
"Tuan." Hans kembali masuk ke ruangan Andrean.
"Hm." Andrean yang baru selesai berbicara dengan kakek Gong via telepon, menoleh lagi.
"Anda melupakan sesuatu?!" Hans berseru. Wajahnya tampak panik.
"Ada apa?"tanya Andrean bingung. Dahinya mengernyit.
"Janji Anda pada Nona Crsytal tadi pagi. Anda berjanji mengajak Nona Crystal piknik," jawab Hans, mengingatkan Andrean. Tadi pagi, Andrean memang mengatakan hal itu pada Hans, agar diingatkan dan jadwalnya disesuaikan.
Andrean tertegun beberapa saat. Tak lama kemudian, dia langsung berdiri, meraih jasnya yang berada di sandaran kursi kemudian meninggalkan ruangan tanpa mengatakan hal apapun lagi pada Hans.
"Tuan?" Hans mengerjap. "Habis manis sepah dibuang?"gumamnya kemudian mendengus.
*
*
*
Andrean bergegas masuk ke dalam istananya setelah turun dari mobil. Pelayan menyambutnya.
"Tuan."
Sapaan kepala pelayan tidak ia hiraukan.
"Di mana Crystal?"tanya Andrean saat tak mendapati Crystal di kamarnya. Andrean menoleh tajam pada kepala pelayan.
"Nona Crystal ada di taman, Tuan," jawab kepala pelayan, dengan menunduk takut.
Andrean langsung meninggalkan tempat menuju taman.
Kepala pelayan mendongak. Dalam benaknya bertanya-tanya, hal yang apa membuat Tuannya tergesa-gesa mencari dan menghampiri nona kecilnya itu.
Semoga anak itu tidak sedih, batin harap Andrean. Langkahnya begitu lebar menuju taman. Pancaran wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Ia takut putrinya kecewa karena datang tidak tepat waktu.
"Hahaha … Paman ini menyenangkan. Crystal terbang, yeah!"
Andrean menghentikan langkahnya tak jauh dari mana. Dari tempatnya, dapat melihat jelas interaksi antara Toby dan Crystal. Tampak begitu ceria dan bahagia. Crsytal duduk di pundak Toby, dan Toby membawanya berlari berputar, layaknya tengah terbang.
Crystal tampak begitu ceria, kedua tangannya terangkat teratas.
Tak jauh dari keduanya, ada karpet yang digelar. Di tengah karpet ada keranjang berisi makanan ringan dan juga minuman. Juga ada mainan.
Dari itu, Andrean bisa menebak bahwa pasti Crystal sedih dan kecewa. Namun, Toby menghiburnya. Dan tetap melakukan piknik meskipun hanya di taman istana.
"Crystal." Suara Andrean terdengar keras. Kecewa dan kesal pada dirinya sendiri. Mengapa itu lupa waktu?
Toby berhenti berputar. Posisi tubuhnya menghadap ke arah Andrean. "Ayah!" Crystal langsung berseru. Wajahnya semakin berbinar melihat kehadiran Andrean.
Andrean melangkah maju, menghampiri kedua orang itu. Begitu Toby menurunkan Crystal, bocah itu langsung lari memeluk sama ayah.
Andrean membalas pelukan itu, kemudian membawa Crystal dalam gendongannya.
"Ayah sudah pulang?" Andrean mengangguk singkat.
"Crystal kira ayah akan pulang malam," ucap Crystal, nadanya tetap ceria. Ya, karena Andrean sudah ada di hadapannya, untuk apa ia bersedih lagi. Meskipun tidak tepat waktu yang terpenting adalah pemenuhan janji.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tega melihat Nona murung, jadi mengajak piknik alakadarnya di taman." Toby menjelaskan dengan menunduk. Takut-takut Andrean salah paham.
Andrean menoleh datar. "Méi wèntí. Nǐ zhǐshì zài zuò nǐ yīnggāi zuò de shì."
(Tidak masalah. Kau hanya melakukan apa yang seharusnya."
"Ayah marah Crystal piknik dengan Paman Toby?"tanya Crystal. Matanya sedikit meredup.
Andrean tersenyum. "Bu." Yang artinya tidak.
"Benarkah?"
"Hm."
"Sudah hampir gelap." Gurat jingga menghiasi langit.
"Yahhh…." Artinya piknik sudah berakhir. Crystal mendesah kecewa. Padahal masih ingin piknik.
"Bagaimana jika setelah ini kita keluar? Tadi Ayah lihat ada pasar malam," tawar Andrean, untuk mengganti piknik yang tidak ia ikuti.
"Ayah bisa?" Bertanya ragu.
__ADS_1
"Hm."
"Mau!"
"Kalau begitu lekaslah bersiap. Kita sekalian makan malam di luar."
Crystal mengangguk. Ditemani Toby meninggalkan taman menuju kamar. Sementara barang-barang yang ditinggalkan diurus oleh pelayan.
Andrean menghela nafasnya pelan. Kemudian melangkah pergi menuju kamarnya untuk bersiap pula.
