Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 180


__ADS_3

"Ayah," panggil Lucas saat Andrean tiba di depan kamar hotel mereka.


"Mom kenapa? Suram dan menyeramkan," tanya Lucas.


"Haha … masalah kecil," jawab Andrean. Segera masuk ke dalam kamar menyusul Camelia. Sebelum Lucas melayangkan banyak pertanyaan dan ia kesulitan untuk menjawabnya. Karena sesungguhnya Andrean belum paham benar dengan apa yang terjadi.


"Tidak mungkin masalah kecil. Apa hasilnya tidak sesuai yang Mom harapkan, ya?"pikir Lucas.


"Memang apa yang Mom harapkan?"tanya Liam.


Keduanya melihat Camelia pulang dan langsung masuk ke kamar dengan ekspresi yang tidak baik.


"Paman pengawal, kemana Mom pergi tadi?"tanya Liam pada salah seorang pengawal Camelia.


"Eternel, Tuan Muda Liam," jawab pengawal tersebut.


"Eternel?"


"Toko parfum, Tuan Muda Liam."


Liam mengangguk paham.


"Ayo, Lucas."


"Kakak! Call me Kakak!"


"Lucas."


"Kak Lucas!"


"Berisik, Lucas!"


"Kak Lucas, kau dengar tidak sih? Aku ini anak sulung!"


"Aku lebih sulung, Lucas!" Liam tersenyum smirk.


Lucas benar-benar kesal. "Menyebalkan! Terserahmu saja!"


"Haha … baiklah, Lucas."


"Kau!"


Para pengawal yang menyaksikan itu saling lirik. Bibir mereka tertarik ke atas. Menyenangkan melihat hubungan majikan mereka sangat harmonis.


*


*


*


"Dasar Pria Tua Sialan! Dasar baji*ngan bang*sat!"


"Aku membencimu! Beraninya kau menikah dengan wanita lain setelah meninggalkan ibuku?!!"


"Pengecut! Tidak tahu malu! S*ialan!!"


Camelia semakin marah mengingat semuanya. Apalagi kisah sang ibu kandung. Amarahnya semakin berkobar saat menyaksikan kemesraan Mr. Alex dan Madam Marry tadi.


"Beraninya kau bahagia setelah membuat ibuku menderita?! Tidak akan aku biarkan! Tidak akan!!"


"Hahaha! Jangan salahku jika aku balas dendam!"


"Pfttt …." Camelia menoleh ke belakang saat mendengar suara itu.


"Hahaha …." Andrean tertawa.


"Mengapa kau tertawa?"


"Aku geli mendengarmu mengumpat dan memaki. Ku pikir kau hanya bisa berekspresi datar."


Camelia tidak pernah menunjukkan sisi ini pada Andrean. "Hatimu pasti dipenuhi dengan amarah. Kemarilah, di situ berbahaya." Andrean mengulurkan kedua tangannya.


Di lantai, ada banyak kaca berserakan. Andrean yakin Camelia yang membantingkan semua itu. Begitu besar amarahnya.


"Ayo."


"Aku ingin sendiri," tolak Camelia. Camelia butuh menenangkan dirinya.


"Tidak. Kemarilah. Ada aku untuk bersandar. Selain amarah, aku juga melihat kekecewaan di sana."


"Aku ingin sendiri, Andrean!"tegas Camelia.


"Ah! Baiklah." Andrean melangkah keluar. Sebelum menutup pintu, ia menghela nafasnya. Ada gurat kekecewaan.


Ternyata aku masih belum memiliki hati Lia sepenuhnya. Banyak sekali yang harus aku usahakan.


Camelia duduk di depan meja rias. Mematut dirinya di cermin dengan ekspresi dingin.


"Ku pikir aku tidak akan kecewa atau marah. Tapi, aku begitu emosi mendengarnya tidak mengenali foto Ling Xiayu. Apakah ini yang namanya ikatan darah?"


