
Senin siangnya.
Aula Group Gong dipenuhi dengan petinggi perusahaan juga anggota keluarga Gong. Di mana Andrean turut dalamnya, bersama dengan Kakek Gong dan juga Crystal. Juga Nenek Jiang dan Allen. Di dalamnya juga turut hadir wartawan. Tentu saja yang sudah mendapat persetujuan dari perusahaan. Dan jangan lupakan juga tamu undangan Group Gong yang berasal dari perusahaan mitra juga relasi bisnis. Aula yang luas ini, penuh dengan kepala manusia.
Serangkaian acara dimulai. Dan puncaknya adalah pelantikan Allen sebagai pimpinan baru Group Gong. Sebelum itu, Kakek Gong memberikan sepatah dua kata.
"Hari ini, keputusan rapat akan dijalankan. Hari ini, Group Gong akan membuka lembaran baru di bawah pimpinan terpilih. Aku tidak berharap banyak. Namun, kalian pasti ingin perusahaan ini semakin berjaya lagi!"ucap Kakek Gong lantang. Usia boleh lansia, semangat tetap jiwa muda.
Allen melirik Andrean. Pria itu duduk tenang dengan Crystal di sisinya. Ekspresi Andrean? Datar nan tenang. Hingga, Allen tidak bisa menerka apa yang Andrean pikirkan. Ingatnya kembali ke waktu rapat beberapa hari lalu.
Sempat terjadi pertentangan yang menolak dirinya naik. Padahal, hanya dia yang akan naik. Mengharapkan Andrean? Sejak mendirikan perusahaan sendiri, bukankah Andrean sudah tidak berniat untuk Group Gong? Jelas, Allen sangat kesal kala itu. Akan tetapi, semua tidak lagi berarti saat Kakek Gong mengambil keputusan. Bahwa, dia lah yang akan memimpin Group Gong.
CK!
Allen berdecak pelan. Hingar kebahagiaan berhasil menjadi pimpinan seakan berkurang karena Andrean masih ada dalam jajaran direksi perusahaan. Andrean, tetap memegang saham mayoritas.
...Aku harus pikirkan cara agar dia tidak punya kuasa lagi di sini!...
"Sekarang aku umumkan pada kalian siapa yang akan menggantikanku. Dia adalah putra dari anak saudaraku, Allen Gong!" Dengan lantang, Kakek Gong menyebutkan siapa penggantinya. Tepuk tangan langsung pecah.
Allen memperbaiki ekspresinya. Juga merapikan penampilannya. Segera naik ke atas panggung.
"Selamat menahkodai kapal besar ini, Allen!"ucap Kakek Gong, menjabat tangan Allen.
"Terima kasih, Kakek," jawab Allen, tersenyum lebar. Lupakan saja dulu masalahnya, dan nikmati hari juga perayaannya.
Kakek Gong kemudian mempersilahkan Allen menyampaikan sambutan.
"Baik. Selamat pagi semuanya," sapa Andrean menyeluruh. Jujur saja, ia cukup gugup saat ini. "Sebelumnya terima kasih atas kepercayaan kalian pada saya. Terutama pada Kakek Gong dan Kak Andrean selaku cucu utama keluarga Gong yang telah memberikan saya kesempatan dan mempercayai saya untuk memimpin pelayaran kapal besar ini," lanjut Allen. Ia berhenti pelan. Mengedarkan pandangannya. Sejenak menatap Andrean yang manggut-manggut. Tampaknya tidak keberatan dengan apa yang ia katakan. "Ini adalah suatu kehormatan untuk saya," tambah Allen.
"Saya juga mengucapkan terima kasih pada Nenek yang selalu memberikan dukungan pada saya." Nenek Jiang mengangguk.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, semaksimal mungkin untuk melanjutkan kepemimpinan. Mempertahankan dan semakin memajukan perusahaan ini!"ucap Allen lantang. Sekali lagi, disambut dengan tepuk tangan.
"Bertele-tele!"gumam Andrean. Tatapan datarnya berubah menjadi tajam, terarah pada Allen. Merasakan tatapan tajam itu, Allen mencari sumbernya. Tertegun melihat tatapan Andrean. "Cepat akhiri basa basimu! Aku bosan mendengarnya!" Itu adalah arti yang Allen tatap.
"Namun, itu semua akan tercapai dengan kerja sama. Oleh karenanya, mohon kerja samanya. Terima kasih!" Allen segera menutupnya. Kemudian membungkuk kecil.
Acara inti sudah dilalui. Kini, Allen resmi menjadi pemimpin baru. Sementara Kakek Gong menjadi demisioner yang pastinya tetap memegang kekuasaan di Group Gong. Ia menjadi tetua dan anggota eksekutif.
