadi muram. "Hanya via email?"tanya Andrean.


"T-tidak, Tuan. Presdir Gu mengundang Anda makan siang di restoran Liang besok," jawab Lie.


"Kalau memberi laporan jangan setengah-setengah," bisik Hans. Lie mengangguk pelan.


" Hans?"


"Besok kebetulan setelah makan siang, Anda ada pertemuan. Tempatnya tidak jauh dari restoran Liang. Jadi, saya rasa Anda dapat menghadirinya, Tuan," jawab Hans sigap.


Andrean mengangguk. "Hei, jawabannya yang aku katakan tadi," bisik Hans lagi pada Lie.

__ADS_1


Lie mengangguk cepat. Cepat mencatat apa yang Hans katakan tadi.


"Sekalian saja jadwal pertemuan ke undangan itu. Aku tidak ingin membuang waktu untuk masalah yang sama," ucap Andrean.


Lie kembali mengangguk paham. "Sudah saya kirim jawaban kepada Presdir Gu," ujar Lie.


"Kalian boleh pergi," ucap Andrean, melambaikan tangannya.


Hans dan Lie membungkuk sebelum meninggalkan ruangan Andrean.


Andrean melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.


Andrean bangkit dari kursinya. Ia mendekati jendela. Melihat langit dan suasana halaman kediaman saat malam hari.


Mom sangat sibuk, Yah. Kemungkinan tidak ada waktu membuka ponsel. Pesan tidak dibalas. Telepon tidak dijawab.


Andrean tersenyum kecut mengingat pesan Lucas padanya.


Padahal baru satu hari ia tidak kontak dengan Camelia. Namun, rasanya sangat menyiksa.


Andrean menghembuskan nafas pelan. Ia mengeluarkan ponselnya. Kembali mencoba menghubungi Camelia. Barangkali dijawab. Sayang, tidak dijawab.


Andrean kembali menyimpan ponselnya. Berharap besok pagi Camelia sudah tidak begitu sibuk.


*


*


*


Hari ini adalah hari H acara penghargaan. Acara akan dimulai pukul 16.00 waktu Ottawa. Dimulai dengan acara red carpet.


Pukul 15.00, Camelia sudah selesai bersiap. Begitu juga dengan Lucas dan Liam.


Tidak ada yang berbeda dari penampilan Lucas dan Liam. Mereka selalu formal mengikuti style Daddy mereka saat menghadiri acara award seperti ini.


Dan Camelia, untuk acara red carpet, menggunakan cheongsam yang Andrean berikan beberapa waktu lalu. Camelia tidak takut menggunakan pakaian tradisional dari tanah kelahiran untuk menghadiri acara seperti ini. Toh, ia sudah pernah menggunakan cheongsam sebelumnya, saat masih bersama dengan Chris.


Camelia tidak menggunakan mobil fasilitas agensi. Melainkan menggunakan kendaraan pribadi.


Ferrari yang dihadiahkan oleh Andrean kembali menjadi pilihan.


Seperti biasanya. Wawancara dan foto dengan latar belakang nama acara berikut dengan sponsornya. Tak lupa membubuhkan tanda tangan di papan nama acara dan sponsor.


"Itu Nicholas!"


Camelia menoleh saat mendengar wartawan meneriakkan nama itu.


Seorang pria yang usianya Camelia perkirakan masih di bawah 25 tahun turun dari mobil. Ia melambaikan tangan kemudian melewati red carpet.


Menatap datar Camelia. Yang masih belum meninggalkan tempat. Lucas dan Liam mendongak.


"Paman ini akan jadi lawan main Mom, bukan?"tanya Lucas dengan berbisik pada Liam. Liam mengangguk.


"Apa Anda belum selesai?"tanya pria yang dipanggil Nicholas itu datar. Camelia tertegun sesaat.


"Ah, sorry," jawab Camelia. Saat ia hendak melangkah keluar, sayang ditahan oleh wartawan.


"Bagaimana perasaan Anda berdua saat tahu akan bermain di film yang sama dan menjadi pasangan di dalamnya?"tanya wartawan, mereka sangat antusias sekali.


"Saya menantikannya," jawab Camelia singkat.


"Saya merasa terhormat," jawab Nicholas. Jawaban keduanya sama-sama singkat.


"Nona, silakan," ucap Nicholas kemudian, mempersilakan Camelia untuk jalan lebih dulu.


"Thanks." Camelia meninggalkan tempat bersama dengan Lucas dan Liam.


Disusul oleh Nicholas.


Setelah bertemu lagi, dia memang menarik. Semoga kerja sama kami berjalan dengan lancar, batin Camelia.


Astaga? Apa ini?

__ADS_1


Camelia terkesiap sesaat. Ia sudah duduk di kursi yang ditujukan untuknya, bersama dengan Lucas dan Liam.