"Kepalaku sangat pusing," keluh Camelia. Ini tidak seperti yang ia bayangkan. Ia kira Mr. Alex akan mengenali foto itu. Lalu menanyakan siapa dirinya? Apa hubungannya dengan foto itu? Lalu penyesalan dan mendengar alasan. Bukankah itu sangat sederhana? Dan akan siap dalam satu hari.


Jika seperti ini, urusannya akan panjang.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Cerita cinta itu, apakah hanya sekadar cerita? Atau karena sudah terlalu lama? Tidak! Harusnya apapun yang terjadi, cinta tidak akan terlupakan. Tapi, tatapannya itu, sial! Aku merasa sangat marah!!" Mata Camelia memerah. Amarah yang menggebu di hatinya dikeluarkan dalam bentuk butiran air mata.


Padahal itu adalah pertemuan pertama. Pertemuan pertama setelah ia lahir. Tapi, mengapa? Rasanya tetap sakit. Camelia tidak mengerti. Ia hanya merasa marah dan kecewa hingga ada keinginan untuk balas dendam. Itu tidak salah, bukan? Harusnya itu yang ia lakukan, kan?


"Fufu … aku tidak semurah hati itu!"


Air mata yang keluar diseka. "Namun, aku harus menjelaskan apa yang terjadi pada Rean."


*


*

__ADS_1


*


"Eternel, perusahaan parfum yang terkenal. Produknya mendunia. Namun, seperti merk terkenal lainnya, produknya diproduksi dalam jumlah terbatas yang membuat harganya fantastis." Lucas membaca keterangan yang ada di pencarian.


"Pemilik perusahaan Eternel saat ini adalah Alexander. Di bawah kepemimpinannya, Eternel berkembang pesat. Menurut kabar yang beredar, dalam waktu dekat kepemimpinan Eternel akan berpindah kepada pulang tunggal Alexander."


"Alexander, itu nama yang disebut Nenek Ling itu, kan?"tanya Lucas, memastikan, barangkali ia salah ingat. Liam mengangguk membenarkan.


"Eternel, abadi. Namanya sangat angkuh," sinis Liam.


"Itu hanya brand, mengapa kau permasalahkan?"heran Lucas.


"Tidak. Aku tidak menyukai nama itu."


"Daripada itu, aku rasa kau lebih tidak menyukai Alexander itu. Atau haruskah kita memanggilnya Kakek?"


"Kalian tahu apa yang terjadi?"


"Ayah?"


Tiba-tiba Andrean muncul dan langsung menimpali ucapannya. Lucas dan Liam terkejut. Bukankah Andrean menemani Camelia, ralat, menenangkan Mom mereka, mengapa di sini?


Hanya satu jawabannya. "Ayah diusir oleh Mom?"tanya Liam, matanya menyipit curiga.


"Tidak." Andrean memalingkan wajahnya. Gengsi dong.


"Tidak perlu mengelak, Ayah. Jika tidak, mana mungkin Ayah bertanya begitu," cetus Lucas, terkekeh pelan.


"Duduklah, Ayah. Akan kami beritahu apa yang kami tahu," ujar Lucas kemudian. Andrean duduk.


Di kamar ini ada empat orang. Crystal tengah tidur. Anak itu masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu. Mungkin karena baru pertama kali.


Lucas dan Liam menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari saat Camelia memerintahkan tim untuk mencari informasi mengenai Keluarga Ling. Lalu Camelia yang langsung terbang ke Xian karena Dion tidak bisa dihubungi, yang menyebabkan mereka dengan Tuan dan Nyonya Shane menyusul.


Kemudian pertemuan Camelia dengan keluarga Ling. Lalu terbang ke Shanghai untuk mempertemukan keluarga Shane dan keluarga Liang.


"Xian? Jangan-jangan teman lama yang dimaksud itu kalian?!" Andrean memekik. Ia ingat sekarang.


"Hehehe."


Andrean membelalakkan matanya.


"Astaga! Kalian ke Shanghai tapi tidak menemuiku? Padahal aku sudah tiba di sana!"


"Maaf, Ayah. Kami tidak lihat. Lagipula, kami harus segera pulang. Tidak menginap di Shanghai," jelas Lucas.