*
*
*
Tidak ada hubungan darah, mengapa Andrea mau merawatnya? Membesarkannya dan mengakuinya sebagai anaknya? Padahal jelas anak itu bukanlah darah dagingnya. Kakek Gong juga sudah tahu. Seandainya ia mengembalikan Crystal pada Rose, ataupun pada Tuan dan Nyonya Liang adalah hal yang wajar dan tidak terlarang.
Buat apa susah-susah mengurus anak orang lain. Lebih baik memperjuangkan anak kandung dan juga ibunya.
Apalagi nanti kalau perjuangan Andrean berhasil, pasti dicampur dan ditakutkan terjadi pertentangan.
Jawabannya sederhananya. Andrean menerima dan menyayangi Crystal sebagai anaknya. Di matanya, Andrean bukan anak angkat, bukan pula anak yang tidak ada hubungan darahnya. Sejak kecil, meskipun awalnya tidak begitu dekat, tapi Andrean menyayangi Crystal. Terbukti dengan memberikan kehidupan yang baik untuk Crystal.
Anak itu, sejak kecil sudah dalam keluarga Gong. Marganya pun juga Gong. Keluarga Gong sudah sudah mengakuinya. Bahkan sudah masuk ke dalam kartu keluarganya. Andrean punya kekuasaan untuk itu, meskipun belum menikah, ia bisa memasukkan anak itu ke dalam kartu keluarga Gong. Jadi, identitas anak itu jelas.
Andrean, sampai kapanpun tidak akan melepaskan Crystal. Begitu juga, ia akan memperjuangkan anak kandungnya, juga wanitanya.
Oleh karenanya, kisah mereka tidak hanya sekadar jatuh cinta dan restu keluarga lalu menikah dan hidup bahagia. Hidup, jika dikatakan bahagia tanpa masalah, itu adalah hal yang mustahil.
Dan itulah yang harus dipecahkan dan ditaklukkan oleh mereka. Selain jarak lokasi, ada jarak keluarga yang masing-masing keras dengan aturan keluarganya, kemudian menyatukan anak-anak mereka. Itulah yang harus dilalui.
Belum lagi ultimatum dari keluarga Shane, andaikata Camelia menikah lagi, Lucas dan Liam tetap berada di keluarga Liang. Dan itu diterima oleh Camelia. Ditambah dengan permintaan dilarang mengumumkan hubungan ataupun menikah selama 3 tahun ke depan.
Belum lagi di keluarga Gong, yang mana kakek Gong mengatakan utamakan Lucas dan Liam kembali ke keluarga Gong, mengganti marga dari Shane menjadi Gong. Untuk Camelia, tidak ikut pun tak masalah. Yang terpenting adalah keturunannya.
Terkesan berpikiran sempit. Namun, pasti itu diambil atas pertimbangan berbagai hal. Keluarga besar, terlebih keluarga yang masih menganut sistem lama, memang punya segudang aturan yang harus ditaati oleh setiap anggota keluarganya. Apalagi jika tetua sudah bicara, maka kemungkinan besar itu akan diterima dan dilaksanakan.
Banyak perbedaan dan liku-liku yang harus dilalui. Namun, takdir tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan masa depan karena hati manusia itu selalu berubah.
*
*
*
Camelia yang tengah bersiap untuk berangkat mengantar Lina menuju Glory Entertainment, menoleh ke arah ponselnya saat mendengar dari notifikasi.
Sebuah pesan dari luar negeri. Dengan nama pengirim Andrean Gong. Andrean mengirim sebuah foto pada Camelia.
Foto Andrean dan Crystal yang tampaknya tengah berada di bianglala.
Ting.
Masuk pesan chat lagi.
"Hari ini hanya bersama dengan Crystal, kedepannya akan bersama dengan kalian." Disertai dengan emoji love.
Di sana pasti pagi hari, aku kirim foto penyemangat agar kau semakin bersemangat memulai aktivitas.
Kembali, masuk chat dari Andrean.
Benar, sih. Di sini masih pukul 09.00 sementara di sana sudah pukul 21.00.
Selamat beraktivitas. Dan aku merindukanmu. Hubungi aku jika kau senggang…
Hati Camelia mencelos seketika.
Rindu?
Tidak salah bukan jika ia sejujurnya merindukan pria itu juga?
"Andrean, jika kau mengetahui persyaratan yang diberikan Daddy, apa kau akan tetap lanjut?"gumam Camelia, memilih untuk tidak membalas pesan tersebut.
Camelia menghela nafasnya. "Pagi hari helaan nafasmu sudah begitu berat. Ada apa, Lia?"tanya Lina yang melihat Camelia menghela nafas.
Wanita yang mengenakan blazer biru itu menoleh ke sumber suara. "Hm … hal kecil namun sangat penting," jawab Camelia.
"Ah … ke sampingkan saja dulu. Ayo aku antar, ini hari pertamamu bekerja. Besok, kau akan berangkat sendiri," ujar Camelia kemudian, meraih tasnya.
