
"Tuan Muda Dion belum kembali dari Xian. Tampaknya dalam waktu dekat tidak bisa melakukan pertemuan dengan Shane Group untuk membahas proyek kerja sama," ucap Hans, melapor pada Andrean setelah mengunjungi Shane Group cabang Shanghai.
Andrean mengernyitkan dahinya. Pertemuan yang seharusnya dilakukan hari ini batal. Ingin menjadwalkan ulang besok atau secepatnya juga belum ada kepastian.
"Sebenarnya ada urusan apa Dion di sana? Mengapa lama sekali? Xian? Setahuku kota itu tidak ada hubungan dengannya," gumam Andrean.
"Mungkin urusan pribadi yang sangat penting, Tuan," sahut Hans, yang mendengar gumaman Andrean.
"Baiklah. Kau boleh pulang atau tetap di sini," ucap Andrean.
"Saya akan menginap, Tuan," jawab Hans, membungkuk sedikit kemudian undur diri.
Andrean belum beranjak dari kursinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
Rasa penasaran semakin memenuhi hatinya. Andrean meraih ponselnya.
Menghubungi nomor Dioan. Namun, tidak aktif. "Xian? Apa yang kau lakukan di sana, Dion?"gumam Andrean lagi.
Tuan Shane menghembuskan nafas pelan. Ia baru saja kembali dari ruang meeting. Menjelang ia akan pensiun, banyak hal yang harus ia persiapkan.
Sebentar lagi, ia akan resmi pensiun, meninggalkan kursi Presdir dengan Dion sebagai penggantinya.
"Suamiku, apa kau tahu apa yang sedang dikerjakan Dion? Aku tidak bisa menghubunginya. Aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Nyonya Shane, mengadu dengan wajah cemas pada Tuan Shane.
"Kemarin dia masih menghubungiku. Mungkin, dia sangat sibuk sebab ini bulan terakhir Dion di sana," ujar Tuan Shane. Sejujurnya, Tuan Shane juga kurang mengerti dengan apa yang Dion lakukan. Yang pasti, Tuan Shane yakin itu beresiko.
Jika aku beritahu padanya, pasti akan bertambah cemas.
"Benarkah?" Nyonya Shane sedikit lega.
"Tapi, tetap saja. Hatiku tidak tenang. Ponselnya juga tidak aktif. Kesibukan apa yang dia lakukan?"
Tuan Shane tertegun sesaat.
Ponsel Dion tidak aktif?
"Tenanglah. Dion baik-baik saja. Tim X bersama dengannya," ucap Tuan Shane, kembali menenangkan Nyonya Shane.
"Tim X? Dion melakukan apa, suamiku? Hal berbahaya? Kau pasti tahu, kan? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Nyonya Shane langsung menyerang Tuan Shane.
Astaga?
Tuan Shane melirik sekilas ke arah lain. Ia keceplosan. "Suamiku?!" Mengguncang tubuh Tuan Shane.
"Dion melakukan apa? Kau menyuruhnya apa?"
"Tenanglah. Tidak begitu berbahaya."
"Tim X menemaninya. Apa kau kira aku tidak tahu?!"
"Hah!" Tuan Shane menghela nafasnya pelan. "Okay. Akan aku beritahu."
"Katakan!"ucap Nyonya Shane.
"Dion menyelidiki identitas Lia yang sebenarnya," beritahu Tuan Shane.
"Lia menemukan petunjuk?"
Tuan Shane mengangguk. "Dan keluarga yang akan Dion selidik punya sedikit kekuatan."
"Mungkin ponselnya tidak aktif karena fokus menyelidiki. Jadi, jangan terlalu cemas. Dion kita akan baik-baik saja," ujar Tuan Shane. Menarik sang istri dalam pelukannya. Memberikan kecupan hangat pada dahi Nyonya Shane.
"Aku takut … aku tidak ingin kehilangan anak lagi," ucap Nyonya Shane, memejamkan matanya.
"Tenanglah. Dion baik-baik saja." Kembali menyakinkan sang istri.
"Hm … apa Lia tahu tentang ini?"tanya Nyonya Shane.
"Lia tidak pernah membahasnya."
"Mungkin … kita harus memberitahunya," jawab Tuan Shane. Jika benar Camelia sama sekali tidak tahu. Mereka harus memberitahunya.
Namun, apakah waktunya cocok?
"Kau tidak mau kopi, Eve?"tanya Camelia pada asistennya. Ini masuk waktu break. Sekitar 30 menit.
"Lain kali saja, Nona," tolak Evelin halus. Meskipun ia mulai suka kopi. Akan tetapi jadi trauma karena insiden obat pencahar itu.
"Nona, saya dengar adegan action Nona Alice nanti akan memakai peran pengganti," ujar Evelin.
