
Malam semakin larut. Namun, Lina tidak bisa tidur. Ia masih terkena efek jeg lag. Sementara Camelia, telah lelap terbuai dalam mimpinya. Rasa lelah seharian beraktivitas membuatnya mudah untuk tertidur, terlebih ini sudah jam tidur.
Lain halnya dengan Lina. Di sana masih siang, di sini sudah larut. Malam ini, ia tidur bersama Camelia, besok dan seterusnya baru tidur di kamar yang telah disediakan.
Lina duduk di sofa dekat jendela, memandang keluar di mana langit ramai dengan cahaya bintang. Duduk dengan memangku kedua tangan di atas lutut.
Merenung, menghela nafas pelan.
"Memang tidak sesuai harapanku. Namun, itu juga bukan hal buruk."
Camelia telah memberitahunya mengenai pekerjannya di sini. Tidak bisa menjadi manager Camelia langsung. Ia harus menjalani serangkaian pelatihan lebih dulu mengingat posisi Camelia sebagai artis besar dengan popularitas tinggi.
Ya … awalnya kecewa. Namun, ia sudah sadar diri. Berharap terlalu tinggi memanglah tidak baik. Apalagi selama beberapa tahun belakangan ini, pekerjaannya bukan lagi menjadi manager melainkan sebagai artisnya. Tidak dipungkiri, kemampuannya pasti akan berkurang. Wajar saja, agensi Camelia tidak menerimanya menjadi manager Camelia. Beruntung, masih diterima masuk.
"Lina … Camelia bukanlah Jasmine. Camelia itu artis besar, dari keluarga besar. Jika ingin menjadi managernya kau harus banyak belajar dan pelatihan lagi. Ya! Aku harus bisa! Aku pasti bisa!"
Semangatnya berkobar. Disertai dengan senyum yang melengkung lebar.
Tidak mudah memang. Apalagi di negeri orang. Namun, berkaca pada Camelia, ia pasti bisa melaluinya.
Fighting, Lina!
Hoam
Setelah menemukan ketenangan hatinya, rasa kantuk menghampiri Lina. Lina kemudian beranjak dari sofa menuju ranjang, di mana Camelia telah lelap.
Melemparkan tubuhnya dan tak lama kemudian tertidur.
*
*
*
"Kau menemuinya?"tanya Tuan Liang saat Nyonya Liang masuk ke dalam ruang rawatnya.
Nyonya Liang mengangkat wajahnya. "Menemui siapa? Aku kan ke restoran, suamiku," jawab Nyonya Liang, seraya meletakkan tasnya di atas meja.
"Jangan berbohong, Susan." Tuan Liang menatap tajam istrinya.
"Kau tidak begitu lama di restoran. Tapi, kau kembali selama ini. Jika tidak melihat anak itu, kemana kau?"cecar Tuan Liang. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan atas apa yang dilakukan oleh Nyonya Liang.
Nyonya Liang menatap suaminya. Tajam, dan tidak suka. Membuatnya menghembuskan nafas kasar.
"Jadi, kau mau aku bagaimana? Biar bagaimanapun dia putriku. Aku tidak bisa mengabaikannya. Apalagi aku mendengar ia berusaha bunuh diri. Tidak bisakah kau mengerti perasaanku, suamiku?"tanya Nyonya Liang, dengan nada pelan namun ada penekanan di dalamnya.
Tuan Liang membulatkan mata mendengarnya.
"Apa kau sedang menyalahkanku?"tanya Tuan Liang. Nyonya Liang menggeleng.
"Tidak. Aku hanya ingin kau mengerti perasaanku sebagai seorang ibu. Tolong, jangan halangi aku." Nyonya Liang meminta. Seorang ibu, sejauh mana pun kesalahan seorang ayah, kasih sayangnya tidak pernah putus. Seperti pepatah kasih ibu sepanjang masa.
"Tapi, dia telah melakukan banyak kesalahan. Apa kau masih mau menganggapnya? Kesalahannya begitu fatal, Susan."
Tuan Liang merasa bingung. "Lantas kita harus mengabaikannya? Perasaan bencinya akan semakin bertambah jika diabaikan, suamiku," sahut Nyonya Liang.
"Kau mau mengulang kesalahan yang sama seperti pada Lia? Aku tahu kesalahannya fatal. Namun, tidak seharusnya kita mengabaikannya. Dia itu tetap anak kita. Di dalam darahnya mengalir darah keluarga Liang. Ya … meskipun karakter begitu buruk."
"Susan?"
"Aku tahu kau berat menerimanya. Namun, jangan larang aku."
