
Ugh!
Dingin
Lie mencoba menarik selimut. Tangannya meraba dengan tubuhnya menggeliat.
Ini apa?
Keras?
Tangan Lie meraba-raba. Matanya masih terpejam. Dahinya mengernyit.
Ini apa?
Kepalaku pusing.
Lie berusaha keras agar matanya terbuka. Kepalanya terasa sangat pusing. Pegar akibat mabuk.
Siapa?
Penglihatan Lie masih lamat-lamat. Ia berusaha keras itu melihat siapa dan apa yang ia sentuh tadi.
"Sekretaris Hans?"
Lie terdiam. Ia mencerna apa yang ia lihat.
Hans tidur di sampingnya. Dan tangannya berada di dada Hans. Jadi, yang keras tadi adalah tubuh Hans?
Lalu? Hans tidak menggunakan atasan. Dan dirinya menggeliat, bergerak tadi hingga tanpa sadar menempel dengan tubuh Hans.
Perasaan ini ….
Lie membelalakkan matanya. "AGHHHKK!"
Pria itu memekik keras. Ia bangun dan memeluk dirinya sendiri. Dari tatapannya, penuh dengan pertanyaan serta overthinking.
"Aku? Aku tidak pakai baju?" Lie menyadarinya. Pantas saja ia kedinginan.
"Dia juga tidak pakai baju. Kami satu ranjang?!"
"Siapa sih? Ribut sekali!" Hans membuka matanya kesal. Ia menatap langit-langit kamar.
"Ini bukan kamarku. Ini di mana?"
"Sialan kau, Sekretaris Hans! Katanya kau bukan batangan, tapi apa ini?!"berang Lie, melotot pada Hans.
Hans menoleh. Wajahnya dipenuhi tanda tanya. "Mengapa Anda di sini, Sekretaris Lie? Dan mengapa Anda tidak pakai baju?"heran Hans.
"Harusnya aku yang bertanya. Pasti kau melakukan sesuatu padaku saat mabuk!"teriak Lie. Ia sangat emosi.
"Aku? Melakukan sesuatu padamu?" Hans memiringkan kepalanya.
"AGHHHKK!!" Tiba-tiba Hans berteriak saat melihat tubuhnya. Hans menggunakan tangan menutupi dadanya. "Kau! Apa yang kau lakukan padaku? Mengapa aku telanjang? Mengapa kau telanjang? Dan … dan kita satu ranjang?"
Hans lebih histeris lagi daripada Lie. Lie mengerjap. Tatapan Hans lebih horor padanya.
"Harusnya aku yang bertanya. Pemilik bar itu bilang kau harus diwaspadai!!"ketus Lie.
"Aku normal!!"teriak Hans, menyangkal kata-kata Lie.
"Sial-sial! Mengapa aku sial sekali?! Aku memang ingin mengakhiri keperjakaanku, tapi mengapa denganmu? Astaga-astaga! Aku gila!"
Lie menjambak rambutnya. "Ayo ingat!!"
"Hei! Anda tidak ada wanita di dunia ini, aku juga tidak akan menyentuhmu, Sialan!!"hardik Hans. Ia tidak terima.
Hans kemudian berdiam diri. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan menerka di mana ia berada. Dan sekuat apapun ia mencoba, ia tidak mengingat apapun selain pembicaraan terakhir mereka di bar.
"Alkohol sialan!"maki Hans lagi. Ia tidak bisa mengingat apapun. "Kamar ini?" Hans memejamkan matanya.
"Aku tidak akan menyentuh alkohol lagi. Tidak akan!" Tiba-tiba Lie berdiri. Ia hanya menggunakan celana pendek.
"Tunggu!"ucap Hans. Pikirannya mulai jernih meskipun masih merasa pegar.
"Ini di istana Tuan. Kamarku biasa aku menginap," ucap Hans kemudian. Ia ingat sekarang. Lie menatapnya. Masih dengan tatapan tidak bersahabat.
"Lantas? Dimana pun ini tidak mengubah fakta bahwa kau sudah melecehkanku, Sekretaris Hans! Saya akan menuntut Anda!"tunjuk Lie pada Hans.
"Sudah aku katakan, aku tidak melakukan apapun padamu!!"tegas Hans. "Kau diamlah dulu!"ucap Hans lagi. Lie mendengus. Ia memalingkan wajahnya.
"Kau merasa sakit tidak pada 'itumu'?"tanya Hans, menatap serius.
"Kau?! Beraninya kau bertanya seperti itu?!" Lie kembali berang.
