Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 174


__ADS_3

Setelah menempuh penerbangan panjang, akhirnya Camelia tiba di Paris. Camelia terbang tidak satu pesawat dengan Lucas dan Liam. Melainkan bersama dengan 2 model lainnya. Karena ini menyangkut pekerjaan dan bukan personal, maka Camelia harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.


Lucas dan Liam beserta para pengawal barulah terbang menggunakan pesawat pribadi keluarga Shane.


Tempat menginap para model pun sudah diatur. Letaknya tidak jauh dari tempat acara digelar.


Dan kebetulan, hotel tempat Camelia dan para model dari brand yang mereka bintangi adalah di bawah naungan Gruop Shane.


Lucas dan Liam juga menginap di tempat yang sama. Bedanya, keduanya menginap di pentahouse, yang terletak di lantai tertinggi gedung. Dari lokasi itu, terlihat jelas menara Eiffel yang menjulang tinggi. Sungguh, tempat yang sangat strategis dan cantik. Pemandangan kota Paris dengan iconnya begitu mengesankan.


"Acaranya digelar lusa, meskipun begitu Mom pasti sibuk untuk persiapan. Bagaimana? Kita mengurung diri di sini sampai Mom selesai?"tanya Lucas, melempar pandang ke luar jendela.


"Tidak! Kita akan pergi mengunjungi beberapa tempat," jawab Liam, dengan percaya diri. Ia sudah bersiap untuk tidur.


"Tanpa ditemani Mom?"


"Kan ada para pengawal," sahut Liam.


"Hm … okay. Ayo berpetualang besok!"


*


*


*


Huh!


Camelia menghela nafasnya kasar. Ia baru saja kembali ke kamarnya. Tadi, tidak lama setelah tiba di kamar, ada pemberitahuan dan brefing. Tentang aktivitas besok sebelum acara digelar.


Ya, begitulah. Menjadi seorang model bukan hanya harus berjalan di catwalk ataupun berpose di depan kamera. Ada banyak persiapan dan pelatihan untuk hal itu. Apalagi ini acara akbar dan salah satu perhelatan fashion show terbesar di dunia. Yang hadir bukan hanya satu brand saja. Banyak brand ternama yang akan hadir. Banyak pula model yang akan hadir, dan juga para undangan. Untuk itu, harus melakukan yang terbaik. Karena, acara ini adalah ajang untuk memperluas jaringan juga untuk menarik perhatian, dengan begitu karier melonjak akan ada di depan mata.


Catwalk itu, adalah impian banyak model.


"Meskipun ini bukan pertama kalinya, aku tetap merasa gugup," gumam Camelia. Para desainer ternama akan hadir pula di sana. Setiap fashion yang dibawakan harus menunjukkan inti dari fashion tersebut.


"Aku belum mendapatkan perasaan yang pas. Bagaimana ekspresiku nanti?"gumam Camelia.


Daripada beristirahat, Camelia segera bangkit. Mengambil tabletnya dan melihat foto busana yang akan ia gunakan nanti. Menilik foto dari segala sisi.


Warna busana yang Camelia bawakan adalah biru. Dan warna biru dekat kesannya dengan dingin dan misterius. Selain busana, make up juga mempengaruhi pembawaan.


"Tanpa ekspresi, bibir melengkung tipis, tatapan dingin yang menghanyutkan? Make up nya natural saja. Aku harus membawakan kesan seperti ini. Huft! Ayo yakin bisa!"


Camelia kembali membaringkan tubuhnya dengan tablet masih di tangannya.


"Besok masih ada waktu. Akan aku coba peragakan. Now, ayo tidur, Lia!"


Camelia memejamkan matanya. Namun, saat ia hampir terlelap, ponselnya berdering. Nada panggil yang lain.


"Hallo, Rean? Kau sudah tiba?"tanya Camelia.


"Baru saja. Kau sudah tidur? Maaf menganggumu. Akan aku tutup," sahut Andrean, menyesal.


"Eh, tidak apa. Kau sudah reservasi hotel kan?"tanya Camelia.


"Err … belum. Lucas dan Liam menawariku untuk tinggal bersama di pentahouse. Jadi, aku menerimanya."


"Apa?"


"Kau tidak tahu?"


"Eh, tidak! Tidak apa! Ya sudah, lekaslah menuju hotel. Dan sampai jumpa," jawab Camelia. Mematikan panggilan sepihak.


Camelia memegang dadanya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah karena sebentar lagi akan bertemu dengan Andrean? Atau akan satu tempat menginap dengan Andrean? Apapun itu, jantung Camelia sangat berdebar-debar.


