Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 30


__ADS_3

Andrean menatap kepergian Lucas, Liam, dan Kak Abi dari jendela ruang kerjanya. Ia belum memberikan keputusannya atas apa yang disampaikan oleh Kak Abi seperti yang tertera pada bab di atas.  Andrean akan mempertimbangkannya lebih dulu, sebab ini juga menyangkut reputasinya. 


"Hans," panggilnya pada Hans yang sedang berkutat dengan tabletnya.


"Saya, Tuan Muda," jawab Hans, menatap Tuan Mudanya. 


"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku suruh?"tanya Hans, memalingkan wajahnya menatap Hans.


"B-belum, Tuan Muda. Tapi, saya akan segera menyelesaikannya. Serinci mungkin," jawab Hans, takut-takut. Andrean berdecak kesal. 


Bagaimana bisa saya mencari informasi tentang mereka padahal nama mereka saja tidak tahu, gumam Hans dalam hati. Ia merunduk dalam menerima tatapan dingin atasannya.


"Siang ini!"tegas Andrean, mengartikan informasi tentang Lucas dan Liam harus telah berada di mejanya siang nanti. Hans mengangguk menyanggupi.


Pria berkacamata mata itu lantas menunduk izin undur diri sedangkan Andrean kembali ke mejanya dengan perasaan gusar.


*


*


*


Tepat pukul jam 12.00, Hans menyerahkan laporannya atas biodata Lucas dan Liam. 


"Jadi, wanita tadi bukan ibunya." Hans mengangguk membenarkan. "Dia adalah manager Lucas dan Liam serta ibu keduanya," terang Hans.


"Ibu?" 


"Secara singkat, Lucas dan Liam adalah anak dari Camelia Shane dan Chris Shane. Mereka berdua adalah pasangan selebritis yang sangat terkenal dan dikagumi di Kanada. Selain itu, mereka berdua adalah cucu dari pengusaha besar asal Kanada, Shane Group. Agensi mereka juga agensi terbaik dan terbesar di Kanada. Dapat dikatakan, agensi mereka lebih bergengsi daripada agensi kita," papar Hans. Andrean mengangguk kecil.


Begitu ia membalik lembaran untuk melihat biodata Camelia dan Chris, Andrean terhenyak. 


"Wanita ini?" Andrean memejamkan matanya, mencoba menggali dan mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu dengan Camelia.


Sayangnya, Andrean penderita buta wajah akut. Bahkan tadi, jika ia tidak diberitahu oleh Hans, ia akan lupa dengan Lucas, Liam, dan Kak Abi. Andrean menggeleng pelan. 


"Tapi, mengapa marganya sama?"tanya Andrean.


"Beberapa keluarga terutama di bagian eropa dan amerika, menantu wanita menambahkan marga suaminya di belakang namanya, adalah suatu keharusan, Tuan Muda," jelas Hans. Andrean mengangguk. 


Andrean beralih menatap foto Chris. Pria yang tampan, kadar ketampanannya bisa dikatakan di atas dirinya. Tak heran jika dijuluki sebagai Kingdom Family, paras mereka begitu paripurna. Ditambah dengan latar belakang, tiada cela dalam keluarga kecil itu. 


Hans bergidik merasakan aura suram Andrean seakan tak puas dengan identitas Lucas dan Liam. Tidak ada cela. Akta lahir legal, nama ayah dan ibu tercantum jelas. Lagi akta nikah keduanya jelas dan pernikahan disaksikan oleh banyak saksi. Terlebih ada kemiripan Lucas, Liam, dan Chris. Tidak ada yang bisa diragukan. 


Apa Tuan Muda berharap kalau ibu Lucas dan Liam single mother dengan latar belakang biasa saja?

__ADS_1


"Tapi, di mana orang tua mereka? Mengapa harus managernya yang menemani keduanya kemari?" Andrean membuka laci dan menyimpan biodata di dalamnya.


"Ah saya rasa alasan mengunjungi makan leluhur sejalan dengan menata hati kembali mereka, karena Tuan Chris tewas beberapa waktu lalu akibat kecelakaan pesawat. Dari berita yang saya baca, mayat Tuan Chris tidak ditemukan."


Andrean menatap Hans, "sungguh?"


"Benar, Tuan Muda. Selain itu, Nyonya Shane akan menghadiri acara penghargaan dua hari lagi, sebagai tamu juga pembaca nominator yang akan memberikan tropi pada nominasi best female lead," jelas Hans.


Andrean mulai mengembangkan senyum. Ia sangat penasaran dengan rupa Camelia secara langsung.


"Atur tempat dudukku di dekatnya," titah Andrean tegas.


Hans mengangguk, dalam hatinya antara senang dan cemas melihat Tuan Mudanya akhirnya menemukan atau tertarik pada sesuatu.


"Ah ya, Tuan Muda, bagaimana dengan Nona Rose?"


"Wanita jelek itu?" 


"Di mana dia sekarang?"


"Sudah kembali ke villa," jawab Hans.


"Kemampuan adalah tolak ukur seseorang pantas atau tidaknya menerima penghargaan. Artis yang berada di naungan agensi mendapatkan penghargaan karena memang pantas dan bisa mempertanggungjawabkan atas penghargaan bukan karena orang dalam dan suap!"tegas Andrean.


"Saya mengerti, Tuan Muda." 


*


*


*


Dua hari kemudian, gedung tempat acara penghargaan dilangsungkan sudah ramai akan publik figur yang masuk ke dalam nominasi penghargaan. Saat ini adalah acara red carpet.


