Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 188


__ADS_3

"Mom, Dad," sapa Camelia. Menyambut kedua orang itu yang baru saja pulang setelah memperpanjang liburan mereka di Hawaii.


"Grandpa, Grandma," sapa Lucas dan Liam bersamaan.


"Hoho, apa kalian merindukan kami?"tanya Nyonya Shane. Ia memeluk Camelia kemudian bergantian memeluk Lucas dan Liam.


"Mana Dion?"tanya Tuan Shane. Mereka tiba di Kanada saat jam pulang kerja waktu setempat.


"Kemungkinan besar lembur, Dad," jawab Camelia.


"Ah begitu."


"Ayo-ayo, duduk. Mom akan bagikan buah tangan untuk kalian," ajak Nyonya Shane. Ia duduk dengan menarik Lucas dan Liam agar duduk di sisinya.


Camelia meminta pelayan untuk membawakan minuman yang menyegarkan untuk melepas lelah setelah penerbangan panjang.


Nyonya Shane dengan penuh antusias menjelaskan satu persatu oleh-oleh yang dibawa. Tuan Shane mendengarkan dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ini namanya kalau tidak salah Hawaiian Deep Sea Water. Katanya air ini diambil di bawah laut," jelas Nyonya Shane. Air itu dikemas dalam botol. Camelia menyipitkan matanya.


Diambil di bawah laut? Harganya pasti fantastis.


"Lalu ini namanya pipi kaula. Mom request nya dipanggang, biar tahan sampai rumah," jelas Nyonya Shane lagi. Dengan lain menu lagi. Jika tadi air, maka sekarang adalah daging. Mirip dengan dendeng. Namun, yang ini terlihat lebih enak lagi. Namanya juga unik.


"Ini enak. Apa namanya?," ucap Liam.


"Ohoho astaga. Kau tidak sabaran rupanya." Nyonya Shane tertawa. Camelia mendelik pada Liam.


Lucas menyenggol bahu kembarannya. "Dasar tukang makan!"


Liam menyambutnya dengan datar. "Eh!" Liam setengah memekik saat bungkus beserta isinya, dirampas oleh Nyonya Shane.


"Nah, ini namanya kacang Macadamia," ujar Nyonya Shane, memperkenalkan kacang yang dimakan oleh Liam tadi. "Ada beberapa rasa dan Mom beli semua rasa."


Tuan Shane tersenyum geli. Istrinya itu sudah mirip dengan sales yang tengah menawarkan barangnya.


"Kacang? Seperti kemiri ini kacang?"tanya Lucas, matanya dipenuhi dengan rasa penasaran.


"Kacang Macadamia adalah kacang asli dari Australia. Rasanya lembut dan creamy. Kacang Macadamia adalah kacang terenak sekaligus kacang termahal di dunia. Kacang ini juga tinggi lemak." Terdengar jawaban. Liam menjawab pertanyaan itu dengan cepat dan jelas. Liam kemudian menyimpan ponselnya.


"Ouh." Lucas hanya ber-oh-ria.


"Grandma," panggil Liam. "Kacang," pintanya dengan memelas.


"Eh? Astaga. Maaf-maaf. Ini, habiskan," ucap Nyonya Shane, mengembalikan kacang yang ia ambil tadi.


Liam kembali menikmati kacang Macadamia itu. Lucas yang penasaran dengan rasanya hendak mencobanya. Namun, tangannya ditepis oleh Liam.


"Ambil yang lain!"


"Huh!"


"Ini sangat banyak, Mom," ujar Camelia.


"Rasanya enak. Jadi, Mom beli banyak saja."


Karena mereka sudah memiliki banyak barang, alhasil yang banyak dibeli adalah oleh-oleh yang bisa dikonsumsi. Selain itu, Nyonya Shane juga membeli beberapa perhiasan khas dari Hawaii.


"Kemeja ini cocok dengan Dion." Nyonya Shane mengangkat satu kemeja pantai.


"Jika tidur dengan selimut ini, perasaan kita seperti berada di Hawaii." Sangat cepat tangan Nyonya Shane berganti memegang selimut.


"Wow."


"Habis uang Daddy membeli semua itu." Tiba-tiba Tuan Shane mengajukan keluhan. Wajah Nyonya Shane langsung berubah.


Camelia tersenyum. Jika itu, Camelia tidak akan heran. "Apa maksudmu? Ini kan tidak seberapa," keluh balik Nyonya Shane.


"Aku akan memotong jatah bulananmu, Lily!"


"Tidak bisa! Enak saja!" Nyonya Shane langsung berang. Ia berdiri dan berkacak pinggang pada Tuan Shane.


"Kau berbohong. Katamu cintamu sama seperti uangmu, unlimited. Apa sudah berubah menjadi limit?"seru Nyonya Shane.


