Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 181


__ADS_3

Camelia menjawab dengan tegas. Ada kesenangan tersendiri melihat raut bingung dan terkejut Mr. Alex. Bola mata Mr. Alex bergerak rumit.


Beberapa kali ia membandingkan wanita dalam foto hitam putih itu dengan Camelia. Mirip. Dan, saat ini, jika melihat Camelia, seperti melihat pantulan dirinya di masa muda.


"Umpatan itu masih kurang untuk seorang ayah kandung yang meninggalkan istri dan anaknya. Katakan, bagaimana cara Anda untuk membayar semuanya."


Sudah sejauh ini. Setidaknya Camelia harus mendapatkan sesuatu. Ia adalah anak kandung. Dan ia memiliki hal atas ayah kandungnya.


"Tunggu! Ucapan Anda tidak bisa dipastikan. Mari lakukan tes DNA!"


Mr. Alex tidak serta merta menerima apa yang Camelia katakan. Itu hanya lisan, tidak ada jaminannya. Namun, jika sudah dibuktikan secara sains, maka itu adalah hasil yang konkret.


Bisa saja kan apa yang Camelia katakan adalah bohong? Eternel adalah brand parfum yang mendunia dan legendaris. Memiliki banyak aset. Lalu Camelia datang dan mengaku sebagai anaknya. Dengan kedudukannya, Mr. Alex memiliki kecurigaan dan prasangka buruk.


Mr. Alex harus membuktikannya. Benar atau tidak.


"Pfttt … ahaha." Camelia tertawa.


"Ada yang lucu?"


"Tidak. Hanya saja, apa yang Anda pikirkan tergambar jelas." Camelia kemudian mengambil beberapa helai rambutnya. Karena itu, ia meringis sakit beberapa saat.


Andrean langsung mengusap kepalanya.


"Ini, silahkan Anda lakukan tes DNA itu. Saya berharap Anda adalah orang yang jujur. Selain itu, jika tes DNA itu mendukung apa yang saya katakan, saya akan meminta sesuatu pada Anda," tegas Camelia, memberikan beberapa helai rambutnya itu kepada Mr. Alex.


Mr. Alex menerimanya. "Jika benar saya akan melakukan tanggung jawab seorang ayah pada Anda!"


"Namun, jika salah Anda harus menjadi model kami secara sukarela!"


Camelia berdecak. Di saat seperti ini, Masih sempat menyelipkan bisnis di dalamnya. "Mr. Alex, ingat semua kata-kata Anda. Saya ini orang yang materialistis loh," sahut Camelia, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mr. Alex.


"Kalau begitu sampai jumpa." Mr. Alex meninggalkan lobby.


Camelia menghela nafasnya pelan. "Lia, kau berkata seperti itu tidak takut dia melakukan manipulasi pada hasil tes DNA?"tanya Andrean. Tadi Camelia selalu blak-blakan bahwa ia akan meminta sesuatu pada Mr. Alex. Juga menyebut dirinya materialistis.


"Materialistis tidak cocok untukmu. Kau sengaja menakutinya?"selidik Andrean lagi.


Camelia tersenyum smirk. "Jika dia melakukan manipulasi, kita hanya perlu membalikkan manipulasi itu."


"Tidak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting dia sudah tahu kebenarannya," lanjut Camelia kemudian.


"Ayo, panggil anak-anak dan kita ke pantai," ajak Camelia, menarik Andrean meninggalkan lobby.


"Baiklah."


*


*


*


Menikmati deburan ombak serta birunya air dan langit. Memutuskan untuk benar-benar liburan tanpa memikirkan hal apapun. Hanya bersenang-senang.


Berjemur, menikmati hangatnya sinar matahari. Meskipun bersinar dengan cerah, panasnya tidak terik.


Sudah lama Camelia tidak merasakan perasaan seperti ini. Apalagi mereka sangat lengkap.


"Mom, ayo kemari!"


Lucas melambaikan tangannya pada Camelia. Kecuali dirinya, mereka sudah bermain air. Berlarian di sana dengan begitu ceria.


"Mom datang!" Camelia bangkit dari berjemur. Gegas berlari kecil.


Hari itu, pantai menjadi saksi kebahagiaan mereka.


*


*


*


Tiga hari berlalu. Belum ada kabar dari Mr. Alex mengenai hasil tes DNA.


Tiga hari itu pula, Camelia menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan keluarga. Mereka mengunjungi banyak tempat. Dan sebagai seorang artis, Camelia, Lucas, dan Liam tidak lupa mengupdate postingan terbaru mereka.


Tentu saja, tanpa ada bayangan Andrean ataupun Crystal di dalamnya. Hubungan itu masih privasi. Belum boleh go public.


Dan ini adalah pagi hari keempat setelah pertemuan dengan Mr. Alex. Keluarga itu sarapan di restoran hotel.


"Mom, kapan kita kembali? Ini sudah satu minggu. Apakah memperpanjang liburan kita?"tanya Lucas.


