
"Jangan bawa sifat pelacurmu itu ke rumah ini, Rose Lian!"hardik Andrean dengan berkacak pinggang pada Rose yang masih terduduk di lantai. Wajah Rose memerah padam tanda ia tengah berada dalam perasaan malu juga kesal.
"Belum cukupkah kau membawakan masalah untukku?"hardik Andrean lagi. Pria berusia 33 tahun itu sudah berada dalam ambang batas kesabarannya.
"Tidak bisakah kau diam? Aku muak padamu! Aku muak dengan semua tingkahmu itu!!" Andrean mengeluarkan ketidaksukaannya secara verbal.
"Apa maksudmu mengatakan ini, Andrean? Kau mau memutuskan hubungan denganku, hah?" Rose yang seakan sadar ke mana arah bicara Andrean langsung berseru.
"Of course! Aku akan memutuskan hubungan denganmu! It's true!!"jawab Andrean dengan emosinya. Ia tidak menundanya lagi.
"Hanya karena skandal kecilku? Kau akan memutuskan hubungan denganku? Ibu dari anakmu? Why, Andrean? Why?! Bukankah wajar aku bertindak seperti tadi? Aku meminta hakku! Aku tidak melakukan kesalahan."
Andrean memutar bola matanya jengah. Lihatlah, ekspresi Rose begitu mendramatisir. Intonasi dan mimik wajahnya sungguh sempurna. Namun, Rose berakting di tempat yang salah. Andrean sama sekali tidak terpengaruh. Andrean malah menarik senyum miring.
Andrean kembali mengancingkan satu-persatu kancing kemejanya. Sementara Rose beranjak berdiri.
"Atau … atau … karena artis Kanada itu kau mau membatalkan pertunangan denganku, Andrean! Answer!!" Kilat api amarah terpancar jelas dari netra Rose. Andrean mendongak. Ia tersenyum, senyum sinis.
"Rose Liang, apakah kau tidak tahu gimana posisimu sekarang?"tanya Andrean dengan nada dingin. Tatapan matanya yang dingin menyiratkan sebuah rasa jijik dan enggan.
"Aku tunanganmu. Ibu dari anakmu!"jawab Rose lantang. Andrean menggeleng. Pertanyaan ini sebelumnya sudah pernah Andrean tanyakan dan jawaban Rose tetap sama.
"Kau salah, Nona Liang! Hubungan antara kau dan aku bisa aku putuskan dengan mudah. Anak? Dia akan ikut denganku. Hak? Apa hakmu atas diriku?"tanya sarkas Andrean.
Lagi dan lagi, Rose terdiam. Pertanyaan Andrean memojokkan dirinya. Siapa dirinya? Siapa dirinya di mata Andrean? Apakah dia orang yang berarti di hari dan hidup Andrean? Bukankah jawabannya sudah jelas Rose sama sekali tidak ada artinya di hadapan Andrean.
"Aku belum menikahimu artinya kau tidak ada hak atas diriku. Seharusnya kau bersyukur karena menikmati semua fasilitas yang aku berikan kepadamu. Bukankah hidupmu sudah seperti seorang nyonya? Namun, kau tidak akan pernah bisa jadi nyonya rumah ini. Alasannya? Alasan mengapa aku memutuskan untuk mengakhiri pertunangan bukan karena orang ketiga!"
Rose mendongak. Ya itu memang benar dan Rose terbuai di dalamnya. Andrean mengeluarkan banyak kalimat kali ini. Namun, kata-kata itu bukanlah hal yang romantis akan tetapi sarkas.
__ADS_1
"Aku sudah memikirkan sejak lama tentang keputusan ini." Andrean membelakangi Rose. Ia menatap lurus taman yang terdapat air mancur.
"Ibu dari anakku? Aku rasa kau cuma mengandung dan melahirkannya. Bagaimana dengan merawat dan kasih sayang? Kau mengabaikannnya! Lantas bagaimana kau bisa disebut sebagai seorang Ibu?"
Andrean mulai membahas apa yang selama ini malas untuk ia bicarakan. Rose sudah tersandung masalah. Menurutnya lebih baik segerakan saja ia mengakhiri hubungan.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau mengatakan aku mengabaikannnya?!"seru Rose.
"Kau datang saat ada butuhnya! Kau kira aku diam karena aku tidak tahu? Kau kira aku ini orang bodoh, hah? Ya!!" Andrean yang selalu dingin kini benar-benar emosional.
