Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 129


__ADS_3

Setelah weekend yang menyenangkan, Andrean kembali disibukkan dengan pekerjaannya.


Selasa pagi menjelang siang, Andrean akan meninjau syuting MV girl grup yang baru memulai debut.


Saat Andrean tiba, syuting MV baru berjalan setengahnya. Direncanakan, akan berlangsung selama tiga hari, dan satu minggu untuk penyuntingan.


Andrean mengamati dari jarak sedang, tak terlalu jauh ataupun dekat. Hans berdiri di belakangnya.


"Leader dari grup ini adalah Qin Yiyi. Dia adalah salah satu vokalis utama. Latar belakangnya, dia berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Bisnis keluarganya bergerak di bidang tekstil," ujar Hans, saat melihat Andrean fokus pada salah satu personil grup itu.


"Lalu, yang kembar itu adalah Jia Li dan Mei Li, berasal dari kota Wuhan. Posisi Jia Li sebagai main vocal bersama dengan Qin Yiyi. Sementara Mei Li adalah sebagai main dancer."


Andrean bergeming. Hans tetap menjelaskan profil singkat personil grup band itu. Terdiri atas 7 orang yang usianya di bawah 20 tahun.


"Namun, ada sedikit yang agak berbeda, Tuan."


Andrean melirik sekilas. "Pengisi posisi rap, profilnya tidak begitu lengkap. Namanya Xia Ling. Asalnya dari Hainan. Identitas yang dicantumkan tidak menyertakan wali. Setelah diselidiki, sejak kecil ia tinggal di panti asuhan, sebelum menjadi trainee, bekerja sebagai pengantar makanan, tempat tinggal tidak ada. Awalnya ia akan ditolak, namun kemampuan dan parasnya cocok jadi dipertimbangkan menjadi trainee dan akhirnya akan debut bersama GS722," jelas Hans, seraya menggeser layar tablet dengan jarinya. Sesekali membenarkan letak kacamatanya.


"Artinya dia sebatang kara?"tanya Andrean, kini fokusnya pada personil yang baru Hans jelaskan profilnya.


"Benar, Tuan. Selama ini, berkelakuan baik, dan tidak banyak tingkah, kecuali saat diganggu."


"Ada pembullyan terhadapnya?" Andrean masih memperhatikan personil GS722 yang bernama Xia Ling itu, yang saat ini tengah syuting bagiannya untuk rap. Dan saat bergabung dengan lainnya, dance-nya tidak kaku sama sekali. Tubuhnya terlihat lentur. Dan yang tambah menarik perhatian Andrean adalah ekspresinya yang dingin dan berdamage saat menarik smirk.


"Em, sebenarnya ada satu kali ia terlibat perkelahian. Lawannya adalah salah seorang trainee juga. Xia Ling menang setelah membuat kepala lawannya bocor. Awalnya, dia akan dikeluarkan dari perusahaan. Namun, setelah diselidiki dan ia dinyatakan tidak bersalah, dia dipertahankan dan lawannya dikeluarkan. Sejak itu, tidak ada yang berani mengganggunya. Bahkan, rumornya, sesama personel atau seangkatan dengannya, menatap wajahnya saja tidak berani," jelas Hans, panjang lebar.


Andrean menoleh sekilas pada Hans dengan menarik senyum tipis.


"Sesuai dengan visualnya. Jika performanya bertahan dan ada kesempatan, dia debut single," ujar Andrean. Hans tertegun beberapa saat.


"Baik, Tuan." Hans menjawab setelah Andrean melangkah meninggalkan tempat.


Akan debut single? Anak itu pasti punya potensi! batin Hans, gegas menyusul Andrean.


"Presdir Gong!"


Rupanya syuting tengah break, Andrean menghampiri mereka. Sutradara langsung menyambut Andrean. Sementara girl group itu saling melempar pandang, kecuali Xia Ling yang acuh.


"Dia Presdir Gong?"bisik Mei Lia pada kembarannya.


"Sepertinya."


"Tampan," cetus Mei Li, matanya berbinar menatap Andrean.


Ya bagaimana lagi, paras Andrean memang menawan. "Apa kau tahu berapa usianya?"


"Sepertinya 30 tahun. Dan apa kau tahu, Kak? Zaman sekarang, memiliki pasangan yang lebih tua menjadi trend." Mei Li menjawab dengan penuh semangat. Jia Li mendengus pelan.


"Kita baru debut, kau jangan mencari masalah!"tegas Jia Li, menoyor Mei Li.


"Auh! Tapi, dia tipeku."


"Usianya 37 tahun. Aku tak mau punya ipar seorang Paman!"tandas Jia Li.


"Umur bukan masalah, Kak!"