"Air itu sebotol harganya sudah 35 dollar. Kau beli sebanyak itu. Lalu kacang itu, masing 10 untuk setiap rasa. Lalu dendeng itu, kemeja, dan selimut. Budget liburan yang sudah aku siapkan tidak mencukupinya."


"Heh? Mengapa kau protes setelah aku beli? Di sana kau setuju-setuju saja?"


"Pertunjukan menarik," bisik Lucas pada Liam.


"Seperti menonton konser," sahut Liam, berbisik pula. Apalagi mereka tengah makan kacang. Hanya Camelia saja yang merasa pusing.


Mereka ini tengah serius atau bercanda? Masa' pulang liburan bertengkar? Tidak lucu, bukan?


"Katakan kau menyesal membeli semua itu!" Nyonya Shane mendekati suaminya. Menarik kerah Tuan Shane dan menatapnya emosi.


"Ayo katakan! Mengapa diam?!"


"Hei!"


Nyonya Shane semakin kesal karena tidak dijawab. "Apa kau mendadak bisu? Atau kau ingin merasakan pukulanku?!"


Tuan Shane tidak melakukan apapun saat tubuhnya digoyahkan oleh istrinya.


"Mom, Dad," panggil Camelia, berharap mereka berdua segera berhenti.


"Lucas, Liam."


"Hehehe." Kedua anak itu malah menikmati.


Pfttt


"!?" Nyonya Shane mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Apa itu? Saat ia emosi, suaminya malah tertawa?


"Ahahaha … mengapa kau sangat menggemaskan ketika marah, Lily?" Tuan Shane melingkar tangannya pada pinggang Nyonya Shane. Kemudian dalam sekali tekan, Nyonya Shane jatuh dalam pelukan sang suami.


"K-kau?!" Wajah Nyonya Shane langsung memerah.


"Kau mengerjaiku?"tuduh Nyonya Shane. Wajahnya benar-benar panas. Pasti merah padam. Malah di sini ada ….


"Ehem. Harap sopan di depan anak-anak," ucap Lucas.


"Aku masih polos, kok," cetus Liam.


"Kau masih polos?"


Liam mengangguk. Lucas mengeryit tidak percaya. Ia juga bergidik.


"Wajahmu seperti kepiting rebus, Lily."


"Jangan meledekku!"ketus Nyonya Shane. "Lepas, aku malu. Ini bukan kamar," bisik Nyonya Shane. Ia benar-benar malu saat ini.


"Kalau begitu ayo ke kamar." Tuan Shane melepaskan pelukannya kemudian berdiri. Dalam waktu singkat, keduanya sudah berada di tangga menuju kamar.


Camelia mengerjap pelan. "Aku masih polos, kok." Liam kembali mengatakan kalimat yang sama.


*


*


*


Malam ini Lucas dan Liam tidur bersama dengan Camelia.


Sepanjang siang tadi Camelia tidak terlalu memikirkan obrolannya dengan Andrean pagi tadi.


Dan saat ini, Camelia memikirkannya. Perasaannya gelisah. Kebayangkan orang seperti yang Andrean ceritakan itu adalah orang yang nekat.


Lucas menyadari kegelisahan Camelia. Setelah selesai dengan gamenya, Lucas langsung menanyakan penyebab kegelisahan Camelia.


Camelia menatap Liam. Merasa ditatap dengan intens, Liam mendongak. Membalas tatapan Camelia.


"Mom butuh bantuan kalian," ujar Camelia serius.


"Pasti hal penting," tebak Lucas.


"Mom, pergunakan aku sebaik mungkin."


Camelia menarik seringai. "Tentu saja!"


*


*


*


Camelia berangkat untuk mengurus proyek barunya. Dion juga sudah berangkat ke kantor.


Sementara Lucas dan Liam tengah free.


"Lucas, Liam," panggil Tuan Shane pada kedua cucunya.


"Iya, Grandpa," sahut keduanya hampir berbarengan.


"Grandpa ada tawaran untuk kalian," ucap Tuan Shane. Mereka mengobrol di gazebo halaman samping.


"Lihat halaman ini, terasa sangat sepi, bukan?"


Lucas dan Liam melihat halaman. Memang sepi. Hanya ramai dengan tumbuhan, entah itu rumput atau bunga.


"Lantas, Grandpa?" Lucas dan Liam tidak paham arah pembicaraan ini.


"Akan lebih bagus jika ada peliharaan."


"Sudah ada kucing," sahut Lucas.


"Jangan memotongnya!"tegur Tuan Shane. Lucas nyengir.


"Bagaimana jika kucing besar?" Tuan Shane tersenyum. Lucas dan Liam saling melempar pandang.


"Panther hitam sepertinya bagus."


"Hah?"


Kedua anak itu terkejut. Apa Grandpa mereka berniat memelihara kucing besar berwarna hitam itu?


"Itu ide yang ekstrim, Grandpa," pikir Liam.


