
Pernikahan David yang tanpa pemberitahuan lebih dulu, jelas menghebohkan publik. Pernikahan itu menggemparkan Kanada, terutama dalam dunia industri.
Dan tentunya sangat menarik. Berita pernikahan David dirilis saat sudah sah. Pernikahan itu terjadi sekitar satu bulan setelah David putus dengan Jenny.
David, dikenal memiliki banyak kekasih, namun semuanya berakhir dengan awalan mantan. Tidak ada yang benar-benar bisa menaklukan hati Presdir Glory Entertainment. Sampai, berita pernikahannya dirilis.
Publik penasaran. Siapa gerangan yang menjadi pemilik hati David. Siapa yang berhasil menaklukkannya, dan berakhir di jenjang pernikahan. Wanita dari keluarga mana?
Karena foto pernikahan yang dirilis tidak menunjukkan wajah pengantin wanitanya dengan jelas. Posenya membelakangi kamera. Ada dua foto pernikahan yang dirilis. Sama-sama membelakangi kamera dengan bergandengan tangan dan satu lagi, David menghadap kamera sementara Lina membelakangi kamera. Hal itu dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
*
*
*
"Aku penasaran siapa sebenarnya istri Presdir. Apakah putri dari salah satu keluarga besar ataukah dari kalangan biasa."
"Kali ini Presdir membuatku sangat terkejut. Aku kira pengumuman memiliki kekasih baru. Rupanya hidup baru. Benar-benar di luar dugaan."
"Aku rasa mereka dijodohkan. Jika menikah karena cinta, mana mungkin Presdir ke kantor di hari pertama pernikahannya."
"Kalau itu sih aku tidak akan terlalu memikirkannya. Presdir kan workaholic."
"Wajah pengantin wanitanya disembunyikan. Hanya ada dua kemungkinan, tidak layak dipublikasikan atau menjaga privasi. Ah kehidupan konglomerat memang rumit."
Lina yang baru tiba, mendengar jelas pembicaraan itu.
Tentu saja. Glory Entertainment yang paling terkejut dengan kabar pernikahan itu. Mereka menerka namun tak dapat menemukan titik terang.
Aku setuju dengan ucapannya, kehidupan konglomerat memang sulit. Sekalipun terlihat sederhana, batin Lina.
Ke depannya akan banyak gosip. Kau tutup telinga saja. Tidak perlu mendengarkan gosip yang ada baik di kantor maupun di luar kantor!
Lina menghela nafasnya. Ia sudah diingatkan oleh David.
"Mata pandamu terlihat jelas." Margaretha langsung memberikan tatapan intens begitu Lina tiba di mejanya.
"Ah?" Lina langsung menyentuh bagian bawah matanya.
Matanya tajam sekali.
"Yang harus punya stamina dan kesehatan bukan hanya artis. Kau sebagai manajer juga harus bisa mengatur dirimu sendiri untuk bisa mengatur orang lain!"tegas Margaretha.
"Hal ini tidak akan terulang lagi, Bu," ucap Lina, dengan sedikit membungkuk.
Margaretha mengangguk kemudian menyuruh Lina mengerjakan tugasnya.
Ini karena malam tadi. Aku dan dia benar-benar satu ranjang. Meskipun tidak lebih dari sekadar tidur, aku sama sekali tidak bisa tidur, gerutu Lina dalam hati.
Aku bertambah kesal mengingat wajah tanpa dosanya! gerutu Lina lagi.
*
*
*
"Apa karena dia sudah menikah, suasana hatinya menjadi baru?"
"Ekspresinya menjawab pertanyaanmu."
"Biasanya dia terlihat sangat menyeramkan. Hari ini, tak hentinya mengulas senyum. Tampaknya pernikahan Presdir karena cinta bukan paksaan."
Terjadi bisik-bisik saat rapat di awal pekan. Seperti yang dikatakan, David akan terlihat menakutkan saat rapat. Baik rapat apapun itu. Kritiknya selalu pedas. Tidak menerima kesalahan.
Namun, sejak rapat dimulai, bibirnya mengulas senyum lebar dan tampak tidak mendengar presentasi dari peserta rapat.
"Apa dia sedang memikirkan istrinya?"
"Maybe."
"Hei!" Tiba-tiba saja mereka tersentak. David mengejutkan mereka dengan satu kata.
"Kalian kira aku tidak mendengarnya? Laporan kalian, tidak ada bedanya dengan yang lalu. Segera perbaiki dan letakkan di mejaku paling lama sore ini!!"
