
Setelah selesai makan siang, Camelia langsung berangkat menuju mantan agensinya, Peach Entertainment. Dengan mengendarai maybacknya, Camelia meninggalkan basement apartemen dengan senyum menyimpan misteri. Dalam benaknya seakan sudah terbayang keseruan dari misteri tersebut.
*
*
*
Di kediamannya, Kakek Gong diam melihat berita entertainment yang mana setiap saluran menyiarkan berita miring tentang Rose, calon cucu menantunya. Kakek Gong terlihat geram. Buku-buku jarinya tampak memutih.
"Kakek." Seorang Pemuda dengan nada hangat menyapa Kakek Gong. Kakek Gong menoleh
. "Allen?" Ya pemuda itu adalah Allen, cucu dari Kakek Gong juga sekaligus adalah sepupu Andrean.
"Duduklah." Kakek Gong menepuk kursi di sebelahnya. Allen mengangguk dan segera duduk. "Ada apa?" Kakek Gong bertanya dengan hangat pula. Tidak terlihat perbedaan sikap dan perlakuan Kakek Gong antara Andrean dan juga Allen yang sebenarnya mempunyai identitas cukup rumit.
"Kakek aku ingin menikah," ujar Allen dengan bersemangat.
"Menikah? Itu bagus. Usiamu sudah sangat cocok untuk berkeluarga. Dan juga … itu akan memperkuat posisimu di perusahaan," jawab Kakek Gong dengan bersemangat. Tentu saja ia senang.
Cucu keluarga Gong hanya dua. Andrean yang sudah bertunangan namun sudah memiliki anak. Akan tetapi, pertunangan itu akan segera berakhir.
Dan sekarang Allen juga memutuskan untuk menikah. Setelah menikah bukankah Kakek Gong akan mendapatkan seorang cicit yang akan tinggal di kediaman ini?
"Katakan padaku, putri keluarga mana yang ingin kau lamar, Allen," ujar Kakek Gong. "Kakek akan mempersiapkan mahar untuk melamarnya," imbuh Kakek Gong.
"Sungguh?" Allen tampak begitu senang. Namun, itu berubah beberapa detik kemudian. Wajahnya sedikit meragu.
"Mengapa wajahmu begitu?" Kakek Gong merasa heran.
"Dia berasal dari keluarga yang sama seperti kita juga. Jika mahar itu berbentuk perhiasan dan lain sebagainya yang ia sendiri sudah memilikinya, bukankah itu sama sekali tidak berkesan?"
"Bagaimana dengan perhiasan dari zaman dinasti Ming dan kalung Ruby peninggalan ibumu?"tawar Kakek Gong. Mata Allen berbinar seketika. Namun, kembali ia meragu.
"Tapi, dia bukan seorang gadis, Kakek," ucap Allen, pelan. Mata Kakek Gong terbelalak sesaat. Bukan gadis?
"Dia seorang janda dengan dua orang anak," lanjut Allen.
Janda? Dengan dua anak? Berasal dari keluarga kaya?
"Menantu dari keluarga mana?"tanya Kakek Gong memastikan sembari memijat dahinya. Ia merasa pusing.
__ADS_1
Mengapa kedua cucuku tertarik pada seorang janda?
"Dia juga warga negara asing," imbuh Allen menjawab pertanyaan Kakek Gong.
Brakk!!
Kakek Gong menggebrak meja. "Apakah negara ini sudah kehabisan wanita? Mengapa kau dan Rean tertarik pada janda dari luar negeri?"
Allen terhenyak. "Kakak sepupu juga tertarik pada janda? Bukankah ia sudah bertunangan dan memiliki anak?"
"Hiks … Hiks … apakah wanita di negara ini sudah kehilangan pesonanya? Takdir apa yang Engkau berikan untuk kedua cucuku?" Kakek Gong mengeluh. Ia menengadah dengan mata tampak memerah. Allen merasa bingung dan juga tidak tega.
"Hei Allen!"
"Iya, Kakek!" Allen menjawab spontan kala Kakek Gong memanggilnya.
"Katakan siapa wanita itu?"
"Namanya Camelia … Camelia Shane," jawab Allen.
"Camelia Shane?" Kakek Gong merasa lemas. Ia seperti kehilangan jiwanya. Bagaimana bisa kedua cucunya tertarik pada wanita yang sama? Apa pesona yang dimiliki wanita itu? Dan kapan Allen bertemu dengan Camelia? Itu yang menjadi pertanyaan Kakek Gong.
"Kakek … Anda baik-baik saja?"tanya Allen, wajahnya menunjukkan gurat kecemasan. Kakek Gong melambaikan tangannya, menyuruh agar Allen mendekat.
Kakek Gong menjewer kuat telinga Allen. Allen terus mengadu dengan kedua tangan memegangi tangan Kakek Gong yang menjewer telinganya.
"Mengapa harus dia? Tidakkah kau tahu bahwa keluarganya itu sangat rumit? Mengapa kau tidak tertarik atau pacaran saja dengan salah satu artis Andrean? Atau mengapa tidak dengan Dilraba Dilmurat? Bai Lu? Cheng Xiao? Mengapa harus dia??!!" Emosi Kakek Gong meledak. Allen mengerjap.