"Tapi, sepertinya seru." Mata Liam berbinar. Membayangkannya saja sudah sangat membuat Liam bersemangat.


"Lucas?"


"Membayangkannya aku bergidik, Grandpa. Tapi, mungkin menarik."


"Okay!"


*


*


*


"Aku ingin bertemu dengan Presdir kalian! Jangan larang aku! Apa kalian tidak tahu siapa aku?!" Wanita berambut pirang yang tak lain adalah Vivi mencak marah-marah di lobby Starlight Entertainment.


Ini sudah hari kesekian. Dan Vivi tidak berhasil masuk menemui Andrean.

__ADS_1


"Nona, tolong jangan membuat masalah. Lihat, Anda dilarang masuk langsung oleh Tuan!" Penjaga lobby menunjuk spanduk yang diletakkan di depan lift. Ada foto Vivi di sana disertai dengan tulisan dilarang masuk.


Vivi menghentakkan kakinya kesal.


"Sekretaris Hans!" Saat menoleh, Vivi melihat Hans yang keluar dari lift. Hans melebarkan matanya.


"Sekretaris Hans! Ini saya, Vivi. Saya ingin bertemu dengan Kak Andrean. Izinkan saya masuk!"


"Maaf sekali, Nona. Saya tidak berani membantah perintah Presdir. Di sana sudah tertulis dengan jelas," jawab Hans dengan sopan.


"Hei, kalian! Buta juga, ya?!" Tiba-tiba Hans menghardik pada penjaga.


"M-maaf, Sekretaris Hans!" Penjaga itu tersentak. "Nona, mohon kerja samanya!" Segera menarik Vivi keluar. Vivi tentu saja berontak. Tidak ada artinya.


"Bye." Hans tersenyum sembari melambaikan tangannya.


"Ini yang terakhir. Jangan biarkan wanita itu masuk selangkahpun!"teriak Andrean pada para penjaga yang lain dan juga pada resepsionis.


Hans kemudian melanjutkan apa yang hendak ia lakukan.


*


*


*


"Sialan! Sialan!"


Tiba di kamar hotelnya, Vivi langsung mengamuk.


Ia sangat kesal. Penolakan Andrean begitu terang-terangan padanya.


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kembali.


Kematian Kakak tidak lagi mempan padanya. Cara apa lagi?


Vivi menggigit jarinya. Memeras otaknya untuk menemukan jalan.


"Tunggu! Bukankah Kak Andrean punya seorang putri?"


Mata Vivi kembali berbinar. Seakan ia telah menemukan cara.


*


*


*


"Lina, kau sakit?"tanya Margaretha, menatap Lina yang tampak pucat.


"Eh, tidak, Bu. Saya baik-baik saja," jawab Lina, mengelak.


"Kau sudah makan siang?" Lina mengangguk.


"Serius?"


Lina mengangguk tak kalah serius.


Aku tidak berbohong. Aku makan tiga suap tadi, batin Lina.


"Kau sakit. Pekerjaanmu telah selesai. Sekarang pergilah pulang!"ucap Margaretha.


"Bu … saya …."


"Kau pikir bekerja dengan tubuh sakit itu produktif? Menurutlah, ambil cuti beberapa hari."


Lina terharu. "Terima kasih, Bu!" Lina membungkuk kecil kemudian mengambil tasnya.


Ponsel Lina berdering saat ia tiba di mobilnya. Mobil yang Lina gunakan masih mobil yang sama. Belum diganti karena menurutnya itu cocok dengannya. Tidak terlalu mencolok. Lina juga masih menyetir sendiri.


"Iya, David."


"Kau di mana? Ke ruanganku sekarang."


"Aku di mobil. Mau pulang. Aku tidak sanggup jika harus ke ruanganmu lagi."


"Pulang? Kau baik-baik saja?"


"Ku rasa tidak. Kepalaku pusing, perutku tidak nyaman."


"Tunggu di sana! Jangan bergerak kemanapun!"


"Aku tidak akan mematikannya. Tunggu aku!"


Terdengar suara tergesa. Lina menyandarkan tubuhnya. Ia menunggu suaminya.


Rasanya benar-benar tidak nyaman. Tubuhnya terasa lemas, kepalanya pusing dan perut mual. Apalagi jika mencium aroma masakan yang terlalu pekat.


"Lina, kau merasa tidak nyaman?" David yang sudah sampai di basement langsung masuk ke dalam mobil Lina.


"Aku hanya perlu istirahat," jawab Lina.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Pekerjaanmu?"


"Kau lebih penting, Lina!"tegas David.


Lina tersenyum. "Terima kasih."


"Mengapa bukan aku saja yang merasakannya?"lirih David.


"Asam manis harus kita nikmati, David. Tenanglah. Ini tidak akan lama," ujar Lina, menenangkan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2