"Berisik!" Kembar itu sontak langsung menutup mulut, dan seperti menahan nafas saat mendengar ketusan dari Xia Ling. Keduanya kini menunduk, aura yang keluar dari tubuh Xia Ling sangat mencekam, keduanya takut.


Presdir Gong? Andrean Gong? Aslinya sangat tampan, jauh lebih tampan dari yang di foto. Rahangnya tegas, matanya tajam dan memikat, dewasa, dan juga kaya. Jika bisa menjadi….


Qin Yiyi tersenyum misteri dengan menatap Andrean penuh minat.


"GS722, kemarilah! Sapa Presdir kita!"panggil Sutradara pada mereka.


Gegas, Qin Yiyi berdiri, "ayo," ajaknya memimpin langkah.


Mei Li sangat antusias, segera menyusul Qin Yiyi. Jia Li mendengus pelan melihat adiknya. Lekas menyusul untuk menjadi pagar. Tiga personil lagi juga menyusul.


Xia Ling masih duduk, melihat ke arah Andrean.


Deg.


Xia Ling tersentak saat terbentur pandang dengan Andrean. Sorot mata Andrean yang dingin dan tajam, Xia Ling bergidik.


Lekas, ia bangkit dan menyusul. Dan walaupun merasa ngeri dengan sorot mata Andrean tadi, Xia Ling mempertahankan ekspresinya yang dingin dan acuh.


"Selamat siang, Presdir Gong. Perkenalan saya Qin Yiyi," sapa Qin Yiyi, mewakili anggotanya. Ia mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan dengan Andrean. Di samping Qin Yiyi, Mei Li tersenyum dengan memainkan jarinya.


"Hm." Andrean membalas singkat jabatan tangan itu.

__ADS_1


Telapak tangannya lebar, hangat, dan sangat halus, pekik Qin Yiyi dalam hatinya.


"Saya Mei Li, Presdir Gong." Mei Li menjabat tangan Andrean sebelum Andrean menarik tangannya masuk ke dalam saku celana. Jia Li membelalakkan matanya. Qin Yiyi menyipitkan matanya.


"Senang dapat bertatap muka dengan Anda, Presdir Gong. Saya merasa sangat beruntung," ujar Mei Li, dengan menggebu. Tetap menjabat tangan Andrean.


"Iya," jawab Andrean singkat.


Mengapa erat sekali? keluh Andrean, mencoba menarik tangannya.


"Hehe, saya Jia Li, Presdir Gong, kakak dari Mei Li," ujar Jia Li, memperkenalkan dirinya seraya menggeser posisi Mei Li.


"Okay." Lega, tangannya terlepas dari Mei Li. Mei Li mencembikkan bibirnya. Andrean dan Mei Li berjabat tangan singkat. Diikuti dengan personil lainnya, termasuk Xia Ling.


"Tuan, kita ada jadwal lagi," bisik Hans. Yang diangguki oleh Andrean.


"Kalian lanjutkan pembuatan MV nya, aku ada jadwal lain," ucap Andrean, menatap Sutradara.


Oh suaranya! Qin Yiyi memekik dalam hati.


"Baik-baik, Tuan. Mari silakan."


Andrean dan Hans meninggalkan lokasi syuting MV.


"Fix! Dia jadi idolaku!"seru Mei Li, girang yang langsung dibekap oleh Jia Li.


"Kau …." Ucapan Xia Ling yang tertahan, membuat kembar itu menelan ludah. "Ribut sekali hari ini!"ucap Xia Ling, kemudian melangkah kembali ke tempat istirahat.


"Hari ini kau cukup banyak bicara," cetus Qin Yiyi pada Xia Ling.


"Kau juga banyak tingkah," sahut Xia Ling dingin.


Qin Yiyi langsung terdiam, tidak membalas lagi.


*


*


*


"Tuan, ada kabar mengenai Rose Liang," ujar Hans begitu masuk ke dalam mobil.


"Hanya saja, mungkin ini terakhir Anda mendengar kabarnya, karena Rose Liang telah berpulang," ucap Hans. Andrean sontak mengangkat wajahnya.


"Apa maksudmu?"


"Rose Liang meninggal."


Dahi Andrean mengernyit dalam. "Kau serius?"


"Beritanya sudah keluar, Tuan." Andrean melihat ponselnya.


Mengejutkan! Rose Liang tewas di dalam penjara!


"Kembali ke istana!"titah Andrean kemudian.


Hans tidak membantah. Langsung menuruti perintah Andrean. Memutar balik menuju istana.


Semoga Crystal belum melihatnya, harap Andrean. Kejadian ini, sama sekali diluar prediksi.


*


*


*


"I-Ibu?" Crystal menjatuhkan ponsel yang ia pegang saat mendengar berita kematian ibunya, dari ponsel salah seorang pelayan tengah menonton berita tentang kematian Rose.


