Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 232


__ADS_3

"MOM!"


"MOM!"


"MOM!"


Di tengah kemeriahan pesta, tiba-tiba Lucas berteriak dan berlari ke arah Camelia. Wajahnya sangat panik.


"Ada apa, Lucas?"tanya Camelia, ikut cemas melihat raut panik Lucas.


"DARAH!"


"LIAM!"


"Ada apa dengan Liam?"tanya Andrean, sementara Camelia masih mencerna ucapan Lucas.


"Liam … hidungnya keluar darah!"jawab Lucas dengan terengah. Sorot matanya memancarkan rasa takut.


"Liam!" Camelia langsung beranjak. Bagaimana bawah gaunnya tidak mengembang. Jadi, tak kesulitan untuk bergerak dengan cepat ke tempat anaknya berada.


"Mom?" Liam mendongak dengan hidung berdarah, bahkan darahnya berceceran di lantai. Sapu tangan putihnya juga penuh dengan bercak darah.


"Aku tidak…." Sebelum tuntas mengatakannya, Liam merasa kepala sangat pusing dan tak lama ia kehilangan kesadaran.


Camelia sigap menangkap tubuh Liam, langsung menggendong dan tanpa memikirkan pesta atau pandangan tamu, Camelia langsung berlari keluar.


"Mom!" Lucas ikut berlari.


"Ayo!" Andrean mengejar dengan menggendong Lucas.


Kejadian itu begitu cepat. Semua tamu Masih membeku di tempat, mencerna apa saja yang baru terjadi.


Hiks


Hiks


Hiks


"Kakek Buyut!" Crystal berlari dan memeluk Kakek Hong. "Darahnya banyak sekali. Crystal takut, Kakek Buyut."


Kakek Gong tidak mengatakan apapun. Ia kemudian melihat Tuan dan Nyonya Shane yang bergegas meninggalkan ballroom. Sementara Dion mengambil alih acara menenangkan para tamu, mengatakan bahwa pesta berakhir karena kejadian tidak terduga.


"Ayo, Hans!"


Hans mengangguk. Mereka meninggalkan ballroom, menyusul yang lain.


Hal apa lagi ini? Bahkan kakakku belum mengecap kehidupan rumah tangga. Liam, keponakanku yang baik, Uncle harap kau baik-baik saja. Tuhan, aku mohon … biarkan kakakku bahagia dengan keluarga kecilnya, ucap Dion dalam hati.


Hatinya melengos sedih. Bagaimana tidak? Di hari yang bahagia, acaranya kacau dan parahnya keadaan Liam entah bagaimana.


"Your Mom, mengemudi begitu cepat!"ucap Andrean.


"Liam itu tidak pernah sakit apa lagi mimisan atau pingsan, Yah!"jawab Lucas. Wajahnya cemas dan takut. Lucas meremas dadanya. "Dan kau tahu, Ayah, kami kembar. Aku merasakan sakitnya," ucap Lucas. Matanya benar-benar merah.


"Sial!" Andrean mengumpat pelan. Jujur saja, khawatir seperti ini, hatinya masih merasa asing. Dan di saat yang sama, hatinya terasa sakit.


Jika aku saja begini, bagaimana dengan Lia?!

__ADS_1


*


*


*


"Dokter! Perawat! Siapapun itu! Help me!" Setibanya tiba di rumah sakit, Camelia berteriak parau. Ia menahan tangisnya.


"Ada apa, Nyonya?"


"Putraku, dia mimisan dan pingsan!"


Dokter yang berada di ruang IGD langsung menangani Liam. Camelia menunggu dengan tak sabar. Liam tengah ditangani.


Camelia tak ingin berburuk sangka, berpikiran negatif. Namun, dihadapkan pada Liam yang seperti itu, Camelia benar-benar terguncang. Ia mengemudi sendiri, begitu kencang untuk tiba di rumah sakit. "Liam, please."


Camelia tidak duduk. Ia menyatukan kedua tangannya, berdoa yang Tuhan. "Tuhan, please. Please…."


"MOM!"


"LIA!"


"Lucas." Camelia langsung memeluk putra sulungnya.


Andrean melihat ke dalam ruang IGD. Ia tidak mengatakan apapun. Mendekat dan memeluk Camelia dan Lucas. Sungguh, ia tidak menyangka hal ini.


Tuhan, please!


"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Nyonya Shane. Camelia langsung melepas pelukannya dan menatap Nyonya Shane. Nyonya Shane terdiam melihat darah yang menempel pada gaun yang Camelia gunakan.


"Kejadian begitu cepat, Dad," sahut Andrean.


"Keluarga pasien?"


"Bagaimana, Dokter?!"


Camelia langsung menatap Dokter yang baru keluar.


Dokter itu menghela pelan. "Kami perlu melakukan tes darah, Nyonya. Hasilnya akan keluar paling cepat besok pagi," ucap Dokter tersebut.


"Lakukan! Lakukan saja!"jawab Camelia.


