
"Maaf jika usia saya tidak meyakinkan. Namun, sayalah direktur cabang perusahaan ini yang diutus oleh Presdir Shane. Sebelumnya perkenalkan nama saya Dion Shane!"ucap Dion memperkenalkan dirinya yang langsung membuat mereka merasa tertampar.
Mereka melupakan berita terbaru. Camelia Shane berada di China, artinya kemungkinan besar adiknya juga berada di China. Mereka juga sudah mendengar tentang Dion Shane. Sungguh tidak menduga hari ini akan bertemu.
Dan tunggu dulu! Dion memperkenankan dirinya dalam bahasa Mandarin. Artinya Dion sedikit banyaknya mendengar dan mengerti apa yang mereka bisikkan. Seketika keringat dingin menerpa para karyawan. Tatapan merendahkan berupa menjadi sebuah ketegangan. Dion masih dengan santai dan tenang berdiri dengan kedua tangan berada di saku celana.
"Mr. Dion!" Seorang pria yang usianya diperkirakan mencapai 50 tahunan dan beliau lah yang menjadi kepercayaan Tuan Shane di perusahaan cabang ini. Walaupun jabatannya hanyalah seorang sekretaris, menghampiri Dion dengan tergopoh setelah keluar lift.
Pria itu buru-buru membungkuk kecil memberi hormat pada Dion.
"Tidak perlu begitu, Paman. Aku sudah diberi penyambutan yang luar biasa," tutur Dion. Nadanya memang lembut namun kalimatnya sungguh sarkas. Itu sebuah sindiran. Paman sekretaris itu tampaknya terkesiap. Ia kira karena asalnya dari Kanada, Dion tidak bisa mengerti dan berbahasa Mandarin.
"Mr. Dion, kami mohon maaf jika sebelumnya kami membuat Anda tersinggung." Baru ucapan maaf itu terdengar. Dion tersenyum tipis.
"Tenang saja. Saya bukan seorang yang sempit hati, kok."
Ada pancaran kelegaan. "Mari, Mr. Dion," ajak Paman sekretaris pada Dion.
"Sebentar," ucap Dion. Ia berbalik dan membuka pintu mobil. Sebuah tangan menyambut uluran tangan Dion, diikuti sepasang kaki turun dari mobil.
Semua seakan menantikan siapa wanita itu. Saat Camelia sudah keluar dari mobil, semua merasa tertegun dan terkagum.
Terlebih senyum tipisnya. Para pria merasa jantung mereka berdebat kencang. But, ingat status. Hanya sebatas kagum tanpa bisa memiliki.
"Hallo, saya Camelia Shane," ucap Camelia menyapa para karyawan.
"Hallo, Nona Shane," jawab mereka dengan gugup. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan bintang besar asal Kanada ini? Dan beberapa hari kemarin juga menjadi trending topic.
Selesai acara penyambutan singkat, Paman sekretaris membawa Dion dan Camelia menuju ruangan direktur.
Di sana sudah ada setumpuk berkas di atas meja. Mungkin berkas yang harus Dion pelajari sebagai direktur cabang tentang perusahaan ini karena sebelumnya Dion hanya melihat data umumnya.
"Baik, Paman. Saya akan melihat dan mempelajarinya lebih dulu. Jika nanti saya butuh bantuan saya akan memanggil Paman," ujar Dion sembari duduk di kursinya. Sedangkan Camelia melangkah mendekati jendela, menatap bangunan lain dari jendela kaca tersebut.
"Baik, Mr. Dion. Saya mengerti," jawab Paman sekretaris kemudian membungkuk kecil undur diri.
Setelah Paman sekretaris meninggalkan ruangan, Dion menghela nafas pelan. Diraihkan satu berkas untuk dilihat dan dibaca.
"Dion," panggil Camelia. Dion memalingkan wajahnya ke arah Camelia di mana Camelia juga melihat ke arahnya.
"Selain Beijing, kota ini juga menyimpan kenangan untukku," ucap Camelia.
"Kenangan?"
"Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah ku lalui. Sembilan tahun lalu, dia memintaku menjadi kekasihnya di kota ini. Di akhir musim semi, kala itu hatiku sungguh bahagia. Aku menanamkan dalam hatiku bahwa kota ini adalah kota kenangan terindah. Akan tetapi, aku tidak menyangka kalau sebuah perubahan besar dalam hidupku dimulai dari kota ini."
Dion mendengarkan dengan serius apa yang Kakaknya itu katakan. Dia, merujuk pada Jordan. Dan dimulainya sebuah perubahan besar merujuk pada pertemuan keluarga Liang dan Rose adalah di kota ini. Camelia tengah bernostalgia. Tatapannya dalam, kenangan bahagia dan menyebalkan yang membuat harinya datar.