"Kakek … darimana Kakek tahu mereka?"heran Allen.
"Bocah tengik!! Aku tidak buta dan tuli, hah!!"
"AHHH … AUH … KAKEK SAKIT, TOLONG LEPASKAN TELINGAKU," rengek Allen.
"Mereka cantik dan berbakat. Dengan mereka saja, dengan siapa saja asal jangan dia!"ucap Kakek Gong kemudian melepaskan jewerannya.
"Mengapa?"tanya Allen, sembari mengusap telinganya.
"Apa karena Kakak sepupu juga menyukainya?"selidik Allen.
Kakek Gong menggeleng. "Aku juga melarangnya. Keluarga rumit. Lebih baik jangan mencari masalah. Aku juga tidak ingin kau dan Andrean terlihat perselisihan karena seorang janda!"tegas Kakek Gong. Kakek Gong kemudian berdiri, hendak meninggalkan ruang tengah.
__ADS_1
"Kakek …." Langkah Kakek Gong terhenti.
"Aku dan Kakak sepupu pada dasarnya tidak akur. Aku tidak tahu mengapa. Tapi, dia selalu memandangku sinis. Jadi, apa salahnya kami bersaing? Kakek … aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan pilihanku. Lagipula kita tidak benar-benar kakek dan cucu. Anda adalah kakak dari kakekku. Nenek sudah merestuiku maka aku akan berjuang untuk hal itu!"ucap Allen dengan penuh keyakinan kemudian meninggalkan ruang tengah. Kakek Gong menghela nafas pelan. "Kau dan Andrean itu …."
*
*
*
Camelia telah tiba di depan lobby gedung Peach Entertainment. Di sana sudah terlihat Jordan yang menunggu dengan gelisah dan ketika melihat mayback yang ia kenali, Jordan langsung sumringah dan melangkah menghampiri mobil tersebut.
Camelia turun dari mobil. "Saya kira Anda melupakan hari ini, Nyonya," sapa Jordan. Camelia melepas kacamatanya.
"Siapa Anda? Saya tidak mengenal Anda?"tanya Camelia dengan wajah datarnya.
"Ah?" Jordan terkesiap. "Saya Jordan. Saya satu gedung apartemen dengan Anda. Dan kita sudah bertemu beberapa kali dengan Anda. Saya yang mengundang Anda untuk berkunjung ke Peach Entertainment," terang Jordan dengan tersenyum. Dalam hatinya harap-harap cemas.
"Sungguh? Tapi, saya tidak mengingat Anda. Saya datang kesini bukan karena Anda tapi karena teman saya. Permisi, Tuan Jordan." Camelia kembali memakai kacamatanya dan berlalu.
Jordan mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk tersenyum. "Dia mungkin sengaja. Aku harus menebalkan wajah." Jordan menyusul Camelia. Ia bersikap sok kenal yang ditanggapi dingin oleh Camelia.
"Kak Lina," sapa Camelia saat melihat Lina keluar dari lift.
"Camelia," balas Lina. Keduanya saling berpelukan. Jordan terhenyak.
Sejak kapan Lina dan Camelia saling kenal dan dekat begitu?
"Ayo," ajak Lina dengan menggandeng lengan Camelia. "Presdir sudah menunggu," imbuh Lina.
"Tunggu." Jordan hendak ikut masuk ke dalam lift namun terlambat.
Tak butuh waktu lama kemudian, Camelia dan Lina tiba di lantai di mana di sana adalah studio latihan dance yang dijadikan untuk pertemuan dengan Camelia.
Memasuki studio latihan, Camelia disambut dengan tembakan kejutan yang menembakkan kertas warna-warni. Ini seperti menyambut seorang artis yang baru saja kembali dengan membawa kesuksesan besar. Ya, bisa seperti itu juga. Camelia kembali menginjakkan kaki di perusahaan ini setelah ia sukses dan begitu gemilang.
Camelia tersenyum. Lina juga tersenyum lebar. Aku penasaran dengan wajah kalian jika kalian tahu bahwa yang kalian sambut ini adalah Jasmine Liang. Artis yang dulu langsung kalian lepaskan ketika terkena skandal, batin Lina.
"Ah … jangan salah paham!" Camelia angkat bicara kala mendengar kalimat pujian untuk Jordan.
"Saya berkunjung ke perusahaan ini untuk menemui sahabat saya, Lina. Bukan memenuhi undangan siapa tadi … aktor Jordan ya?" Mendadak keadaaan senyap. Semua saling melempar pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Benar! Saya ingat beberapa hari lalu Nyonya ini mencari artis Lina." Itu adalah resepsionis tempo hari yang agaknya membenarkan ucapan Camelia.
"Jadi, Jordan berbohong?" Satu kalimat bulat. Camelia mengendikkan bahunya. Tak lama kemudian, Jordan datang dan disambut dengan tatapan sinis semua yang ada di sana. Jordan tersenyum dalam hatinya mengumpat, sialan!