
Kakek Gong mengalihkan pandangnya ke arah jendela. Di mana tepat di luar jendela itu ada sebuah kolam dengan air mancur. Tuan Gong bukannya tidak tahu cucu kesayangannya, Andrean menjadi trending topic beberapa hari lalu. Saat itu ia langsung mencari tahu mencari tahu detail tentang Camelia.
Kakek Gong mengatakan Keluarga Shane lebih sulit daripada keluarga mereka kerena keluarga itu adalah keluarga besar lagi terpandang di Kanada dan Amerika Utara. Dan keluarga itu adalah bagian dari keluarga kerajaan. Dan Andrean juga bukan seorang single. Dan punya anak juga. Camelia juga memiliki anak dalam pernikahannya dengan Chris.
Bukankah itu rumit?
Dan juga mereka beda kewarganegaraan. Camelia adalah artis besar Kanada.
Kakek Gong menggeleng.
Itu sungguh berat. Lebih baik memperingati Andrean sebelum Andrean melakukan hal yang akan berdampak kurang baik. Karena Kakek Gong menangkap sebuah ketertarikan Andrean pada Camelia.
Boleh mengakhiri hubungan dengan Rose, asalkan tidak memulai hubungan yang rumit dengan Camelia!
*
*
*
Hans merasa bergidik melihat Andrean yang sejak keluar dari kediaman lama tak hentinya menebarkan senyum.
Tentu Andrean senang kakeknya tidak melarangnya. Dan bahkan jika sang Kakek menentang, Andrean akan tetap memutuskan hubungan dengan Rose. Karena Andrean menegaskan ia hanya memberitahu sang kakek, bukan meminta persetujuan!
"Tuan Muda, kita akan kemana?"tanya Hans, memecah suasana tegang yang ia rasakan.
"Rumah sakit," jawab Andrean singkat tanpa melunturkan senyumnya.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"tanya Hans, memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa aku terlihat sakit?"balas Andrean, masih dengan senyumnya. Namun, senyum ini benar-benar senyum mengerikan dari Andrean. Hans menelan ludahnya gugup. Ia buru-buru menggeleng.
Sebenarnya apa yang Tuan dan Kakek Gong bicarakan? Apakah Tuan mendapatkan apa yang ia inginkan?
Dan aku merasakan akan ada hal besar setelah ini? Hans bertanya-tanya dalam hati.
*
*
*
Sementara itu, Kak Abi tengah mengawasi proses pemotretan Lucas dan Liam.
Kedua bocah laki-laki itu begitu cepat dan profesional mengikuti arahan fotografer.
Fotografer tidak bisa untuk tidak berdecak kagum. Bahkan ini belum ada setengah hari dan hampir separuh skema pemotretan sudah selesai. Kedua anak ini mengalahkan model dewasa sekaligus. Tidak rewel, pose yang sempurna, tatapan yang sesuai, dan perpaduan yang sangat kontrak.
Lucas si tampan yang memikat dengan senyumannya. Liam di tampan dengan raut wajah dinginnya.
Fotografer berpikir, jika anak-anaknya saja seperti ini, bagaimana dengan ibu mereka, Camelia Shane? Tentu lebih memikat lagi bukan?
Tercipta sebuah keinginan di hati fotografer untuk bisa bekerja sama dengan Camelia.
"Kita break makan siang. Pukul 13.00 kita mulai lagi," ucap fotografer memberi intruksi. Staf mengangguk. Mereka segera meninggalkan tempat. Lucas dan Liam menundukkan kepala singkat sebelum keluar dari panggung pemotretan.
Kak Abi menghampiri keduanya. Kak Abi, Lucas, dan Liam keluar dari ruang pemotretan menuju ruang istirahat yang diperuntukan untuk brand ambassador.
"Mommy ada memberi kabar?"tanya Lucas pada Kak Abi.
Kak Abi menggeleng, "mungkin sebentar lagi," jawabnya.
Lucas mengangguk kecil tanda mengerti kemudian minum. Liam yang sudah selesai minum menengadahkan tangannya pada Kak Abi, "permen."
