
Dua hari kemudian.
"HEI, HAN JIAYU!!"
Hans menoleh saat nama aslinya dipanggil. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan nama itu.
"APA MAKSUDMU, HAH?!" Ya, itu tak lain adalah Silvia. Mendatangi Hans dengan wajah memerah padam.
"Tuan Hans, Anda mengenalnya? Apa saya yang salah dengar nama? Bukankah dia memanggil Han Jiayu?"
"Ini …." Hans merasa situasinya tidak bagus. Benar-benar tidak bagus. Hari ini adalah akhir pekan. Sekali lagi, ia mencoba peruntungannya di kencan buta. Dan wanita kali ini adalah seorang pramugari. Yang namanya seorang pramugari tentu saja cantik dan tinggi.
"NAMA ASLINYA HAN JIAYU! ANDA TIDAK SALAH DENGAR!"tegas Silvia.
"Maaf, Anda siapa?"tanya pasangan kencan buta Hans itu.
"Tuan Hans?" Meminta penjelasan. Hans merasa terpojok dengan tatapan dua wanita itu. Ia merasa, dirinya seperti seorang pria yang suka bermain wanita.
"OHHH! KAU TIDAK MAU MENJAWABNYA? APA HARUS AKU YANG MENJAWABNYA?! AKU INI …."
"Lu Jia Li, keluarlah, kita bicara di tempat lain!"ucap Hans dengan nada rendahnya.
"NO!"tolak Silvia.
"Lu Jia Li!" Kembali Hans memanggil nada asli Silvia dengan nada rendah.
Silvia bergidik. "Awas jika kau berani kabur!"
Silvia kemudian keluar. "Tuan Hans?"
"Maafkan saya, Nona. Ada kesalahpahaman di antara kami."
"Begitukah? Sepertinya pertemuan kita sampai di sini saja. Tadinya saya merasa cocok dengan Anda. Namun, maaf. Kita sampai di sini saja."
"Maaf karena Anda harus melihat hal tadi." Hans membungkuk kecil.
"Semoga hari Anda menyenangkan dan Anda mendapatkan pasangan yang tepat," harapnya, kemudian meninggalkan tempat.
Hans minum, meminum habis sisa minumannya. Dua hari ini, ia terus menghindar dari Silvia.
Ia ingat apa yang ia katakan. Dan ya, Hans meruntuki dirinya sendiri. Selalu saja!
Ia mabuk dan melakukan hal gila!
Namun, mabuk memunculkan perasaan yang sesungguhnya, bukan?
Hans memikirkannya. Apakah benar, ia menyukai Silvia?
Dan pertanyaan itu sudah harus ia jawab. Karena Silvia menunggu di luar sana. Namun, sebelum itu, ia harus mempersiapkan mental, untuk mendengar cecaran Sivia.
"Apa maksudmu, Han Jiayu? Kencan buta setelah kau menyetujui lamaranku, hah?" Kali ini tidak berteriak, namun dengan nada dingin.
"Kau tahu, kau itu br*engsek! Hilang kabar setelah kau membuatku terbang ke langit!"
Hans diam.
"Apa yang ingin kau katakan? Kau mau berkilah? Mengatakan jika kau mabuk dan ucapan itu di bawah alam sadarmu? Aku ingatkan kembali bahwa kau sendiri yang mengatakan, orang mabuk itu jujur!"cecar Silvia.
Silvia menarik kerah baju Hans. "Kau, Ba*jingan!! Kau sudah dewasa tapi kekanakan!"
"Aku punya buktinya, mau dengar?" Silvia membuka ponselnya. Menunjukkan rekaman suara.
Baiklah. Lu Jia Li, aku Han Jiayu menerima lamaran pernikahanmu. Aku setuju menikah denganmu. Mari bangun rumah tangga yang bahagia dan memiliki banyak anak!
"Bukankah itu kau?"
"Answer me! Mengapa kau diam saja?!" Silvia menggoyahkan lengan Hans. Wanita itu tampak sedikit berbeda.
"Kau mau berkilah? JIKA IYA, DENGAR INI, HAN JIAYU! KAU TIDAK AKAN BISA BERKILAH! SEPERTI YANG KAU TAHU, AKU INI WANITA KERAS KEPALA!"
"Cukup!" Hans mencekal lengan Silvia yang masih menggoyahkan lengannya bahkan semakin kencang.
"Aku orang yang bertanggung jawab!"tegas Hans.
"Menikah ya menikah, ayo buat persiapannya!"ucap Hans.
Mata Silvia terbelalak. Ia tidak menyangka ini akan keluar. Tadinya, ia tidak terlalu berharap.
Grep!
Silvia langsung memeluk erat Hans. "Kau tidak akan menyesali keputusan ini!"
