
Keesokan paginya, setelah sarapan Kak Abi, Lucas, dan Liam pamit berangkat untuk melakukan pemotretan. Sedangkan Camelia juga bersiap untuk berangkat menuju Pheonix Tekhnologi sebab hari ini adalah pemotretan perdana Camelia sebagai brand ambassador perusahaan tersebut.
Style yang simple namun elegan dan tidak meninggalkan kesan mewah. Dress berwarna putih dipadukan dengan sepatu boots senada dan rambut digerai. Camelia keluar dari apartemen menuju basement.
“Nyonya Camelia,” panggil seseorang yang suaranya sudah familiar di telinga Camelia. Panggilan itu ada tak lama setelah Camelia melewati pintu apartemen Andrean dan pemanggil itu tentu saja adalah Andrean Gong.
“Selamat pagi, Tuan Gong,” sapa Camelia dengan senyum canggung, ya itu lebih tepat senyum yang dipaksakan. Camelia lupa bahwa ia mempunyai tetangga baru. Kendati demikian, Camelia juga tidak bisa menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.
“Morning. Anda mau keluar?”tanya Andrean yan g menggendong Crystal. Camelia mengangguk.
“Apa Crystal mau berangkat ke sekolah? Tapi, bukankah ini
sudah terlambat?”tanya Camelia dengan melihat jam tangan berwarna putih gading yang melingkar di pergelangan tangannya.
Andrean menggeleng kecil, “Crystal mau ke kantor sama Ayah. Aunty,” jawab Crsytal dengan nada khas anak kecil. Panggilan Aunty muncul karena Camelia yang memintanya. Ya, ia akan risih jika dipanggil Nyonya oleh anak kecil seperti Crsytal.
“Ke kantor? Crsytal mau kerja?”tanya Camelia dengan nada sedikit melakar. Akan tetapi, siapa sangka malah diangguki oleh Crystal. Camelia tercengang dan langsung menatap Andrean ya g tersenyum simpul.
“Crsytal mau jadi model, Aunty.”
“Model? Tuan Gong? Apa yang Anda pikirkan? Bukannya menyekolahkannya, Anda malah ....”
“Bukankah Anda juga sama, Nyonya Camelia?”sela Andrean.
“Tidak. Anak kita berbeda,” bantah Camelia langsung.
“Apa yang berbeda? Mereka sama-sama berusia 4 tahun.”
“Tuan Gong, saya lebih tahu akan kebutuhan anak-anak saya,” jawab Camelia.
“Kalau begitu sama dengan saya,” sahut Andrean pula.
“Astaga.” Pagi Camelia diwarnai oleh perdebatan dengan Andrean. Tapi, mengapa aku mengurus soal anaknya? Mau sekolah, mau jadi model, apa urusannya denganku?gumam Camelia dalam hati. Andrean tersenyum lebar.
Mungkin karena dia adalah cucu ayah dan ibu, jawab Camelia pada dirinya sendiri, tentu saja di dalam hati.
“Menjadi model adalah keinginannya. Sebagai orang tua, saya
juga tidak mengabaikan pendidikan nya. Crsytal akan home schooling.”
Barulah Andrean menjelaskan.
“Oh. Begitu rupanya. Ya sudah. Itu adalah urusan Anda. Saya permisi,” sahut Camelia dengan nada yang sedikit dingin.
“See you, Crsytal,” ujar Camelia dengan melambai pada bocah perempuan itu.
“Dadah, Aunty.”
Camelia kemudian melanjutkan langkahnya dan hilang dari pandang Andrean dan Crsytal saat Camelia masuk ke dalam lift.
“Bagaimana, Crsytal? Kau suka dengannya?”
__ADS_1
Yang ditanya mengangguk. Bertambah lebarlah senyum Andrean. “Aunty sangat baik. Dia juga sangat perhatian. Tapi, Crsytal tetap rindu dengan Ibu. Ayah, kapan kita bertemu dengan Ibu?”
Andrean terdiam beberapa saat, mengapa masih memikirkan wanita itu?
***
“Home schooling?” Camelia bergumam. Ia masih mengemudi menuju lokasi pemotretan. Camelia memikirkan tentang pendidikan untuk anak-anaknya. Meskipun belum pernah duduk di bangku sekolah, namun Lucas dan Liam adalah anak yang genius. Sebelumnya juga sudah pernah dibahas. Kendati demikian, anak yang genius pun butuh pendidikan dan perlu duduk di bangku sekolah ataupun kelak bangku kuliah.
“Aish, nanti akan aku bicarakan dengan anak-anak saja,” gumam Camelia. Kini ia sudah tiba di lokasi pemotretan yakni Phoenix Teknologi.
Turun dari mobil, Camelia langsung disambut oleh staff bagian pemotretan.
“Mari, Nyonya.” Walaupun sudah kehilangan suami, status Camelia tetaplah nyonya.
Camelia menuju dibawa menuju ruang ganti dan make up. Di dalamnya, pakaian tradisional khas China, yakni hanfu dan cheongsam berjajar rapi. Kostum yang digunakan adalah kostum tradisional karena tema game sendiri memanglah game kolosal.
Sebuah hanfu berwarna putih dengan bersulam emas, Camelia kenakan. Rambut digerai dengan memakai hiasan kepala dan segala aksesoris yang mendukung. Setelah selesai, semua terpana melihat penampilan Camelia. Walaupun sudah pernah melihat Camelia mengenakan hanfu, tetap saja tidak bisa berhenti berdecak kagum.
