Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 145


__ADS_3

Hah!


Andrean menghela nafasnya. Pekerjaannya hari ini telah usai. Usai menjelang tengah malam.


Bukan hal mudah mengurus dua perusahaan yang sudah masuk kancah internasional.


Andrean, pria itu melangkah meninggalkan ruang kerjanya, menuju kamar untuk beristirahat.


Baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, Andrean mengernyit dahinya. "Belakangan ini, sepertinya aku melupakan sesuatu," gumamnya. Kesibukannya, membuat jadwalnya berantakan. Begitu juga dengan kesehariannya. Bahkan, waktu untuk Crystal saja tidak. Meskipun ia berada di istana. Namun, sebelum pekerjaannya selesai, ia tidak akan keluar dari ruang kerjanya. Sementara Crystal, tidak berani mengangguk sang ayah.


Crystal, anak itu punya pendengaran dan juga pemikiran. Di istana, banyak yang membahas mengenai Andrean yang mengambil alih Group Gong. Begitu juga dengan pemberitaan di televisi. Sering dibahas hingga anak ia paham benar.


"Apa yang aku lupakan?" Andrean beringsut duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia tidak jadi tidur. Ada yang mengusik dirinya. Membuatnya sangat tidak nyaman.


"Hah?"


"Apa?! Ayolah!" Menjambak rambutnya sendiri.


"Apa yang aku lewatkan? Pekerjaan, tidak ada yang salah?"


"Ting!"


Andrean menolehkan wajahnya saat mendengar suara itu. Ada pesan masuk. Dengan malas ia meraihnya. Belakangan ini, pesan masuk selalu berkaitan dengan pekerjaan. Membuatnya muak akan tetapi tidak ada pilihan lain.


Hei, Andrean! Apa ada denganmu? Dua minggu ini tidak ada kabar. Apa kau melupakanku?!


Pertanyaan itu langsung pada intinya.


"Camelia?!" Tersentak.

__ADS_1


"Aggkhhh!! Bagaimana bisa aku melupakannya?!!" Andrean berseru. Ia terkejut sendiri. Bagaimana ia melupakannya?!


Dari kata-katanya, jelas ia bernada kesal. "Tidak-tidak! Bukan itu maksudku!"


Gegas, pria itu langsung menghubungi Camelia. Dijawab di dering terakhir. Namun, tidak terdengar jawaban.


"L-Lia? Kau dia sana? Maaf … bukan maksudku menghilang. Aku ada alasannya. Ya … ya … aku tahu. Aku tetap salah. Maafkan aku."


Nadanya cemas. Sangat cemas. Setelah berkata demikian pun tidak dijawab. "Aku … terima jika kau marah. Ini salahku. Maaf."


Pria itu kembali mengajukan permintaan maaf.


"Apa alasannya?" Camelia bertanya dengan nada dingin.


Andrean diam. Jika bertanya alasan, artinya Dion tidak memberitahu Camelia. Ini, sengaja atau bagaimana?


"Apa kau tahu adik sepupuku?"


"Who? Mr. Allen?"balas Camelia.


"Kau mengingatnya?!" Andrean terkejut. Camelia langsung mengingatnya dengan cepat?


"Ya, Allen."


Tidak! Jangan kesal! Camelia bisa tambah kesal jika ia kesal hanya karena hal ini.


"Dia melakukan kesalahan fatal. Yang menyebabkannya harus diturunkan dari kursinya. Dan aku yang mengambil alih kursi itu. Dan selama aku tidak menghubungi ataupun mengabarimu, aku sibuk dengan perubahan Grup Gong. Dan ya, aku juga sibuk dengan Starlight Entertainment," jelas Andrean.


"Oh. Ya, aku tahu betapa sibuknya itu."

__ADS_1


Datar. Andrean malah semakin tegang mendengarnya.


"Sekarang, sudah selesai?"tanya Camelia lagi.


"Ya, sudah selesai."


"Baiklah. Aku mengerti. Kau pasti lelah. Aku juga masih syuting. Kita lanjutkan nanti," ucap Camelia.


"Eh, Lia! Maafkan aku. Ini kali terakhir aku melakukan kesalahan seperti ini," pinta Andrean lagi.


"Hanya kali ini," jawab Camelia, tegas.


"Aku juga minta maaf. Aku sibuk dengan acara syuting. Dan untuk menghubungimu? You know lah, kami, kaum wanita punya gengsi untuk itu." Kembali berkata dengan nada datar.


Akhirnya, Andrean bisa tersenyum. Ya, cukup lega.


"Andrean, hubungan masih dini. Dan dipisahkan oleh jarak. Maka dari itu, komunikasi sangat penting." Camelia mengingatkan.


"Aku mengerti. Maafkan aku. Ini adalah kali pertamanya aku serius dengan sebuah hubungan antara pria dan wanita."


"Kalau begitu aku tutup," pamit Camelia.


"Ya, semoga semua berjalan dengan lancar. Dan tak lama lagi aku akan ke Kanada, seperti janjiku tempo hari," ujar Andrean. Hening beberapa saat.


"Kalau begitu aku akan menunggunya," sahut Camelia.


Panggilan berakhir. Lega. Itu perasaannya sekarang.


"Ah dasar workaholic!!"gerutu Andrean pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2