
"Jaga dirimu dan anak-anak. Maaf aku tidak bisa menemani dan menjaga kalian untuk sementara waktu ini," ucap Dion pada Camelia, sebelum Camelia naik dan masuk ke dalam pesawat. Camelia tersenyum, menyentuh pundak kanan Dion.
"Kau juga jaga dirimu. Jangan macam-macam saat tidak akan yang mengawasimu! Fokus dan selesaikan dengan baik tugas-tugas yang Daddy berikan, setelah itu kita bisa kembali berkumpul, atau kita sudah akan pulang ke Kanada," pesan Camelia yang diangguki oleh Dion.
"Sudah hampir gelap. Kakak berangkat pulang ke Shanghai, okay?"pamit Camelia, menepuk lembut pundak Dion beberapa kali.
"Hubungi aku jika sudah landing," balas Dion.
Camelia mengangguk. Segera naik ke pesawat dengan menarik kopernya. Dion melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Camelia.
Tak butuh waktu lama, pesawat pribadi keluarga Shane itu sudah mengudara. Dion menatapnya sampai pesawat itu semakin jauh dan semakin kecil di matanya.
Dion lalu mengedarkan pandangnya ke arah lapangan parkir pesawat. Setelah ada yang take off, tak berselang lama ada yang landing. Ya begitulah keseharian bandara dengan taraf internasional ini, sibuk.
Gurat jingga sungguh mempesona di Cakrawala. Dion melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil perusahaan. Karena mobil yang digunakan Camelia pasti ikut pulang ke Beijing.
Di dalam mobilnya, Dion mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Sekretaris Hans di sini."
"Hallo, Sekretaris Hans. Bisa berikan ponselnya pada Tuan Anda?!" Itu lebih kepada perintah ketimbang pinta.
Dion mendengar suara bisik-bisik. Ia yakin Hans tengah menyampaikan apa yang ia katakan pada Andrean. Tak berselang lama terdengar suara Andrean menyapa pendengaran Dion, "ya, ini aku."
"Hai, Tuan Gong." Dion menarik senyum miring.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?"tanya Andrean, dengan nada dinginnya.
"Tuan Gong …." Dion sengaja menjeda ucapannya.
"Ya?" Andrean menyahut di sana.
"Dalam waktu berdekatan kau mengusik ketenangan keluargaku."
"Aku tidak mengerti apa yang katakan!"ucap Andrean. Dion mendengus senyum, dan kemudian berdecak.
"Cukup dengarkan apa yang saya katakan, masalah mengerti atau tidak, itu bukan urusan saya. But, untuk seukuran IQ seperti Anda, yang ada hanya pura-pura tidak mengerti," balas Dion dengan sarkas. Tatapannya lurus ke depan, matanya mengerjap pada temponya. Dion tidak membalas ucapan Dion.
"Apa karena kami bertindak wajar Anda tidak merasa itu sebuah peringatan? Apa karena Anda melihat kami fear-fear saja, Anda mengulanginya lagi?"lanjut Dion.
"Tuan Gong … kau salah. Awalnya kami enggan berhubungan dengan Anda. Namun Anda seakan mencari perhatian kakakku. Tch!!"
"Tuan Gong, Anda sudah punya tunangan dan anak. Jangan libatkan Kakakku dalam hal apapun yang berurusan dengan Anda, kecuali atas dasar kontrak yang disetujui oleh kedua belah pihak. Tindakan Anda kemarin, sungguh tidak mencerminkan seorang Presdir perusahaan besar." Dion memberi kritikan.
Dion menghela nafas kasar. "Tuan Gong, kakakku bukan seorang kelinci yang dapat Anda arahkan seperti kau mau. Dan Anda sepertinya melupakan apa latar belakang keluarga kami! Lebih baik Anda segera menjauh demi keselamatan diri Anda!" Dion memberikan peringatan.
"Ah satu lagi, mungkin Anda akan menerima doorprize tak lama lagi," imbuh Dion sebelum menutup panggilannya secara sepihak.
Aku sudah memberimu peringatan. Jika kau tidak jera juga, well. Maybe kursi yang kau duduki itu akan jatuh! Mata Dion berkilat tajam sebelum akhirnya Dion melajukan mobil keluar dari area bandara.
