Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 218


__ADS_3

Acara pengambilan foto pernikahan dan foto keluarga telah selesai. Tinggal menunggu hasilnya keluar. Dan karena fotografer itu bekerja di bawah Shane Group, maka tidak butuh waktu lama untuk mencetak foto.


Andrean menatap puas foto pernikahan dengan Camelia. Itu tidak akan dipajang di kamar Camelia, melainkan akan ia bawa kembali ke Cina untuk dipajang di kamarnya.


Namun, bukan berarti Camelia tidak memiliki foto pernikahannya dengan Andrean. Camelia tetap membawanya, hanya saja akan ia letakkan di atas nakas, bukan digantung di dinding. Begitu juga dengan foto keluarga itu.


Waktu yang tersisa sebelum Andrean kembali ke Cina dimanfaatkan sebaik mungkin. Mengisinya dengan kenangan yang indah.


Satu hari sebelum Andrean pula, Camelia sama sekali tidak melangkah kakinya keluar dari kediaman Shane. Ia tidak keluar ke manapun. Menghabiskan waktunya bersama dengan Andrean dan anak-anak.


Keluarga itu, keluarga kecil yang sangat bahagia. Namun, dibaliknya ada yang merasa pedih dan terharu melihat kebahagiaan itu. Mereka tak lain adalah Tuan dan Nyonya Shane.


Terharu karena melihat Camelia benar-benar mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan. Suami yang mencintainya juga anak-anak yang luar biasa. Senyum yang ditampilkan benar-benar lepas, bukan karena sandiwara.


Dan perih, saat melihat melihat bayangan yang sama, masa lalu Camelia dan Chris. Kegiatan yang sama, dengan suami yang berbeda, tentu suasana berbeda.


Tapi, di luar dua hal tersebut, mereka sangat bahagia untuk Camelia.


*


*


*


Di hari terakhir Andrean di kediaman Shane, Lucas dan Liam menjadi nakal kembali. Pagi buta, sebelum Andrean dan Camelia bangun, keduanya menyusup ke kamar.


Mengambil beberapa barang Andrean lalu keluar. Alhasil pada saat Andrean hendak packing, ia kebingungan dengan beberapa barangnya yang tidak ada. Dan itu adalah barang yang cukup penting. Laptop dan beberapa berkas.


Tidak yakin dicuri. Masa cuma ambil itu doang. Camelia mengernyitkan dahinya. Memikirkan kemungkinan yang terjadi. Kemudian ke ruang cctv.


"Liam!" Camelia menyebut satu nama. Kemudian menghela nafasnya pelan.


"Itu hanya disembunyikan, Sayang," ujar Camelia.


"But, untuk apa?"tanya Andrean, tidak mengerti. Camelia mendengus sebal.


"Menunda, atau memperlambat kepulanganmu," jawab Camelia. Ia kembali menghela nafasnya.


"Mereka tidak ingin aku pulang?" Andrean menunjuk dirinya sendiri.


"Hm."


Meskipun terlihat santai, kedua anak itu tidak ingin Andrean pulang secepatnya ini. Mereka memang paham mengapa Andrean harus segera kembali ke China. . Namun, kali ini mengesampingkan hal itu. Mereka merasa, beberapa hari itu belum cukup. Apalagi dengan Andrean yang sudah benar-benar menjadi ayah mereka. Meskipun kelak dunia hanya akan mengenal Andrean sebagai ayah sambung.


"Kau, habiskan waktu dengan mereka. Bujuk dan katakan apa saja agar mereka mengembalikan barang-barangmu," suruh Camelia.


"Akan berhasil?"


"Coba saja!"sahut Camelia. Kali ini ia tidak ingin membantu. Ia meninggalkan ruang cctv, menuju dapur.


*


*


*


Kini, Andrean dalam perjalanan menuju kamar Lucas dan Liam. Dalam perjalanan itu, ia memikirkan cara apa yang akan digunakan untuk membujuk kedua anak laki-lakinya itu. Berkas-berkas itu sangatlah penting, begitu dengan dengan laptopnya.


Tok


Tok


Cukup lama pintu kamar itu dibuka. "Eh, Ayah. Masuk, Yah." Lucas yang membuka pintu. Liam tampak tiduran di ranjang, dengan televisi yang menyala. Menayangkan kartun anak-anak.


"Kalian sedang apa?"tanya Andrean.


"Nggak ada kegiatan sih, cuma tiduran," jawab Lucas.


"Hari ini Ayah akan pulang ke China."


"Kami tahu. Lalu apa Ayah sudah siap packing?"tanya Lucas. Dengan polos menatap Andrean. Liam melirik sekilas.