Tapi, sungguh pandai kedua anaknya. Mengusulkan hal itu pada Andrean tanpa sepengetahuannya.


Tidak masalah. Lagipula di pentahouse ada beberapa kamar. Atau nanti dia aku suruh tinggal di kamar hotel.


"Ahh … ayolah, terpejam dan tidur!"gumam Camelia. Memejamkan mata dengan jantung masih berdebar kencang.


Ini akan menjadi pertemuan mereka setelah kurang lebih 4 bulan tidak bersua, hanya komunikasi via ponsel saja.


"Aku tidak bisa tidur!"


*


*


*


"Matamu merah sekali, Lia. Kau habis menangis atau tidak bisa tidur?"tanya salah seorang rekan model Camelia, Ascania.


"Ahaha … benarkah? Mungkin karena gugup," jawab Camelia, tertawa canggung.


"Kami juga baru pertama kali. Tadi malam juga tidak bisa tidur. Lihat mataku juga merah. Makanya aku pakai kacamata," timpal wanita berambut hitam bergelombang, Moana, namanya.

__ADS_1


"Wah ternyata bukan aku saja."


"Ini perhelatan besar. Wajar kita gugup. Tapi, anggap saja kita berjalan di panggung biasa. Gugup akan semakin membuat kita melakukan banyak kesalahan," ujar Ascania.


Ketiga model itu punya karakteristik yang berbeda. Jika dijadikan dalam satu frame, mereka saling melengkapi. Hubungan mereka di dunia modeling juga sangat baik.


"Lia, kau dulu pernah berjalan di sana, kan? Pasti sangat menakjubkan. Tapi, juga menegangkan. Buktinya saja kau masih gugup begitu," ujar Moana, menunjukkan Camelia dengan ekspresi riang.


"Yang sudah senior saja masih gugup. Aku rasa itu hal yang wajar," sahut Camelia.


"Baik-baik. Daripada kita terus gugup begini, lebih baik kita berlatih," ajak Ascania.


Ajakan itu diangguki. Camelia sudah menemukan kecocokan dengan busana yang akan bawakan. Dingin dan misterius. Sementara Ascania, warna yang ia bawakan adalah warna yang soft, menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang lembut. Sementara Moana kepada warna cerah yang ceria, yang sama juga merujuk pada karakternya.


Jika mereka gunakan, busana-busana itu seakan memang dirancang untuk mereka.


*


*


*


"Ah! Lelahnya!"


Jam istirahat telah tiba.


"Ternyata masih ada yang lebih payah dariku. Aku cuma kena satu kali teguran. Tapi, ada yang sampai tiga kali. Hahaha … aku senang sekali." Moana tertawa. Tampaknya ia sangat puas.


"Ku lihat daftarnya, kebanyakan mereka baru pertama kali mengikuti acara ini. Jadi, wajar saja. Lia, setelah ini waktu bebas, ayo jalan-jalan. Melepas gugup sebelum tampil besok," ajak Ascania.


"Sebentar, aku pamit dulu pada kedua anakku," ucap Camelia.


"Anakmu ikut? Serius?"


"Ah … aku lupa memberitahu kalian. Mereka ikut dan tinggal di pentahouse," jawab Camelia.


"Astaga-astaga! Ini kan hotel keluarga kalian. Pantas saja. Eh, apa kalian mau liburan? Kau tidak akan langsung kembali?" Camelia mengangguki terkaan Moana.


"Kalau begitu ajak mereka sekalian," ujar Ascania.


Camelia memikirkannya sejenak. "Okay."


*


*


*


Ia melihat Lucas dan Liam dengan cemberut. Kedua anak itu tengah bersiap untuk keluar. Sementara Crystal sedang tidur siang.


"Mom bersama dengan temannya. Dan salah satunya itu salah kepo," sahut Lucas, selesai memasang dasi kupu-kupunya.


"Belum saatnya, Yah," timpal Liam.


"Huft! Sampai kapan aku harus menunggu? Mom kalian juga tidak kunjung menemuiku," keluh Andrean.


"Mom sibuk, Ayah. Besok adalah acaranya. Dan itu selama tiga hari. Atau mungkin nanti Mom akan datang," ujar Lucas. Sejak pagi, ayahnya itu terus merengek.


"Ayah ikut saja, tapi diam-diam," usul Liam. Ia telah selesai.


"Hm … benar juga!" Wajah Andrean langsung berseri. Andrean gegas untuk bersiap.


Mereka keluar tidak berbarengan. Lucas mengaktifkan GPS ponselnya agar Andrean bisa mengikuti.


"Mom!"


"Ayo naik."