Setelah acara itu berakhir, Allen menerima banyak ucapan selamat. Andrean masih duduk di kursinya. Sementara Crystal sudah bersama dengan Nenek Jiang, menikmati kue yang dihidangkan. Andrean tidak berdiam diri, melainkan didatangi dan diajak bicara dengan para tamu. Pembicaraan tak luput dari tawaran pernikahan, tawaran menjalin kerjasama, dan macam lainnya. Meskipun dari perusahaan hiburan, perusahaan Andrean sangat sangat diperhitungkan.
"Siapa dia?"
"Bukankah itu orang tua dari Rose Liang? Mantan tunangan Presdir Gong?"
"Sedang apa mereka di sini?"
Itu menarik perhatian Andrean. Juga Kakek Gong serta yang lainnya.
"Dion?" Andrean langsung mengenali pemuda tampan yang masuk bersama dengan sepasang lansia yang ia kenali sebagai Tuan dan Nyonya Liang.
"Pemuda itu, aku seperti pernah melihatnya." Salah satu tamu berkata.
"Dion, Tuan, Nyonya, selamat datang." Andrean meninggalkan mejanya dan menyambut ketiganya.
"Mr. Gong," sapa balik Dion. Andrean mengenali Dion dalam sekali pandangan? Bukankah Andrean punya kesulitan mengenali wajah? Ya, itu masih ada. Namun, untuk Dion, Andrean telah berusaha menghafal wajahnya. Karena, Dion adalah salah satu orang terdekat Camelia.
"Kalian saling kenal?"tanya Tuan Liang, terkesiap.
"Hm, mana mungkin aku tidak mengenalnya, Ayah," jawab Dion. Dion tersenyum lebar. Andrean menangkap makna di balik senyum itu.
__ADS_1
"Dia kan Presdir dari Starlight Entertainment yang terkenal," lanjut Dion. Andrean tertawa pelan.
"Dan bagaimana mungkin pula saya tidak mengenali direktur dari Shane Group, Tuan Muda Shane?"balas Andrean, berjabat tangan dengan keduanya.
Raut wajah Tuan Shane sedikit gelap saat menyapa Dion dengan nama Tuan Muda Shane. Akan tetapi, ia juga harus menjaga air muka.
"Apa katanya? Direktur Group Shane? Tuan Muda Shane?" Kembali, seru dan bisik kekagetan terdengar. Sontak, Dion langsung menjadi pusat perhatian.
"Pemuda itu, tampaknya belum berusia 20 tahun tapi sudah menjadi direktur."
"Apa dia berasal dari luar negeri? Nama keluarganya terdengar asing."
"Group Shane. Aku sedikit tahu tentang mereka. Kakaknya, kalau tidak salah top artis. Dan mereka berasal dari Kanada."
"Kanada? Negeri maple? Itu cukup jauh."
"Tapi, dia pasti genius bisa menjabat sebagai direktur di usia yang begitu muda."
Kagum, tidak percaya, tertuju pada Dion. "Tuan Muda Shane, tidak saya sangka Anda datang." Kakek Gong bergabung.
"Undangan dari perusahaan besar, mana mungkin saya tidak hadir."
"Kakek yang mengundangnya?"tanya Andrean.
"Group Shane adalah perusahaan yang menjanjikan. Di masa depan, ada kemungkinan untuk bekerja sama. Allen, kemarilah."
"Ya, Kakek." Allen segera menghadap.
"Kenalkan, ini direktur dari Group Shane."
"Ah, Allen Gong."
"Dion Shane."
"Kalian sama-sama pimpinan, mengobrollah dengan santai." Allen paham. Segera mengajak Dion. Dion mengangguk pelan dan mengikuti Allen.
"Dan untuk kalian berdua, saya tidak menyangka kalian datang. Ada hal apa?" Nada bicara Kakek Gong datar.
"Kakek, mereka adalah kakek dan neneknya Crystal!"tegas Andrean.
"Aku tidak tahu kalian akan datang. Apa ingin bertemu dengan Crystal?"tanya Andrean pada Tuan dan Nyonya Liang. Keduanya mengangguk. Dan untuk ini, Andrean tahu dari panggilan Dion tadi, serta mengingat suaranya.
"Crystal ada bersama Nenek Jiang. Kalian bisa mendatanginya," ujar Andrean, mengarahkan tangannya ke arah tempat duduk Nenek Jiang.
Kedua orang itu berlalu. "Kau membiarkan mereka mendatangi Crystal?!" Kakek Gong tampak tidak senang dengan apa yang Andrean lakukan.
"Kakek … mereka adalah kakek dan nenek kandungnya Crystal!"bisik Andrean. Di dalamnya ada kata-kata mutlak, kandung!
