
"Dion, jika kau sudah duduk di kursi Presdir, Kakak harap kau tidak melupakan siapa kita sebenarnya. Kakak harap kau tidak tinggi hati karenanya dan menganggap kedudukanmu sekarang adalah hakmu. Kakak harap kau mengingat alasannya dengan jelas. Suatu hari nanti, saat waktunya tiba jabatan itu akan diturunkan pada pewaris aslinya yakni Liam. Kakak harap, kau tidak berubah setelah duduk di kursi itu, Dion," ucap Camelia, sambil memasang dasi pada Dion.
Dion tersenyum lebar. "Percayalah padaku, Kak. Aku tidak akan lupa siapa diriku yang sebenarnya. Sebaliknya, aku merasa sangat terhormat. Dipercaya untuk memimpin perusahaan sampai waktu yang ditentukan," jawab Dion.
"Hati manusia tidak mudah ditebak, Dion. Kakak hanya takut. Takut kita tidak bisa menjaga kepercayaan Mommy dan Daddy."
Yang dikhawatirkan Camelia bukanlah kehilangan jabatan atau posisi pada saat ini. Namun, kehilangan kepercayaan. Camelia takut Dion akan lalai dan kehilangan esensi awalnya.
"Kakak … percayalah padaku. Aku tidak akan kehilangan jati diriku karena kekuasaan."
Dion memeluk Camelia. "Percayalah padaku, Kak."
"Iya. Kakak percaya padamu." Camelia membalas pelukan Dion.
*
*
*
Hari di mana Dion akan menggantikan Tuan Shane memimpin Shane Group tiba. Di awal pekan, acara itu digelar. Dan dihadiri oleh segenap anggota keluarga Shane, dewan direksi, serta karyawan Shane Group dan tamu undangan dari beberapa instansi.
Rangkaian acara formal, sebagaimana lazimnya pada acara pengangkatan dan pelantikan jabatan dilangsungkan.
"Singkat saja, saya akan dengan maksimal untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan. Untuk itu, mohon kerjasamanya," ucap Dion, mengakhiri sambutannya setelah dilantik, disambut dengan tepuk tangan meriah.
Acara itu dilanjutkan dengan sesi foto, kemudian pelepasan balon, dan terakhir adalah acara bebas. Karena satu hari itu adalah free. Dibebaskan dari jam kerja.
"Chess!!"
"Daddy harap kau mengemban tanggung jawab ini dengan sepenuh hati, Dion!"
"Seperti yang Daddy harapkan," jawab Dion. Keduanya bersulang.
Malam harinya ada perayaan kecil-kecilan yang dilakukan di kediaman Shane.
Di atas meja makan itu, terhidang steak dan teman-teman barbeque. Wine juga ada di atas meja. Kecuali Camelia, Lucas, dan Liam, ketiga orang lainnya minum wine.
"Kau tidak mau coba, Lia?"tanya Nyonya Shane, mengangkat gelas minumannya.
"Ini terlalu awal untukku mabuk, Mom," jawab Camemia. Minum sedikit saja, tubuhnya tidak bisa menoleransi.
"Yaya … ayo, habiskan saja sirup kalian," ujar Nyonya Shane, menyesap pelan minumannya.
"Sebenarnya sayang sekali, Kak. Wine ini sangat enak."
Camelia mendengus sebal. "Jangan mengejekku, Bocah! Minum dan nikmati saja minumanmu!"ketus Camelia, menjitak kepala Dion.
Dion mengadu sakit. Dan kemudian tertawa. Membuat Camelia kembali mendengus.
Terakhir ia minum alkohol, ia berakhir tidur dengan Andrean. Dan besok, ia jadwalnya juga pagi hari. Camelia tidak ingin menderita sakit kepala saat bangun pagi besok.
"Huh! Untuk mencobanya, kami butuh waktu 13 tahun lagi." Tiba-tiba Lucas mendengus.
"Hahaha … itu waktu yang sangat lama."
"Tidak perlu menunggu selama itu. Jika kalian sudah pubertas, silahkan mencobanya. Asalkan tidak berlebihan," tutur Nyonya Shane.
"Sungguh?" Lucas berbinar.
"Iya … karena saat masuk dunia kerja nanti, kalian pasti akan mencobanya. Jadi, lebih baik kalian harus tahu toleransi tubuh kalian terhadap alkohol," jelas Nyonya Shane.
"Ayo-ayo, jangan bicara terus," ajak Tuan Shane, kembali mengangkat gelasnya.