Tuan Liang menggeleng pelan. Namun, raut wajah istrinya membuat hatinya luluh.
"Baiklah. Terserahmu saja. Tapi, jangan sekali-kali melakukan hal di luar batas apalagi melanggar hukum. Biar dia menjalani hukuman sebagaimana mestinya," ucap Tuan Liang pada akhirnya. Menyerahkan pilihan pada Nyonya Liang, dengan tetap diberi peringatan.
Senyum Nyonya Liang terbit. Ia tersenyum lebar, "terima kasih, Suamiku."
"Hm … kapan aku bisa keluar dari sini? Aku sudah bosan," tanya Tuan Liang. Sudah hampir satu Minggu ia berada di rumah sakit.
"Aku tanya pada dokter dulu."
"Katakan aku sudah merasa sehat. Sore ini keluar dari rumah sakit," ucap Tuan Liang.
"Lihat keputusan dokter. Jika harus tinggal ya tinggal dulu. Kau jangan membantah jika tidak diizinkan!"tegas Nyonya Liang. Jika tadi ia memelas dan meminta, kini ia garang pada Tuan Liang.
"CK!" Tuan Liang berdecak pelan.
__ADS_1
*
*
*
"Tuan." Hans masuk ke dalam ruang kerja Andrean.
"Ada apa?"tanya Andrean tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Ada sedikit masalah pemotretan majalah di Xian,” ucap Hans.
Andrean mendongak. Masalah artisnya?
"Katakan."
"Model kita, Gu Xiang terlibat kecelakaan dan cederanya cukup serius. Perlu waktu untuk pemulihan. Jadi pihak majalah meminta untuk pergantian model," jelas Hans, mengatakan duduk masalahnya.
"Gu Xiang? Supermodel yang kemarin menang di award?"tanya Andrean memastikan. Ia memang tidak ingat wajah. Namun, jika pernah disebutkan, Andrean mengingatnya.
Hans mengangguk. "Mereka tidak mau menunggu sampai dia pulih?"
"Saya sudah mencoba bernegosiasi. Tapi, tanggal perilisan sudah ditetapkan. Mereka mengejar target, Tuan," jawab Hans.
"Baiklah. Kalau begitu urus sesuai dengan permintaan mereka." Hans mengangguk. Kemudian keluar dari ruangan Andrean.
Setelah Hans keluar, ponsel Andrean berbunyi. Dari sang kakek. Ada rasa enggan menjawabnya. Namun, biar bagaimanapun itu adalah kakeknya.
"Halo, Kakek," sapa Andrean.
"Hallo, cucuku."
"Itu terdengar menggelikan, Kek!" Andrean langsung protes.
"Hehehe. Bagaimana kabarmu, Rean?"
"Aku baik, Kek. Bagaimana kabar kakek di sana? Semua baik-baik saja, bukan?"
"Kabarku buruk karena cucuku sudah lama tidak pulang. Aku juga merindukan cicit perempuanku," sahut Kakek Gong, ketus.
"CK. Tak perlu mendramatisir." Baru beberapa Minggu yang lalu ia pulang. Bahkan dalam beberapa bulan belakangan ini, ia sering pulang ke kediaman lama di Shanghai.
"Katakan ada apa kakek menghubungiku. Jika hanya ini, akan aku matikan. Aku sibuk, Kakek!"
"Hei-hei!" Kakek Gong berteriak kesal di sana.
"Dasar cucu tengik! Aku belum siap bicara kau sudah mau memutuskan!"
"Lantas ada hal apa, Kakek?" Bertanya lembut.
"Hm … tiga hari lagi, pulang ke kediaman lama," ucap Kakek Gong, memberi titah pada Andrean.
"Aku sibuk, Kek. Tidak bisa," jawab Andrean tanpa pikir panjang.
"Ada acara keluarga. Kau harus datang!"
Andrean mengalihkan pandangnya dari layar laptop. Sedari tadi, ia berbicara dengan tetap bekerja. Dahinya mengernyit, "acara apa?"tanyanya, merasa di tanggal segitu tidak ada acara keluarga penting.
"Ulang tahun neneknya Allen."
"Haruskah aku datang?"tanyanya malas. Apalagi akan bertemu dengan sepupunya dan keluarga yang lain.
"Harus datang!! Jika tidak datang, aku tidak mengizinkan kau pergi ke Kanada! Kau kira aku tidak tahu tiga hari lagi kau mau ke mana?!"
"Kakek? Kau mengancamku?" Andrean membulatkan matanya.
"Benar!"
"Pilih mana?!"