*
*
__ADS_1
*
Andrean melempar pandang ke arah jendela, menatap keluar jendela pesawat. Ia baru saja duduk di pesawat dan menerima telepon dari Dion yang intinya memperingati dan mengingatkannya untuk tidak menyinggung Camelia lagi. Hans merasa Tuannya tengah dalam perasaan yang rumit. Hans mendengar dengan jelas dan lengkap apa yang Dion katakan karena percakapan itu di loudspeaker.
Hans memilih untuk menjaga jarak sesaat dengan Andrean. Hans mengambil tempat duduk yang agak jauh dari Andrean. Tak berselang lama, pramugari mengatakan pesawat akan lepas landas.
Andrean masih pada posisinya. "Mencari perhatian?"gumam Andrean. Jika diingat kembali, apa yang ia lakukan dengan melibatkan Camelia, memang seakan dan benar mencari perhatian Camelia agar tertuju padanya. Agar ada kesempatan untuk berbicara. Agar ada kesempatan untuk berdiri berdampingan.
Alasannya?
Itulah yang Andrean tidak mengerti. Ia sadar ia seperti tengah mengajar Camelia. Tapi, alasannya juga ia tidak tahu.
Yang Dion katakan juga tidak ada yang salah. Ia sudah bertunangan dan memiliki anak. Jika ia bersikap demikian kepada Camelia, itu akan membuat kedua belah pihak buruk.
Dan yang akan diuntungkan adalah Rose. Karena klisenya, akan tampak Rose yang teraniaya, sementara Andrean dan Camelia akan dicap sebagai penganiaya.
Andrean dan Camelia akan dianggap menjalin sebuah hubungan dan itu buruk untuk status Andrean yang memiliki seorang tunangan. Begitu juga Camelia yang akan dianggap sebagai perebut tunangan orang lain dan seorang janda penggoda. Satu dua kali masih mendapat respon positif, bagaimana jika seterusnya? Pasti akan terjadi hal seperti yang di atas bukan?
"Hans," panggil Andrean.
"Saya, Tuan!" Hans datang dengan cepat.
"Batalkan konferensi pers itu!"ucap Andrean.
"Konferensi pers untuk Anda mengumumkan pemutusan hubungan dengan Nona Rose, Tuan?"tanya Hans memastikan.
"Hm." Hans terkesiap sesaat kemudian segera mengangguk. Hans kembali ke tempat duduknya setelah Andrean mengibaskan tangannya.
Jika aku memutuskan Rose yang karena alasan tidak menemukan kecocokan dengannya, Camelia bisa menjadi sasaran publik. Aku harus mencari alasan dan bukti yang kuat untuk bisa memutuskannya tanpa melibatkan siapapun!
Selain itu, jika aku putus dengan Rose sekarang, bagaimana dengan Crystal? Kakek mau hak asuh Crystal pada keluarga Gong, itu bukan hal yang sulit. Tapi, apakah Camelia mau menerima Crystal? Dan kedua anak itu, aku harus memikirkan cara agar mereka dekat!
Tapi ….
Pandangan Andrean kembali tertuju pada jendela pesawat yang telah mengudara.
Keluarganya memang tidak mudah, dan mungkin sangat sulit.
Dan aku harus mencari tahu dan memastikan, apa yang membuatku mengejarnya. Apa karena dia punya anak yang mirip denganku?
Penerbangan yang dipenuhi dengan dilema hati Andrean, membuat Hans ketar-ketir sendiri.
Dan Andrean, sepertinya melupakan kalimat terakhir Dion. Doorprize, apa yang akan Dion berikan?
*
*
*
Pukul 19.15, Camelia tiba di Beijing. Ia tetap berada di dalam pesawat, menunggu mobil keluar dari cargo. Selagi menunggu, Camelia membuka media sosial instagramnya.
__ADS_1
Beragam komentar atas postingan terakhirnya. Ada yang memuji kecantikannya dalam balutan busana pernikahan china. Merah, warna yang penuh pesona, mewah, dan dianggap penuh dengan kebahagian, ada banyak kebaikannya di dalamnya.
Ada juga yang menanyakan kapan Camelia akan kembali ke Kanada. Kabar Camelia dan yang ikut dengannya ke Beijing, juga semangat. Ada juga yang mengkritik dirinya atas peran pengganti yang ia terima. Namun, biar begitu kritikan itu sifatnya membangun. Akun yang berkomentar itu juga memberikan ucapan semangat untuk Camelia.