__ADS_1
Kak Abi mengeluarkan sebungkus permen lolilop dari tas doraemonnya. Bukan tas berbentuk doraemon namun disebut
demikian karena tasnya minimalis namun apa saja tersedia.
"Aunty rambut kami tidak tercecer kan?"tanya Lucas.
"Aman." Kak Abi membentuk jarinya menyatakan okay.
"Kapan pemotretan kami selesai?"
"Seperti biasa. Satu hari sudah cukup. Eh iya astaga!" Kak Abi menepuk dahinya sendiri. Sesi pemotretan setelah break adalah yang terakhir untuk seri musim panas keduanya. Minggu depan akan akan pemotretan untuk seri kedua. Dan pemotretan ada empat seri. Untuk di bagian akhir, itu adalah seri untuk menyambut musim gugur.
"Ada apa, Aunty?"tanya Lucas, heran.
"Aunty lupa mengisi formulir pendaftaran untuk Mommy kalian," jawab Kak Abi. Segera Kak Abi mengeluarkan tabletnya. Bersiap untuk mengisi dan mengirimkan formulir pendaftaran pemilihan model untuk Phoenix Mobile, game dari Phoenix Tekhnologi.
"Loh memang Mommy mau mengikuti hal apa?"
Lucas dan Liam sama-sama belum tahu tentang hal itu. Kak Abi menjawabnya sembari tetap mengisi formulir.
"Brand ambassador game? Serius, Aunty?"tanya Lucas, tertegun. Liam lebih santai menanggapinya.
"Mommy punya kemampuan bermain mobile game dengan baik. Aku rasa seleksi bukan hal sulit bagi Mommy. Jika anak kecil sepertiku bisa, aku juga mau ikut seleksi itu," ucap Liam.
"Hanya untuk wanita," sahut Kak Abi yang membuat Lucas langsung tertawa lepas.
"Jangan jadi transgender ya, Liam!" Liam tetap menunjukkan wajah datarnya.
"Eh, Liam kau akhirnya mengaku kalau kau adalah bocah cilik," ucap Kak Abi dengan kaget.
Liam mendengus, "memang usiaku masih mudah. Tidak ada yang salah, bukan?"tanya dengan nada datar.
"Tidak ada yang salah memang. Hanya saja kau tidak pernah mau dipanggil bocah, Liam!"tegas Kak Abi.
"Aku memang bukan bocah!"sahut Liam.
Sementara Lucas membuka box makan siang yang berisi fried chicken dengan saus keju. Lucas menatapnya sejenak. "Aunty," panggil Lucas.
"Ya, Lucas?"tanya Kak Abi, menghela nafas karena telah selesai mengisi dan mengirim formulir pendaftaran. Dan tiga hari lagi akan mulai casting.
"Aku ingin nasi," ucap Lucas.
"Nasi?" Kak Abi menatap menu yang Lucas buka. Friend chicken, cocok memang dimakan dengan nasi. "Baiklah. Tunggu sebentar," ucap Kak Abi, kemudian keluar dari ruang istirahat.
"Hei, Liam. Aku merasakan sebentar lagi akan ada berita menggemparkan lagi," ucap Lucas.
"Apapun itu, asalkan tidak menganggu keluargaku, aku tidak peduli," sahut Liam, acuh.
Tak lama kemudian, Kak Abi kembali dengan semangkuk nasi. "Thank you, Aunty. Aunty juga makan," ucap Lucas.
Kak Abi mengangguk dan mengambil box makan siang yang berisi spaghetti.
Liam yang telah selesai makan beralih menikmati desert berupa puding pisang yang terbuat dari susu pisang dicampur dengan agar-agar dan ditambahkan dengan potongan pisang yang manis.
"Hei Lucas, sekarang aku merasakan hal yang sama," ucap Liam dalam bahasa Jerman. Lucas tersenyum tipis, "kita nantikan saja," sahutnya.
*
*
*
Camelia menatap hamparan bunga di taman yang tak jauh dari perusahaan cabang Shane Group. Dion masih sangat sibuk dan Camelia juga bosan berada di dalam terus.
__ADS_1
Melihat pemandangan yang cocok, Camelia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto. Tanpa membuka maskernya, Camelia mengambil beberapa foto dirinya dengan latar belakang hamparan bunga yang bermekaran.