CK … sialan! Andrean meruntuk dalam hati.
"Baiklah. Aku akan datang."
Pasrah.
"Bagus!"
__ADS_1
"Kalau begitu sampai jumpa tiga hari lagi. Jangan lupa bawa cicit perempuanku. Bye-bye, Rean." Panggilan diputuskan langsung. Andrean mendengus sebal.
"Tidak mungkin hanya untuk acara ulang tahun."
*
*
*
Keesokan paginya, Camelia mengajak Lina untuk ke Glory Entertainment. Untuk memasukkan data Lina sebagai bagian dari Glory Entertainment, juga untuk mengetahui di posisi mana ia berada.
Lucas dan Liam tidak ikut. Mereka memanjakan diri di mansion sebelum sibuk menjalani pemotretan.
"Wow!" Lina berdecak kagum, menatap bangunan tinggi dan megah di depannya ini. Kantor pusat Glory Entertainment.
"Ini benar agensimu, Lia?"tanya Lina. Jauh dari Peach Entertainment.
Camelia mengangguk. Mengajak Lina masuk. Sebagai aktris besar, Camelia jelas dihormati. Apalagi dengan latar belakang. Membuat Lina tak hentinya kagum.
"Kau sudah datang, Lia?" Disambut oleh Tuan David di ruangannya.
"Ya," jawab Camelia. "Perkenalan ini Lina, temanku, saudaraku dari China. Dan Lina, ini Tuan David, Presdir Glory Entertainment," ujar Camelia, memperkenalkan keduanya.
"Lina."
"David."
Keduanya berjabat tangan.
"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan."
Tuan David kemudian meminta surat kontrak dari sekretarisnya dan memberikannya pada Lina. Pria itu sudah mempersiapkannya.
"Di sini, sebelum menjadi manager tunggal. Kau akan mengikuti beberapa manager sebagai sekertaris mereka. Jangka waktunya memang cukup lama agar pengalaman dan kemampuan semakin baik." Sedikit menjelaskannya. Camelia mengintip surat kontrak itu.
"18 bulan?" Camelia terkejut sendiri. "Anda serius?"
"Ini sudah aku pertimbangkan."
"Bagaimana, Lina? Kau menerimanya?"
"Kau pernah menjadi manager. Tentu paham kemampuan apa saja yang harus dimiliki."
"Aku … menerimanya." Lina setuju.
"Baiklah. Kalau begitu silakan tanda tangan di sini. Kemudian besok kau sudah bisa mulai aktif."
Lina menggangguk. Segera menandatanganinya.
Selesai urusan itu, Camelia dan Lina meninggalkan Glory Entertainment.
Tidak langsung pulang, Camelia mengajak Lina untuk jalan-jalan. Mengunjungi beberapa tempat bersejarah dan tempat wisata di kota Ottawa. Juga sebagai pengenalan Lina terhadap kota ini. Ottawa, ini adalah ibu kota dari negara yang dicap sebagai negara terbaik di dunia.
"Negara ini multikultural dan juga sangat terbuka," ucap Camelia.
"Kau benar. Aku bahkan masih kaget dan bingung sampai saat ini mengenai keterbukaannya," sahut Lina.
Mereka tengah berada di salah satu cafe, menikmati makan siang setelah lelah berkeliling.
"Bahkan aku baru tahu kalau ganja legal di sini."
"Hanya untuk medis dan rekreasi. Memang legal namun tetap diawasi dan dibatasi," sahut Camelia.
Lina mengangguk. Ia juga harus belajar banyak tentang negara ini. Karena ke depannya pasti akan tinggal lama di sini. Bahkan tak menutup kemungkinan Lina mengubah kewarganegaraannya.
"Nikmatilah hari ini, karena besok kau akan mulai sibuk."
"Kau benar. Aku bahkan belum menyesuaikan diri. Perbedaannya begitu jauh. Tapi, aku yakin aku bisa."
"Aku tahu itu."
Tak lama kemudian, pesanan keduanya tiba. "Ini poutine, makanan khas Kanada. Cobalah, rasanya sangat lezat."
Poutine, terdiri atas kentang goreng, saus, keju, telur, dan juga daging. Kanada adalah tempat poutine terenak.
"Kau benar. Ini enak!"seru Lina setelah mencobanya. Untung saja, mereka memesan ruangan VIP untuk menjaga privasi, juga menjaga hal ini. Camelia terkekeh pelan.
__ADS_1
"Hm … ini sudah musim gugur. Bagaimana setelah ini ke pantai?"tawar Camelia.
"Ayo!" Lina mengangguk semangat.