"Aku tidak menyesali sebuah pertemuan. Namun, mengapa perpisahan hari dengan cara menghancurkan diriku? Aku tidak pernah marah Rose menyedot semua perhatian Ayah dan Ibu. Namun, mengapa membuatku jadi jelek? Jika dia tidak suka, mengapa tidak katakan terus terang saja? Bahkan jika dia memintaku untuk meninggalkan rumah, aku akan pergi. Tidak perlu membuat hidupku terpuruk seperti itu. Seharusnya aku tidak membenci mereka. Namun, mereka malah membuatku sangat-sangat membenci mereka!"
Camelia kemudian menghela nafas kasar. Tangannya menyentuh kaca jendela. Tatapan dalamnya menjadi dingin. "Salahkah aku ingin membalas mereka?"
"Tidak, Kakak! Itu adalah hakmu!"jawab Dion.
Camelia melengkungkan senyum tipis, "hak? Itu lebih tepat pada kepada sebuah pilihan dan aku … aku memilih untuk membalasnya!"
__ADS_1
*
*
*
Di sisi lain, Andrean dan Hans telah tiba di depan kediaman lama. Jika di Beijing kediaman Andrean bak istana bergaya Eropa, maka kediaman lama keluarga Gong, tempat para tetua tinggal adalah seperti kediaman di masa kerajaan. Karena keluarga Gong adalah keluarga manokrat. Pakaian yang digunakan sehari-hari pun formal, oleh karenanya Andrean kesehariannya juga memakai jas. Untuk wanita mengenakan cheongsam, dan untuk pria mengenakan jas.
Hans membukakan pintu untuk Tuan Mudanya. Dilihat bagian depan kediaman lama sepi. Andrean langsung memasuki kediaman lama. Melewati pintu masuk, ada kolam yang berisikan ikan mas koki dan bunga teratai, di tengah kolam itu membentang sebuah jalan. Itulah yang menjadi jalan untuk dilalui.
Tiba di ruang keluarga yang biasa digunakan untuk rapat, Andrean menemukan sang kakek tengah duduk di sana dengan membaca sebuah majalah. "Kakek," sapa Andrean dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Kakek Gong mengangkat pandangannya dari majalah. "Andrean?"sahutnya dengan terkejut.
"Kakek, apa kabar?" Hans baru menyapa.
"Hans?" Kakek Gong kembali terhenyak.
Andrean lalu mengambil tempat duduk sementara Hans tetap berdiri.
"Hans mengapa kau berdiri? Ayo duduk," titah Kakek Gong.
"I-iya, Kakek," jawab Hans. Memang ini bukan pertama kali Hans bertandang ke kediaman lama, menemani Tuannya. Hanya saja, alasan Andrean yang belum ia ketahui membuatnya merasa gugup untuk ikut duduk. Dan bagaimanapun ia adalah orang luar.
Ya orang luar yang tahu seluk beluk tentang Andrean. Orang luar yang mengurus kebutuhan Andrean. Dia lah Hans yang kadang kala menjadi tumbal jika suasana hari Andrean tidak bagus.
Andrean memberinya lirikan tajam, barulah Hans duduk dengan kaku.
"Apa yang membawamu berkunjung ke kediaman lama yang kuno ini? Lalu di mana anak dan tunanganmu? Mengapa hanya Hans yang ikut?"tanya Kakek Gong beruntun.
Hans tercengang. Dalam hatinya merasa takjub dengan jawaban Andrean. Dan juga kesal karena ia yang dijadikan tumbal.
Tuan Muda, Anda berbohong! Tadi, Anda mengatakan ke Shanghai untuk mengunjungi kediaman lama. Bukan mengurus masalah perusahaan. Mengapa berbohong? Apa yang Anda inginkan sebenarnya?
Hans tersenyum kecut. Hatinya menjerit kesal namun mulutnya terkunci untuk memprotes.
"Oh urusan apa?"tanya Kakek Gong. Agaknya sudah terbiasa dengan itu.
"Ada artisku yang kecelakaan saat syuting sebentar lagi rampung. Jadi, aku menjenguk sekaligus membahas tentang pemeran pengganti untuknya," jelas Andrean.
"Sudah?" Andrean menggeleng. "Aku ingin minum teh kediaman lama. Jadi, aku kemarin dulu baru melaksanakan urusanku."
Kakek Gong tertawa mendengar jawaban Andrean. Ke kediaman lama lebih dulu hanya untuk minum teh?
Hans menutup matanya. Tak lama tawa Kakek Gong berhenti. Tatapan lembut dan kasih sayang pada Andrean hilang berubah menjadi tatapan tajam. "Aku kenal dirimu sejak kau kecil, Rean! Kau tidak mungkin berkunjung ke kediaman lama hanya untuk minum teh padahal teh ini setiap bulannya aku mengirim teh ini ke istanamu!"ucap Kakek Gong.
Andrean mendengus kecil. Ia lantas tertawa renyah. Namun, tawa itu tidak diikuti dengan binar di wajahnya. Ia tertawa dengan wajah datar.
Hans merasa tertekan berada di antara kakek dan cucu yang sama-sama mempunyai aura yang kuat.
