Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 204


__ADS_3

Di China sudah memasuki tahun baru Masehi. Sudah siang hari. Andrean masih berada di kediaman lama Gong. Ia ditahan untuk kembali secepatnya ke Beijing.


Andrean menghela nafas kasar. Ia berada di balkon kamarnya. Wajahnya murung.  


Alasan utamanya tentu saja belum menerima ucapan selamat ulang tahun dari Camelia. Ditambah lagi, sekarang ia sudah menjadi kepala keluarga Gong. 


Bertambah buruklah moodnya. Hadiah ulang tahun acara perayaan kemarin belum sama sekali Andrean sentuh. Semua ditumpukkan di ruang tengah kediamannya. Sangat banyak hingga menggunung. 


"Tuan Muda, Tuan Besar memanggil Anda ke aula makan." Seorang pelayan menghampirinya, menyampaikan pesan dari Kakek Gong. 


"Katakan pada Kakek, aku tidak enak badan. Makan sianglah tanpa kehadiranku!"jawab Andrean. 


"Tapi, Tuan Muda…."


"Kau menolaknya perintah kepala keluarga?"


"Saya tidak berani." Pelayan itu segera undur diri. Sesaat, Andrean merasa senang bisa menggunakan posisi kepala keluarga. Namun, tidak mempengaruhi suasana hatinya. Ia tahu maksud kakek Gong menyuruhnya makan siang di aula makan, tentu saja untuk menghadiri pembicaraan yang menyebalkan. 


Dan pastinya ia tidak akan bisa segera kembali, kemungkinan paling cepat adalah lusa. Ada banyak urusan internal dan juga eksternal yang harus diketahui dan tangani sebagai kepala keluarga. 


Andrean sudah memperkirakan apa saja yang akan ia hadapi. Oleh karenanya, ia tidak ingin datang. Ditambah suasana hatinya sedang tidak baik. Mungkin, nanti sore atau malam Andrean yang menghadirinya. 


"Apakah benar-benar lupa?" Kembali pertanyaan itu Andrean gumamkan. Jangankan ucapan selamat ulang tahun, kabar saja tidak ada. Begitu juga dengan kedua anak laki-lakinya. 


Beragam alasan mengapa Camelia, Lucas, dan Liam tidak kunjung memberikan ucapan terima kasih hadir dalam benak Andrean. Semakin dipikirkan, suasana hatinya memburuk. Andrean melihat jam tangannya. Sudah pukul 13.30. 


Andrean kembali mengecek ponselnya. Barangkali sudah ada pesan dari Camelia. Sayang, tidak ada. Andrean kembali menghembuskan nafas kasar. 


Saat ia hendak kembali menyimpan ponselnya, ada panggilan masuk. Panggilan itu mengubah raut wajahnya. 


Andrean segera menjawabnya. "Good evening, Mr. Gong."


"Good night, Lia," balas Andrean. Senyumnya begitu lebar. 


"How are you now?"tanya Camelia. 


"Buruk," sahut Andrean. Ekspresinya berubah menjadi cemberut. 


"Why? Mengapa di tahun baru suasana hatimu buruk, Rean?"tanya Camelia. 


"Entahlah. Suasana hariku buruk sejak kemarin. Mungkin kau tahu alasannya, Lia," balas Andrean. 


"Eh?" Camelia tertawa. 


"Sekarang pun masih buruk," tambah Andrean. Suasana hatinya akan membaik setelah mendengar ucapan selamat ulang tahun dari Camelia. Terkesan kekanakan? Tidak, ucapan itu sangat penting untuk dirinya. Tidak perlu hadiah, hanya ucapan saja. 


"Bagaimana caranya agar suasana hatimu membaik?"tanya Camelia. Andrean mendengus pelan. 


"Aku yakin kau paling tahu caranya," jawab Andrean. Mendengar cara bicara Camelia, Andrean yakin Camelia ingat. 


"Really? But, bagaimana caranya? Aku juga bingung," ucap Camelia. 


"Coba pikirkan," sahut Andrean. Anggap saja ia memberikan hukuman untuk Camelia.


"Sebentar, aku pikirkan dulu," sahut Camelia. 


Hening. Andrean menatap pepohonan. Ia masih di balkon kamarnya. Angin berhembus pelan. 


Andrean mendongak saat merasakan ada sesuatu yang jatuh dari langit. Sesuatu berwarna putih, berjatuhan dari langit. Menempel pada dedaunan dan jatuh berserakan di halaman. "Salju telah turun."


Yups, salju pertama musim dingin tahun ini baru saja turun. Andrean melengkungkan senyum. 


"Mungkin itu caranya," sahut Camelia. 


"Maksudnya?"tanya Andrean tidak mengerti. 


"Sayang," jawab Camelia. 


"Sayang? Apanya yang sayang?"tanya Andrean. Dahinya mengernyit bingung. Sama sekali tidak paham.  