"Dokter, apakah sangat serius?"tanya Andrean.


Dokter tersebut tidak menjawab, hanya menggeleng pelan kemudian kembali masuk ke dalam ruang IGD.


"Mom, Liam baik-baik saja, kan?"tanya Lucas penuh harap.


"Mom sangat berharap seperti itu, Lucas."


"Perasaanku, aku merasa sakit, Mom. Di sini, sakit sekali. Liam pasti merasakan sakit yang lebih dari aku, Mom. Mom."


Camelia kembali memeluk Lucas. "Daddy akan amankan kekacauan hari ini," ucap Tuan Shane.


Kekacauan tadi, disaksikan banyak tamu dan juga wartawan. Pasti, akan segera menjadi trending. "Jangan sekarang, Dad. Besok pagi saja setelah hasil tes darah dan apa yang sebenarnya terjadi pada Liam diketahui," ucap Camelia.


"Baiklah."

__ADS_1


*


*


*


"Kak, hal yang menimpa Liam sangat mengguncang kakak dan juga Lucas. Aku bahkan masih mengingat jelas hari itu, hari di saat Kakak tahu dirinya hamil dan hari di mana Kak Chris melamar kakakku."


Liam sudah berada di ruang rawat. Camelia dan Lucas berada di dalam. Sementara Andrean di luar, berbicara dengan Dion. Sementara yang lain sudah kembali.


Andrean menatap Dion. "Saat itu, keadaan kami tidak stabil. Kau tahu, bukan? Kakakku hanya artis kecil sewaktu di China. Kami kabur kemari tanpa persiapan apapun. Mengetahui dirinya hamil dan tanpa seorang suami, itu sangat membuatnya terpukul. Dan aku, yang saat itu masih remaja labil, malah merasa sangat senang."


"Dan Kak Chris datang membawa tawaran yang menjadikan kakakku seorang Cinderella. Aku sangat bersyukur. Aku senang."


"Ah, aku terlalu bertele-tele. Lucas dan Liam, mereka tidak pernah sakit. Maksudku paling keras hanya demam biasa. Tidak lebih. Jadi, yang ingin aku katakan adalah, kau harus bisa merangkul mereka semua. Kini, kau adalah tempat bersandar mereka. Jaga mereka dengan baik. Sial! Seharusnya ini aku katakan saat kakak akan ikut ke China denganmu. Kau, harus menghibur kakakku. Masuklah!"


Setelah mengatakan hal itu, Dion meninggalkan Andrean. Andrean mengusap wajahnya kasar.


"Aku bisa!'


*


*


*


Saat Andrean masuk, mendapati Camelia dan Lucas yang tertidur. Sementara Liam, masih tak sadarkan diri dengan infus dan alat bantu pernafasan yang menutup hidung dan mulutnya.


Nyutt


Lagi dan lagi, hati Andrean berdenyut nyeri. Suasana benar-benar hening, dan kental dengan kesedihan. Kemeriahan resepsi mereka. seakan sirna.


Tak tega dengan Camelia dan Lucas yang tidur duduk dengan ranjang Liam sebagai tumpuan, Andrean dengan hati-hati memindahkan keduanya ke sofa. “Cepatlah sembuh, Nak.” Andrean duduk di samping ranjang setelah memindahkan Camelia dan Lucas.


Andrean mengecup dahi Liam, lama. Air mata Andrean jatuh. Ia tegar di hadapan banyak orang. Namun, saat hanya sendiri dengan Liam yang belum sadarkan diri, Andrean tidak bisa menahan laju air matanya.


*


*


*


Keesokan paginya, hasil tes darah dan pemeriksaan Liam telah keluar. “Berdasarkan hasil laboratorium, putra Anda mengidap septicaemia,” ucap Dokter yang menangani Liam di IGD kemarin.


“Septicaemia?” Andrean mengulang nama penyakit itu. Sementara Camelia gemetar mendengarnya.


“Tidak mungkin!” Camelia bergumam.


“Hasilnya pasti salah. Liam, dia anak yang sangat aktif dan jarang sakit. Penyakit ini! Mustahil! Pasti ada kekeliruan! Tolong, lakukan tes ulang!”ucap Camelia, mencengkram kerah baju dokter itu.


“Awalnya kami ragu. Tapi, setelah beberapa kali kami cek dengan cara yang berbeda, hasilnya tetap sama. Maafkan kami, Nyonya.”


Camelia menggeleng. “Liam tidak mungkin menderita penyakit itu! Dia terlalu kecil, tidak. Tidak untuk seumur hidupnya!”


“Lia, tenanglah. Penyakit apapun itu pasti ada cara untuk menyembuhkannya,” ujar Andrean, menarik Camelia dalam peluknya. Tubuh Camelia masih gemetar.


“Apa kau tahu apa itu penyakit septicaemia, Sayang?”tanya Camelia, gemetar, menatap Andrean dengan mata yang merah.

__ADS_1


Andrean tertegun. Ini pertama kali ia mendengar nama penyakit itu.


__ADS_2