__ADS_1
Lina menyipitkan matanya sesaat. Hal kecil namun penting. Bukankah itu serius? Ingin bertanya lebih lanjut. Tapi, melihat wajah enggan Camelia, Lina mengurungkan niatnya. "Baiklah, ayo," sahut Lina. Ia juga siap dengan menggunakan celana panjang dan kemeja, juga rambut dikuncir kuda, itu style yang simpel dan mudah untuk bergerak bebas.
"Lama sekali, Mom," protes Liam, yang sudah bosan menunggu.
"Namanya juga wanita, Liam. Banyak yang harus dipersiapkan," sahut Lina.
Camelia hanya tersenyum simpul. "Ya sudah, ayo berangkat. Bukankah kalian ada tanda tangan kontrak hari ini?"tanya Camelia, pada kedua anaknya.
"Ya benar, tanda tangannya pukul 10.00 nanti," balas Lucas.
"Kau yang menyetir, Kak," ucap Camelia dengan melemparkan kunci mobil pada Lina.
"Eh-eh! Kok aku?" Lina yang tidak siap, tidak dapat menangkap kunci mobil tersebut.
"Bukankah Aunty bisa menyetir?"tanya Lucas heran.
"Iya. Tapi, Aunty kan tidak terbiasa dengan jalanan di sini."
"Aunty kan tidak sendiri. Lagipula aturan lalu lintas setiap negara tidak jauh beda. Kalau takut tersesat ada maps. Apa sulitnya?" Liam melirik Lina.
Lina terdiam. Ia kalah telak dengan anak kecil. Camelia tertawa renyah. "Katanya lama sekali. Ayo berangkat," ajak Camelia lagi.
"B-baiklah." Meskipun masih khawatir karena tidak pernah menyetir di sini, namun ada Camelia bersamanya.
"Eh ini mobil yang mana?"tanya Lina saat di garasi.
"Pakai kunci saja. Ada remotenya," sahut Camelia.
Cuit.
Cuit.
Lina mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang berbunyi. Mobil berwarna biru dengan logo RR di sana. Mata Lina sontak membulat. "Lia, kau serius menyuruhku menyetir mobil ini?"tanyanya lagi dengan menelan ludah.
Camelia mengangguk. Sementara Lucas dan Liam sudah masuk ke dalam mobil.
"Tidak jauh beda, Kak. Nanti aku ajari sebentar," ujar Camelia.
Lina mengangguk pelan. Camelia mengajarinya sejenak.
Ya Tuhan lindungilah kami, batin Lina saat mulai melakukan mobil keluar dari garasi dan kediaman Shane.
Perjalanan menuju Glory Entertainment hanya sekitar 30 menit.
"Lia, Lucas, Liam, Lina." Kak Abi menyapa keempat orang tersebut saat sudah turun dari mobil. Kini mereka berada di basement.
"Kak Abi/Aunty Abi," balas keempatnya hampir bersamaan.
"Ini hari pertamamu bukan, Lina?"tanya Kak Abi.
"Iya, Kak."
"Kalau begitu bawa ini ke lantai 20, temui Margaretha. Dia yang akan membimbingmu untuk sementara waktu," ujar Kak Lina, menyerahkan sebuah amplop pada Lina.
Lina menerimanya. "Bisa pergi sekarang?" Kak Abi mengangguk. Lina kemudian meninggalkan basement menuju lantai 20.
"Lucas, Liam ayo segera naik, tanda tangan kontrak akan segera dilaksanakan. Lia kau juga ikut."
"Iya, Kak." Seperti biasa. Karena Lucas dan Liam masih di bawah umur, maka tanda tangan Camelia turut ada sebagai wali dari keduanya.
Pukul 10.00 waktu Ottawa, tanda tangan kontrak sebagai modal jam tangan digital dimulai. Tak butuh lama tanda tangan kontrak itu selesai.
"Sampai jumpa dua hari lagi, Lucas, Liam," ucap perwakilan dari perusahaan jam tangan tersebut. Lucas dan Liam mengangguk singkat.
"Lia, besok adalah giliranmu tanda tangan kontrak. Oh iya, asisten pribadimu, Irene mengundurkan diri karena menikah," ujar Kak Abi.
"Hm … aku sudah tahu. Sayang sekali," sahut Lina. Asisten pribadinya itu cukup kompeten dan sudah lama ikut dengannya.
"Kau datang untuk pernikahannya?"
"Tentu. Ah ya, bantu aku memilih hadiah untuknya. Dua hari lagi bukan acaranya?"
"Baiklah. Sore ini lenggang, bagaimana?"
"Hm, baiklah. Sekalian ada beberapa barang yang ingin aku beli."
"Ikut," seru Lucas kemudian.
"Aku juga."
__ADS_1
Selanjutnya, Lucas, Liam, dan Camelia menuju ruang latihan mereka. Aktor dan model pun ada tempat latihannya untuk semakin mengasah kemampuan mereka.
Apalagi direncanakan lagi, Camelia akan menyumbang vokal untuk drama yang besok akan tanda tangan kontrak.