"Ya, Sayang," jawab Camelia. 


"Iya. Tapi, apa maksudnya?"tanya Andrean. 


"Sayang," jawab Camelia. 

__ADS_1


"Sayang?"


"Iya, Sayang. Mulai saat ini aku akan memanggilmu Sayang," jelas Camelia. 


"S-Sayang?" Wajah Andrean refleks memerah. Ia tersipu. Hatinya langsung berbunga-bunga. 


"Aku bingung mau memberikan hadiah ulang tahun apa padamu. Aku rasa panggilan itu hadiah yang menarik. Selamat ulang tahun, Sayang," tutur Camelia. 


Andrean masih tertegun. Ia begitu bahagia. Wajahnya benar-benar berseri. Suasana hatinya meningkat secara dramatis. 


"Benar-benar hadiah yang tidak terduga. Aku sangat bahagia sekali, Lia. Panggil aku seperti itu, selalu, okay?"pinta Andrean. 


"Tentu saja, Sayang," jawab Camelia.


"Aku juga ingin meminta maaf. Baru mengucapkannya hari ini, padahal harinya sudah lewat," sesal Camelia.


Andrean menggeleng. "Tidak. Tidak masalah. Aku senang sekali. Hadiahmu yang paling berharga dan berarti."


"Syukurlah," sahut Camelia, lega.


"O iya, anak-anak mungkin esok akan menyusul. Mereka sangat sibuk, dan siang besok akan tampil. Aku harap kau dapat memakluminya, Sayang," ujar Camelia.


"Teater, ya?"terka Andrean.


"Iya."


"Sama sekali tidak masalah. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali," jawab Andrean.


"Lia, ada satu hal yang ingin aku bicarakan," ucap Andrean. Nada bicaranya serius.


"Ini tentang anak," tambah Andrean.


"Iya? Ada masalah dengan itu? Aku pikir itu sudah diputuskan, seperti keputusan awal," sahut Camelia. Jawabannya juga serius. Andrean mengangguk kecil.


"Aku sudah menjadi kepala keluarga Gong. Dan anak laki-laki pasti dituntut dariku. Dan Crystal, kau pasti tahu. Dia tidak akan bisa menjadi kepala keluarga selanjutnya," jelas Andrean.


"Lantas?"


"Kita harus memiliki anak lagi, Lia. Anak laki-laki," jawab Andrean.


"Aku dengar ada caranya," jawab Andrean.


Terdengar helaan nafas kasar Camelia. "Kita belum menikah. Mari bicara kan itu setelah kita menikah. Yang terpenting aku sudah tahu gambaran. Ah iya, selamat untukmu, Sayang. Semoga kau menjadi kepala keluarga yang baik," ujar Camelia.


Andrean terdiam sesaat. Perihal anak memang sensitif. Andrean menghela nafas pelan. "Baiklah."


"Pergilah tidur. Kau pasti sangat lelah," tutur Andrean.


"Ya," jawab Camelia.


"Selamat tidur, Lia."


Panggilan berakhir. Andrean kembali menghela nafas kasar.


Memberikan pewaris untuk kepemimpinan selanjutnya memangnya tugasnya sebagai kepala keluarga. Andrean masih belum bicara dengan Kakek Gong mengenai alasannya diangkat menjadi kepala keluarga tanpa ada aba-aba atau pembicaraan sebelumnya.


Padahal, untuk menjadi kepala keluarga, harus menikah terlebih dahulu. Sedangkan Andrean, meskipun sudah punya 3 anak, ia belum menikah.


Ia harus segera bicara dengan Kakek Gong. Pernikahan dengan Camelia masih lama lagi, dan itu juga masih bayang-bayang. Sebab ada banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Camelia yang akan menghadapi perihal manajemen agensi serta para fansnya. Dan Andrean dengan para tetua keluarga. Meskipun tidak terlalu berpengaruh. Tapi, cukup menyebalkan. Sudah terbayang, para tetua itu pasti akan mengajukan putri mereka untuk menjadi pasangan Andrean.


Andrean bergegas meninggalkan kamarnya, meraih payung di ruang tengah kemudian menuju kediaman kakek Gong.


"Kakek," sapa Andrean. Kakek Gong berada di ruang tengah kediamannya.


"Kau datang. Bukankah kau sedang tidak enak badan?"tanya Kakek Gong. Itu sindiran untuk Andrean.


"Mengapa Kakek mengumumkan hal itu tanpa bicara denganku?"tanya Andrean. Tidak menghiraukan sindiran kakek Gong.


"Dengan usiamu, bukankah itu wajar? Aku semakin tua! Sebentar lagi pasti akan susah jika tidak segera aku turunkan padamu. Kakek tua ini sudah tidak sanggup lagi mengurus keluarga ini," jawab Kakek Gong. Usianya sudah hampir 80 tahunan. Suatu keberuntungan untuknya tidak sakit-sakitan. Matanya juga masih berfungsi dengan baik. Ia masih bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.