Cup!
Gantian Hans yang terbelalak. Ciuman itu tiba-tiba.
Aku menyukainya.
Hans menaruh tangannya di tengkuk Silvia. Membawanya lebih dekat dan lebih dalam. "Itu first kiss ku," ucap Silvia. Berbeda dengan yang tadi, kali ini ia tersipu malu.
"Aku menyukainya," ucap Hans serius.
__ADS_1
"Ehem." Silvia berdehem. Menetralkan debaran jantungnya.
"Ah itu, Ayah memintamu untuk datang ke rumah. Bertemu dengan membicarakan tentang pernikahan. Besok sore, apakah kau bisa?"
Entah bagaimana tanpa pikir panjang Hans langsung menyetujuinya.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok."
Cup.
Setelah mencium pipi Hans, Silvia pergi dengan riangnya.
Hans menyentuh dadanya. "Keputusan apa yang aku buat? Jantungku berdebar tidak karuan."
*
*
*
"Sepertinya akan ada yang mendahuluiku menikah." Begitu Hans kembali ke istana Andrean, disambut dengan ucapan itu.
Hans kikkuk seketika. "Itu baru rencana, Tuan."
"Hm, menikahlah. Kau harus memberikan keturunan untuk jabatan sekretaris selanjutnya," ucap Andrean santai.
"Menunggu itu, bukankah saya sudah terlalu tua, Tuan?" Umurnya sudah lewat pertengahan kepala 3. Jika menunggu ia memiliki anak yang mampu menanggung tugas dan kewajiban sekretaris Starlight Entertainment, maka ia sudah berada di usia kepala 5.
"Kau mengejekku?" Tahun kelahiran mereka sama. Dan Andrean tentu saja masih bekerja sama pewarisnya mampu.
"Baiklah, Tuan." Hans menerimanya.
"Aku belum mengucapkan selamat, selamat."
"Ah?" Hans terkesiap. Begitu saja?
"Kau tidak menjawabnya?"
"Ah tidak, Tuan. Saya sangat berterima kasih!"
*
*
*
Keesokan harinya. Sore harinya setelah Hans selesai bekerja, ia langsung menuju kediaman Silvia, tepatnya kediaman Lu.
Dan jangan lupakan bahwa Andrean ikut dalam rombongan itu. Tentu saja suasana yang diciptakan berbeda.
Silvia dan Ayahnya saling pandang. Tidak menduga Andrean akan ikut datang. Sementara Hans tampak tegang. "Ehem, jadi kedatangan Tuan-Tuan dengan tujuan apa, ya?"tanya Tuan Lu.
Andrean menyipitkan matanya. Bukankah seharusnya mereka sudah tahu?
"Tanya dengan yang punya kepentingan," sahut Andrean, menunjuk Hans.
Tangan Hans dingin.
Ya Tuhan, ini lebih menegangkan daripada presentasi dan tanda tangan kontrak! pekik Hans dalam hati.
"Tuan Hans?" Tuan Lu mengalihkan pandang pada Hans.
Aku yang terbaik, puji Andrean pada dirinya sendiri.
"Ayah kok ditanyakan lagi? Han Jiayu datang untuk melamar putri Ayah ini!" Silvia mencembikkan bibirnya.
"Diamlah!"ucap Tuan Lu pada putrinya.
"Ehem." Hans berdehem pelan.
"Kedatangan saya ke kediaman ini adalah dengan niat baik. Saya, Hans. Tidak, saya Han Jiayu, datang untuk melamar putri Anda, Lu Jia Li menjadi pendamping hidup saya," ucap Hans, langsung pada intinya.
"Hm … punya apa kamu berani melamar putri kesayanganku?"tanya Tuan Lu.
"Aku tahu kau punya harta. Putriku juga punya harta. Aku juga punya harta. Apa yang membuatku harus memberimu persetujuan?"tanya Tuan Lu.
Bagaimana jika membuat Anda kehilangan harta dan saya jadi penyelamat Anda?
Pikiran jahil tiba-tiba terlintas. Hans menggeleng pelan. Masa' menjawab seperti itu.
"Saya tahu, putri Anda memiliki segalanya. Namun, saya bisa memberikan apa yang tidak bisa Anda berikan. Cinta sebagai pasangan, kehidupan pernikahan yang bahagia, anak yang banyak, saya akan membahagiakan putri Anda!"jawab Hans mantap. Ia pikir itulah jawaban yang paling bagus.
"Mengapa harus Anda?"tanya Tuan Lu.
Hans terkesiap. Bukankah ia sudah menjawabnya? Jawaban yang bagaimana lagi?
"Ayah, aku yang memilihnya karena aku mencintainya," ucap Silvia, membantu Hans menjawab.