"Kau banyak mendengar gosip ya, Evelin?" Camelia meletakkan majalah fashion terbaru di atas meja. Menatap Evelin sekilas kemudian meraih kopinya.
"Hehe, kebetulan mendengarnya, Nona," ujar Evelin, membela dirinya.
"Peran pengganti, ya? Bukankah akan mengurangi kualitas?"
"Benar, Nona! Nona memerankan drama ini dengan serius. Bahkan tidak melakukan peran pengganti saat adegan action ataupun ranjang," ucap Evelin menggebu.
"Ahaha. Aku akan menemui sutradara," ucap Camelia, melangkah pergi setelah menepuk bahu Evelin.
"Ikut, Nona!" Evelin lekas menyusul.
"Jadi, menurutmu begitu, Lia?"tanya Sutradara, setelah mendengar pemaparan Camelia.
__ADS_1
"Adegan action saya beberapa hari yang lalu saya rasa sangat memuaskan penonton. Memakai peran pengganti, cepat atau lambat akan tersebar dan dapat mempengaruhi penilaian. Jadi, saya rasa sebaiknya Alice melakukan adegannya tanpa pengganti," jelas Camelia.
Sutradara mengusap dagunya.
"Yang kau katakan ada benarnya. Tapi, apakah Alice mau?"
"Syuting adalah tempat belajar yang nyata untuk aktris ataupun aktor. Lagipula, kita sudah ada sesi latihan selama satu bulan. Saya rasa Alice akan setuju," jawab Camelia.
Sutradara itu manggut-manggut. "Baiklah. Saya akan dengar pendapat Joseph dulu. Kau tidak keberatan, bukan?"
"Tentu tidak."
Sutradara kemudian meminta seseorang memanggil Joseph. Begitu datang, Sutradara langsung menjelaskan saran Camelia pada Joseph.
"Saya sependapat dengan Camelia. Tapi, untuk melakukan tanpa peran pengganti, saya rasa akan butuh waktu yang lama untuk persiapan dan sedikit latihan pada Alice," ujar Joseph.
"Tapi, untuk menghasilkan karya yang bagus, saya rasa itu sebanding," sahut Camelia.
"Jadi, intinya Joseph kau setuju atau tidak?"tanya Sutradara. Ingin kepastian agar segera dilakukan.
"Jika Anda tidak keberatan, saya setuju."
"Baiklah. Kita akan lakukan tanpa pengganti. Joseph, adegan actionnya kali ini denganmu, maka kau latihan dengannya," ujar Sutradara, memberi keputusan.
Joseph mengangguk. "Lia, bersiaplah, sebentar lagi adeganmu," ucap Sutradara.
"Okay."
"Wow! Apa setiap pendapat peran utama akan diterima, Nona?"tanya Evelin kagum, setelah mereka kembali ke ruangan Camelia.
"Asalkan ada pendukungnya," jawab Camelia.
"Nona hebat!"puji Evelin.
"Kau baik-baiklah ikut denganku," sahut Camelia.
"Pasti, Nona! Saya akan jadi asisten terbaik sepanjang masa untuk Anda!"
Camelia tertawa.
"Ayo, sebentar lagi bagianku," ajak Camelia.
"Hah? Tanpa peran pengganti?" Alice terperanjat saat mendengar penuturan Joseph.
"T-tapi saya tidak yakin akan melakukan dengan baik." Cemas, takut, meremas kedua tangannya.
"Kami percaya pada kemampuan Anda. Ini juga menjadi pengalaman baru bagi Anda."
"Kami?"
"Ya lebih tepatnya Camelia."
Hah?!
Jadi … ini ulahnya wanita sialan itu?!
"Kau bersedia, bukan?"
"Ahaha … ini terlalu mengejutkan. Saya tidak punya persiapan apapun. Saya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi Anda."
Apa maksudnya? Wanita itu mau mempermalukanku? Apa dia mau membalasku?
"Saya akan membantu Anda."
Hah?
Apa ini?
Tapi … bukankah ini kesempatan untukku?
Alice tersenyum. "Hehe. Baiklah kalau begitu. Mohon bantuannya."
Aku akan mendapatkannya!
"Cut!!" Sutradara berteriak lantang.
"Kerja bagus, Lia!"
Camelia yang masih berada di dalam mobil mengacungkan jempolnya. Adegannya baru saja selesai. Adegan balapan di jalanan. Itu menantang. Untunglah, ini bukan pertama kalinya Camelia melakukan adegan itu.
Yang terpenting bukanlah seberapa lama, tapi seberapa banyak pengalaman.
"Bagianmu hari ini sudah selesai. Kau boleh pulang lebih dulu," ujar Sutradara.
"Terima kasih. Saya akan pulang setelah melihat adegan Joseph dan Alice," jawab Camelia yang diangguki oleh Sutradara.