"T-tuan, Kakek, ada sesuatu yang tertinggal di mobil. Saya permisi dulu," ucapnya pamit dengan cepat dan sebelum dijawab, Hans sudah lari lebih dulu.
"Sepertinya sangat serius sampai dia kabur," kekeh Kakek Gong. Andrean tersenyum tipis.
"Ayo, katakan padaku. Apa yang membawamu kemari," titah Kakek Gong.
__ADS_1
"Kakek memang paling mengerti aku," sahut Andrean.
Kakek Gong tahu jelas. Jika Andrean tiba-tiba bertandang ke kediaman lama tanpa pemberitahuan pasti ada hal yang sangat-sangat penting. Alasan pekerjaan jelas tidak ia percayai.
Urusan itu bisa diselesaikan tanpa harus Andrean datang ke Shanghai. Dan menjenguk artisnya, cukup dengan panggilan video sudah cukup. Kecuali jika yang kecelakaan itu adalah tunangannya, mungkin Kakek Gong akan percaya.
Sedangkan diundang untuk pulang saat Tahun Baru ataupun acara keluarga, Andrean belum tentu datang dengan alasan ia sangat sibuk dan itu dapat dimengerti. Andrean adalah Presdir dari Starlight Entertainment yang menaungi banyak artis ternama.
"Kakek … aku ingin memutuskan pertunangan dengan Rose!"ucap Andrean to the point.
Kakek Gong terkesiap dengan jawaban Andrean yang tidak pernah ia duga. "Apa katamu?"tanyanya, Kakek Gong merasa pendengarannya bermasalah tadi.
"Aku akan mengakhiri pertunangan dengan Rose!"jawab Andrean.
"Maksudmu akhirnya kau memutuskannya. Hahaha bagus! Bagus!" Kakek Gong tertawa. Namun, Andrean malah seperti tertekan. Untuk mengurangi rasa tegangnya, Andrean meminum teh yang telah dituangkan oleh Pelayan.
"Aku akan segera memiliki menantu! Aku akan mempersiapkan pernikahan kalian dengan baik!"
BYUR!
"UHUK-UHUK!"
Andrean menyemburkan teh dan terbatuk. Kakek Gong diam, menatapnya dengan heran.
"Anda salah paham, Kakek!"
"Maksudmu?"
"Aku memutuskan pertunangan bukan untuk menikahinya namun untuk mengakhiri hubungan!!"tegas Andrean. Mata Kakek Gong membola seketika.
"APA?!"
"Benar, Kakek! Aku merasa tidak ada kecocokan dengannya!"ucap Andrean. Tatapannya tegas dan mantap.
Kakek Gong menatap cucunya dalam-dalam.
Kakek Gong tengah mengingat saat pertama kali Andrean membawa Rose ke kediaman lama dan mengatakan akan melaksanakan pertunangan dengan Rose. Karena usai Andrean, Rose yang dari latar belakang keluarga yang cukup terpandang, terlebih Rose hamil. Kakek Gong memberi restu. Acara pertunangan dilaksanakan di aula kediaman lama dengan meriah.
Posisi Rose di hati Kakek Gong? Kakek Gong tidak menyukai ataupun memberi Rose. Ia bersikap netral. Namun, pada Crystal, Kakek Gong cukup sayang. Mengingat Crystal adalah anak Andrean, sepengetahuannya.
Dan sekarang sudah bertahun-tahun Andrean bertunangan dengan Rose.
Kakek Gong menghela nafas pelan. "Kau bahkan belum memberiku cicit laki-laki, kau malah akan mengakhiri hubungan dengan Rose. Kau tidak peduli dengan masa depan keluarga ini?"
Keluarga Gong memegang garis keturunan dari pihak laki-laki. Artinya keturunan laki-laki yang akan memegang dan meneruskan keluarga. Sedangkan anak perempuan yang saat dewasa, pasti akan menikah dan ikut dengan suami.
Andrean adalah cucu utama, kepala keluarga jatuh padanya. Tanggung jawab mewarisi dan meneruskan keturunan juga ada di pundaknya.
"Aku akan memberikan kakek cicit laki-laki. Tapi, sebelum itu Kakek harus bersabar dan tidak menghalangiku untuk mengakhiri hubungan dengannya. Aku hanya memberitahu Kakek, bukan meminta persetujuan Kakek karena akulah yang menjalaninya!"jawab Andrean. Ia sedang memperingati Kakek Gong.
"Aku masih ada urusan. Aku pergi, Kakek!"pamit Andrean. Ia berdiri. Kakek Gong ikut berdiri.
"Tunggu, Rean!"
"Aku tidak akan menghalangimu. Namun, pastikan Crystal ikut denganmu. Cicit laki-laki aku juga sangat menantikan!"
__ADS_1
"Ah, satu lagi! Jangan buat sensasi dengan artis Kanada itu! Keluarganya lebih merepotkan daripada keluarga kita!!"peringat Kakek Gong. Andrean menjawabnya dengan mengangguk kecil lalu kembali melanjutkan langkahnya.