"Bukankah Ayah sudah tahu?"sungut Silvia kemudian.
"Saya mencintai putri Anda. Han Jia Li juga memilih saya. Saya mohon, restui saya menjadi menantu Anda!"
__ADS_1
"HAN JIAYU?!" Silvia terkejut saat Hans berlutut.
Mengapa sampai seperti itu? Apa kau benar-benar mencintaiku?
Silvia menjadi dilema sendiri.
Tuan Lu mengusap dagunya. "Di antara semua seserahanmu, apa aku bisa meminta satu hal lagi?"tanya Tuan Lu.
Hans mendongak. "Ya, ya! Katakan saja!"jawab Hans.
Tuan Lu mengangguk paham.
Ia kemudian meninggalkan ruang tamu. Semua menanti apa yang Tuan Lu minta. Termasuk Silvia. "Kalahkan aku dalam permainan catur."
Heh?
Andrean terkekeh tanpa suara. Ia menepuk bahu Hans, menyuruhnya untuk berdiri.
"Lalu restu akan aku berikan."
"Ayah, ini kan …."
"Kau putriku satu-satunya, putri kesayanganku. Orang yang mendampingimu, haruslah lebih hebat dari ayahmu ini!"tegas Tuan Lu. Mata Silvia memanas.
"Saya siap!"jawab Hans. Ia menyanggupi tantangan tantangan.
Andrean dan Silvia menjadi penonton permainan catur Hans dan Tuan Lu. Permainan catur itu sangat seru dan sengit. Tuan Lu handal dalam permainan itu. Hans sempat terdesak. Namun, Hans juga bukan lawan yang mudah.
Silvia cemas. Ayahnya itu jago sekali bermain catur. Sementara kemampuan Hans, ia belum pernah melihatnya. Silvia berdoa agar Hans dapat mengalahkan sang ayah, dan membuktikan bahwa Hans pantas menjadi suaminya.
"Hahaha … aku merestuimu, aku merestuimu, menantuku," ucap Tuan Ku, tertawa puas. Hans berhasil mengalahkannya.
Andrean tersenyum tipis. Jika Hans kalah berarti Hans bukan orangnya.
Siapa dulu lawan duelnya, puji Andrean pada dirinya sendiri.
Ternyata ini berguna, batin Hans, ia melirik Andrean sekilas.
Bugh!
Tiba-tiba, Silvia langsung memeluk Hans. "Syukurlah. Aku takut sekali tadi."
"Tenanglah, aku sudah menang."
"Ayo bahas mengenai pernikahan," ucap Tuan Lu kemudian.
Hans dan Silvia mengangguk serentak.
*
*
*
"Kau harus berterima kasih padaku, Hans!"ucap Lie. Ia tahu Hans sudah melamar Silvia dan lamarannya diterima.
"Kalau aku tidak memberimu pencerahan, kau dan wanita itu akan terus bermain kucing-kucingan."
Hans mendengus senyum. "Aku juga ingat, jika aku menikah kau akan memberikanku amplop tebal sebagai hadiah pernikahan," sahut Hans.
"Sungguh? Apakah aku pernah mengatakannya? Astaga, aku sama sekali tidak ingat. Bagaimana ini?"tanya Lie dengan wajah mendramatisir.
"Kalau begitu aku akan membuatmu mabuk, menyuruhmu mengatakan hal itu, dan aku akan merekamnya. Dengan begitu jika kau tidak ingat, aku tinggal memutar rekamannya."
"Licik sekali!"cibir Lie.
"Tinggal satu step lagi, aku sudah menjadi suami. Bagaimana denganmu, Lie? Apakah usaha kencan butamu belum membuahkan hasil?"tanya Hans.
Lie tidak langsung menjawab. Ia diam lebih dulu. Hans memperhatikannya.
Mengernyit saat Lie tersenyum namun segera dipudarkan. "Tidak."
"Heh? Arti senyum tadi apa?"tanya Hans.
"Kapan aku tersenyum?"
"Tadi! Hei, ini tidak adil! Aku membagi ceritaku denganmu tapi kau tidak! Katakan padaku, kau bertemu dengan seseorang, bukan?"selidik Hans.
"Tidak ada."
Lie membalikkan tubuhnya.
"Kau pikir aku percaya?!"sahut Hans.
"Entahlah."
"Hei! Mau kemana kau! Ayo katakan padaku siapa wanita itu!" Hans mengejar Lie.
Ya, kedua sekretaris yang awalnya tidak akur, menjadi lengket seperti itu.
*Sedikit catatan. Nama asli Hans adalah Han Jiayu. Hans adalah nama panggilannya. Begitu juga dengan Lu Jia Li yang merupakan nama asli dari Silvia.
__ADS_1