Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 142


__ADS_3

Allen kau benar-benar mengecewakan! Kepercayaan yang diberikan padamu, kau sia-siakan!


Tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh. Disertai suara tembakan pula.


Allen menoleh ke arah pintu. Tatapannya campur aduk. Hatinya seketika was-was. Diikuti dengan tawa mengejek Andrean.


"Hehehe."


"Kau!" Allen menoleh cepat pada Andrean. Tawa Andrean begitu ringan. Rasa geli dan ejekan bercampur menjadi satu. "Benar-benar lucu!"


Belum selesai Allen mencerna, pintu ruangan itu terbuka. "Lie?!"


"Dion?'


Kedua orang itu terbelalak. "Hentikan semua ini, Tuan!"seru Lie.


Dion terkesiap sesaat. "Rupanya Anda dalangnya!" Kemudian berkata dengan dinginnya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Dion?!"seru Andrean.


"Menurutmu?" Dion tidak menjawab. Bersama dengan orang-orang di belakang mereka, dengan cepat melumpuhkan pelaku yang tersisa. Kecuali Allen. Pria itu bergerak cepat dengan mengarahkan pisau pada leher Andrean.


"Sudah selesai tertawanya?"tanya Allen. Ekspresinya berubah cepat. Menarik senyum smirk. Entahlah. Mungkin, ia merasa benar-benar terdesak. Hingga, akal sehatnya benar-benar hilang.


"Hentikan, Tuan!"teriak Lie.


"Apa katamu?!"balas Allen, berteriak kencang. Wajahnya merah padam. Apa yang sekretarisnya itu lakukan?

__ADS_1


"Hentikan kegilaan Anda, Tuan! Anda benar-benar melewati batas!!"ucap Lie tegas.


"Dia gila, Lie!"cetus Andrean.


"Diam!" Andrean mendekatkan pisau ke leher Andrean. Menekannya hingga menimbulkan luka.


Andrean sedikit meringis. Bertambah lagi lukanya.


"Tuan, Anda jangan lakukan apapun! Apa yang Anda lakukan saat ini adalah hal yang sia-sia!!"ucap Lie, ia berkata dengan tegas. Namun, ada bujukan di dalamnya.


"Tidak, Lie! Semua tidak akan sama!"


"Benar. Jika aku mati, semua akan berbeda untuk diriku. Tapi, untuk dirimu, semua tetap sama. Bahkan hasil yang kau tuai akan lebih buruk," ucap Andrean. Ia bicara panjang walaupun pipinya terasa sangat perih. Begitu juga dengan lehernya. Apalagi pahanya.


"Setidaknya kau mati!" Allen kembali menyeringai.


"Kau berpaling?!"


"Jika saya berpaling, artinya saya menyadari bahwa Anda tak lagi pantas menjadi atasan saya. Saya mohon, hentikan semua ini. Saat ini, polisi sudah ada di luar," jawab Lie. Ia kembali berseru. Namun, sepertinya tetap tidak digubris oleh Allen.


Matanya sudah benar-benar gelap. Allen dibutakan oleh keserakahan dan kekhawatiran tak berdasar.


"Pilihan ada di tanganmu!"ucap Andrean.


"Bugh!"


Tiba-tiba sebuah tendangan menghampiri Allen. Membuatnya terpelanting jatuh.

__ADS_1


"Dion!" Andrean tertegun sesaat. Dion sibuk membuka ikatan Andrean. Sementara Lie dan yang lain lekas membungkus Andrean.


"Lepaskan!"berontak Allen. Saat ia tengah berbicara dengan Andrean dan Lie, Dion mengambil kesempatan untuk menangani Allen.


"Kau terluka parah!"


"Hm!" Andrean bergumam pelan.


"Polisi di luar, bukan?"tanya Andrean. Dion mengangguk.


"Lie, kau urus Tuanmu itu!"titah Andrean. Lie mengangguk pelan.


"Lie!" Allen berontak. Ia menatap tajam Lie.


Lie menghela nafasnya. "Tuan, Anda harus mengikuti aturan yang berlaku. Sebelumnya saya sudah memperingatkan Anda. Namun, Anda tidak menggubrisnya!"


Lie menggelengkan kepalanya. Mengarahkan tangannya, memerintahkan untuk membawa Allen.


Setibanya di mobil, Dion gegas melajukan mobil menuju rumah sakit.


"Mengapa kau datang? Itu sangat berbahaya," ujar Andrean, bertanya sembari mengusap pipinya. Darahnya sudah kering.


"Akan sangat tidak nyaman jika aku tidak datang," jawab Dion.


"Kau calon kakak iparmu, mana mungkin aku diam saja melihatmu dalam bahaya!"lanjut Dion.


"Ah … begitu rupanya." Andrean menghela nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2