*
*
*
Akhirnya, setelah kurang lebih empat bulan, syuting drama Split Love telah rampung. Promosi drama juga sudah terpasang di beberapa titik. Di layar kaca juga sudah ada. Rencananya, satu minggu setelah syuting selesai akan ditayangkan.
Sebagai akhir dari syuting drama itu, juga sebagai perpisahan antara pemain dan kru, diadakan perayaan di sebuah restoran.
Dan sebagai pemeran utama wanita, Camelia tentu ada di antaranya.
Semenjak keributan yang Alice buat hingga berujung pada pemblacklistan, Joseph tidak lagi menunjukkan sikap sok akrab. Hanya sekadar saja. Di mana tanggapan Camelia pun tidak berubah. Datar dan biasa saja.
Sejak keributan itu pula, Camelia syuting dengan tenang. Tanpa ada yang mengusiknya. Setidaknya untuk saat ini. Tidak tahu setelah ini bagaimana.
"Lia, mari bersulang," ajak Sutradara. Camelia mengangkat gelasnya. Tentu saja, itu adalah sirup maple, bukan minuman beralkohol.
"Semoga kita dipertemukan lagi dalam proyek di masa depan," harap Sutradara setelah minum.
"Saya harap juga demikian," sahut Camelia.
"Joseph, mengapa kau terlihat lesu begitu?"tegur Sutradara. Sedari tadi, Joseph hanya diam. Menggoyahkan gelasnya dengan lesu.
"Tidak apa. Saya hanya merasa berat untuk berpisah dengan drama ini. Padahal, rasanya baru kemarin syuting dimulai dan ini sudah berakhir," jawab Joseph, menghela nafas. Melirik Camelia sekilas.
Camelia tidak merespons. Ia diam menikmati sirup maplenya. "Haha … benar-benar. Sedih rasanya berpisah dengan kalian. Saya sudah merasakan cairan sangat cocok dengan kalian. Tapi, berakhirnya syuting ini bukan akhir dari pertemanan kita. Kelak, kita akan reuni. Atau bisa saja, yang ada di sini akan segera reuni dalam proyek yang sama," ujar Sutradara.
"Anda benar," sahut Joseph. Tidak ada yang tidak mungkin. Hanya saja, agaknya sulit untuk menemukan kesempatan itu. Atau mungkin, tidak akan terjadi, terutama pada pemeran utama. Keduanya jika sebuah drama atau film ada beberapa musim atau seri.
Contohnya saja adalah film Fast And Furious. Atau Avengers.
"Bagaimana menurutmu, Lia? Aku dengar setelah ini kau akan menghadiri fashion show di Paris. Apakah sekembalinya dari sana kau ada rencana kembali akting?"tanya Sutradara. Camelia yang tampaknya tadi memikirkan hal lain tersentak pelan.
"Ah … maaf. Saya melamun tadi," sesal Camelia.
"Haha … tidak apa." Sutradara itu kembali tertawa.
"Setelah kembali dari Paris, apa kau ada rencana kembali syuting, Lia? Jika ada, kebetulan aku akan ada proyek baru lagi. Ini film, dan penulisnya adalah Miriam Toews. Kau kenal dia, kan?" Camelia mengernyitkan dahinya. Tentu ia kenal siapa itu Miriam Toews. Dia adalah salah satu penulis terkenal, yang karyanya telah mendapatkan banyak penghargaan.
"Jika kau tertarik, aku akan mengirimkan undangan pada agensimu, dan kau bisa mengikuti casting. Siapa tahu saja perannya cocok denganmu," lanjut Sutradara.
__ADS_1
"Wah-wah, Anda begitu produktif, Pak," puji Camelia. Sutradara itu tertawa.
"Akan saya pertimbangkan setelah melihat naskahnya, Pak," jawab Camelia kemudian.
"Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu."
Camelia tersenyum. Ia kemudian melihat jam tangannya. Hari sudah gelap. Baru saja. Sekitar pukul 20.30. Dan hari ini Camelia ada janji dengan Lucas dan Liam.
"Maaf sebelumnya. Saya tidak bisa berada di sini sampai akhir. Kebetulan hari ini saya ada janji dengan keluarga," ujar Camelia. Ia berdiri untuk berpamitan.
"Ah? Benarkah?" ******* kecewa banyak keluar. Namun, mereka juga tidak bisa menahannya.
