Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap.140


__ADS_3

"Kau kembali dengan sangat cepat, apakah Tuan Muda itu sudah menyetujuinya?"


Pertanyaan itu langsung menyapa Andrean saat ia tiba di kediaman. Kakek Gong menatapnya dengan harapan.


Andrean duduk di sofa, menghela nafasnya. "Dia akan mempertimbangkannya."


Kakek Gong menghela nafasnya lega.


"Kakek aku hanya akan membantu kali ini. Jika ke depannya dia tidak bisa menangani hal seperti ini lagi, atau melakukan hal bodoh lagi, aku tak segan melengserkannya!"ucap Andrean tegas. Agar Kakek Gong memberi peringatan lagi pada Allen.


"Aku juga tidak menyangka akan seperti ini," ucap Kakek Gong, tak habis pikir dengan Allen.


*


*


*


"Mengapa dia selalu ikut campur?!" Di ruangannya, Allen mengamuk. Melemparkan barang yang ada di atas meja. Wajahnya merah padam. Kekesalan terlihat jelas.


"Padahal dia sudah bilang tidak ikut campur, mengapa dia ikut campur terus, hah?!"


"Para tetua itu juga! Mengapa mereka tidak percaya padaku?!"


"Apa kurangku dibandingkan dia?! Aku yang sejak awal berada di perusahaan ini! Mengapa percaya padanya untuk urusan kerja sama?!" Pria itu mengerang, bertanya dengan geram.


Di sudut ruangan, Lie melihatnya dengan datar. Menghela nafasnya pelan.


"A-aku!"


"Aku merasa tak ubahnya boneka!!" Pria itu kembali mengeram.


"Berhenti menyalahkan orang lain, Tuan!" Lie angkat bicara. Berkata dengan tegas, menatap datar Allen.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"sinis Allen, menoleh kesal pada Allen. Bukannya menenangkan atau memberinya saran, malah memarahinya!


"Semua ini karena salah Anda sendiri!"


"Apa maksudmu? Ini semua salahku? Kau menyalahkanku? Ini semua salah bedebah itu!!"hardik Allen, pria itu kembali memukul meja. Tatapannya menghunus pada Lie.


Lie, pria itu tetap tenang. "Apakah Anda tidak menyadarinya? Sebelum menjadi Presdir, Anda adalah orang yang kompeten."


"Apa maksudmu, Lie? Kau mau mengatakan aku berubah?!"hardik Andrean lagi, kali dengan melangkah mendekati sekretarisnya itu. Lie tidak gentar.


"Dulu Anda selektif dan dapat mendapatkan kepercayaan klien dengan mudah. Namun, semuanya berubah Anda menjadi Presdir. Anda hanya berpikir, bagaimana cara menyingkirkan Tuan Muda Andrean, berpikir bagaimana caranya agar Group Gong lepas dari pengaruh Tuan Muda Andrean."


Bugh!


"Berhenti ber omong kosong, si*alan!!" Lie menerima bogem mentah dari Allen.


Pipinya terasa sakit. Namun, itu bukan halangan. Ia hanya menyekanya pelan dan kembali melanjutkan ucapannya.


Hari ini, ia harus menyadarkan Allen, agar pria itu tidak salah langkah lagi!


"BERHENTI KATAKU, LIE!!"


Allen meledak marah. Beraninya Lie mengkritik dirinya!


Bugh!


Sekali lagi, Lie menerima bogem mentah dari Allen. Tidak menghindarinya.


"Aku akan membunuhmu jika kau terus bicara!!"


"Hehehe!" Lie tertawa. "Padahal Anda sudah diberi balasan oleh Tuan Muda Andrean. Akan tetapi, bukannya berubah Anda malah semakin gila!!" Lie tetap tidak berhenti. Kata-kata formalnya begitu pedas. Dan berani!


"Apa kau tidak mendengarku, Lie?!"

__ADS_1


Allen kembali melayangkan bogem. Namun, kali ini Lie tahan. "Anda harusnya meminta maaf dan melangkah ke arah yang baik. Jujur, saya kecewa. Anda sudah dibutakan keserakahan!"


Wajah Allen benar-benar gelap. Matanya melotot. Tidak pernah menduga akan mendapat perlawanan dari Allen.


"Hati Anda sudah bebal! Saya bicara seperti ini pun tidak mungkin masuk dalam pikiran dan hati Anda. Mungkin malah sebaliknya, Anda akan semakin buta!!"kecam Lie. Lie tidak segan lagi. Ia mengkritik Allen dengan pedas. Tampaknya kesabaran Lie menghadapi tingkah laku Allen sudah di ambang batas.


Lie melihatnya dengan jelas. Ia bukan setahun dua tahun menemani Allen. Bisa dikatakan, Lie ikut melihat perkembangan


"Hentikan!"


"Kau tidak berhak mengkritikku!"sinis Allen.


"Saya berhak mengingatkan Anda, Tuan! Selain itu, jangan lupakan bahwa sekarang Anda dalam posisi bahaya. Anda sekarang miskin dan berpotensi besar di depak dari kursi Anda!"


Kata-katanya tetap pedas. Lie tidak takut sama sekali.


"Kau menghinaku?!"


"Terserah Anda menganggapnya apa! Hentikan semua ini, akui kesalahan Anda maka semua akan kembali normal!"jawab Lie. Ia melepaskan tahanan tangannya pada Allen. Kemudian bersiap untuk melangkah pergi.


"Kau berubah!"seru Allen. Langkah Lie terhenti.


"Saya berubah?" Menjawab dengan pertanyaan.


"Bukannya Anda yang berubah?" Menolehkan wajahnya dengan dingin.


"Jika Anda masih tidak sadar juga, maafkan saya. Saya tidak bisa ikut dengan Anda lagi!" Dan kali ini melemparkan ancaman.


"Kau akan meninggalkanku?!" Allen membelalakkan matanya.


"Pilihan ada di tangan Anda. Silahkan tentukan langkah Anda!"jawab Lie, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"LIE!!"teriak Allen memanggil Lie. Namun, tidak Lie hiraukan.

__ADS_1


AGGGHKKKK!!


__ADS_2