Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 123


__ADS_3

Dengan kesal, Kak Abi menjelaskan. Andrean yang terkesan dimarahi, hanya tersenyum.


"Jika kau tidak tahu hal sepele seperti ini, lebih baik kau ganti profesi saja!"ketus Kak Abi pada akhirnya.


"Stop-stop! Dari tadi perasaan Aunty dan Ayah terus berdebat!"lerai Lucas.


"Lucas?" Kak Abi menatapnya rumit.


Lucas terheran ditatap begitu.


"Kau membelanya? Sudah dipihaknya? Huwah!"


"Eh?"


"What is this?" Lucas semakin terheran. Kak Abi sensitif sekali hari ini.


"Kalian sudah berubah. Huwaah! Aku sangat sedih!" Meraung tak jelas. Lucas dan Andrean saling lirik.


Camelia dan Liam memutar bola matanya malas.


"Tidak bisakah kalian diam?!"kesal Camelia. Wajahnya terasa tak nyaman dan ditambah dengan drama tak jelas. Kepalanya berdenyut pusing.


Hening. Kak Abi mengusap air mata buayanya.


"Ayah, aku yakin kau paham. Tolong jangan persulit Mommy!"ucap Liam lugas.


"Baik-baik. Aku paham," tukas Andrean.


"Andrean, kau pulanglah sore ini atau besok," ucap Camelia, mengambil keputusan.


"Lusa," sahut Andrean.


"Sepertinya Ayah masih kurang paham," sinis Liam. Ia menerima Andrean. Namun, jika akan menyusahkan ibunya, lebih baik jauh-jauh saja.


"Aku setuju dengan Liam!"sambung Kak Abi. Semangat wanita itu membara. Andrean memicingkan matanya, "tampaknya kalian tidak senang aku di sini."


"Kami senang. Tapi, ini bukan area pribadi," sahut Liam.


"Okay-okay! Aku akan pulang besok!"putus Andrean, lelah juga berdebat dengan mereka.


"Good!" Kak Abi memberikan dua jempolnya untuk Andrean.


"Hmph!" Camelia tersenyum tipis. Ia tahu, pria itu keberatan.


Andrean kemudian mengambil ponselnya. Sejak mendarat di Seoul, Andrean menonaktifkan ponselnya.


Tak berselang lama setelah ponselnya aktif, ponsel itu langsung berdering.


Hans.


Nama si pemanggil yang tertera di layar.


CK!


Berdecak. Sudah menduga apa yang akan Hans katakan.


"Ha…."


"Tuan! Anda di mana sekarang!" Belum lagi ia mengatakan hallo, Hans memotongnya dengan berteriak. Andrean menjauhkan ponselnya.


"Seoul," jawab Hans.


"Seoul?"


"Korea Selatan."


"APAAA?!"


"Ada apa?" Andrean menanggapinya santai.


"Pulang sekarang, Tuan!"titah Hans.


"Besok aku baru pulang."


"Sekarang! Apa Anda lupa hari ini ada meeting dengan eksekutif?!" Hans benar -benar kesal dan geram di ujung sana.


"Bukankah kau bisa mengatakan ditunda sampai besok?"sahut Andrean. Meeting tadi pagi, dan ini sudah menjelang sore.


"Ada masalah lain!"ucap Hans.


"Apa?"


"Anda kemana saja, sih? Untuk apa ke Seoul? Pakai acara ponsel mati lagi! Saham kita bermasalah, Tuan!"


"Maksudmu?" Duduk Andrean langsung tegak.


Saham Starlight Entertainment bermasalah?


Bukannya waktu ia pergi tadi aman-aman saja?


"Bukan ponsel Anda dan lihat sendiri. Mau pulang sekarang atau besok, terserah Anda!" Setelahnya, Hans mengakhiri panggilan sepihak.


"Tidak sopan sekali dia," gerutu Andrean. Meskipun berkata demikian, hati Andrean tak tenang.


Lekas ia memeriksa apa yang terjadi.


"Apa ini?" Mata Andrean menyipit tajam melihat apa yang ia temukan.


Saham Starlight Entertainment turun karena rumor para artisnya


Begitu judul salah satu artikel yang ia baca.

__ADS_1


Masalah apa lagi yang menimpa para artisnya?


Tidak bisakah mereka meminimalisir rumor?


Sekali muncul, tidak hanya satu lagi.


Salah satu artis berpacaran dengan idol dari perusahaan lain.


Ada juga yang pacaran satu agensi.


Kemudian, ada yang sudah terungkap menikah.


Selanjutnya, ada yang tersandung kasus narkotika.


"Sepertinya kau akan sangat sibuk, Mr. Gong," ucap Kak Abi setelah mengintip ponsel Andrean.


"Pintu ada di sana," lanjut Kak Abi, menoleh ke arah pintu. Senyumnya mengembang puas. Lain dengan Andrean memerah kesal.


