Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 161


__ADS_3

"Menurutmu apa yang dibicarakan mereka di dalam? Sampai-sampai kita disuruh keluar?"tanya Camelia pada Dion. Keduanya menunggu di luar.


Dion menggeleng. Ia tidak yakin. Namun, sedikitnya ia menerka bahwa Nyonya Shane melakukan apa yang dikatakannya dari pagi. Membuat perhitungan pada keluarga Ling.


"Kita akan tahu setelah mereka keluar. Daripada menunggu di sini, bagaimana jika kita berkeliling?"saran Dion.


"Boleh."


Keduanya berkeliling kediaman ini. Tentu saja diawasi oleh pelayan. Ya anggap saja sebagai pemandu jalan.


"Bagaimana perasaanmu, Kak?"tanya Dion.


"Entahlah, Dion. Sejak awal aku tidak terlalu berharap. Jika hasilnya seperti ini, aku rasa tidak akan berpengaruh besar padaku. Toh, aku lahir dan besar di tiga keluarga berbeda." Camelia menjawab dengan tersenyum tipis, sembari mengedikkan bahunya.


"Lantas pria itu? Apa mau dicari informasinya mulai sekarang?"


Camelia menghentikan langkahnya. "Sekitar dua bulan lagi aku akan ke Paris. Aku setuju dengan itu. Cari informasi tentangnya. Jika masih hidup, tinggal di mana. Jika tidak, dikubur di mana!"


"Pasti, Kak!"


"O iya, nanti saat bertemu dengan Ayah dan Ibu, jangan bahas soal pertarungan. Bahas saja hasilnya," ujar Camelia, mengingatkan Dion.


"Omong-omong soal Shanghai, aku jadi ingat Mr. Gong. Sudah ada tiga hari aku tidak ada di perusahaan. Dan besok ada jadwal meeting dengan Group Gong. Kemungkinan besar Mr. Gong akan ke Shanghai. Apa kakak benar-benar tidak ingin memberitahunya?"tanya Dion, memastikan.


Tadi pagi, setelah bangun dan diperiksa oleh dokter, Dion menghubungi Tuan dan Nyonya Liang untuk memberi kabar. Juga pada sekretarisnya. Memberi kabar dan menyuruhnya untuk mengatur jadwal.


"Ahh … aku akan sangat sibuk. Berkas-berkas menumpuk sudah terbayang," keluh Dion.


Camelia tertawa renyah. Dengan ringan menepuk bahu Dion. "Adikku yang hebat, ini baru awal." Tepukan yang ringan pada bahu yang memikul tanggung jawab besar.


Dion mengerutkan bibirnya.


"Hem … Kak, ada satu hal yang mengusik hatiku," ucap Dion.


"Mengenai apa?"


"Apakah Kakak benar-benar tidak ingin pengakuan dari keluarga ini? Ya meskipun itu tidak masalah. Akan tetapi, keluarga ini adalah keluarga kandung kakak. Dan wanita itu adalah nenek kakak. Dan aku rasa kakak tahu bahwa hubungan darah tidak akan bisa diputuskan," ujar Dion panjang lebar. Membahas hal ini adalah hal sensitif. Terlebih untuk Camelia dan juga Dion sendiri.


Camelia tersenyum simpul. Ia menghentikan langkahnya. "Musim gugur akan segera berakhir, ya?" Berkata dengan menatap pepohonan yang hampir gundul karena kehilangan daun.


"Musim dingin akan segera datang. Sebentar lagi ulang tahun kita berdua, bukan?"


"Kak, kau mengalihkan pembicaraan?" Dion mendengus.


"Dion … aku tidak punya ingatan apapun tentang keluarga ini. Mau diakui atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu," jawab Camelia. Jawabannya tidak berubah.


"Omong-omong, identitas memang banyak, ya? Lahir di keluarga Ling, diadopsi oleh keluarga Liang, dan kini aku hidup sebagai keluarga Shane." Camelia tertawa. Dion kembali mendengus.


"Bahkan kedua anakku juga sama, hehehe."


"Hentikan, Kak!"


"Di keluarga manapun, aku tetaplah adikmu kakak. Adik kesayangan kakak. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. Mereka adalah kedua keponakan kesayanganku!" Dion memeluk Camelia.


Camelia tersenyum. Hatinya terasa sangat hangat. "Terima kasih, Dion."


"Apa kau mau delima, Kak?"tawar Dion. Matanya menangkap ada pohon delima yang berdiri kokoh. Buahnya tampak lebat.


"Boleh."