Hingga sebuah alphard hitam menyita perhatian wartawan dan beberapa publik figur yang masih berada di area red carpet. Terlebih saat pintu terbuka dan seorang wanita dengan gaun putih dan rambut disanggul, turun dan melangkah dengan langkah tegas melalui red carpet. 


"Dia tamu khusus acara ini," bisik salah seorang wartawan.


Mereka langsung terikat akan postingan pihak penyelenggara acara, akan hadir seorang artis ternama asal Kanada. 


Camelia tersenyum, melambai dan menyapa para wartawan kemudian berlalu masuk. Walau red carpetnya sangat singkat, itu menimbulkan kesan mendalam. Kecantikan, keanggunan, ketenangan, tatapan teduh nan berwibawa, tak heran jika dijuluki Queen of Film.  


Tak lama setelahnya, sebuah mobil yang juga menarik perhatian besar pada wartawan adalah kedatangan Andrean dan seorang wanita yang merangkul lengannya, Rose Liang.


Rose tersenyum lebar. Andrean setia dengan wajah datarnya. Hanya beberapa pose, mereka langsung masuk ke dalam gedung di mana acara penyerahan akan dilangsungkan sebentar lagi.

__ADS_1


"Nyonya Shane, selamat datang di acara sederhana kami ini," sapa kepala penyelenggaraan acara pada Camelia. 


"Anda terlalu merendah, Tuan Lin," jawab Camelia tersenyum.


"Kami merasa sangat beruntung Anda bersedia menerima undangan kami," ucap kepala penyelenggara lagi.


"Anda terlalu sungkan, Tuan Lin. Saya yang harusnya merasa terhormat karena artis kecil ini mendapat kesempatan untuk memberikan tropi penghargaan untuk nominasi terpilih nantinya," jawab Camelia, sopan dan ramah. 


"Hahaha, Anda benar-benar low profile," puji kepala penyelenggara.


Camelia tersenyum lebar. Kepala penyelenggara kemudian mengantarkan Camelia secara pribadi ke tempat duduknya yang mana satu baris dengan para Presdir ataupun perwakilan dari masing-masing agensi. 


Posisi duduk Camelia dan barisannya sangat strategis. Ia duduk dan memainkan ponselnya seraya menunggu bagiannya. Satu barisnya banyak yang belum hadir. Ada yang sudah hadir namun sepertinya terlalu sungkan untuk menyapa dirinya selain hanya tersenyum padanya.


Camelia tak ambil pusing. Ia kemudian mengambil potret dirinya untuk diposting ke media sosial yakni instagram. Dengan caption yang menyapa para penggemarnya. Belum ada satu menitan sudah banyak komentar yang masuk. Kebanyakan menanyakan kabar tentang Camelia. 


"Hallo, Miss Camelia," sapa seseorang. Camelia mendongak, ingin tahu siapa yang menyapa dirinya. Camelia terkejut mengetahui bahwa itu adalah Andrean.


"Oh, hai, Mr. Gong," sapa balik Camelia, lengkap dengan senyum lebarnya. 


Andrean kemudian mengambil tempat duduk di samping Camelia. 


"Anak-anak Anda tidak ikut, Miss Camelia?"


"Tidak. Mereka tidak ingin ikut. Selain itu, Mr. Gong, panggil saya Nyonya, karena saya wanita yang sudah menikah!"tegas Camelia. Camelia tidak terkejut darimana Andrean tahu jika ia adalah ibu Lucas dan Liam. Tentu saja pria itu akan mencari tahu informasinya.


"Ah, maafkan saya," sesal Andrean.


"Hm." Camelia kembali pada ponselnya. Menjawab komentar fans dan juga komentar rekan-rekan artisnya di Kanada. Bahkan admin milik agensinya juga.


"Tuan Gong dan Nyonya Camelia begitu serasi. Anda berdua seperti sekarang pengantin." Camelia menoleh pada Andrean saat mendengar celetukan satu barisnya yang diangguki oleh yang lain.


"Ah ini suatu kebetulan, ya?" Andrean berkata dengan senyum lebar. Ia dan Camelia mengenakan pakaian putih, memang persis seperti pasangan pengantin. Camelia tersenyum, di dalam hatinya tidak yakin jika ini suatu kebetulan.


"Sebaiknya saya berganti pakaian. Saya takut tunangan Anda akan melabrak saya setelah ini," ucap Camelia, yang mana ekor matanya melihat Rose yang menatap suram dirinya.


"Tidak perlu, ini suatu kebutuhan bukan disengaja. Kita juga baru bertemu, dia akan mengerti," sergah Andrean.


"Ah begitu, ya?" Camelia ragu walau sebenarnya ia tersenyum melihat wajah suram Rose. 


"Ya."


*


*

__ADS_1


*


Hallo, di sini Author ingin menyampaikan ucapan maaf karena tidak bisa up dengan maksimal dan teratur. Juga alur yang dinilai terkesan bertele-tele. Readers tersayang, setiap author punya gaya penulisan masing-masing. Dan memang konsepnya seperti itu. Memang kesannya banyak masalah yang digantung dan tidak langsung diselesaikan, namun itu akan diselesaikan secara bertahap seiring dengan bertambahnya bab. Selain itu, faktor lainnya yang membuat author tidak bisa up maksimal karena author memegang dua karya on going. Juga kesibukan di real life, terlebih author masih seorang mahasiswa yang punya banyak tugas kuliah. Jadi, mohon dimaklumi ya. Dan tak lupa author menyampaikan terima kasih atas semua dukungan readers. Thanks you very much 🙏🙏🙏😊😊😊😊🤗


__ADS_2