Camelia bak dewi yang turun dari khayangan. Apalagi polesan make up yang terlihat natural dan tak membuat jenuh untuk dipandang. Senyum yang khas, menyapa ramah para staff. Para staff tak bisa untuk tidak jatuh hati dan menjadi fans Camelia. Fisik yang cantik, kemampuan dan bakat yang diakui, finansial yang sangat baik, berasal dari keluarga ternama, ditambah lagi attitude, tak heran Camelia mendapat julukan Queen of Film.
“Kita break lima belas menit!” Sutradara memberi instruksi yang langsung disambut meriah dan ucapan terima kasih. Camelia diarahkan menuju ruang istirahat. Di sana sudah tersedia aneka minuman dan makanan ringan karena memang belum memasuki jam makan siang. Ini masih pukul 11.00 dan agenda yang sudah selesai ada seperempat dari keseluruhan. Di antaranya sudah mengambil dua video dan tiga foto. Bagian yang lamanya adalah di bagian berganti kostum karena memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
“Nyonya, apa ada yang Anda inginkan selain yang tersedia di atas meja?”tanya salah seorang staff yang melihat Camelia hanya mengambil satu jenis minuman kemudian memainkan ponselnya.
Camelia menoleh, “tidak. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih,” jawab Camelia seraya tersenyum.
“Ah. Baiklah. Jika Anda butuh sesuatu silahkan katakan pada saya,” ujar staff tersebut. Camelia mengangguk.
Camelia mengesah pelan. Di ruangan ini hanya ada dia seorang.
Ting.
Denting sebuah pesan masuk. Camelia melihat ponselnya. Pesan dari Lina.
Lia, aku sudah mengakhiri kontrak dengan Peach Entertainment!
Pesan itu dikirim bersama dengan sebuah foto, Lina yang berpose dengan jari peace.
Baguslah.
Camelia membalas pesan tersebut.
Aku akan menyelesaikan urusan lainnya agar bisa ikut denganmu ke Kanada. balas Lina lagi.
Ya, rencananya memang demikian. Untuk saat ini, masih bisalah Kak Abi memanajeri Camelia, Lucas, dan Liam. Namun, ke depannya? Lucas dan Liam akan bertambah besar dan dewasa bukan? Pasti butuh manager sendiri.
Dan di sinilah Lina kembali berperan dengan menjadi manager Camelia setelah kembali ke Kanada nanti.
Aku sangat tidak sabar untuk kembali ke Kanada, balas Camelia sebelum dirinya kembali dipanggil karena break sudah selesai.
Camelia mengangguk kecil dan memberikan ponselnya pada staff yang mengantarnya tadi yang kiranya berperan sebagai asisten Camelia.
__ADS_1
***
“Kalian serius?” Kak Abi tampak terperanjat dengan apa yang Lucas dan Liam. Kedua bocah kembar itu mengangguk.
“Daripada kami penasaran lebih baik kami buktikan saja. Benar atau tidak,” jawab Lucas.
“Bagaimana jika benar dan sebaliknya?”
“Tidak akan berpengaruh. Kami tidak butuh masa lalu Mommy. Yang penting kami tahu kebenaran tentang identitas kami. Siapa sebenarnya ayah kandung kami. meskipun begitu, Daddy Chris tetaplah ayah kami,” terang Lucas lagi.
“Mommy kalian? Anak-anak kalian tidak bisa melakukan tes DNA tanpa izin Mommy kalian.” Kak Abi tidak berani mengiyakan permintaan Lucas dan Liam yang mengajaknya ke rumah sakit,menemani mereka melakukan tes DNA dengan sampel DNA Andrean yang mereka dapatkan saat Andrean berkunjung ke apartemen mereka tadi malam.
“Ayolah, Aunty,” bujuk Liam.
“Jika Mommy tahu, pasti akan melarangnya. Aunty kan tahu Mommy tidak suka dengan Paman itu,” imbuh Liam lagi.
Kak Abi menjadi dilema. Di satu sisi ia takut Camelia marah besar jika tahu, di satu sisi lagi Camelia tak tega melihat wajah memelas Lucas dan Liam. Di sisi satu lagi, Kak Abi sebenarnya juga ingin tahu apakah benar ada hubungan yang sangat sakral di antara Lucas dan Liam dengan Andrean.
“Mommy tidak akan tahu jika Aunty tidak memberitahu. Ayolah, Aunty. Kami butuh kepastian dan hanya bisa memastikannya sendiri,” bujuk Lucas.
“Setidaknya ... kami tidak benar-benar kehilangan sosok ayah walaupun itu bukan Daddy.” Kedua anak itu merengek dan sungguh terlihat menggemaskan.
Kak Abi menghela nafas, “tapi, kalian juga harus janji untuk merahasiakan hal ini, okay!”
“Okay!”jawab Lucas dan Liam dengan kemudian memeluk Kak Abi.
Kami hanya ingin tahu.
***
Pemotretan di hari pertama telah usai. Pemotretan selanjutnya adalah besok lusa atau tiga hari lagi. Menjelang sore, Camelia telah berganti pakaian dengan pakaian ia berangkat tadi dan bersiap untuk pulang. Tiba di lobby,
Camelia terkejut saat resepsionis memanggilnya dan memberikannya sebuah bucket mawar merah dengan nama pengirim menggunakan inisial.
AG.
Siapa orang yang Camelia kenal dengan inisial nama seperti itu?
“Seorang kurir tadi mengirimnya untuk Anda.
“Ah terima kasih.”
Camelia mengucapkannya kemudian segera menuju ke mobilnya. “AG? Who AG?”gumam
Camelia .
“AG? AG? Andrean Gong?’ Camelia terbelalak sendiri. Apa benar Andrean Gong? Sial! Ini bukankah pernyataan cinta? Mawar merah? Apa maksud Andrean? Camelia meremas bunga tersebut dan melemparkannya ke kursi belakang.
Fu*k you, Andrean !
**
__ADS_1