__ADS_1
"Kalau aku melecehkanmu, 'itumu" pasti sakit! Jika tidak, artinya tidak terjadi apapun. Kita hanya tidur satu ranjang dan bagaimana kita bisa telanjang seperti ini, haruskah saya bertanya pada Anda, Tuan?" Hans mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Lie mengikuti arah pandang Hans.
Pintu kamar terbuka. Andrean berdiri di ambang pintu dengan raut wajah dingin. "Kalian lambat sekali!!" Jelas itu ejekan. Hans tersenyum kecut. Ia kesal pada Tuannya namun tidak bisa memaki Tuannya sekarang.
"J-jadi …." Lie yang kebingungan lagi akhirnya mengerti. Ia menghela nafas lega. Kemudian mengusap dadanya. Syukurlah itu hanya mimpi buruk bukan kenyataan.
Tapi, bagaimana bisa ia dan Hans sampai di istana Tuannya? Diantar oleh Kai? Atau dijemput oleh Andrean? Jika menyetir sendiri, Lie meragukan itu. Kondisi mereka saja sudah tumbang. Jangankan menyetir mobil, untuk duduk saja mereka tidak sanggup lagi.
"Aku terlalu baik, ya?" Pertanyaan Andrean menyadarkan Lie.
"Kalian ada waktu kencan buta dan minum bersama, waktu kalian senggang sekali, ya?"
Astaga-astaga!
Hans langsung berdiri ketika menyadari sinyal bahaya. "T-Tuan, ini tidak seperti yang Anda pikirkan."
"Aku sudah dengar dari Kai. Tadi malam kalian bertingkah sekali."
"T-Tuan…." Lie merinding dengan tatapan Hans.
"Tuan, ini yang terakhir kalinya!! Saya tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi!"ucap Hans. Ia berusaha meyakinkan Andrean.
"Saya juga, Tuan!"timpal Lie.
"Sudahlah. Segera berangkat kerja. Kalian berdua terlambat hari ini!" Seusai mengatakan itu, Andrean menutup pintu.
Hans langsung terduduk lemas.
"Ini gila!"ucap Lie. Ia masih tidak menduga Andrean akan melakukan hal yang membuat mereka berdua salah paham.
"Pantas saja Pemilik Bar itu menjulukinya iblis," ucap Lie lagi. Tampaknya Lie kena mental.
Hans kembali berdiri. Ia menyugar rambutnya. "Lama-lama kau akan terbiasa. Dan aku ingatkan sekali lagi padamu, aku ini normal!!"
"Ckck! Iya-iya. Tapi, aku sudah sangat terlambat. Bagaimana dengan pakaianku?"tanya Lie. Ia merasa bingung sendiri.
Hans berdecak pelan. Ia melangkah, membuka lemari. Di sana ada beberapa setel pakaian. Hans sering menginap di sini. Jadi, ia sudah punya kamar tetap dengan beberapa barangnya.
"Gunakan ini. Aku mandi duluan," ucap Hans. Meletakkan satu setel pakaian di atas ranjang. Hans kemudian pergi mandi.
*
*
*
"Ehem."
Lie berbalik. Tersentak pelan melihat penampilan Lie. "Jangan melihatku seperti itu!"ketus Hans.
"Kau normal, kan?"
"Tentu saja!"jawab Lie cepat.
"Tatapanmu barusan sangat lapar. Jangan ngences, okay?"
"Kau! Sialan!" Lie tidak bisa berkata lagi. Ia kembali diledek dan tiba bisa membalasnya.
Hans tertawa. Ia segera mengganti bajunya sementara Lie bergegas untuk mandi.
"Tubuhnya bagus. Bagaimana cara membentuk tubuh seperti itu? Padahal dia kan super sibuk. Seharusnya banyak lemak," gumam Lie saat mandi.
*
*
*
"Jadi, kau mengerjai mereka, Rean?"tanya Camelia. Ia tertawa mendengar cerita Andrean.
"Ya begitulah," sahut Andrean.
"Lia, apa menurutmu mendapatkan pasangan lewat kencan buta itu efisien dan menjamin?"tanya Andrean. Pertanyaan itu membuat Camelia duduk tegak.
"Kau mau kencan buta?!"
"Tidak! Bukan untukku!"jelas Andrean. Terdengar gumaman meruntuk di seberang sana.
"Untuk Hans dan Lie. Kemarin aku mendengar jeritan hati mereka. Mau punya pacar. Aku tidak terlalu mengerti hal seperti itu. Jadi, aku minta pendapatmu, Lia," jelas Andrean lagi.
Camelia menggerakkan bibir dan matanya. Hal seperti ini juga ia kurang mengerti. Jika mengerti, Camelia akan melakukan kencan buta itu pada Dion.