"Aku akan memanjatnya untuk Kakak."


*


*


*


"Kami segenap keluarga Ling bersumpah dan berjanji akan setia selamanya pada keluarga Shane!"


Suara Ling Lie yang lantang memimpin sumpah kesetiaan pada keluarga Shane.


Mereka membungkuk. Ah, ada satu yang masih tidak terima. Ling Rui berdiri tegak.


"Membungkuk!" Namun, ia kalah saat Ling Lie memaksanya untuk membungkuk. Anak yang keras kepala itu mengigit bibirnya.


"Jangan khianati janji dan sumpah yang kalian buat pada keluarga Shane!" Tuan Shane menjawab dengan tegas.

__ADS_1


"Hari ini, keluarga Ling telah berada dalam kekuasaan keluarga Shane. Satu hal yang ingin aku tegaskan. Aku tidak akan mencampuri urusan kalian, kecuali yang menyangkut tentang keluarga Shane. Aku tidak akan mengusik pekerjaan kalian yang biasa. Namun, aku himbau pada kalian untuk mengurangi kekerasan. Dan untuk perintah awal adalah, Ling Rui …."


Ling Rui melirik. Mengapa namanya disebut?


"Kau akan ikut dengan kami ke Kanada."


"APA?!" Ling Rui terperanjat.


Apa katanya? Ikut ke Kanada? Mengapa?


"Tapi, apa alasannya, Tuan?"tanya Nyonya Besar Ling. Ia juga terkejut dengan itu.


"Tidak ada alasan khusus. Istriku menginginkannya," jawab Tuan Shane.


"Tidak! Aku menolaknya!"


"Mengapa? Kau bukan penerus keluarga ini. Apa kau mau jadi 'tukang jagal" selamanya?" Tuan Shane tersenyum smirk.


"K-KAU!!" Wajah Ling Rui merah padam. Itu jelas-jelas adalah sindiran dan ejekan untuknya.


"Jika seperti ini, Rui ikutlah dengan mereka."


"Nenek? Kakak? Tidak ada yang menahanku?"


"Mungkin ini yang terbaik. Aku juga lelah setiap hari mendengar keluhan tentangmu," jawab Nyonya Besar Ling. Memang Ling Rui cucunya. Tapi, jika terus dikeluhkan, ia juga tidak tahan.


"Kau akan banyak belajar di sana. Selain itu, aku juga akan terbebas dari kau yang sangat cerewet!"tandas Ling Lie.


Ling Rui menyentuh dadanya. Rasanya ia ingin muntah darah mendengar ucapan keluarganya. Ekspresi Ling Rui sungguh tidak cocok dengan wajah dan tubuhnya.


"Hei, kau kira aku meminta persetujuanmu?" Tuan Shane menatapnya tajam. Ling Rui bergidik. Sekali lagi, ia hanya bisa pasrah. Menggigit bibirnya kemudian mengangguk.


Tuan dan Nyonya Shane tersenyum puas. Tuan Shane kemudian menyuruh salah seorang pengawal untuk memanggil Camelia, Dion, Lucas, dan Liam.


Sementara di sisi lain, tak jauh dari tempat Camelia dan Dion tadi, terdengar suara tawa. Juga terdengar suara cipratan air.


"Kena!"


"Hei, hentikan!"


"Tidak sebelum basah semua!"


"Hahahaha!"


"Ini menyenangkan, Kak!"


"Hahaha hah hah hah. Cukup, hentikan. Pakaianku basah semua!"seru Camelia. Nafasnya terengah. Namun, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Gara-gara kakak sih tadi. Kalau kakak nggak iseng kan nggak akan seperti ini," sahut Dion, diiringi dengan tawanya.


Camelia membalasnya dengan tawa. Sudah cukup lama ia tidak merasa seringan ini.


"Aku jadi ingat kenangan masa kecil. Hah … tempat ini ada kenangan bagus juga rupanya."


Dion mengangguk membenarkan. Mereka baru saja bermain air di sungai kecil. Letaknya ada di dekat pohon delima. Air sungai itu sangat jernih dan tidak terlalu dalam.


Awal mula keduanya bermain air adalah saat Camelia iseng menyiram Dion, saat adiknya itu masuk ke sungai mengambil delima yang tanpa sengaja masuk ke dalam sungai.


Tidak terima, Dion membalasnya. Alhasil, keduanya bermain air.


"Sudah semua, kan? Ayo kembali," ajak Camelia.


"Baiklah."


*


*


*


"Astaga! Mengapa pakaian kalian basah seperti ini?" Nyonya Shane langsung berseru.