"Kau tidak khawatir?!"
"Mereka orang yang baik, berbeda dengan wanita itu! Kakek tenang saja." Andrean kemudian berlalu. Dan ya, dia kembali dikerubungi lagi. Kakek Gong menghela nafas kasar. Ia bukannya tidak suka pada keluarga Liang. Hanya waspada, takut bahwa Crystal diambil oleh mereka.
"Suamiku, tatapan Tuan Besar tadi sangat tajam. Aku merasa dia menganggap kita akan membawa Crystal," bisik Nyonya Liang pada suaminya.
"Sebelum pulang nanti mari kita luruskan." Tuan Shane juga merasakan hal yang sama.
"Crystal!" Keduanya memanggil nama itu begitu melihat sosok bocah perempuan yang tengah menikmati makanan ditemani oleh seorang wanita tua.
Yang dipanggil menoleh. "Kakek? Nenek?!"serunya setelah diam cukup lama. Bocah itu lekas berlari dan memeluk kedua orang tua itu.
Nenek Jiang mengernyit. "Nenek? Kakek?"
__ADS_1
"Crystal. Apa kabarmu, Cu?"tanya Nenek Liang, sembari mencium pipi Crystal. Wanita tua itu sangat merindukan cucu perempuannya ini.
"Kau merindukan kami?"tanya Tuan Liang.
"Sangat!"jawab Crystal.
"Sebesar apa?"
"Sebesar ini, tidak lebih lagi. Pokoknya sangat!"jawab Crystal dengan merentangkan kedua tangannya. Tuan dan Nyonya Liang dibuat tertawa. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Sudah ada hampir enam bulan.
"Hahaha, cucuku kau bertambah berat, ya!" Wajah Tuan Shane begitu berseri.
"Kalian, orang tua Ibu Crystal?"tanya Nenek Jiang.
"Benar, Nyonya," jawab Nyonya Liang.
Nyonya Jiang mengangguk paham. "Kalau begitu nikmati waktu kalian."
Nenek Jiang bangkit. Wanita itu tidak ingin mengganggu. Selain itu, ia juga lelah.
"Terima kasih, Nyonya."
"Kakek, Nenek, kalian di sini juga? Apa ayah mengundang kalian?"tanya Crystal.
"Hm, bisa dikatakan demikian," jawab Nyonya Liang.
"Melihatmu tumbuh baik, ayahmu pasti sangat menyayangimu." Tuan Liang mengusap rambut Crystal.
"Tentu! Setiap hari aku diberi makan yang banyak. Lalu aku sekolah dan setelah belajar model bersama guru," cerita Crystal, begitu antusias.
"Belajar jadi model?" Keduanya tertegun. Ternyata banyak yang mereka lewatkan.
"Iya. Aku ingin seperti dua model cilik itu. Mereka kembar, sangat mengagumkan," balas Crystal.
"Dua model cilik?"
"Iya." Crystal mengangguk. "Lucas dan Liam namanya," imbuhnya.
Tuan dan Nyonya Liang bertatapan. Jadi, mereka sudah bertemu? Itulah arti tatapan mereka.
Mengapa anak dan cucu kita punya ketertarikan dalam industri hiburan? Pertanyaan itu hadir dalam benak keduanya.
"Kakek, Nenek, ayo makan kuenya," ajak Crystal.
"Baiklah."
"Apa dia tidak kecarian ibunya?"bisik Nyonya Liang, melihat tidak ada kesedihan di wajah Crystal. Dan juga tidak ada pertanyaan mengenai ibunya. Tidak merasa kehilangan?
"Nak, kau baik-baik saja kan tinggal bersama dengan ayahmu?"tanya Tuan Shane.
Crystal melayangkan tatapan heran. "Mengapa Kakek bertanya seperti itu? Crystal baik-baik saja. Di istana ada Paman Toby. Juga ada kakak pelayan. Ayah menjaga Crystal dengan sangat baik," jawab Crystal. Meyakinkan Kakek dan neneknya.
"Suamiku." Nyonya Liang menyentuh tangan suaminya. Menggeleng pelan.
"Kakek hanya cemas, Crystal."
"Jangan cemas, Kakek. Ayah sangat menyayangi Crystal."
Di lain sisi, Allen dan Dion berbicara cukup lama. Pada awalnya membahas pekerjaan tapi lama kelamaan meluncur ke hal pribadi.
"Saya dengar Anda adalah adik dari artis Camelia Shane, apa itu benar?"
__ADS_1
Dian tidak langsung menjawab. Menilik lebih dulu pria di depannya ini. Tersenyum seakan pertanyaan itu hal biasa. Namun, bagi Dion itu pertanyaan yang mencurigakan.