Andrean mendengus. "Benar-benar teman lama, ya?" Itu sindiran. Lucas nyengir. Sementara Liam acuh.


"Yaya … lalu bagaimana dengan Alexander itu?"tanya Andrean. Mengungkit dan mempermasalahkan hal yang lalu hanya akan semakin menambah masalah.


"Bukankah Ayah harus cerita dulu apa yang terjadi tadi? Baru kami bisa memperkirakannya?"balas Liam.


"Anak kecil, kalian pandai sekali, ya?"


"Okay-okay." Liam memang sulit diajak bercanda. Bawaan serius.


Andrean menceritakan apa yang terjadi. Detail. Apalagi ia sudah tahu foto siapa itu.


"Huh! Pantas saja Mom emosi. Untung tidak membalik meja," ketus Lucas. Nada ketusnya ditujukan untuk Mr. Alex.


Andrean terkesiap. Membalik meja?


"Begini, Ayah. Dari ceritanya, Alexander dan Ling Xiayu itu jatuh cinta tapi tidak mendapat restu keluarga Ling. Lalu Alexander ini pamit pergi untuk mengurus sesuatu. Janjinya akan segera pulang namun ini sudah puluhan tahun. Dia tidak menepati janjinya. Dan saat dihadapkan kembali foto Ling Xiayu, Alexander itu tidak mengingatnya. Ditambah lagi ditampakkan hubungan mesra dengan wanita lain. Ya meskipun itu istrinya. Sebagai seorang anak, mana mungkin Mom tidak emosi. Apalagi karena pria itu, Ling Xiayu sangat menderita. Dan dialah yang menyebabkan Mom dibuang dulu. Secara singkat, begitulah kisah masa lalu yang panjang itu," papar Liam. Katanya singkat saja, itu sudah panjang. Liam manggut-manggut. Sepakat dengan penjelasan Lucas.


Andrean juga manggut-manggut. Ia sudah paham sepenuhnya. "Apa benar kalian anak usia 6 tahun?"tanya Andrean kemudian.


"Lantas, Ayah?"tanya balik Lucas.


"Usia hanya angka," balas Liam.


"Haha benar juga."


"Tapi, bukankah menurut kalian itu aneh?"tanya Andrean kemudian. Berdiskusi dengan kedua anaknya itu, mereka diibaratkan satu kepala. Nyambung meskipun ada perbedaan umur yang sangat teramat jauh.


"Aneh?" Lucas dan Liam saling pandang. Mencari di mana keanehannya.


"Eternel, kalian menyelidikinya, kan? Coba lihat usia anak tunggal itu," ujar Andrean.


Liam mengeceknya. Dahinya mengedit dalam. "Jangan sedalam itu!" Lucas menepuk dahi Liam.


"Hah?"


"Ada yang aneh," ucap Lucas.


"Aku paham maksud Ayah apa," lanjut Lucas.


Liam masih berpikir. Apa yang aneh?


Astaga! Mengapa ia kalah cepat dari Lucas?


Ah? "Aku paham sekarang!"ucap Liam.


*


*


*


"Ayah akan menemui Mom kalian," ujar Andrean. Bangkit dan meninggalkan kamar.


"Semoga berhasil!"


"Omong-omong, tidurnya nyenyak sekali. Lucas menatap Crystal yang masih tidur. Padahal mereka sangat ribut saat diskusi tadi.


"Seperti orang mati."

__ADS_1


Lucas memutar bola matanya malas. "Terserahmu saja!"


Tok


Tok


"Lia, boleh aku masuk?"tanya Andrean, sembari mengetuk pintu.


"Iya!" Terdengar sahutan. Andrean tersenyum dan langsung masuk.


"Kau sedang apa, Lia?"tanya Andrean, mendapati Camelia tengah mencoret-coret kertas. Kaca yang berserakan di lantai sudah tidak ada. Camelia pasti sudah membersihkannya. Atau mungkin saja pengawal.