"Mereka terlalu sibuk, bukan?"tanya Camelia.
__ADS_1
"Ya, begitulah," jawab Andrean.
"Menurutku kencan buta jalan yang bagus untuk orang sibuk seperti mereka. Hanya saja, Rean kau harus memberikan mereka waktu senggang untuk itu. Usia sekretaris Hans juga seimbang denganmu, kan? Jika tidak kunjung menikah, kau akan kehilangan sekretaris handal tanpa penerus," ucap Camelia. Itu yang ia pikirkan. Di kencan buta hanya perlu menemukan kecocokan, lalu coba berkencan beberapa kali lagi dan jika sudah seperti itu kemungkinan cocoknya tinggi.
"Bagaimana dengan akhir pekan tanpa jadwal?"saran Camelia.
"Jika urusan pekerjaan dan asmara seimbang, maka akan meningkatkan produktivitas kerja. Jika hanya fokus pada satu hal saja, akan ada efek sampingnya, Rean," ujar Camelia lagi.
"Menurutmu begitu?"tanya Andrean.
"Yups, seperti itu." Camelia mengangguk.
"Kalau seperti itu, mereka harus bekerja lebih keras agar akhir pekan tanpa jadwal," sahut Andrean.
"Ah?" Camelia menepuk dahinya.
"Itu kebijakanmu, Rean. Namun, jika demikian, yang Anda mereka tidak bisa kencan buta karena kelelahan," sahut Camelia, dengan terkekeh pelan.
"Aku saja yang atur kencan buta mereka. Pasangan untuk mereka harus berkualitas!"ucap Andrean. Camelia memijat pelipisnya.
"Terserahmu saja, Rean," jawab Camelia.
"Baiklah. Aku mengerti," jawab Andrean. "Aku sudah tiba di tempat meeting. Aku akan menghubungimu lagi nanti sore," ujar Andrean. Camelia mengangguk.
"Selamat bekerja, Rean."
"Mimpikan aku, okay?"
"Haha, okay, Mr. Narsis," jawab Cameia.
Panggilan berakhir. Camelia tersenyum simpul.
Ia melihat waktu. Sudah pukul 23.00.
Matanya sudah sangat berat. Hari ini kegiatannya begitu padat.
*
*
*
"Tuan, saya mendengar semua yang Anda katakan. Apa Anda benar-benar serius dengan kata-kata Anda tadi?"tanya Hans. Saat Andrean berbicara dengan Camelia tadi, Hans berada di depan Camelia, mengemudi mobil.
"Mengapa? Kau tidak ingin?"tanya Andrean.
"Saya yakin Anda akan melakukan yang terbaik," jawab Hans.
"Oh, pasrah sekali dirimu."
Hans menghentikan langkahnya. Ada apa dengan Tuannya? Mengapa sensi sekali? Disetujui saja, ditolak juga akan salah.
"Saya sudah lelah dengan kesendirian saya. Jika Tuan menemukan yang cocok dan berkualitas untuk saya, saya pasti menerimanya," jawab Hans lagi. Andrean mengangguk kecil.
"Setelah ini apa?"tanya Hans. Keduanya keluar dari lift.
"Nanti sore Anda akan menghadapi acara penghargaan," jawab Hans.
"Penghargaan ya?"
Mereka tiba di ruang rapat. Rapat itu tidak terlalu lama.
Setelah itu, Hans mengantarkan Andrean ke Gong Group. Hans kembali ke Starlight Entertainment.
Sore harinya, Andrean meninggalkan Gong Group. Ia kembali ke Starlight Entertainment dengan membawa berkas yang belum selesai ia tangani.
"Tuan, saya sudah menyiapkan pakaian Anda. Edisi terbaru musim dingin," ujar Hans.
"Sudah sampai," gumam Andrean. Pakaian itu ia beli setelah acara fashion show di Paris kemarin.
Andrean segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Mematut dirinya di depan cermin. Agaknya, pakaian itu sangat cocok padanya. Bahkan lebih cocok digunakan olehnya ketimbang model yang membawakannya.
Andrean tersenyum lebar. Kemudian mengambil foto selfie. Apalagi kalau bukan untuk dikirim pada Camelia.
"Tuan, setelah acara penghargaan, Anda ada pertemuan lagi di restoran Liang," ucap Hans.
"Apa kau memadatkan jadwalku juga, Hans?"tanya Andrean, melirik tajam Hans.
"Bukankah Anda ingin akhir pekan senggang?"balas Hans.
"Hm," gumam Andrean.
*
__ADS_1
*
*