Namun, entah memang pengaturannya atau ada pihak yang merequest, Nicholas duduk di samping Camelia.


"Hallo, Nona," sapa Nicholas datar, lagi singkat.


"Hai," sapa balik Camelia, singkat dan datar pula.


Nicholas mengangguk. Camelia tersenyum simpul.


Sebelum acara dibuka oleh host, Camelia, berbincang dengan hadirin lainnya. Lucas dan Liam tidak banyak bicara. Mereka sibuk mengamati orang yang lalu lalang. Hadirin juga semakin banyak.


"Paman ini aneh, dia itu canggung sama Mom atau dasar kaku sih?"tanya Lucas, dalam bahasa China. Karena kalau bahasa Prancis di sini pasti banyak yang paham.


"Mungkin," sahut Liam, dalam bahasa China pula. Mereka melirik Nicholas. Meskipun duduk bersebelahan dengan Camelia, hanya sapaan 'halo, Nona' itu saja. Selebihnya tidak ada. Nicholas berbincang dengan rekan di sebelahnya, yang pasti bukan Camelia.


"Lucu sekali," ucap Liam lagi. Sepertinya yang disebutkan tadi, usia Nicholas lebih muda dari Camelia, usianya baru menginjak 25 tahun.


"Tapi, bagus juga," ujar Liam lagi. Perbedaan usia yang cukup jauh, dengan Camelia lebih senior, maka wajar jika ada rasa segan. Mungkin karena ini pertemuan pertama. Liam berpikir itu bagus, karena akan mengurangi desas-desus tidak jelas yang mengatakan Camelia dekat dengan lawan mainnya.


"Mom juga tidak ada inisiatif untuk mengajaknya bicara," ucap Lucas, melirik Camelia. Camelia membalas lirikan itu, tajam.


Lucas tertegun, langsung menatap Liam.


"Gengsi. Pria harus memulai pembicaraan dulu," jawab Liam.


Camelia sedikit melebarkan matanya mendengar jawaban Liam. Sedari tadi, ia mendengar pembicaraan Lucas dan Liam.


"Hoho, lihat siapa ini?" Sutradara drama Split Love sudah datang. Ia tertawa riang, menyapa Nicholas kemudian Camelia. Camelia dan Nicholas sama-sama mengangguk.


"Pengaturan ini sangat bagus. Kalian harus mulai berinteraksi, agar saat syuting nanti tidak kaku," ujar Sutradara.


Camelia tersenyum. Nicholas hanya mengangguk singkat. "Apa kalian sudah saling menyapa?"tanya Sutradara.


"Tentu saja," jawab Nicholas.


"Mr. Nicholas, always enjoy, nikmati acaranya. Dengar-dengar Anda akan menang dalam nominasi Anda," ujar Camelia.


"Ah? Baiklah, Nona," jawab Nicholas. Pria itu tampak gugup. Ia menatap lurus ke depan. Itu membuat Camelia terkekeh pelan.


"Hm, sekali bicara panjang juga," cetus Liam. Masih dalam bahasa China.


"Ingat Ayah, Mom," ucap Lucas.


Camelia menatap Lucas dan Liam dengan senyum mengembang. "Kita dalam masalah," bisik Lucas kemudian pada Liam.


Kedua anak itu langsung menatap lurus ke depan. Camelia menghela nafasnya cepat.


Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Host membuka acara. Setelah sambutan, tidak langsung membaca nominasi melakukan diawali dengan penampilan dari salah satu band yang tengah naik daun di Kanada.


Setelah itu barulah nominasi mulai dibacakan dan pemenangnya ditampilkan di layar panggung.


Pada nominasi pertama, Camelia tidak masuk di dalamnya.


Pada saat pembacaan nominasi ketiga, di mana Camelia adalah salah satunya, nama Camelia keluar sebagai pemenang, dengan nominasi aktris terbaik.


Yang duduk di sekitar Camelia memberikan selamat. Termasuk Nicholas.


Camelia segera maju dan naik ke atas panggung. Ia menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih.


"Wow, dia terpesona," bisik Lucas lagi pada Liam. Kembali melirik Nicholas yang tampak terpaku.


"Apakah dia tidak bisa mengontrol mimik wajah? Ini serba disorot," bisik Liam, membalas bisikan Lucas.


"Harus mencari tahu tentangnya. Jika bermasalah, Mom harus menolaknya!!"bisik Lucas.


Nicholas menatap sekilas ke arah Lucas dan Liam. Dan tentu saja itu membuat keduanya kaget. "Hai, Uncle," sapa Lucas, dengan melambaikan tangannya.


Nicholas mengangguk dan kembali fokus ke depan.


"Anda memang yang terbaik, Nona," ucap Nicholas, saat Camelia sudah kembali ke tempat duduknya.


Camelia tertegun sesaat. "Terima kasih, Mr. Nicholas," jawab Camelia, tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2