"Nona, mobil sudah turun," ucap pramugari. Camelia mengangguk. Saat hendak menyimpan ponselnya, Camelia teringat ia belum menghubungi Dion. Camelia turun dengan menyeret kopernya sembari menghubungi Dion.
Seorang petugas bandara membantunya memasukkan koper ke bagasi.
"Kakak sudah tiba dan baru saja turun dari pesawat."
"Iya. Kakak tahu. Kau juga jaga dirimu! Aku tidak mau mendengar kabar miring tentangmu di sana!"
"Hm. Dahh."
Camelia tersenyum dan menyimpan ponselnya.
"Thank you," ucap Camelia pada petugas yang membantunya tadi sebelum masuk ke dalam mobil kemudian mengemudi pulang.
Perjalanan pulang ke apartemen memakan waktu cukup lama. Jalanan cukup padat. Kak Abi sudah menghubunginya sebanyak tiga kali setelah meninggalkan bandara. Untung saja ia menggunakan earphone, jadi tidak terganggu menerima panggilan secara berkala. Dan juga ponsel bisa berhubung dengan fitur panggilan pada mobil.
"Iya, Kak. Aku sudah di basement," jawab Camelia saat menerima panggilan ke empat dari Kak Abi.
"Iya, aku juga sudah lapar. Tunggu sebentar, aku akan segera tiba di atas," ujar Camelia, masuk ke dalam lift khusus penghuni lantai apartement unitnya.
Camelia menghela nafas pelan. Tak menunggu waktu lama, Camelia tiba di lantai apartemennya. Hanya saja, saat melangkahkan kaki keluar lift, seseorang menyiramnya dengan sesuatu yang baunya sungguh busuk. Dan itu mengotori pakaiannya yang berwarna putih, pakaian dari brand ternama.
Camelia yang tercengang sesaat, lalu melihat siapa yang menyiramnya. Itu Rose yang tersenyum puas melihatnya kotor.
"Apa yang kau lakukan, Nona Rose?!"geram Camelia. Ia sudah lapar dan lelah. Ingin makan malam lalu tidur, mengapa nenek lampir itu mengusiknya? Dan cairan yang disiramkan padanya itu seperti telur busuk yang telah dikocok. Perut Camelia sungguh mual.
"Kau bau." Rose menutup hidungnya. Matanya memancarkan sebuah ejekan, tatapan menghina pada Camelia.
"Oh, God!"
Camelia bukan wanita lemah. Segera ia melepaskan koper dan juga tasnya. Camelia melangkah mendekati Rose.
"M-mau apa kau?" Rose tampak tegang dan gugup. Tatapan Camelia sungguh mengerikan baginya. Rose hendak lari. Tapi, tangannya sudah ditahan oleh Camelia.
"Anda mengotori pakaian saya. Pakaian Anda juga harus kotor. Ini tidak bau dibandingkan dengan Anda." Camelia mendekap Rose dalam peluknya. Camelia meronta dan meminta tolong. Sayang, Camelia membekap Rose agar tidak ribut. Tenaga Rose tidak sebanding dengan tenaga Camelia.
Rose membelalakan matanya. Bau telur busuk sungguh membuatnya mual, ingin muntah, kepalanya juga sangat pusing. Matanya berair. Setelah puas, Camelia melepas dekapannya. Dan Rose terduduk di lantai. Camelia bersedekap dada.
"Jika Anda ingin melampiaskan kekesalan bukan terhadap saya."
"Kau wanita penggoda sialan! Janda sialan! Kau mencuri peranku!!"hardik Rose.
"Tck!! Mencuri peran? Bukankah kau juga punya peran sendiri? Penggoda? Hei untuk apa aku menggoda tunanganmu? Justru harusnya kau berkelakuan baik agar tidak dipecat menjadi calon menantu keluarga Gong," cibir Camelia. Camelia lalu berjongkok dan meremas dagu Rose.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan mencari masalah denganku! Tindakanmu ini, ckck kekanak-kanakan, murahan, rendahan, dan tidak berguna." Lalu Camelia melepaskan kasar remasannya.
Camelia lalu kembali mengambil koper dan tasnya. "Jangan lupa ganti rugi pakaian yang telah Anda rusak ini, Nona Rose!"ucap Camelia sebelum melangkah menuju unit apartemennya.
Rose mengeram kesal, "sialan!"
__ADS_1