Sutradara kemudian mengumumkan para tim bahwa sebentar lagi adalah adegan action untuk Joseph dan Alice.
Syuting drama telah berjalan setengahnya. Jika tidak ada hambatan berarti, akan selesai sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.
"Aku akan bersiap-siap!"ucap Alice, kemudian, setengah berlari meninggalkan Joseph.
Wanita ini?
__ADS_1
Joseph menyipitkan matanya. "Segeralah bersiap, Joseph!" Menyadarkan Joseph dan lekas bergegas.
Kini akting akan segera dimulai. Camelia berdiri di dekat sutradara. Melihat rekaman yang ada di depannya.
"Action!" Sutradara berteriak lantang.
"Hentikan!" Alice yang dalam mode akting berteriak lantang pada Joseph.
"Dia sudah pergi jauh! Meninggalkanmu! Mencampakkanmu! Untuk apa mencarinya lagi?!" Alice memukul bahu Joseph. Joseph tetap dengan wajah dinginnya.
"Jangan mencarinya, okay?"ucap Alice, memelas.
"Menyingkir dari jalanku!" Dibalas dengan dingin oleh Joseph.
"Tidak! Dia tidak mencintaimu! Jangan pergi!"
"Minggir!" Dengan kasar Joseph mendorong Alice hingga terjatuh.
"Auh! Kau mendorongku terlalu keras!"protes Alice.
"Cut!"teriak Sutradara.
"Ini sakit!"ketus Alice. Joseph mengeryit.
Menurutnya itu sudah pas. Camelia terkekeh tanpa suara.
"Apa-apaan kau, Alice? Mengapa keluar dari naskah? Tadi sudah sangat pas!"kesal Sutradara.
"Tapi, dia mendorongku terlalu keras!"jawab Alice. Wajahnya cemberut.
"Ah, aku akan lebih pelan lagi," ujar Joseph.
"Aku rasa Anda yang harus menyesuaikan diri, Nona Alice. Dia mendorong Anda karena marah. Mana mungkin dorongannya pelan. Tadi itu sudah sangat pas," ucap Camelia. Ia menyunggingkan senyum.
Wajah Alice menggelap. Ia tahu, itu ejekan untuknya. "Kita take lagi. Joseph, gunakan kekuatan yang sama. Dan Alice, itu tidak akan membuatmu cedera berlebihan!"ucap Sutradara. Jika dalam drama action, ada cedera, bukankah itu hal yang wajar?
Camelia mengangguk membenarkan ucapan Sutradara.
Alice berdecak pelan. Namun, ia juga tidak berani melawan Sutradara. Juga tidak terima diremehkan. Alhasil, ia menyanggupinya.
Adegan kembali diulang. Dengan percakapan yang sama.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" Alice mulai menyerang Joseph. Keduanya berkelahi dengan sengit.
"Aku tidak ingin melukaimu! Hentikan dan pergilah!"ucap Joseph, saat berhasil menahan satu lengan Alice.
Sial! Ini sakit! Alice menggigit bibirnya.
"Tidak akan! Aku mencintaimu! Jangan pergi. Lihat dan pilihlah aku!" Alice berusaha meloloskan dirinya.
"Aku hanya menginginkannya!" Joseph menahan Alice. Kemudian mengikatnya dengan mudah.
"Tidak! Ku mohon! Jangan pergi!!"
Joseph melangkah meninggalkan tempat. Meninggalkan Alice yang meratap dengan wajah sedih.
"Tidak! Aku tidak terima!" Kemudian, ekspresinya berubah cepat. Menjadi kesal dan geram.
"Cut!!" Dan hal itu disambut oleh tepuk tangan kru.
"Bagus!"puji Sutradara. Meskipun tidak sesempurna yang ia pikirkan. Tapi, itu lebih baik daripada menggunakan peran pengganti. Ya, meskipun didapat setelah mendapatkan beberapa kali take.
"Uh! Tubuhku sakit semua," keluh Alice.
"Maafkan aku," ujar Joseph, mengulurkan tangannya pada Alice.
Deg!
Deg!
Jantung Alice berdebar. Ia suka pada Joseph. Dan segera menerima uluran tangan itu. "Medis akan datang memberikan perawatan padamu."
"Baiklah."
"Aktingmu bagus," puji Joseph.
"Thanks."
"Em … sebagai permintaan maafku, apa kau mau minum bersama malam ini?"
"Ah? Sungguh?"
"Hm, dengan Camelia juga."
"Hah?"
"Camelia, kau mau …." Saat menoleh ke arah di mana Camelia berada tadi, Camelia sudah tidak ada.
"Ah … sepertinya dia sudah pulang."
"Ah … ahaha. Bagaimana jika hanya kita saja?"tawar Alice.
"Hm … okay. Sampai jumpa nanti malam." Joseph kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Yes! Kesempatan datang!