Mengapa di saat seperti ini?!


"Urusanmu sangat urgent, kembalilah," ujar Camelia. Andrean menatapnya berat, tak rela. Namun, ia tak bisa mengabaikan masalah itu.


Hah.


"Baiklah, aku pulang. Jika masalahku sudah selesai, aku akan datang lagi," ujar Andrean.


Camelia mengangguk pelan.


*


*


*


Maka jadilah, Andrean segera kembali ke Beijing untuk menangani masalah yang ada.


Harga sahamnya anjlok karena tanggapan negatif dari publik atas rumor yang tersebar. Dan hal itu mengakibatkan beberapa investor menjual saham mereka dengan harga murah.


Ditambah ketidakhadiran Andrean dalam meeting eksekutif pagi, semakin mendukung keputusan itu.


Maka tak heran, Hans begitu marah dan kecewa. Mengejar cinta boleh. Meninggalkan tanggung, jangan pernah sekalipun!


Ada yang aneh. Tidak mungkin semuanya tersebar dalam waktu. Ini kebetulan atau ada sesuatu dibaliknya? pikir Andrean dalam perjalanan pulangnya.


*


*


*


Hari berganti dengan cepatnya. Satu hari pasca peeling yang Camelia jalani. Efek sampingnya masih terasa. Camelia masih merasa wajahnya bengkak. Dan kemerahan masih ada. Dokter Kim Jae Hyun mengatakan bahwa hal itu termasuk hal wajar dan beruntung, tipe kulit Camelia tidak sukar ditangani. Dan akan berangsur hilang satu Minggu ke depan. Oleh karenanya, Camelia harus kontrol rutin.


"Lia, kami akan pulang dan kau sendirian di hotel. Sebaiknya kau tinggal di sini sana selama satu Minggu ke depan," ujar Kak Abi. Sebentar lagi, ia bersama Lucas dan Liam akan pulang ke Kanada. Meninggalkan Camelia tinggal sendirian di hotel, hatinya sungguh tidak tenang.


"Kalau begitu kami pergi," pamit Kak Abi


"Bye-bye, Mom." Lucas dan Liam melambaikan tangan pada Camelia.


"Telpon Mom jika sudah sampai."


"Okay."


*


*


*


Dan tinggallah Camelia sendirian. Di ruang VVIP yang luas ini. Juga di kota asing ini.


Inilah resiko yang harus ditanggung.


Camelia menghabiskan waktunya dengan membaca naskah drama Split Love. Juga diselingi dengan menonton drama Korea, sekalian belajar bahasanya.


Penyesalan adalah neraka terdalam, Camelia menarik senyum tipis.


Penyesalan adalah neraka terdalam, apa aku berada di dalamnya?


Camelia menatap langit -langit.


Meskipun bibirku mengatakan aku menerimanya … tapi, di sini masih ada penyesalan.


Camelia menyentuh dadanya. Rasa sesak kembali ia rasakan.


Memangnya di dunia ini ada manusia yang tegar yang mampu menerima semuanya tanpa mengeluh?


Ada! Tapi hanya segelintir dan Camelia tidak termasuk di dalamnya.


Bersembunyi dibalik kata menerima, itulah yang ia lakukan selama ini. Meskipun dendamnya terbalas, tidak mengubah kehidupannya yang sekarang.


Seperti ada penjara tak kasat mata. Tipis juga rapuh tapi begitu kokoh.


Camelia kemudian membuka aplikasi video, memutar salah satu lagu boyband K-Pop teratas Korea Selatan.


Camelia memejamkan matanya, menghayati lagu tersebut.


"Selamat siang, Nona Camelia," sapa Dokter Kim Jae Hyun.


"Ah sore, Dokter." Camelia membuka matanya dan duduk.


Sudah waktunya kunjungan kedua.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan Anda? Apa masih tidak nyaman?"tanya Dokter Kim Jae Hyun.


"Jauh lebih baik daripada sebelumnya," jawab Camelia. Ini adalah hari ketiga ia rawat inap di sini.


"Syukurlah. Perkiraan saya akan tepat jika seperti ini." Dokter Kim Jae Hyun tersenyum puas.


"Life goes on? Anda Army?"tanya Dokter Kim Jae Hyun. Perhatiannya teralihkan setelah mendengar lagu yang Camelia putar. Lagu itu, tidak berubah. Camelia mengatur mode ulang.


"Bukan, saya hanya suka lagunya," jawab Camelia.


"Menjadi penggemar mereka juga tidak heran. Mereka sudah terkenal dan menjadi aset negara. Mereka, kebanggaan negara ini."


"Sepertinya Anda tahu banyak," celetuk Camelia.


"Istri saya penggemar mereka," jawab dokter Kim Jae Hyun.


"Anda sudah menikah?"tanya Camelia, terkejut.


"Haha … apa Anda mengira saya belum menikah?"tanya balik dokter Kim Jae Hyun.