"Ayah juga. Untuk ukuran Presdir dengan jam kerja yang sibuk, Ayah sudah melalaikan tugas. Kasihan sekali bawahan Ayah. Terutama sekretaris Hans itu," celetuk Lucas lagi.


Kedua orang itu tercengang. "Apa sudah selama itu?"


Tampaknya tidak menyadari. "Ayah kira baru beberapa jam."


"Bucin," desis Liam. Lihatlah tatapan penuh cinta itu. Yang berangsur berubah menjadi sayu. Artinya akan kembali berpisah.


"Jadwal Mom adalah minggu depan. Akan tetapi kalian berdua, setelah Mom ingat-ingat, dua hari lagi adalah jadwal kalian, bukan?"


"Benar!" Lucas dan Liam menganggukinya.


"Kau juga terlalu lama meninggalkan kursimu, Rean."


"Jadi?" Kecuali Crystal, ketiga orang itu meminta keputusannya.


"Kalian pulanglah siang ini," jawab Camelia dengan tersenyum.


"Apa?!" Ketiganya berteriak kaget.

__ADS_1


"Tidak mau!"tolak Lucas.


"Pergi sama pulang juga sama!"timpal Liam. Keduanya sama-sama bersedekap tangan dan mengerucut bibir.


"Berbahaya sendirian di tempat asing seperti ini," ujar Andrean. Jelas, diantara mereka berempat tentu Andreanlah yang tak ingin berpisah.


"Crystal masih mau di sini." Crystal juga turut menolak.


Camelia memijat dahinya. Sudah ia duga. Tidak semudah itu.


"Pekerjaan bisa dikebut. Tapi, keselamatanmu adalah yang utama."


"Kalau begitu, barisan Pengawal itu hanya pajangan?"balas Camelia.


Andrean mendesah pelan. Salah langkah menahan Camelia dari segi itu. "Aku juga bisa bela diri."


"Percayalah. Ini tidak akan lama. Kemungkinan, lusa aku sudah pulang," bujuk Camelia.


"Tidak!"


*


*


*


"Kita memang ditakdirkan pulang bersama."


Camelia berdecak pelan. Ia dan Andrean tengah berada di dalam lift.


"Jika selesai hari ini. Jika tidak, besok pagi kalian pulang!"


"Hans dan Lie bisa menangani semuanya. Sesekali memberi mereka pengalaman tidak masalah bukan?"


"Sesekali?" Camelia mencibir. Sangat tidak yakin dengan ucapan Andrean itu. Apalagi tidak menghilangkan kenarsisannya. But, itu menjadi daya tarik tersendiri.


"Kasihan sekali mereka."


"Itu urusan kecil bagi mereka."


Camelia tertawa sinis. Bisa-bisa berkata hal seperti itu dengan santai.


"Selamat siang, Mr. Alex," sapa Andrean.


"Siang, Mr. Andran," balas Mr. Alex.


Yap, setelah tiga hari berlalu, Mr. Alex akhirnya ada kabar juga dengan hasil tes DNA yang sudah keluar. Oleh karenanya diadakan pertemuan ini.


Pertemuan itu dilakukan di restoran dengan ruangan privat.


"Bagaimana hasilnya?"tanya Camelia, datar.


Tapi, sepertinya bukan. Itu bukan surat hasil pemeriksaan. Itu adalah cek!


"Ambil cek ini. Jika kurang, Anda bisa menambah jumlahnya," ucap Mr. Alex datar. Ia menyodorkan cek dan pena tersebut di atas meja.


Andrean menatap Camelia. Tatapan Camelia sangat dingin saat ini. Cek itu hanya ia lirik sekilas. Tatapannya lurus pada Mr. Alex.


"Apa mau Anda?"tanya Camelia. Datang dan menyodorkan cek seperti ini. Hasil tes DNA itu pasti positif. Pasti ada harga yang harus dibayar lagi. Pria di hadapannya, seperti enggan mengakui dirinya. Apa ini kompensasi?


"Jangan pernah kembali dan ungkit mengenai siapa saya dan siapa Anda. Saya sudah punya keluarga yang bahagia."


Dua kalimat itu menjawab semuanya.


"Benar-benar bed*ebah egois!"maki Camelia dengan nada dingin. Percayalah, itu lebih menakutkan daripada emosi membara.


"Saya tidak mengakui Anda. Ambil cek itu dan jangan pernah datang lagi!"tegas Mr. Alex. Pria itu tidak bereaksi dengan makian Camelia.


"Ekspektasi saya terlampau jauh rupanya."


Camelia meraih cek itu. Melihat nominalnya. Memang jumlah yang tidak sedikit. Tapi ….


"Sayang sekali, ini sangat jauh dari cukup," sinis Camelia.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Anda. Tapi, yang pasti saya adalah anak yang terlahir secara sah dari pernikahan Anda dengan ibu kandung saya. Nominal sendiri, apa pantas membuat anak sulung Anda tutup mulut dan pergi tanpa pengakuan? No! Saya tidak meminta pengakuan. Sayang sekali, Eternel benar-benar miskin!"


Lia? Memprovokasi?


Wajah Mr. Alex memerah. Tentu saja, itu penghinaan baginya.