Setelah itu, David bangkit dan meninggalkan ruang rapat. Meninggalkan peserta meeting yang tertegun.
__ADS_1
David tetaplah David. Pikirannya entah ke mana, masih bisa fokus pada rapat.
"Mengapa harus ada Senin? Mengapa harus ada revisi? Awal pekan yang menyebalkan!" Beberapa menggerutu. Dan yang lain segera keluar untuk mengerjakan revisi.
*
*
*
"Hari ini adalah hari terakhir mempelajari naskah dan gerakan. Selama tiga hari ke depan, kalian istirahat sebelum syuting dimulai. Namun, meskipun latihan ini sudah selesai, bukan berarti kalian tidak belajar lagi sewaktu syuting." Ucapan lantang dari sutradara itu menutup kegiatan latihan di hari terakhir. Disambut dengan tepuk tangan kemudian bubar.
"Latihan telah usai. Saya tak sabar untuk keseruan saat syuting nanti," ucap Joseph.
"Dan itu akan jadi hari yang panjang. Sampai jumpa saat syuting, Joseph," jawab dan pamit Camelia.
"Ya. Sampai jumpa." Camelia meninggalkan tempat. Joseph termenung kemudian tersenyum kecut.
Susah sekali didekati. Meskipun dia menanggapiku, dia memasang pembatas yang tinggi. Lagi pancaran matanya, terlihat bersahabat namun sangat dingin. Apakah ada kesempatan?
Di mata orang lain, mereka memang terlihat dekat. Namun, bagi Joseph, ada jarak yang jauh meskipun Camelia duduk di sampingnya. Bagi dia saja seperti itu, bagaimana dengan Camelia sendiri?
*
*
*
"Tak terasa satu bulan telah berlalu. Satu bulan lagi, aku akan kembali ke Kanada dengan jabatan baru." Dion menatap langit senja dari ruangannya. Hari ini ia lembur.
Menjadi seorang pemimpin, bukanlah hal yang sulit. Ada banyak beban dan tanggung jawab yang dipikul. Pemimpin adalah kepala. Ibarat kata, pemimpin adalah otak, dan anggota geraknya adalah yang dipimpin. Otak mengirim rangsangan kepada tubuh.
Maka keberhasilan suatu program ataupun keberhasilan suatu usaha, sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya. Namun, juga tidak serta merta dari pemimpin. Harus ada keseimbangan antara yang mengatur dan mengerjakan.
Apa kau tidak ingin pacaran? Punya kekasih? Biar harimu tidak hanya pekerjaan saja?
Pertanyaan Camelia tiba-tiba terlintas.
"Pacar?" Bergumam, nyaris berbisik. Tatapannya jauh ke depan.
Untuk memiliki seorang pacar, hal yang mudah baginya. Dia adalah Dion Shane, Tuan Muda Kedua dari keluarga Shane. Dengan latar belakang, juga parasnya, banyak yang bersedia masuk dalam pelukannya.
"Lagipula usiaku belum ada 20 tahun. Fokus pada Shane Group. Lalu di umur 25 baru aku memikirkan pacar atau mungkin pernikahan."
Dion merencanakan jalan hidupnya.
Besok aku akan mulai syuting, tidak ada ucapan semangat darimu?
Itu pesan dari Camelia. "Ah!" Dion menepuk dahinya sendiri. Ia lupa, padahal ia sudah membaca beritanya.
Aku tidak melupakannya, Kak. Aku akan mengucapkan semangat besok. Tapi, kau sudah memintanya sekarang
Maafkan adikmu ini, Kak. Dan semangat untuk syutingnya. Aku akan kirim sesuatu agar kakak tambah semangat
Dibalas Camelia dengan emoji mendengus.
Aku ingin bunga juga kue.
Dion tertawa. Kakaknya mengajukan request.
Mana boleh seperti itu. Terserah aku dong mau mengirim apa. Namamya juga surprise
Hm … baikah. Tapi, harus ada bunga dan kue!
Hahaha
Tawa Dion semakin pecah.
Okay-okay, Kak. Aku akan kirim sesuai requestmu
Nah begitu dong. By the way kau di mana sekarang?
Masih di kantor. Aku lembur, Kak
Ah begitu rupanya. Kau lanjutkan pekerjaanmu. Jangan lupa untuk makan dan istirahat dengan baik. Aku tak mau kau sakit!
Siap, kakakku cantik.
__ADS_1
Dion menghela nafasnya. Kemudian kembali duduk dan membuka laptop. Kembali bekerja agar pekerjaannya hari ini segera selesai dan ia bisa segera pulang.