"B-bukan seperti itu. Ku dengar orang Korea itu, lama sekali menikahnya. Bahkan, angka menikahnya kecil hingga angka kelahirannya juga kecil," jelas Camelia, agar tidak terjadi salah paham.


Dokter Kim Jae Hyun tetap tersenyum. Namun, tak lama kemudian ia mengulum senyumnya. "Anda benar. Karena untuk menjalin hubungan dan menikah, membutuhkan perkiraan dan rencana yang matang. Apalagi kalau ingin memiliki seorang anak. Biaya pendidikannya kelak, asuransi kesehatan, belum lagi hal lain. Belum lagi jam kerja yang padat, tidak ada waktu memikirkan yang lain," papar Dokter Kim Jae Hyun. Cukup prihatin dengan itu, memangnya sih negaranya semakin maju. Tapi, angka kelahirannya rendah, jika tidak SDM nya semakin sedikit, bukankah itu akan sangat mengancam?


"Jika dipikir-pikir memang berbanding terbalik. Negara maju dengan kelahiran rendah dan negara berkembang dengan kelahiran tinggi," imbuh Dokter Kim Jae Hyun.


"Haha. Maybe. Hm … saya sedikit kaget Anda sudah menikah," jawab Camelia, mengalihkan topik pembicaraan.


"Apa wajah saja tidak meyakinkan?"


"Istri saya perawat di sini. Jadi, meskipun waktu kami tidak banyak di rumah, tapi di sini kami bisa menghabiskan waktu bersama," terang dokter Kim Jae Hyun lagi.


Camelia mengangguk paham. "Ini ada krim untuk menghilangkan kemerahannya. Jika prediksi saya benar lagi, saat Anda keluar nanti, wajah Anda sudah kembali seperti semula sebelum terluka," lanjut Dokter Kim Jae Hyun, menjelaskan.


"Baiklah."


"Kalau begitu saya permisi. Sampai jumpa besok, Nona Camelia," ujar Dokter Kim Jae Hyun.


"Baiklah. Terima kasih, dokter."


Dokter Kim Jae Hyun meninggalkan ruangan.


Camelia meraih ponselnya. Menghentikan lagu itu.


"Apa dia masih sibuk?"gumam Camelia, sudah tiga hari. Tidak ada kabar dari Andrean. Pasti masalah yang dihadapi benar -benar serius.


Drttt


Drttt


Ponsel Camelia bergetar. Ada panggilan masuk. Dari Dion.


Ah, adiknya itu sudah tahu bahwa Camelia berada di Seoul.


Dan kali ini melakukan video call.


"Hai, Kak," sapa Dion di seberang sana. Dari background, Dion masih berada di perusahaan, di ruangannya.


"Hai, Dion. Bagaimana kabarmu?"balas Camelia.


"Aku baik. Justru aku yang seharusnya bertanya demikian." Camelia tertawa renyah.


"Bagaimana, Kak? Sudah lebih baik?"


"Jauh lebih baik."


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya."


"Tapi, coba dekatkan kameranya ke wajah kakak. Aku ingin lihat lebih dekat," pinta Dion. Camelia melakukannya.


"Aku video call di sini agar ayah dan ibu tidak tahu," ucap Dion setelah selesai melihat wajah Camelia dari dekat.


"Oh iya, Dion. Apa kau dengar kabar soal Starlight Entertainment?"tanya Camelia.


"Mengapa, Kak? Cemas dan merindukannya?"tanya Dion dengan menaikkan alisnya.


"Hm."


"Hahaha." Dion tertawa. Camelia mendelik kesal.


"Masalah yang ditanganinya tidak satu," ujar Dion. Dan dari situ, sudah bisa ditarik kesimpulan.


"Namun, aku kagum padanya. Aku dengar tadi, saham mereka sudah mulai stabil," lanjut Dion.


Setidaknya ada kabar baik.


"Tapi, apa kakak tidak merasa aneh?"


"Aneh?"


"Hm. Aku saja yang bukan bagian dari perusahaan Entertainment merasakannya. Rumor itu seakan disengaja tersebar dalam waktu yang bersamaan. Seakan telah direncanakan."


"Dalam artinya, Starlight Entertainment ditargetkan?"terka Camelia yang dibalas anggukan Dion.


Camelia mengernyit.


"Jangan terlalu serius, Kak. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Setiap perusahaan ada masalahnya masing-masing. Dan aku yakin, dia bisa mengatasinya segera," ledek Dion melihat sang kakak yang berpikir keras.


"Hmm…," gumam Camelia.


"Tunggu saja kabar darinya. Tunggu, apa tadi kau mengira ini video call ini darinya?"tanya Dion selidik.

__ADS_1


"Kau masih kerja, bukan? Bekerjalah dengan baik!"ucap Camelia sebelum menutup video call itu.


Bocah tengil. Tahunya meledek saja.


__ADS_2