"Sudah. Tapi, ada yang hilang," jawab Andrean. Ia mencari perubahan ekspresi Lucas dan Liam.


Raut wajah keduanya datar. "Apa ada pencuri?" Cctv sudah dicek?" Liam bertanya.


"Lebih tepatnya orang iseng," ralat Andrean.

__ADS_1


"Lucas, Liam."


Lucas dan Liam menatap Andrean dengan alis mengernyit. "Maksud Ayah, kami?"tunjuk Lucas pada dirinya sendiri dan Liam.


"So, who? Rekaman cctv dihapus dan hanya kalian berdua yang berani masuk ke dalam kamar Mom kalian, bukan?"


"But, apa alasannya kami melakukan hal itu, Ayah? Ya, ada sih. Data perusahaan Ayah bisa kami jual." Liam sedikit menyeringai.


"Ayah tahu, kalian tidak Ayah pulang secepat ini. Namun, Ayah tidak bisa mengabaikan pekerjaan Ayah, Nak. Ayah mohon, kembalikan barang-barang Ayah, okay?"ucap Andrean to the point.


Lucas dan Liam saling pandang. "Ini tidak adil!"ucap Liam.


"Atas dasar apa Ayah menuduh kami?"marah Liam kemudian.


"Jangan-jangan Ayah yang menyembunyikan sendiri lalu menuduh kami. Ayahkan nggak mau pulang ke China secepat ini," tuduh balik Liam. Matanya merah.


Andrean terkejut. "Mau pulang ya pulang saja. Untuk apa buat drama? Mudah dibaca lagi, huh!"cibir Liam lagi.


"Iya, apa untungnya juga? Mom pasti akan marah besar jika kami melakukan hal itu," imbuh Lucas.


Kilahan mereka terdengar masuk akal. Andrean hampir goyah. Namun, ia percaya dengan Camelia. "Atau bisa saja Mom yang melakukannya," ucap Liam. Ia sudah melemparkan tuduhan pada dua orang, Andrean sendiri dan juga Camelia.


"Begini saja. Ayah akan rajin mengunjungi kalian. Setiap bulan, bagaimana? Ayah akan transfer berapapun yang kalian minta. Ayah akan kirim barang hadiah untuk kalian. Atau jika memang Ayah tidak sempat, kalian saja yang datang ke China, mengunjungi Ayah, bagaimana? Tapi, Ayah mohon kembalikan barang-barang, Ayah, okay?"bujuk Andrean lagi. Ia merayu kedua anaknya.


"Ya ya, mau ya?" Andrean memelas.


"Kan sudah kami katakan bukan kami, Yah!"keluh Lucas.


"Mom kali," ucapnya lagi, mengulang tuduhan yang sama seperti Liam.


"Atau bisa saja Kakek Buyut," tuduh Lucas.


Andrean memijat pelipisnya. "Mengapa tidak kalian sebut saja semuanya?" Mulai kesal.


"Ayah marah?"


"Barang-barang itu sangat penting. Jika jatuh ke tangan yang salah, Ayah kalian ini akan tamat!"tegas Andrean. Andrean tidak tahu harus membujuk dengan cara apa lagi. Bahkan saat panah terbaik dilepas, kedua anaknya tidak bergerak.


"Ayah janji! Katakan apa saja, akan Ayah turuti!"ucap Andrean. Ia pasrah. Matanya begitu memelas.


Dari mana Ayah belajar ekspresi seperti itu?pikir Lucas.


"Bukan kami. Itu Mom!"ucap Liam.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Camelia masuk dengan bersedekap tangan. "Aigo, berani sekali kalian menuduh Mom!"ketus Camelia dengan menatap tajam Lucas dan Liam.


"M-Mom?!"


Camelia mendekati kedua anaknya.


"Auh! Mom!"pekik keduanya, saat telinga keduanya dijewer oleh Camelia. "Pandai sekali kalian mencari kambing hitam, ya? Jika benar Mom, katakan dimana Mom menyembunyikan barang-barang itu!"tantang Camelia.


"Mom, hurt! Telinga Lucas bisa lepas," rintih Lucas.


"M-mana kami tahu, Mom," jawab Liam, ia meringis.


"Oh? Tidak tahu, ya?"


Camelia melepas jewerannya. Kedua anak itu tidak akan mengaku dengan mudah. Harus mengeluarkan kartu as nya.


Lucas dan Liam mengusap telinga mereka. Andrean menelan ludah kasar. Ia refleks ikut mengusap telinganya.