"Kalau begitu, izinkan saya mengantar Anda sampai lobby. Karena, kita tidak tahu kapan akan bertemu lagi," ujar Joseph. Pria itu ikut berdiri.
"Yaya … antarkan Lia sampai lobby, Joseph," imbuh Sutradara. Sutradara itu tampaknya mulai mabuk.
"Er … baiklah."
Camelia dan Joseph meninggalkan ruangan. Sampai di depan lift, keduanya saling diam.
"Saya sudah lama menahan ini. Hari ini saya akan melakukannya!" Camelia mengernyit bingung. Saat di dalam lift, Joseph berkata demikian dan itu membuatnya tidak tenang.
"Apa …." Belum selesai Camelia bertanya, Joseph membekap mulutnya.
Gawat! Obat bius!
*
*
*
"Ku pikir sulit untuk membawanya. Rupanya sangat mudah. Joseph, kemana semua pengawal sialannya? Dan wanita ini, mengapa tidak waspada seperti biasa?"tanya seorang wanita, yang tak lain adalah Alice. Wanita itu duduk dalam pangkuan Joseph dan bergelayut manja pada lengannya.
"Pengawalnya di lobby. Mungkin saat di meja makan tidak terjadi hal aneh."
"Hm … lama sekali bangunnya. Aku bosan. Bagaimana jika kita bermain dulu?"bisik Alice dengan sesuai.
"Bukankah menyenangkan jika dia bangun saat kita bermain?"bisik Alice lagi, dengan tangan mulai bergerak nakal.
"Kau benar-benar *******, Alice!"umpat Joseph. Alice tertawa.
"Nikmati saja."
*
*
*
Uhhh
Aku di mana?
Suara apa itu? Menjijikan!
Apa yang terjadi?
Camelia membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Perlahan, kesadaran kembali dan ingatannya juga kembali.
Ini ada di mana?
Sebuah kamar dan suara *******. Menjijikan!
Camelia memalingkan kepalanya, menjadi sumber suara. Matanya membulat lebar. Melihat tak jauh darinya, ada sepasang manusia tengah berhubungan, dengan membelakangi dirinya.
Ahh … hngghh
"Joseph!!"
Apa-apaan ini? Aku melihat hal menjijikan ini secara live?
Perut Camelia langsung terasa mual.
Tidak. Jangan berfokus pada itu. Aku harus mengirim pesan pada pengawalku.
Camelia menyentuh telinga kanannya. Sebanyak tiga kali. Camelia bisa melakukan karena tangannya terikat di depan. Bukan di belakang.
Agak amatir.
Jangan buat suara. Biakan hewan itu selesai kawin.
Tapi, tali ini cukup kuat? Bagaimana cara melepasnya?
Ayo, lakukan perlahan. Anggap saja ini penculikan dengan tambahan live.
Ahh …
"Joseph, aku keluar."
"Di dalam. Keluarkan di dalam!"
Tak lama kemudian, terdengar erangan. Dan nafas yang terengah.
"Hangat sekali."
Camelia melirik sekilas. Keduanya sudah memisahkan diri.
UPS!
Camelia langsung pura-pura menutup matanya.
Aku kira besar. Rupanya lebih kecil dari Andrean dan Chris.
"Sebenarnya berapa banyak dosis yang kau berikan, Joseph? Dia tidak bangun-bangun," keluh Alice. Keduanya mendekati Camelia dengan tubuh polos dan penuh keringat.
__ADS_1
"Setelah aku perhatikan, tubuhnya memang menakjubkan. Media pasti akan ramai jika melihat tubuh seksinya …." Alice tersenyum smirk.
"Aku akan jadi videografernya!"
Apa maksudnya? Mereka ingin melecehkanku?
"Kau benar, Alice. Lihat, melihatnya tidur saja, milikku kembali bangkit."
Joseph mengerakkan tangannya. Mengusap pipi Camelia. "Bibir ini begitu menyiksaku!"
Joseph mengusap bibir Camelia dengan ibu jarinya.
Beraninya menyentuhku!
"Auh!"
Camelia membuka matanya dan menggigit jari Joseph.
"Kau sudah bangun? Baguslah!" Joseph malah tersenyum. Pria bertubuh polos itu menatap Camelia dengan nafsu.
Camelia langsung beringsut dan berusaha untuk duduk. Matanya menatap dingin Joseph dan Alice yang menatapnya penuh nafsu.
Satu nafsu birahi dan satu lagi nafsu menghancurkan. Camelia bergidik.