"Astaga-astaga! Kalian bertambah tinggi ya? Tampan lagi. Aduh …." Moana berseri-seri.


"Kalian tahu? Kalian itu model cilik kebanggaan Aunty! Aduuh Aunty ingin mencubit pipi kalian. Sangat menggemaskan!"


Lucas dan Liam saling pandang. Memutar bola mata malas sebelum akhirnya tertawa.


"Lama tidak bertemu Aunty Ana dan Aunty Nia semakin cantik, ya?"puji Lucas.


"Oh-oh! Manisnya bibir!" Moana memekik. "Hari ini! Kita akan bersenang-senang!" Kembali memekik dengan penuh semangat.


"Err…."


"Hei, Ana! Kau sangat suka anak-anak. Mengapa tidak memiliki anak sendiri?"tanya Ascania. Usia mereka sepelantaran.


"Aku tidak begitu menyukai pria. Tapi, aku suka anak kecil!"jawab Moana.


"Uh, itu agak ambigu, Ana," keluh Camelia.


"Hei, Aunty. Jangan dekat-dekat dengan kami!"ketus Liam.

__ADS_1


*


*


*


Namun, peringatan itu tidak berlaku. Dapat dikatakan, selama jalan-jalan, Lucas dan Liam dimonopoli oleh Moana. Wanita itu cukup royal pada keduanya. Parfum, aksesoris, Moana membelikan itu untuk keduanya.


"Ahhh … puasnya!" Puas jalan-jalan dan berbelanja, mereka melepas lelah di cafe dengan pemandangan menara Eiffel.


"Begini rasanya liburan bersama sahabat? Jika ada kesempatan lagi, ayo kita liburan lagi. Kira-kira kemana? Hawai? Miami? Bali?"


Moana sudah memikirkannya.


"Jadwalku padat setelah pulang dari sini," sahut Ascania.


"Jadwalku juga," sahut Camelia.


"Ah! Tidak asyik!"keluh Moana.


"Haha!"


*


*


*


"Sial! Apa tidak ada kesempatan?!"gerutu Andrean. Sejak tadi hanya mengikuti. Tapi, tidak ada kesempatan untuk bertemu.


Ia mengikuti Camelia dan lainnya dengan penyamaran. Menggunakan jaket, topi, dan juga kacamata.


Andrean juga berada di cafe yang sama. Ia duduk di sudut.


"Ayah? Kapan kita menemui Aunty?"tanya Crystal. Padahal dari tadi mereka dekat tapi tidak kunjung saling menyapa.


"Sebentar. Kesempatannya belum datang," jawab Andrean. Ia juga mulai jenuh.


"Sudah mau pergi? Ayolah!"gumam kesal Andrean.


"Tidak jadi?"


"Hanya dua orang?"


Ting.


Ayah, datanglah kemari.


"Ah … kesempatan!" Andrean mengajak Crystal berpindah meja.


"Aunty!"sapa Crystal dengan riangnya.


Camelia menoleh ke bawah. "Crystal?" Terkesiap.


"Bonjour jolie demoiselle. Comment ça va?"sapa Andrean, dengan bahasa Perancis namun tidak menghilangkan logat chinanya.


(Halo, Nona Cantik. Bagaimana kabarmu?"


"Ah ... bonjour, monsieur. Je vais bien," jawab Camelia. "Kalian di sini juga?"tanya Camelia.


Kemudian menatap Lucas dan Liam. Keduanya terkekeh pelan.


Camelia tahu apa yang terjadi. Padahal hanya mengajak Lucas dan Liam. Tapi, Andrean dan Crystal malah ikut.


"Kau mengerti bahasa Prancis?"kagum Andrean. Duduk di samping Camelia.


"Of course."


"Kalau begitu … Tu me manques vraiment."


"Agak canggung, ya?"celetuk Lucas.


"Aneh. Padahal di telepon bicara banyak. Tiba bertemu seperti tidak ada bahan obrolan. Atau karena ada kami?"tanya Liam.


"Bukan begitu." Camelia menghela nafasnya.


"Mengapa tidak bilang kalian ikut? Jika bilangkan tidak selama ini."


"Ayah takut ketahuan katanya. Padahal kata Ayah, Aunty bakal jadi Mama Crystal," jawab Crystal.


"Really? Kasihan sekali kalian. Ayo-ayo, mau pesan lagi atau bagaimana?"


"Hei, Crystal, ayo lihat matahari tenggelam," ajak Liam.


"Ayo!"


"Sepertinya ada banyak hal yang ingin kau katakan, Rean."

__ADS_1


"Kau juga."


__ADS_2