"Sudah-sudah. Berikan saja barangnya. Lihat, sudah mendung. Nanti Mom ajak kalian makan burger," ucap Camelia, lebih tepatnya memberi perintah.


"Burger?!" Keduanya berseru. Langsung sumringah. Dan kemudian berunding.


"Okay! But, Ayah harus turuti kami dulu!"ucap Lucas, bernegosiasi. Akhirnya, keduanya mengaku secara tidak langsung.


"Itu urusan kalian," ucap Camelia, kemudian keluar dari kamar.


Camelia tersenyum puas. Makanan junk food itu adalah kartu as nya.


Andrean terdiam. "Semudah itu?"


"Ayah …."

__ADS_1


Andrean menoleh. Entah mengapa, ia merinding seketika.


*


*


*


"ASTAGA!" Camelia terlonjak kaget. Matanya membulat sempurna.


"Ada apa dengan wajahmu?"tanya Camelia.


"Tidak apa," jawab Andrean, ia menunjukkan laptop dan berkas yang sudah di tangan.


"Ayo letakkan itu." Lucas dan Liam benar-benar jahil. Mereka kembali merias wajah Andrean sesuka hati. Bertambah tampan tidak, absurd iya.


Setelah Andrean meletakkan barang-barang itu, Camelia menarik Andrean ke kamar mandi, untuk membersihkan make up yang super menor itu.


"Hei?!" Camelia memekik. Andrean tiba-tiba memeluk pinggangnya dan menyalakan shower. "What is this? Matikan, Sayang. Bajuku basah!"protes Camelia.


"Bukankah ini romantis?"bisik Andrean. Camelia melotot. Ia paham maksud Andrean. Bibirnya ingin mengeluarkan protes. Namun, sudah dibungkam oleh Andrean.


*


*


*


Barang sudah dipacking. Camelia memasangkan dasi sebagai sentuhan terakhir pada penampilan Andrean. "Aku akan sangat merindukan moment ini," ucap Andrean, mendaratkan kecupan pada dahi Camelia.


Camelia tersipu.


"Tunggulah saat aku akan melakukan hal ini setiap hari untukmu," balas Vameia.


"Aku selalu menunggumu, Lia."


"Ada yang ingin aku katakan," ujar Camelia, setelah diam beberapa saat.


"Ya?" Camelia mengalungkan kedua tangannya pada leher Andrean.


"Pernikahan sesungguhnya, bagaimana jika di akhir musim panas?"tanya Camelia.


Andrean terbelalak.


"Ahhh!" Andrean tiba-tiba menggendong dirinya dan bergerak memutar. Tak cukup sampai di sana, setelah berhenti Andrean mendaratkan ciuman pada Camelia.


"Aku akan mulai persiapannya dari sekarang!"ucap Andrean. Ia sangat senang dengan keputusan itu.


Camelia mengangguk.


"But." Andrean mengernyit. "Apakah bisa?" Ia ragu.


"Tentu saja," jawab Camelia.


"Batasan untukku bisa menikah lagi adalah satu tahun setelah kepergian Chris. Perusahaan sudah aman. Sementara keluargaku, aku pikir tidak ada masalah. Karena, jika tidak, mereka pasti tidak akan menyetujui bahkan membantu kita membuat surat nikah," jelas Camelia.


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu," puji Andrean. Camelia tersenyum lebar.


*


*


*


Pada akhirnya, tawaran Tuan dan Nyonya Shane pada Kakek Gong beberapa hari yang lalu ditolak. Kakek Gong memutuskan untuk ikut pulang Andrean ke China.


Tinggal bersama dengan cicit memang menyenangkan. Namun, setelah tahu kesibukan Lucas dan Liam, juga ia yang akan jauh dari kampung halaman, Kakek Gong memilih tetap pulang dan kembali ke Shanghai.


Andrean memang sudah kepala keluarga. Namun, ia sama sekali tidak tinggal di kediaman lama. Kakek Gong harus tetap di sana untuk menjaga kestabilan keluarga Gong.


Keluarga Shane tidak ikut ke bandara. Mereka mengantar kepulangan Andrean, Kakek Gong, dan Crystal dari kediaman saja. Karena, akan ada resiko jika diantar sampai bandara.


"Ayah, jangan lupa semua janji Ayah tadi!"ucap Lucas.


"Janji?"


"Ya, yang tadi. Datang berkunjung setiap 1 bulan sekali. Lalu hadiah, dan jangan lupa transfer ya, Ayah!"

__ADS_1


Andrean mendengus pelan. Kedua anaknya memang licik.


"Baiklah. Ayah janji!"jawab Andrean.


__ADS_2