"Jangan melawan, Camelia. Kau ada dalam genggaman kami! Hari ini aku akan menghancurkanmu!" Wajah Alice penuh dengan kebencian.
"Aku akan memberikanmu kehangatan."
Joseph merangkak mendekati. Camelia bergeming. "Bagaimana? Kau sudah dengan kejutan ini? Kau takut sampai bodoh? Hei, inilah pembalasanku akibat penghinaanmu! Lihat, siapa yang akan menolongmu!"ucap Alice. Ia tertawa. Tawanya membahana di kamar itu.
"Camelia, aku akan bermain lembut. Aku harap kau menikmatinya."
Camelia masih bergeming.
Aku tarik ucapanku. Mereka benar-benar amatir. Apa mereka kira aku lemah? Ikatan ini sangat longgar sekarang. Lalu bisa-bisanya kakiku tidak diikat. Ditambah lagi, beraninya mereka menunjukkan titik vital. Dan pentungan itu, astaga! Aku berekspektasi terlalu tinggi.
Camelia memejamkan matanya. "Hei! Jangan pura-pura tenang. Memohonlah!"hardik Alice. Ia malah semakin tidak senang melihat ketenangan Camelia.
Harusnya Camelia memohon. Mengiba agar tidak disentuh. Atau … jangan-jangan Camelia ingin disentuh? Pasrah?! Ini tidak seru!
"Jangan sentuh aku dengan tubuh kotormu!"ucap Camelia dingin. Saat merasakan jilatan pada telapak kakinya. Camelia langsung melayangkan tendangan. Joseph langsung terpelanting.
"Sialan! Kau suka kekerasan ya?!"maki Joseph.
"Ah … aku rasa iya," jawab Camelia. Ia tersenyum smirk. Suasana kamar berubah. Terasa menegangkan.
"Bagaimana bisa?!" Alice dan Joseph terbelalak saat Camelia melepaskan tangannya dari ikatan.
"Untuk menundukkan seseorang, kita harus tahu kekuatan pastinya." Camelia meniup pergelangan tangannya.
"Apa kalian pikir aku lemah? Penculikan seperti ini, aku sering mengalaminya," ucap Camelia, menatap remeh kedua orang itu.
"Benar-benar, deh! Kalian menghancurkan ekspetasiku!" Camelia turun dari ranjang. Ia mengamati kamar ini sekali lagi.
"Meskipun begitu! Kau tidak akan menang melawan kami!"
Entah dari mana, tiba-tiba Alice memegang pisau, diacungkan padanya.
"Owh … itu berbahaya. Kau harus hati-hati," saran Camelia.
"Berhentilah sombong! Terima saja nasibmu!"teriak Alice.
"Sayangnya, menyerah tidak ada dalam kamusku. Kemudian … tolong tutupi tubuh kalian. Itu sangat merusak mataku. Apalagi itu, sangat kecil!"
"KAU!" Joseph berteriak. Bagaimana bisa Camelia mengejek pusakanya? Ini sudah membuat banyak wanita mendesah di bawahnya. Joseph tidak terima!
"Hm …." Camelia berbalik. Ia menghadapi serangan mendadak dari Joseph.
Gubrak!
Wanita ini! Bagaimana bisa begitu kuat!
"Hei, tidurlah sebentar!"
Bugh!
"Lemah sekali!"
Camelia berdecak melihat Joseph yang sudah pingsan.
"Now, giliranmu."
"Aku sarankan kau letakkan pisau itu," ucap Camelia. Namun, Alice tidak mendengarnya. Ia yang merasa kesal dan panik menyerang Camelia dengan serampangan. Dan tidak butuh waktu lama untuk Camelia menundukkan Alice.
"Uhh!"
"Kan sakit. Makanya!"ledek Camelia. Tadi, leher Alice tergores pisau.
"Sekarang, ikutlah tidur!"
Camelia menepuk kedua tangannya. Tidak sesulit yang ia kira.
Tidak lama kemudian, terdengar suara gebrakan. Pintu kamar didobrak. Itu para pengawal Camelia.
"Nona. Kami terlambat."
"Aku sudah memperkirakannya. Kalian, ikat mereka dengan berhadapan, bakar perangsang lalu bangunkan mereka," ucap Camelia.
"Baik, Nona."
"Jangan lupa, ambil beberapa foto."
"Baik, Nona."
"Lucas dan Liam pasti sudah menungguku." Camelia bergegas meninggalkan tempat.
__ADS_1
Ah … lupa. Ini pesta penutupan yang berkesan.