Ling Lie menyipitkan matanya.


Delima?


Ah, sepertinya mereka memetik delima dengan sungai, batinnya.

__ADS_1


"Tadi ada delima yang jatuh ke sungai. Aku mengambilnya. Tapi, kakak iseng menyiramiku," jelas Dion, tersenyum menunjukkan deretan giginya. Begitu juga dengan Camelia.


Melihat mereka seperti ini, sangat jauh berbeda dengan yang tadi malam dan sebelumnya, batin Nyonya Besar Ling.


"Oh iya, Nyonya kami minta delima ini, okay?" Camelia berkata pada Nyonya Besar Ling.


"Apa-apaan kalian? Sudah diambil baru minta izin?"seru Ling Rui. Mungkin, ia ditakdirkan untuk menjadi pengeruh suasana.


"Apa Anda membahas sopan santun dengan kami? Lagipula, kami kan hanya meminjam cara kerja kalian," sahut Dion.


Ling Lie yang melirik. Jengah ia memperingati adiknya itu.


"Ambil sepuas kalian!"putus Nyonya Besar Ling.


"Lekaslah ganti pakaian. Kita akan segera pulang," titah Tuan Shane.


*


Keluarga Shane meninggalkan kediaman Ling setelah jamuan makan siang. Awalnya ditolak karena hendak cepat. Namun, karena waktu hampir jam makan siang, tawaran itu diterima.


Delima yang dipetik oleh Dion tadi turut disajikan dalam jamuan makan itu. Saat makan siang itu pula, Camelia pertama kali memanggil Nyonya Besar Ling sebagai neneknya. Hal itu dilakukan atas permintaan wanita tua itu.


Dan, begitu juga dengan Lucas dan Liam yang diperkenalkan dengan buyut mereka secara kandung.


"Mengapa kita membawanya?"tanya Camelia. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju bandara.


"Anak itu butuh pendidikan," jawab Tuan Shane.


"Mengapa harus dia? Apa tidak ada yang pendiam? Ling Rui itu sangat cerewet. Dan aku lihat, dia juga sangat tidak suka dengan kita," heran Camelia. Sekalian memprotes.


Jujur saja, Camelia dan Dion terkejut mendengar bahwa Ling Rui ikut dengan mereka.


"Itu yang menarik."


"Lalu apa yang Mom dan Daddy bicarakan dengan mereka?"


"Rahasia."


"Kalian tidak perlu tahu. Fokus saja pada tanggung jawab kalian," pungkas Nyonya Shane.


"Baiklah." Dengan terpaksa.


*


*


*


Kini, Keluarga Shane telah dalam penerbangan menuju Shangai. Rencananya, mereka akan terbang ke Kanada malam nanti setelah makan malam dengan keluarga Liang.


Penerbangan itu memakan waktu sekitar dua jam penerbangan. Yang ke Shanghai hanya keluarga Shane dan pengawal mereka yang biasa. Selebihnya, termasuk Tim X langsung kembali terbang ke Kanada. Dan Ling Rui ikut di dalamnya.


Mereka tiba di Shanghai menjelang sore. Segera menuju ke restoran Liang.


"Jadi, ini Shanghai?" Nyonya Shane merapikan kacamatanya.


"Iya, Mom," jawab Dion.


"Padat sekali," keluh Nyonya Shane. Ya, itu karena mereka asyik terjebak macet saja. Apalagi banyak perempatan dengan lampu merah.


Dion tertawa.


"Apa kau tidak jenuh, Dion? Pasti kau terkena macet saat pulang kerja."


"Sepertinya jarang, Mom. Karena aku sering pulang malam," jawab Dion.


"Pulang malam? Dari mana? Kau tidak minum-minum kan, Dion?" Tiba-tiba saja suasana berubah. Naluri keibuan Nyonya Shane langsung bangkit. Menatap tajam Dion.


Dion yang berada di bangku kemudi bergidik ngeri.


"Tentu saja tidak, Mom. Aku di perusahaan," jawab Dion.


"Hm! Kau masih kecil. Jangan sering minum alkohol. Jangan kau rusak dirimu sendiri, Dion! Understand?!"


"YES, MOM!"


Camelia tersenyum simpul melihatnya. Sementara Lucas dan Liam asyik menikmati pemandangan.

__ADS_1


Restoran dalam keadaan ramai. Insiden beberapa waktu lalu sudah memudar. Mereka langsung turun dan masuk. Disambut oleh pelayan restoran.


__ADS_2