"Apa yang kau inginkan?!"tanyanya dengan tangan mengepal.


"Sederhana saja. Cek ini serta kepemilikan 25 persen Eternel," sahut Camelia, menyeringai. Jika sudah begini, untuk apa muluk-muluk. Minta saja dalam jumlah besar. Jika pria tua di depannya ini benar-benar menyayangi keluarganya, tentu apa yang ia minta bukan masalah.


Wajah Mr. Alex semakin memerah. Kaget. Begitu juga dengan Andrean. "Jangan bercanda!"


"Fufu…." Camelia tertawa.


"Pilihan ada di tangan Anda. Terima atau tidak?!"


"Waktu Anda hanya sampai malam ini. Jika lewat, artinya menolak!" Camelia memberi ultimatum. Kemudian pergi meninggalkan tempat.


"Hei, Pak Tua! Jika Anda macam-macam, saya akan berikan Anda pelajaran yang sangat bermacam!"


Adrean kemudian menyusul Camelia.


Mr. Alex sendiri tampak kebingungan. Eternel adalah bisnis keluarga. Turun-temurun dan selama ini kepemilikan mereka terhadap Eternel adalah mutlak. Tidak ada pihak luar di dalamnya.


Jika 25 persen kepemilikan dialihkan pada Camelia, keluarganya pasti tidak akan terima.


Bagaimana ini? Semua seperti simalakama.

__ADS_1


Menyerahkan 25 persen saham? Tidak!


"Pasti ada cara lain!"


*


*


*


"Benar-benar menyebalkan!" Camelia menggertakan giginya kesal.


"Lia, dia tidak pantas menjadi ayah kandungmu."


"Siapa yang meminta pengakuannya? Jika dia memberikan itu kemudian meminta maaf atau apa, aku tidak masalah. Namun, sialan? Aku sangat marah mengingat wajahnya!!"


"Jika seperti ini, aku akan menolak untuk pulang sebelum urusanmu selesai, Lia."


"Aku yakin, kau pasti butuh bantuanku."


"Percaya diri sekali kau!"


"Hahaha itu adalah diriku."


Camelia mendengus. Ia kemudian memikirkan kemungkinan yang terjadi. Camelia harus membuat persiapan untuk menghadapinya.


"Tapi, kau benar sih. Aku memang akan membutuhmu." Camelia melempar senyum pada Andrean. Andrean mengernyit. Itu bukan senyum, itu seringai. Entah mengapa, Andrean merasa akan ada hal besar yang terjadi.


*


*


*


Malam harinya. Camelia masih menanti jawabannya.


Menit demi menit berlalu dan ini sudah tengah malam. Namun, jawaban dari Mr. Alex tidak kunjung Camelia terima.


Andrean yang baru selesai dengan laptopnya, menatap Camelia yang menatap keluar.


Dari tempatnya berada, Andrean sudah tahu bagaimana ekspresi Camelia.


Andrean bangkit dan memeluk Camelia dari belakang. "Jangan terlalu dipikirkan. Apapun yang terjadi aku akan ada di sampingmu, Lia."


"Aku kecewa, Rean." Camelia memejamkan matanya. Setetes butiran bening jatuh.


"Air matamu terlalu berharga untuk menangisinya. Lia, jika aku ingin, aku akan membuat mereka bertekuk lutut di depanmu!"


Nada bicara Andrean benar-benar dingin. Andrean serius dengan ucapannya.


"Kau akan mendukungku, bukan?"tanya Camelia.


"Tentu saja!"


Camelia mengangguk singkat. Ia tersenyum dan perlahan menyeringai.


*


*


*


Pagi telah tiba. Namun, belum juga ada kabar. Pagi itu pula, Camelia meminta Liam untuk melakukan sesuatu.


Sementara Camelia mulai meminta Andrean melakukan sesuatu. Hari itu mereka sangat sibuk melakukan instruksi Camelia. Begitu juga dengan para pengawal.


Tindakan Lia ini ….


Andrean tertegun sesaat kala menyadari apa yang hendak Camelia lakukan.


"Mengerikan! Eternel, kalian berhadapan dengan orang yang salah!"


"Mom, aku sudah mendapatkannya."


"Bagus! Kirimkan pada Mom!"


"Okay!"


"Lia, aku sudah melakukannya. Apa ada lagi?"


"Apa kartumu masih ada?"


"Tentu saja. Ini unlimited!"


Camelia berdecak. Hidung Andrean benar-benar panjang.


"Kalau begitu, mari tunggu respon mereka." Camelia tersenyum smirk.


*


*


*


Hari telah berganti. Lucas dan Liam masih menemani Camelia. Begitu juga dengan Adrean dan Crystal.


Siang harinya. Resepsionis menelpon ke kamar Camelia. Ada yang ingin bertemu.


"Ayo, Rean!"ajak Camelia. Penampilannya, siap untuk berperang.


Mereka menuju restoran. Dan benar! Yang mereka temui adalah Mr. Alex. Namun, kali ini ada tambahan personil. Nyonya Marry ada di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2