"Dengan posisiku yang belum menikah, para tetua itu akan sibuk menentukan pasangan untukku!"ucap Andrean.


"Bukankah semuanya akan teratasi saat kau dan artis Kanada itu menikah?"sahut Kakek Gong santai.


"Masalah anak, bisa jadikan dua anak itu tameng, sebelum anak kalian lahir lagi," tambah Kakek Gong.

__ADS_1


Andrean mengeryit.


"Kau sekarang adalah kepala keluarga. Kau punya kedudukan tertinggi di kediaman keluarga ini. Kau adalah pemimpin Gong Group dan Starlight Entertainment, seharusnya kau tidak mengkhawatirkan mereka. Karena kau sudah membuktikan tidak besar karena usaha keluarga," papar Kakek Gong. Sorot matanya begitu percaya pada Andrean.


"Mengenai Crystal, aturan keluarga sudah menjawabnya. Biar bagaimanapun, posisi pewaris tidak bisa diturunkan kepadanya."


"Dan Rean, kau harus segera mengadakan rapat keluarga. Lebih baik segera diselesaikan daripada kau terus kau hindari."


Andrean menatap lurus Kakek Gong. Kata-kata Kakek Gong tidak ada yang salah. Cepat atau lambat akan datang. Lebih baik segera dihadapi. Dan Andrean bisa segera kembali ke Beijing.


"Rean, banyak yang mengincar posisi untuk menjadi istrimu. Putri Keluarga Wei itu salah satunya. Kau harus memantapkan posisi artis Kanada itu di sini!"


"Kakek, namanya Camelia Shane!"tegas Andrean. Risih, sejak tadi Camelia dipanggil artis Kanada terus.


"Hoho, baiklah. Camelia, Camelia."


"Baiklah. Nanti malam, akan diadakan pertemuan. Sampaikan titahku pada anggota keluarga lainnya!"tegas Andrean.


*


*


*


"Ayah." Sore harinya, Crystal yang baru saja bangun setelah tidur siang menghampiri Andrean yang tengah membawa majalah di ruang tengah.


"Sudah bangun?"tanya Andrean. Crystal mengangguk.


"Salju sudah turun, Ayah. Cantik sekali," ujar Crystal.


"Baguslah," sahut Andrean. Tersenyum.


Suasana hati ayah sudah membaik, gumam Crystal dalam hati. Ia tersenyum lebar membalas senyum sang ayah.


"Ayah, kapan kita pulang?"tanya Crystal.


"Secepatnya. Ayah akan selesaikan dahulu urusan di sini," jawab Andrean.


"Crystal sudah rindu Paman Toby, juga Panda. Crystal rindu kamar," ujar Crystal.


Andrean mengusap kepala Crystal. "Tidak cepat, besok pagi kita pulang."


"Iya, Ayah!" Crystal mengangguk semangat.


*


*


*


Malam hari telah tiba. Setelah makan malam, para tetua dan kepala keluarga anggota cabang berkumpul untuk rapat.


Andrean memasuki ruang rapat. Di sana sudah ada kakek Gong.


Semuanya bangkit dan memberi hormat pada Andrean. Andrean mengangguk, menyuruh mereka kembali duduk.


"Aku tidak ingin bertele-tele. Sekarang aku adalah kepala keluarga. Yang aku harapkan dari kalian, terserah kalian mau melakukan apa saja. Asalkan tidak merugikan keluarga Gong!"tegas Andrean. Ia sudah meminta Hans untuk mengumpulkan semua informasi. Dan Andrean sudah mempelajarinya. Beberapa peserta rapat itu saling pandang. Sepertinya merasa merekalah yang Andrean beri peringatan.


"Kami tidak berani, kepala keluarga. Kami akan selalu setia pada keluarga Gong. Kami tidak akan menodai marga kami."


"Benar-benar. Mana mungkin kami melakukan hal yang merugikan keluarga. Justru, jika kami yang melakukannya, kamilah yang akan rugi."


"Anda adalah kepala keluarga yang berintegritas. Kami sangat percaya dan menghormati Anda."


"Aku harap kalian memegang ucapan kalian hari ini!"sahut Andrean.


"Namun, Tuan. Ada yang mengganggu kami. Ini mengenai pewaris selanjutnya."


Akhirnya datang juga.


Andrean tersenyum tipis. "Mengenai pasanganku, juga pewarisku tidak perlu kalian khawatirkan atau ributkan. Jika saatnya tiba, akan aku perkenalkan pada kalian!"tegas Andrean.


"Rapat selesai. Besok pagi aku akan kembali ke Beijing." Rapat yang singkat. Andrean kemudian meninggalkan ruangan. Meninggalkan tanda tanya di benak para tetua, kecuali Kakek Gong.


Dengan latar belakangnya, penolakan di masa depan tidak akan ada artinya.

__ADS_1


__ADS_2