Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 86


__ADS_3

Kini, disinilah Camelia dan Dion berada, di kantor polisi, tempat Rose dan Jordan ditahan. Camelia dan Dion disambut oleh seorang polisi yang menanyakan kepentingan Camelia.


Camelia melepas kacamatanya. "Saya ingin membuat pengaduan," jawab Camelia, mengutarakan maksud kedatangannya.


"Pengaduan? Silahkan ikuti saya, Nona, Tuan," ujar polisi tersebut, membawa Camelia dan Dion ke meja pengaduan.


"Anda ingin membuat pengaduan tentang hal apa, Nona?"tanya polisi yang menangani bagian pengaduan. Camelia meletakkan tasnya di meja.


"Percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Rose Liang kepada saya," jawab Camelia datar.


"Hah?" Posisi tersebut terkejut dengan apa yang Camelia katakan.


"Rose Liang yang Anda maksud apakah artis Rose Liang?"tanya polisi tersebut memastikan setelah bertukar pandang dengan rekannya. Camelia mengangguk.


Kasus sebelumnya saja belum selesai, ditambah lagi dengan pengaduan ini. Ckckck mau kasihan tapi keterlaluan!batin polisi tersebut.


"Jika begitu silahkan diisi formulirnya kemudian apakah Anda ada bukti untuk mendukung pengaduan Anda? Tidak ada kami akan sulit untuk melakukan penyelidikan," ujar polisi tersebut seraya menyodorkan kertas formulir pada Camelia.


Lagi, Camelia mengangguk. Tak berselang lama, tiga orang pria masuk. Dua pria berseragam hitam mengapit seorang pria yang wajahnya penuh dengan lebam dan pria itu tetap menunduk. "Pria itu adalah bukti dan saksi hidup atas pengaduan saya."


"Ah?"


Benar-benar memiliki persiapan. Sebenarnya apa latar belakang Nona ini?


"Baiklah, Nona. Akan melakukan penyelidikan dan memproses sesuai dengan hukum yang berlaku," jawab polisi itu kemudian. Camelia kembali mengangguk.


Polisi tersebut kemudian menyuruh rekannya untuk membawa pergi pria berwajah lebam itu. Kedua pria berseragam itu pun kemudian keluar dari ruangan. "Saya ingin berbicara dengan Rose Liang," ucap Camelia. Selain untuk mengadukan Rose, kedatangan Camelia kantor polisi juga untuk menjenguk adiknya itu.


*


*


*


"Kau?! Mau apa kau kemari? Mau mengejekku, hah?" Ketika melihat Camelia dan Dion lah yang menjenguknya, Rose langsung murka. Andai saja ruang jenguk ingin tidak dibatasi dinding kaca, pasti Rose sudah menyerang Camelia.


Camelia tersenyum miring. Menikmati wajah merah padam Rose di depannya. Wanita di depannya itu tampak sangat kacau.


Sementara Dion, diam tidak berekspresi dengan tangan melipat di dada.


"Kedatanganku kemari untuk mengucapkan selamat tinggal padamu," jawab Camelia.

__ADS_1


"Sialan! Pasti kau yang melakukan semua ini, kan?! Kau pasti balas dendam padaku!"tunjuk Rose pada Camelia. Matanya menatap nyalang Camelia. Terlihat jelas kebencian yang begitu besar.


Camelia terkekeh. "Jika hanya balas dendam aku hanya akan mengirimmu ke ranjang pria tua. Sama seperti yang kau lakukan padaku. Tapi, ini bukan hanya balas dendam, aku akan menghancurkanmu sampai kau tidak akan bisa bangkit lagi!"ucap Camelia kemudian dengan nada dingin dan penuh penekanan.


Membalas dengan cara yang sama itu bukan balas dendam. Malah akan menjadi sebaliknya.


"Jasmine, kau benar-benar kejam! Sialan, beraninya kau melakukan ini semua padaku!! Akan aku adukan kau dan kau juga, adik sialan pada ayah dan ibu!!"


Ya, sepertinya wanita itu sudah gila. Bicaranya saya mulai melantur.


Mendengar Rose menyeret nama ayah dan ibunya, Dion langsung menatap tajam Rose. Sementara Camelia, ia melebarkan senyumnya seraya menggeleng.


"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Nona Rose. Aku, bukan Jasmine. Aku adalah Camelia. Dan satu lagi, meskipun kau mengadu ada ayah dan ibu, tidak akan mengubah apapun!"


"Ayah dan ibu tahu kau yang membuatku jadi seperti ini, mereka pasti akan sangat membencimu lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi, sekarang keluarkan aku dari penjara sialan ini!"


"OMG!" Dion mendengus. "Apa kau tidak tahu posisimu sekarang?"tanyanya sinis.


"Lagipula, bukan kami yang melaporkanmu, bagaimana bisa kami melepaskanmu? Selain itu, masalahmu sudah tercium ratusan kilometer, bahkan sudah sampai luar negeri. Sekalipun kau keluar dari sel ini, hidupmu akan benar-benar menyedihkan!!"ungkap Dion. Ia berkata dengan sarkas.