Itu terdengar jelas di telinga Crystal.


"N-Nona Muda?!" Beberapa pelayan itu terkejut, wajah mereka pucat seketika.


"Kakak, apa itu Ibuku? Apa Itu Ibuku? Ibu meninggal?!" Crystal berlari dan menarik tangan salah seorang pelayan. Matanya sudah mengembun.


"N-Nona Muda." Mereka saling pandang ragu.


"Ada apa ini?" Toby datang dengan membawa piring berisi potongan buah.


"Paman … aku mendengar berita, Ibuku meninggal. Apa itu benar, Paman?" Crystal berlari pada Toby.

__ADS_1


Deg!


Toby terkejut mendengar. Langsung melempar pandangan tajam ke arah beberapa pelayan itu.


"Paman apa itu benar? Paman jawab, huwahh … huwahh … Paman apa itu benar, hiks … hiks …." Tangis Crystal pecah seketika.


Toby meletakkan piring di meja yang dapat ia jangkau. Kemudian mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan kristal.


"Paman … apa itu benar?"tanya Crystal sekali lagi, dengan mata yang benar-benar merah.


Toby tersenyum kecut. Tidak menjawab dan memeluk Crystal.


Crystal diam beberapa saat. Hanya sebentar untuk mencerna senyum itu. Dan tangisnya kembali pecah. Jauh lebih histeris daripada sebelumnya.


Para pelayan menunduk, merasa bersalah dan juga sedih melihat Crystal. Tangisnya, begitu menyayat hati mereka.


"Crystal!"panggil Andrean setelah tiba di istana dan menyaksikan pemandangan itu.


Segera, Andrean membawa Crystal dalam pelukannya. "A-Ayah!" Kembali tumpah tangisnya dalam pelukan Andrean.


"Jangan menangis," bisik Andrean, seraya menepuk-nepuk bahu Crystal.


"A-ayah … ibu … ibu …."


"Sttt …." Tangis Crystal sedikit mereda. Hanya sedikit.


"Ke rumah duka."


*


*


*


Rumah duka atau rumah persemayaman tampak lenggang. Acara pemakaman telah selesai. Hanya tinggal beberapa pelayat yang tinggal.


"Andrean." Nyonya Liang yang menyadari kehadiran Andrean. Tuan Liang menoleh. Keduanya menggunakan pakaian hitam.


"Crystal." Tuan Liang bangkit.


"Turut berduka cita untuk kalian," ucap Andrean datar.


"Dia tidur?"tanya Tuan Liang, menatap Crystal yang terlelap dalam gendongan Andrean.


"Tidur setelah menangis."


"Lebih baik tidurkan di sini saja," ujar Nyonya Liang, menunjuk sebuah kasur yang diperuntukkan untuk keluarga duka. Andrean membaringkan Crystal di sana.


"Apa dia bunuh diri?"tanya Andrean, dengan nada pelan.


Nyonya Liang menggeleng. "Dia … terkena kanker serviks. Sudah stadium 3 dan tidak mampu bertahan," jawab Nyonya Liang, menyeka sudut matanya.


Andrean terkesiap sesaat.


Kanker serviks?


Penyakit yang tak heran jika dideritanya, batin Andrean dalam hati, mengingat kelakuan Rose di luar sana.


"Andrean, dia sudah pergi, apakah kau bisa memaafkan dan melupakan kesalahan yang perbuat?"tanya Nyonya Liang, pelan nyaris berbisik.


"Dia … sudah tidak ada urusannya denganku lagi, melainkan dengan putriku," balas Andrean.


Nyonya Liang tidak menjawabnya. Tuan Liang menghela nafasnya.


Kemarin sore, ia dan sang istri dikejutkan dengan kabar dari kantor polisi yang mengatakan bahwa Rose masuk rumah sakit dan menderita kanker serviks stadium 3. Keduanya, sontak langsung terbang ke Beijing. Dion tidak ikut. Dengan tegas, mengatakan tidak ingin ada hubungan apapun dengan Rose Liang. Tuan dan Nyonya Liang tidak bisa memaksa.


Ayah … Ibu, maafkan aku. Aku tidak pantas menjadi anak kalian.


Ayah, Ibu, ini sangat menyakitkan. Aku tidak tahan lagi.


A-aku boleh meminta sesuatu?


Tolong … katakan pada putriku, ibunya yang hina ini meminta maaf dan memohon ampun. Aku yang tidak pantas dipanggil Ibu ini, berharap dia bisa memaafkanku.


S-serta pada Andrean, Jasmine, dan juga Dion, maaf … maafkan aku ….


A-aku sudah tidak tahan lagi…..


Tuan Liang memejamkan matanya saat mengingat malam Rose pergi.

__ADS_1


"Hah!"


__ADS_2