Tanpa mengedit, Camelia langsung mempostingnya ke dalam media sosial instagramnya. Dan dalam waktu singkat, sudah banjir dengan like dan comment. Dan rata-rata yang comment adalah yang akun centang biru. Ada dari rekan artisnya, agensinya, dan dari brand-brand yang sedang ia tangguhkan, bahkan yang telah selesai kerja samanya pun ikut comment. Semua mengharapkan yang terbaik untuk Camelia dan kedua anaknya. Juga berharap Camelia segera menyelesaikan masa berkabung dan ziarahnya, kembali ke Kanada untuk comeback setelah vakum.
Puas membaca comment yang masuk ke postingannya dalam waktu tiga puluh menit, Camelia merasa lapar sekaligus ingin minum kopi. Camelia ingin minum iced americano, cocok untuk hari di musim panas seperti ini.
Segera Camelia bangkit dan mencari cafe di sekitar taman. Tak butuh waktu lama, Camelia sudah memasuki sebuah cafe. Memesan menu dan menunggu santai di sudut ruangan.
Camelia menatap ponselnya di atas meja. Tangannya yang semula bersedekap di dada, terulur mengambil ponselnya. Camelia menggerakkan jarinya membuka galeri.
Masih terdapat banyak foto kebersamaannya dengan Chris. Itu ia jadikan satu album. Camelia selalu berniat untuk menghapusnya. Namun, begitu diminta persetujuan untuk dihapus permanen, Camelia membatalkannya.
Alasannya? Camelia tidak bisa menghapus foto itu. Menurutnya, walaupun foto-foto itu ia hapus, namun kenangannya akan abadi di dalam hati dan memorinya. Dan jangan lupakan juga, walaupun Chris sudah pergi. Namun, Camelia tidak bisa untuk berhenti bersandiwara. Foto adalah hal terpenting. Jika dihapus akan menjadi sebuah permasalahan. Camelia tidak ingin mendekati masalah.
"Pesanan Anda, Nona." Pramusaji mengantarkan pesanan Camelia. Camelia mengangguk.
Steak dan iced americano menjadi menu siang Camelia. Jemarinya cepat dan telaten memotong steak menjadi potongan lebih kecil. Kemudian mulai menyantapnya. Steak adalah makanan formal, maka cara menyantapnya juga formal.
Saat sedang asyik menikmati ssantapannya, ada sebuah keramaian di luar cafe yang menarik perhatian Camelia. Camelia meletakkan alat makannya. Matanya menyipit melihat melihat keramaian itu. Rasa penasaran menggelitik hatinya. Segera Camelia minum dan memakai maskernya, keluar cafe untuk melihat apa sebenarnya keramaian itu. Di saat bersamaan, pelayan cafe memanggil Camelia. Ia mengira Camelia kabur setelah makan. Hingga ia mengejar Camelia sampai di mana Camelia menghentikan langkahnya dan melihat keramaian itu dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. "Nona … Anda …."
"I know."
Pembayaran non tunai via ponsel segera dilakukan dan selesai.
Camelia kembali melihat keramaian. Tampak seorang pemuda memarahi seorang wanita tua yang terduduk dengan memegangi kakinya. Wanita tua hanya bisa menunduk, tampak begitu takut dengan sumpah serapah pemuda itu.
"Dasar Nenek Tua! Sudah tua bukannya di rumah malah berkeliaran dan menyebabkan masalah! Lihat mobil mahalku jadi lecet karena kau! Sihghh di mana keluargamu, Nek? Anda harus membayar biaya perbaikan mobilku!!"
Dan tidak ada yang berani membantu sang nenek. Pemuda itu begitu arogan. Ia bahkan berani itu menunjuk-nunjuk wanita tua dengan telunjuknya.
"Tidak ada keluarga? Nenek dari panti jompo? Ahhh aku tidak peduli! Pokoknya harus ganti rugi atau aku akan melaporkan nenek ke polisi atas dasar pengrusakan barang pribadi!!" Pemuda itu mengancam dan wanita itu beringsut.