"Merencanakan balas dendam," jawab Camelia tanpa menoleh pada Andrean.


"Sebut saja pelajaran," ralat Andrean.


"Begitulah." Camelia mengedikkan bahunya. Andrean duduk di tepi ranjang.


"Aku sudah dengar semuanya jadi Lucas dan Liam," ujar Andrean. Camelia melirik sekilas.


"Satu kata untuk kalian, kejam sekali. Padahal tahu rinduku sangat membuncah. Tapi, sudah berlalu. Aku memaafkan kalian. Namun, tetap harus ada kompensasi untuk itu!"


Andrean terkesiap sesaat. Tak lama tersenyum.


Syukurlah. Kalian memang bisa diandalkan.


"Baiklah."


"Lia, apakah kau tidak merasa aneh dengan apa yang terjadi tadi?"


"Aneh?"


"Cinta yang sanggup menentang dan menahan tekanan seperti itu tentunya sangatlah kuat. Tidak akan lekang oleh waktu. Contohnya saja aku dan kau. Kita hanya satu malam, tapi sampai detik ini masih teringat. Sementara mereka itu … apa kau mengerti maksudku?"jelas Andrean.


"Katakan saja langsung!"tegas Camelia.


"Bukankah ada masalah pada …." Andrean menyentuh kepalanya.


"Ingatan?"


"Ku dengar keluarga Ling langsung mengenalimu. Artinya ada kemungkinan itu terjadi."


Jika memang ada masalah pada ingatan, maka kemungkinan terbesarnya adalah hilang ingatan. Jika memang demikian, maka respon yang diberikan ada wajar.


"Meskipun begitu, tidak akan menghentikan niatku!"pungkas Camelia. Ia sudah bertekad.


"Lalu bagaimana caramu memberi mereka pelajaran?"tanya Andrean. Eternel bukan brand kecil. Bisa dikatakan di wilayah ini, Eternel adalah perusahaan pabrik parfum yang paling terkenal dan tertua.


"Mengakuisisinya? Atau membuat mereka tunduk pada keluarga Shane?"tanya Andrean lagi.


Sepertinya mereka berdua cerita banyak pada Rean.


"Hm … boleh juga. Karena membuatnya merasakan penyesalan juga sulit. Aku juga tidak punya ingatan apapun tentang mereka," balas Camelia.


Andrean tertawa. Calon istrinya ini, memang ditakdirkan untuk dirinya. Karakternya tidak lemah dan penuh dengan kejutan.


"Ayo kemarilah. Peluk aku."


"Beri kau pelukan dan ciuman."


Camelia mendengus. Bangkit dan menghambur dalam pelukan Andrean.


Seperti yang Andrean katakan, ia mencium Camelia. Lepas setelah merasakan pasokan oksigen menipis.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?"


"Kau semakin ahli."


"Tentu saja!"


Di saat demikian, telepon kamar berbunyi.


Andrean menjawabnya.


"Ya?"


"Baiklah. Kami akan menemuinya."


"Siapa?"tanya Camelia setelah panggilan berakhir.


"Mr. Alex ada di bawah. Ingin bertemu denganmu, Lia."


"Kebetulan sekali. Ayo." Camelia langsung bergegas.


Semangat sekali.


Andrean menyusul.


Di lobby, Mr. Alex menunggu. Wajahnya terlihat resah. Tidak tenang akan sesuatu.


"Anda mencari saya, Mr. Alex?"tanya Camelia datar. Mr. Alex langsung berdiri.


"Nona."


"Bisa Anda jelaskan mengenai foto ini? Dan umpatan Anda tadi?"tanya Mr. Alex. Wajahnya harap-harap cemas. Mengeluarkan foto yang Camelia tunjukkan tadi.


"Itu foto ibu kandung saya," jawab Camelia.


"Jika begitu … mengapa Anda tunjukkan pada saya?"


"Karena Anda adalah Ayah kandung saya," jawab Camelia lugas.


"Apa?!"


Sesuai dugaan. Pasti Mr. Alex terkejut.

__ADS_1


__ADS_2