"Aku memang bodoh karena tidak segera memutuskan hubungan denganmu. Cinta? Cih!! Kau kira aku tidak tahu dengan siapa saja kau menghabiskan malam di luar sana? Perlu aku katakan satu persatu?" Rose terbelalak. Andrean tahu? Wajahnya memucat.
Andrean menarik senyum miring. Di satu sisi ia lega dan di satu sisi, Andrean merasa bersemangat.
"Rose Liang, jelas alasannya bukan orang lain tapi dirimu sendiri. Skandal kecil?"
"Kau benar-benar skandal besar. Dan sekarang aku mulai bertanya-tanya, benarkah Crystal anakku?" Mata Rose bergerak gelisah.
"Kau sangat percaya diri. Bagaimana jika hasilnya negatif??!"tantang Andrean.
"Aku … aku … dia anakmu! Sejak lahir ayahnya adalah dirimu. Apa kau akan …."
"Aku benar-benar bodoh tertipu olehmu selama ini, Rose. Bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini!!"
"TIDAK, ANDREAN!! Jangan … aku mohon jangan putuskan aku. Ba-bagaimana aku akan hidup di luar sana tanpamu? Aku … aku tengah dalam masalah. Bagaimana nasibku? Aku akan hancur Andrean tolong setidaknya jangan sekarang." Rose merangkak, ia memeluk kaki Andrean. Dia sedang dalam skandal, jika Andrean mengumumkan bahwa Rose dan Andrean putus, maka Rose akan menjadi lelucon seluruh kota bahwa negara. You know? Now, laju informasi sangat tidak terbatas.
"Ba-bagaimana dengan Crystal? Dia butuh …."
"Tidak. Dia tidak butuh dirimu!"sela Andrean.
__ADS_1
"Sekarang … lebih baik kau cepat kemasin barang-barangmu dari rumah ini!!" Andrean menunjuk keluar. "Sebelum aku tambah kesal sebaiknya kau segera keluar, Rose Liang!!" Nada Andrean naik satu oktaf. Rose yang kalut kini ketakutan dan segera keluar.
Saat membuka pintu, Rose berpapasan dengan Hans. Hans mengernyit bingung melihat wajah pucat, takut, nan kebingungan Rose. Dalam benaknya bertanya, apa yang terjadi di dalam ruangan ini saat ia ke dapur tadi??
Hans melangkah masuk. Melihat Andrean sudah kembali duduk. "Apa yang terjadi, Tuan?" Hans tidak bisa untuk tidak bertanya.
"Siapkan konferensi pers untuk besok," ucap Andrean memberi titah.
Hans mengangguk. "Anda akan memberi klarifikasi untuk skandal Nona Rose??"tanya Hans. Andrean mengangguk.
"Ah data semua barang yang dibeli olehnya dengan uangku!"
"Lalu setelah ini … bawa Crystal ke villa. Aku khawatir dia bertindak gila," perintah Andrean lagi.
""Baik, Tuan." Hans kembali keluar untuk menjalankan perintah Andrean.
Andrean menghela nafas pelan. Akhirnya ia akan segera terlepas dari Rose.
Jadi, Andrean sudah tahu. Tentang Crystal pula. Diam-diam ia melakukan tes DNA untuk mendukung keyakinannya. Sejak awal, Andrean tidak pernah percaya jika Rose lah yang menghabiskan malam dengannya. Dan itu didukung oleh bukti konkret. Hanya saja … Andrean memanfaatkan hal itu agar ia tidak mendengar tuntutan untuk menikah dari kakeknya. Karena yang diinginkan sang kakek adalah cicit.
Lantas, jika Andrean tahu jika Crystal bukan anaknya, mengapa ia mempertahankan Crsytal? Mengapa tidak dibiarkan ikut dengan Rose saja?
Karena sejak awal, meskipun Andrean tahu itu bukan anaknya. Namun, Andrean sudah menganggap Crystal sebagai anaknya. Kasih sayangnya tulus. Anak itu juga tidak ia benci karena memang sama sekali tidak bersalah.
Aku lebih percaya jika kau adalah kucing liar itu, Camelia.
Sayangnya, aku belum mendapatkan bukti untuk hal itu.
Tapi, tenang saja. Cepat atau lambat kita akan tahu.
__ADS_1
Apa kau tahu, Camelia? Kebenaran tidak akan bisa ditutupi. Begitu juga dengan kebusukan.
Namun, meskipun itu tidak benar, aku akan tetap mengejarmu.