"S-sebentar, a-aku hubungi cucuku dulu," ucap wanita tua itu tergagap. Dengan takut wanita tua mengeluarkan ponselnya.
Camelia masih mengamati. Dalam perannya, dalam banyak naskah yang telah banyak ia baca, biasanya yang begini ini adalah dari orang terpandang. Wanita tua yang menderita penyakit lupa baik berat atau ringan yang terpisah dari orang yang menjaganya. Namun, terlepas apa status wanita tua itu, sebagai seorang wanita dan manusia tentunya, Camelia merasa geram. Terlebih saat Pemuda itu semakin lancar saja mengumpat. Padahal hanya perkara ringan, kecuali mobilnya sampai menabrak tiang listrik baru. Harusnya wanita tua itu lah yang harus lebih dikhawatirkan.
"Nenek, aku datang!" Camelia masuk dan membantu wanita tua itu berdiri. Wanita tua itu tampak terkejut. Sepertinya menyadari bahwa wanita yang membantunya untuk berdiri ini bukan cucunya.
"Oh sudah datang. Mana ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan nenek Anda!" Tangan Pemuda itu menagih pada Camelia.
"Berapa banyak?"tanya Camelia. Wanita tua itu hanya bisa diam menerima tatapan Camelia yang menyuruhnya untuk diam.
"10000 yuan," jawabnya tanpa basa-basi. Camelia mengeryit, itu sama dengan 22 juta rupiah.
Camelia melihat lecet pada bagian bomper kanan mobil. Hanya lecet kecil, tidak sampai segitu bukan? Dan mobilnya juga tidak mahal-mahal amat. Kisaran 5000 yuan ke bawah sudah bisa untuk memperbaiki lecet itu.
"Bukankah itu terlalu tinggi untuk goresan sekecil itu? Mobil Anda memang mahal namun harga perbaikan goresan itu tidak akan semahal itu." Sedikit banyak, Camelia mengerti tentang biaya servis karena Camelia selalu mencek kuitansi saat mobil keluar dari bengkel entah itu karena servis rutin ataupun lecet seperti ini.
"Tahu apa Anda tentang mobil? Itu bahkan sangat murah. Ah tidak, saya lupa! Sekarang biayanya menjadi 25000 yuan!" Camelia tersenyum miring.
15000 yuan nya untuk membayar waktuku yang terbuang karena ini.
Camelia sudah menduganya. Ia akan membayarnya? 50 juta rupiah, nominal kecil baginya. Namun, Camelia mengeluarkan uang juga tidak begitu mudah. Matanya lalu mengedar.
Camelia lalu mengeluarkan 1 lembar yang bernomimal 100 dollar. "Di sini ada CCTV. Aku sudah berbaik hati membantumu. Sebaiknya kau segera pergi sebelum aku menuntutmu!"bisik Camelia. Pemuda itu tampak terkejut menerima balasan tidak terduga.
Dengan wajah takut, Pemuda itu menyambar uang yang Camelia sodorkan dan pergi dengan mobilnya itu.
Hasil dari kerakusan adalah tidak mendapatkan apapun, gumam Camelia dalam hati.
"Nak, Anda siapa? Saya tidak mengenal Anda. Anda bukan cucu saya, mengapa membantu saya?"tanya wanita tua itu beruntun. Camelia tersenyum, "saya memang bukan cucu Anda. Namun, bagaimana bisa saya diam melihat hal keterlaluan di depan mata saya?"balas Camelia.
Wanita tua itu tersenyum. Ia menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih," nanti saat cucuku datang, saya akan membayarnya," ucap wanita tua itu.
__ADS_1
Camelia menggeleng, "saya ikhlas, Nek." Wanita tua itu tampak sangat terharu. Camelia berniat membawa wanita tua itu untuk duduk. Namun, saat melangkahkan, wanita itu meringis sakit. Kakinya sepertinya terkilir atau ada cidera dalam.
"Nenek tunggu di sini sebentar. Saya akan mengambil mobil," ucap Camelia. Wanita tua itu hanya bisa mengangguk. Camelia dengan cepat mengambil mobilnya yang berada tak jauh dari lokasi. Membantu wanita tua itu masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju rumah sakit.