*
*
*
"Tuan Muda, ada tamu dari Grup Gong," ucap sekretaris Dion, keesokan paginya.
"Mau membicarakan apa lagi? Tolak saja."
Seusai berkata demikian, Dion menerima sebuah panggilan.
"Hallo, Mr. Gong."
"Aku ada di lobby perusahaanmu."
Dion mengeryitkan dahinya. Andran datang? Mau apa dia?
"Tunggu dulu!" Dion menahan sekretarisnya.
"Apa dia namanya Andrean Gong?" Sekretaris itu mengangguk.
"Terima dia."
"Ah … baik, Tuan."
Mau bertemu denganku? Mengapa harus menggunakan embel-embel dari Group Gong?
Dion bertanya-tanya. Apa yang hendak dibicarakan? Tidak mungkin bukan, hanya untuk bertukar kabar?
Entalah. Yang pasti Dion yakin ada kaitannya dengan bisnis. Usianya memang masih mudah. Tapi, feeling nya tajam.
"Hai, Mr. Gong," sapa Dion saat Andrean masuk.
"Jika yang datang dari Group Gong bukan aku, apa kau tidak akan menerimanya, Tuan Muda?" Keduanya berjabat tangan.
Dion tersenyum. "Pertanyaan apa itu, Mr. Gong? Dibandingkan dengan itu, saya lebih penasaran dengan alasan kedatangan Anda."
"Aku kira dia bisa diandalkan dan aku tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Nyatanya dia mengecewakan!" Andrean mendengus.
Dion mempersilakan Andrean duduk. Kemudian meminta sekretarisnya menghidangkan minuman. "Jika alasan Anda untuk membahas kerja sama. Silakan Anda kembali saja," tegas Dion.
"Sejujurnya akupun enggan. Tapi, tetua dan direksi itu memintaku melakukan hal ini. Aku tahu alasanmu menolak tawaran kerja sama dari Group Gong. Karena kau meragukan kredibilitasnya, bukan?"
"Perusahaan yang baik dikenal dari kredibilitas pemimpinnya. Aku tak heran kau meragukannya," lanjut Andrean.
Dion menatap Andrean. Ya, itu alasannya. Pria di depannya itu memang hebat. "Tapi, tidak bisakah kau menerima tawaran kerja sama ini? Bukankah aku dan kakakmu dekat? Dan akan menikah di masa depan. Menjalin hubungan kedua perusahaan, juga akan berdampak besar," ujar Andrean. Mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
Heh?
Sudah Dion duga. Tak lepas dari urusan bisnis. "Aku paling membenci nepotisme, Mr. Gong. Selain itu, aku juga tidak berani mengambil resiko sebab pimpinan perusahaan kalian seperti itu. Jujur saja, aku melihatnya ingin memperkuat kekuasaan. Namun, pendukung yang ia cari kebanyakan busuk dan mudah pecah."
Andrean berdecak. Wajahnya kesal.
"Bahkan baru sebentar dia sudah banyak membuat kesalahan!" Bukan kesal pada Dion. Namun, pada Allen Gong.
"Bagaimana jika penanggung jawabnya bukan dia?"
"Maksud Anda?"
"Kerja sama itu nilainya besar. Sayang untuk dilepaskan. Kemudian juga ada efek untuk hubungan kedua negara. Terima kerja sama ini, Dion. Karena akulah yang akan menjadi penanggung jawab kerja sama ini!!"
Dion terhenyak. Apa yang baru saja Andrean katanya?
Menjadi penanggung jawab? Artinya, Andrean akan banyak ikut campur dalam Group Gong meskipun ia hanya seorang pemegang saham.
Tapi, bukankah itu akan menambah besar konflik internal dalam keluarga?
"Mungkin kakakmu pernah mengatakan bahwa sahamku di Group Gong adalah milik Lucas dan Liam. Jika sukses, nilai saham itu akan naik pesat. Apakah kau tidak tertarik?"
Dion memikirkannya kembali. Kemudian ia menghela nafasnya. "Ini hal yang sangat penting. Aku akan memberikan kabarnya dalam beberapa hari," putus Dion.
"Baiklah. Aku menanti jawabanmu." Andrean berdiri. Kemudian pamit pergi.
Sementara Dion, menghembuskan nafasnya. "Aku harus minta pertimbangan Daddy lagi," gumam Dion. Ia membuka laptopnya dan menulis email untuk Tuan Shane.
__ADS_1