Rose mengeram. Ia tidak terima. Tapi, apa yang dikatakan Dion tidaklah salah.


"Apa kau tahu siapa kami?"tanya Camelia kemudian. Ia tahu, Rose sudah mengetahui identitasnya dahulu, sebagai Jasmine.


Mendengar itu, Dion tertawa lepas. Sedangkan Camelia menahan senyumnya.


Benar-benar menggelikan!!


"Astaga! Astaga! Apakah aku tidak salah dengar? Sejak kapan kita menjadi saudara? Hahaha, ini sangat menggelikan, Kak. Orang yang menyingkirkan kita menganggap kita sebagai saudaranya." Sangking merasa gelinya, air mata Dion sampai keluar.


"Sudahlah. Tidak perlu berusaha apapun lagi. Lebih baik kau diam menunggu putusan," saran Camelia.


"Aku pasti akan keluar dari sini dan membalas kalian!"desis Rose.


"Ah … aku lupa. Apa kau tidak heran mengapa aku bisa ada di hadapanmu?"tanya Camelia kemudian. Mendengar pertanyaan itu, Rose tertegun.


"Dan satu lagi, aku sudah melaporkanmu atas percobaan pembunuhan." Mata Rose melebar. Wajahnya pucat. Ia melupakan hal itu.


Tunggu!


Bagaimana bisa pembunuh yang aku utus tertangkap?

__ADS_1


"Aku tidak tahu apalagi yang harus aku katakan padamu. Entah apa salahku padamu hingga kau begitu membenciku. Jika kau tidak suka, kau bisa berkata terus terang agar aku pergi. Tapi, tindakanmu bermain curang itu sangat pengecut. Ingin aku mengeluarkan dan mencabut laporanmu? Maka itu hanya dalam mimpimu. Selain itu, dengan semua tuntutan padamu yang kau sendiri tahu kebenarannya, silahkan buat persen kemungkinanmu bebas. Jika tidak memungkinkan, kau bisa memilih jalan lain." Camelia berkata panjang lebar, mengatakan kekecewaannya seraya meletakkan sebuah amplop di atas meja dan menyodorkannya pada Rose.


Rose melihatnya. "Tapi, aku harap kau menghadapinya."


"T-tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua?"tanya Rose.


"Semua orang berhak memilikinya, bukan?" Ya mulai memainkan peran. Sayang tak berefek pada Camelia. Bahkan tatapan merendahkan Dion semakin menjadi.


"Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau meminta kesempatan kedua?"tanya Camelia tidak percaya.


Tidak waras atau "kau tidak punya otak dan hati?"


"Kesempatan keduamu telah musnah. Jangan pernah mengharapkannya. Kami kejam itu karenamu!"tegas Dion.


Camelia kemudian berdiri. "Aku sudah selesai. Ada yang ingin kau katakan padanya, Dion?"tanya Camelia pada adiknya.


"Tentu saja ada, Kak." Dion membungkuk, menatap tajam Rose.


"Terima kasih atas semua yang kau lakukan pada kakakku dan padaku. Semoga kau mendapat balasan yang setimpal atas semua perbuatanmu."


Kini, Rose benar-benar ketakutan. Wajahnya benar-benar pucat pasi.


"Dan selamat tinggal. Kami tidak akan mengganggumu lagi," ucap Dion.


"Ayo, Kak."


Dion menggandeng tangan Camelia meninggalkan ruang jenguk ini. Sementara Rose dibawa kembali ke selnya. Ia menyembunyikan amplop dari Camelia di balik baju tahanannya.


Setibanya di mobil, Camelia langsung minum. Nafasnya tampak tidak teratur. Dion langsung menggenggam tangan sang kakak. Ia tahu, berada di dalam sana, pasti kakaknya merasa tertekan. Camelia memejamkan matanya. "Sudah berakhir, bukan?"tanya Camelia lirih.


"Sudah, Kak. Sudah selesai. Mereka sudah mendapat balasan yang setimpal," jawab Dion.


"Apa kakak baik-baik saja?"tanya Dion, cemas dengan Camelia yang kini menunduk.


"Bagaimana bisa aku baik-baik saja setelah kejadian tadi malam?"balas Camelia, tetap menunduk.


Dion menarik sudut bibirnya. Ia tahu, kakaknya ini tampak kuat di luar namun rapuh di dalam. "Semua sudah berakhir, Kak. Tidak ada yang perlu kau cemaskan dan takutkan lagi," tutur Dion.


"Aku tahu. Namun, itu masih teringat," jawab Camelia dengan melempar pandang keluar.


Hah.

__ADS_1


"Ayo berangkat. Kita jenguk dan berpamitan pada ayah dan ibu," ujar Camelia yang diangguki oleh Dion.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Camelia kembali mengenang percobaan pembunuhan padanya tadi malam.


__ADS_2